Upaya meningkatkan Kemampuan membaca pada Anak Usia dini Melalui Bercerita

Upaya meningkatkan Kemampuan membaca pada Anak Usia dini Melalui Bercerita

Oleh Susilawati, S.Pd.

 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewaujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya  untuk memilki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang Undang No 20 tahun 2003). PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia  enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 butir 14). Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 Bab IV pasal 19 menegaskan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yanag cukup bagi prakarsa kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat dan minat perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.

Sangat membanggakan para orang tua jika melihat anaknya tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Perkembangan anak di usia dini meliputi moral agama, fisik motorik, kognitif, bahasa dan seni. Di masyarakat kini pemahaman tentang pendidikan anak usia dini  hanya dipandang dari sisi akdemik saja seperti tiga kemampuan emas yaitu  calistung yakni membaca menulis dan berhitung. Anak yang tidak memiliki tiga kemampuan emas tadi dianggap tidak berhasil dalam proses pendidikan PAUD dan lebih ironisnya lagi lembaga sekolah dianggap telah gagal dalam proses pendidikan. Ditambah lagi dengan tes kemampuan untuk masuk Sekolah Dasar favorit anak harus memiliki tiga kemampuan emas itu. Jika tidak memilikinya maka anak tidak diterima di sekolah favorit tersebut. Akibatnya ketika anak dalam proses pendidikan di PAUD dituntut oleh orang tua untuk bisa calistung dengan cara dipaksa ikut less, privat calistung dll. Selain itu permintaan orang tua ke lembaga sekolah agar anaknya mendapatkan PR atau pekerjaan rumah layaknya anak SD. Pemahaman Pendidikan tentang PAUD kini sudah salah kaprah dan keluar dari esensi yang sebenarnya. Pembelajaran calistung tidak salah diterapkan pada pendidikan anak usia dini, namun dengan kata kunci metode belajarnya harus tepat, menggunakan alat peraga yang dapat merangsang minat anak dan dilakukan sambil bermain.

Anak usia Dini merupakan anak usia 0-6 tahun, masa ini anak disebut golden Age, dimana perkembangan anak bertumbuh dengan pesat. Usia dini juga disebut usia meniru atau mengimitasi. Anak meniru apa yang ia lihat apa yang ia dengar, lalu mengaplikasikanya. Anak adalah aset masa depan yang sangat berharga kesalahan dalam memberikan pengasuhan, bimbingan, dan pendidikan akakan berakibat fatal bagi masa depan anak dikemudian hari. Dunia anak adalah dunia bermain dan bercerita, belajar dilakukan sambil bermain yang melibatkan semua indera anak, melalui bercerita anak akan memuaskan rasa keiginin tahuan, sifat ingin meniru atau mencoba melakukan sesuatu.

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis (Tarigan, 1984:7). Pengertian lain dari membaca adalah suatu proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. Membaca adalah suatu kegiatan atau cara dalam mengupayakan pembinaan daya nalar (Tampubolon, 1987:6). Dengan membaca, seseorang secara tidak langsung sudah mengumpulkan kata demi kata dalam mengaitkan maksud dan arah bacaannya yang pada akhirnya pembaca dapat menyimpulkan suatu hal dengan nalar yang dimilikinya.

Kemampuan  bahasa dan Literasi anak usia dini mengikuti suatu urutan yang diramalkan secara umum seklipun banyak variasinya diantara anak yang satu dengan yang lainnya dengan tujuan mengembangkan kemampuan anak untuk berkomunikasi. Kebanyakan anak memulai kemampuan bahasa dan literasinya dari menangis untuk mengekspresikan responnya terhadap macam-macam rangsangan. Setelah itu anak anak mulai memeram yaitu melafalkan bunyi yang tidak ada artinya secara berulang seperti suara burung sedang sedang bernyanyi. Pada saat masuk Taman Kanak-Kanak mereka telah menghimpun kurang lebih 8000 kosa kata, menguasai hampir semua bentuk dasar tata bahasa, membuat pertanyaan, kalimat negatif, kalimat tunggal, kalimat majemuk. Menurut Cochrane Efal (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.9), perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak usia 4-6 tahun berlangsung dalam  lima tahap yakni :

