PUSTAKA ULÛMULQUR’AN

PUSTAKA ULÛMULQUR’AN

(Oleh : HMS. SUHARY  AM)

(Sudut Pandang Filsafat Ontologis, epistemologis dan aksiologis)


Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqon (Al Qur’an) kepada hambaNya (Muhammad SAW) agar menjadi peringatan bagi seluruh alam semesta (QS. Al Furqon : 1).
Al Qur’an adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini (QS. Al Jaatsiyah : 20)

Ketika kita mendalami Ulumul Qur’an (Ilmu-ilmu dalam Al Qur’an/Ilmu Tafsir Al Qur’an) dari berbagai karya ulama besar/ ahli tafsir secara mendasar/komprehensif, sungguh amat luar biasa sebuah kedalaman ilmu pengetahuan Al Qur’an bagai lautan/benua tak bertepi.

Seandainya lautan itu dijadikan tinta dan pohon-pohon di bumi dijadikan pena, kemudian ditambah lagi tujuh lautan/benua untuk dijadikan tinta dalam rangka menulis ilmu pengetahuan Allah, maka lautan dan benua itu akan kering kerontang.   Subhanallah !   (lihat QS.Luqman : 27).

 

Al Qur’an sudah 15 abad  silam menjadi ‘Pustaka Dunia’ dan beredar di seluruh dunia, di mancanegara, khususnya di dunia Islam, baik berada di masjid-masjid, di berbagai perpustakaan universitas, lembaga-lembaga pendidikan dan perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Namun, sayang sekali, Al Qur’an (Tafsirnya) pada umumnya yang ada di Indonesia, di masjid-masjid kurang mendapat perhatian dan kesungguhan untuk mengkajinya dari khalayak kaum muslimin dan muslimat, hanya menjadi pajangan dan hiasan semata. Padahal Ulumul Qur’an tersebut adalah ‘barang yang amat berharga serta bernilai’ karena kandungan isinya ‘penuh dengan nuansa keilmuan’, jika umat Islam dapat mengkajianya di masjid-masdjid dan di programkan secara regular, tentu umat ini akan semakin cerdas, memiliki derajat keimanan dan keilmuan yang mumpuni, karena Al Qur’an merupakan ‘sumber inspirasi keilmuan’ bagi kaum ulil albab (kaum yang berpikir).

Para ilmuan Islam yang telah tumbuh dan berkembang di dunia sebelum atau sesudah abad pertengahan,  sebut saja seperti Al Farabi ahli di bidang logika, matematika, ilmu alam, teologi, ilmu politik dan kenegaraan. Al Kindi seorang filosuf besar Islam. Al Bathani, ahli di bidang astronomi, Ibnu Sina ahli di bidang kedokteran, yang mengarang 450 kitab tentang ilmu kedokteran. Ibnu Bathutah pengembara ilmu. Ibnu Rusyd ahli filsafat, kedokteran, sosologi dan kenegaraan. Al Khawarizmi ahli di bidang matematika, astronomi, astrologi, geographi, kastrografi. Umar Khayyam ahli di bidang matematika, astronomi, penulis dan penyair, Tsabit bin Qurrah ahli dibidang ilmu al jabar, ilmu ukur, matematika, astronomi dan penerjemah Islam yang masyhur, Mahmud Bin Zakaria Al Razi ahli dibidang filsafat, kimia, matematika, sastra dan kedokteran. Abu Musa Jabir ahli dibidang kimia, Ibnu Sina ahli kedokteran, Ibnu Firnas ahli di bidang teknologi, perancang kapal terbang pertama pada abad ke delapan, Al Ghazali ahli dibidang filsafat, hukum, teologi dan keagamaan, imam Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafi’ie; para ahli hukum Islam/fukoha yang yang masyhur di dunia Islam, dan masih banyak lagi, ratusan bahkan ribuan ilmuan Islam yang bertebaran di berbagai mancanegara.

Dari prespektif Ilmu Filsafat.