  1. Tahap Fantasi (Magical Stage) Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir bahwa buku itu penting dengan cara membolak-balik buku. Kadang anak juga suka membawa-bawa buku kesukaannya. Pada tahap ini orang tua hendaknya memberikan model atau contoh akan arti pentingnya membaca dengan cara membacakan sesuatu untuk anak, penggunaan bahasa dalam berbagai situasi sosial yang berbeda, misalnya bercerita hal-hal yang lucu,  tebak-tebakan  dan berbicara kasar pada temannya (Gleason,1985) membicarakan tentang buku bersama anak.
  2. Tahap  pembentukan konsep diri (sel fConcept Stage) anak memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan dirinya dalam kegiatan membaca, pura pura membaca buku. Orang tua perlu memberikan rangsangan dengan jalan membacakan buku pada anak, berikan akses pada anak untuk memperoleh buku buku kesukaannya.
  3. Tahap membaca gambar (Bridging Reading Stage). Anak menyadari cetakan yang tampak mulai dapat menemukan kata yang sudah dikenal. Orang tua perlu membacakan sesuatu kepada anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada anak melalui lagu atau puisi.
  4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take-off Reader Stage) Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak mulai tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan seperti membaca kardus susu, pasta gigi dan lain-lain. Pada tahap ini orang tua masih harus membacakan sesuatu pada anak. Namun jangan paksa anak untuk membaca huruf demi huruf dengan sempurna.
  5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stage) Anak dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Orang tua dan guru masih harus tetap membacakan buku pada anak. Tindakan tersebut dimaksudkan dapat mendorong anak untuk memperbaiki bacaannya, bantu anak memilih bacaan yang sesuai. Huruf dan kata-kata merupakan suatu yang abstrak bagi anak-anak, sehingga untuk mengenalkannya guru harus membuatnya menjadi nyata dengan mengasosiasikan pada hal-hal yang mudah diingat oleh anak. Pertama kali mengenalkan huruf biasanya guru memusatkan hanya pada huruf awal suatu kata yang sudah dikenal anak. Dan agar tidak ada kesan pemaksaan “belajar membaca” pada anak maka harus dilakukan dengan menyenangkan. Sebelum mengajarkan membaca pada anak, dasar-dasar kemampuan membaca atau kemampuan kesiapan membaca perlu dikuasai anak terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengetahui apakah anak sudah siap diajarkan membaca.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak usia dini diantaranya adalah dengan metode  bercerita. Metode bercerita adalah salah satu metode dalam pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini. Pengertian bercerita antara lain yaitu:

  1. Bercerita merupakan cara bertutur kata atau memberikan penerangan secara lisan.
  2. Bercerita  merupakan mengungkapkan perasaan dan keinginan.
  3. Bercerita merupakan stimulan yang dapat mengundang anak terlibat secara mental

Tujuan metode bercerita yaitu :

  1. Melatih daya tangkap anak dan daya fikir;
  2. Melatih daya konsentrasi;
  3. Membantu perkembangan daya imajinasi dan kreativitas anak;
  4. Menciptakan suasana menyenangkan dan akrab didalam kelas mendukung proses pembelajaran segala ilmu pengetahuan dan nilai pada anak;
  5. Menumbuhkan minat dan kegemaran membaca;
  6. Bercerita sebagai suatu petualangan yang besar/a grant adventure (Graves, 1987);
  7. Merangsang  proses kognisi serta mengembangkan kesiapan dasar bagi perkembangan bahasa dan literacy;
  8. Mengembangkan kemampuan berbicara anak dan menambah pembendaharaan kosa kata anak;
  9. Mengembangkan kemampuan sosialisasi anak yakni dengan ortuaya, guru serta dengan teman temannya;
  10. Sebagai media penyampai pesan dan nilai;
  11. Penambah pengetahuan, sebagai pengalaman belajar untuk berlatih mendengarkan dan pengalaman batin;
  12. Membantu proses identifikasi diri dan perilaku anak;
  13. Sebagai sarana menghibur, mendidik, dan menggugah emosi serta meningkatkan kemampuan berbahasa;
  14. Menumbuhkan sikap disiplin dan membangun kedekatan dan keharmonisan;
  15. Membangkitkan emosi dan inspirasi;
  16. Memunculkan perubahan dan sebagai terapi atau penyembuhan;
  17. Sebagai sarana media pembelajaran;

Demikian ayah bunda betapa pentingnya peranan  kita sebagai orangtua bagi perkembangan anak usia dini. Terutama dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca pada anak melalui bercerita. Dengan penuh semangat mari kita memotivasi  putra putri kita untuk selalu bercerita tentang pengalaman yang dialaminya baik yang ia lihat ataupun yang ia dengar. Semoga bermanfaat.

 

Penulis adalah seorang pendidik PAUD dan pendongeng

Rujukan:

  • Suryadi. Cara Efektif Memamahami Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Edsa Mahkota, 2007.
  • Slamet Suyanto. Konsep Dasar PAUD. Jakarta: Depdiknas, 2005.
  • Strategi Pembelajaran Kelompok Bermain melalui metode Mendongeng. Jakarta:  Depdiknas, 2007.
  • M.Solehuddin. Konsep Dasar pendidikan Pra Sekolah. Bandung: UPI, 2000.