Dari sudut pandang ontologi, yaitu apa yang dipelajari oleh ‘ulum al-Qur’an. Dengan menganalisa pengertian ulum al-Qur’an baik secara etimologi maupun terminologi maka tergambarlah objek yang akan menjadi kajiannya. Kata ulûm al-Qur’an berasal dari bahasa Arab, terdiri dari kata ‘ulûm dan al-Qur’an. Kata ‘ulûm merupakan bentuk jamak dari ilmu yang secara etimologis berarti ilmu-ilmu. Menurut Manna’ al-Qaththan, ‘Ulûm merupakan bentuk jama dari ‘Ilmu  yang berarti al-fahmu wa al-Idrâk berarti faham dan  menguasai. Kemudian arti kata ini berubah menjadi permasalahan yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah.Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.  Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah : 17-18).Dengan melihat beberapa pengertian tentang Al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw yang membacanya merupakan ibadah. Hal ini dengan dasar Al-Qur’an merupakan informasi yang langsung dari Allah dan diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Wahyu Allah yang diberikan kepada selain dia tidak disebut Al-Qur’an, seperti kepada Nabi Musa disebut Taurat, Zabur kepada Nabi Daud dan Injil kepada Nabi Isa Alaihissalam.
Pengertian ulum dan Al-Qur’an jika digabung menjadi ‘ulûm al-Qur’an, maka secara etimologi adalah segala ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an.  Dengan pengertian ulum Al-Qur’an secara etimilogi, maka akan tercakup  di dalamnya berbagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an,seperti ‘Ilmu Tafsir al-Qur’an, Ilmu Qiraat, Ilmu Rasm al-Qur’an, ilmu I’jâz al-Qur’an, ilmu Asbâb  an-Nuzûl, ilmu Nâsikh wa al-Mansûkh, ilmu I’râb al-Qur’an, ilmu Ghârib al-Qur’an, Ulûm ad-Din, ilmu Lughah dan lain-lain. Ilmu-ilmu tersebut merupakan sarana dan cara untuk memahami al-Qur’an. Ulum al-Qur’an ini sering juga disebut ushul al-Tafsir (dasar-dasar Tafsir), karena membahas beberapa masalah yang harus dikuasai  seorang mufasir/penafsir sebagai sandaran dalam menafsirkan al-Qur’an.
Sejarah dan perkembangan ulum al-Qur’an, meliputi  rintisan ulum al-Qur’an pada masa Rasulullah Saw, sahabat, tabi’in, tabi it-tabi’in, dan  perkembangan selanjutnya lengkap dengan nama-nama ulama dan karangannya di bidang ulum al-Qur’an di setiap zaman dan tempat.‘Ulûm al-Qur’an ini akan berkembang sesuai perkembangan waktu yang semakin kompleks dan global. ‘Ulûm al-Qur’an ada karena perkembangan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an. Hal ini tidak terlepas dari fungsi al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Maka sebagai pedoman hidup dari segi al-Qur’annya tidak bertambah, akan tetapi dari segi sarana yang  dapat membantu memahami  al-Qur’an semakin hari semakin berkembang. Contoh ketika Al-Qur’an masih berada di kalangan bangsa Arab, al-Qur’an masih berupa tulisan yang tidak dilengkapi sakal.  Padahal sakal ini sangat dibutuhkan bagi kalangan non Arab, untuk membantu cara membaca, memahami al-Qur’an supaya tidak keliru. Sudut pandang Epistemologi ‘Ulûm al-Qur’an. Epistemologis dipahami sebagai sarana untuk meneliti prosedur-prosedur metodologis yang dibangun oleh beragam asumsi dengan cara mengkritisi serta mempertanyakan atau menguji kembali pengetahuan itu sendiri.
Sejarah perkembangan ‘Ulum Al-Quran dapat pula ditinjau dari sudut metode ‘Ulum Al-Quran. Walaupun disadari bahwa setiap fase mempunyai metode yang berbeda dalam penggalian ‘Ulum Al-Qura’n. Sudut  pandang Aksiologis ‘Ulûm al-Qur’an, Aksiologi dalam filsafat ilmu berbicara tentang kegunaan dari sebuah ilmu. Untuk apa ilmu itu dipelajari? Apa nilai manfaat dan kegunaan buat kehidupan umat manusia? Maka  aksiologis ‘ulûm al-Qur’an tidak terlepas dari tujuan Al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam berbagai versinya Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya, di antaranya bersifat transformatif. Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan (Zhulumât) di bidang akidah, hukum, politik, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain kepada sebuah cahaya yang terang benderang (Nûr) petunjuk Ilahi untuk menciptakan kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia, dunia-akhirat. Dari prinsip yang diyakini kaum muslim inilah usaha-usaha manusia muslim dikerahkan untuk menggali format-format petunjuk yang dijanjikan bakal mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. (Nasuhi, Yosef Farhan Dafiq : 2012).

Kandungan Al Qur’an

Kandungan isi Al Qur’an adalah meliputi berbagai dimensi : (1) Dimensi Akidah/Keimanan kepada Allah SWT. Merupakan inti kandungan Al Qur’an, Akidah-Keimanan adalah merupakan sumber energi dan kekuatan dalam kehidupan umat manusia (QS. Al Baqoroh : 3, 4, 8, 9, 13, 14, 25, 26, 41, 55, 62, 75, 82, 85, 88, 91, 93, 97, 103, 104, 109, 121, 126, 127, 136, 137, 153, 163, 165, 177. (2) Masalah Akhlak (QS. Al Imran : 159). (3) Masalah ibadah (QS. Al An’am : 162;  QS. Al Mu’minin : 14; QS. Az-Zumar : 2). (4) Masalah hukum-hukum Tuhan. (QS. Al Maidah : 47) (5) Masalah Tadzkirah (peringatan) dari Tuhan (QS. Al-Kahfi : 56).  (6) Masalah sejarah kemanusiaan, khususnya sejarah para nabi-nabi Allah. (QS. Al Kahfi : 13). (7) Dorongan kepada kaum ulil albab (kaum yang berpikir) (QS. Al Mujadilah : 11). (8) Masalah dimensi keghaiban. (QS. Al Baqoroh : 3,4). (9) Masalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan alam, sains dan teknologi tidak kurang dari 800 ayat-ayat kauniyah. (10) Tentang kejadian alam semesta. (QS. Al Baqoroh : 164; Al Ghasyiyyah : 17-21). (11) Tentang Tumbuh-tumbuhan (QS.Al Baqoroh : 61). (12) Tentang alam dunia dengan segala isinya (QS. Al Hijr : 16;  QS. An Nahl : 3-16). dan lain-lain, masih terlalu banyak ayat-ayat Tuhan yang mengungkapkan tentang Tuhan, Alam dan manusia secara komprehensif serta meluas.

Kesimpulannya adalah bahwa Al Qur’an adalah sumber ilmu, energi dan teologi serta peradaban bagi kehidupan umat manusia. Karena itu, mari kita ‘Membumikan Al Qur’an, menghayati, mengkaji serta mengamalkan dalam kehidupan baik dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Al Qur’an adalah kalam Allah SWT menjadi rahmat bagi segenap alam, pedoman, petunjuk serta  panduan dalam hidup umat manusia.

 

Penulis : Direktur Pusat Studi Islam dan Politik Kenegaraan (PSIPK) Banten. Ketum Majlis Pendidikan Syarikat Islam (MPSI) Indonesia Prov. Banten. Jajaran Pimpinan Pusat MPSII.