LEBARAN LITERASI: MENCARI NAWAWI DI GENERASI TERKINI

LEBARAN LITERASI:

MENCARI NAWAWI DI GENERASI TERKINI

Oleh Langlang R

 

Sebagaimana kita ketahui, Tanara adalah tanah kelahiran ulama besar penebar gerakan literasi pesantren berkelas Internasional yang biasa kita kenal dengan nama Syeikh Nawawi Al-Bantani. Setiap bulan Syawal, digelar peringatan haul atau mengenang wafatnya ulama besar dari tanah Banten tersebut. Bagi penulis itu adalah peringatan spirit literasi di Banten.  

Beberapa literatur mencatat bahwa Nawawi wafat di usia 84 tahun pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah. Hingga hari ini, setiap hari Jum’at terakhir di bulan Syawal setiap tahunnya, digelar puncak peringatan haul atau hari wafatnya ulama besar kebanggaan Banten bahkan Indonesia tersebut di Tanara. Bagi penulis sendiri, hari itu bukan hanya semata peringatan hari kematian, tetapi itu adalah perayaan lebaran literasi yang mampu menyedot pendatang dari berbagai penjuru tanah air, bahkan luar negeri. Hampir semua dari mereka adalah para pelajar dan santri yang selama ini memakai dan membaca karya kitab-kitab Syeikh Nawawi. Beberapa kali, acara tersebut didatangi presiden Indonesia sebagai bentuk bahwa nama Syeikh Nawawi berkibar di Timur Tengah dan tentunya mengharumkan negeri ini.  

Jika sempat, sesekali mari kita rasakan sensasi malam haul itu. Penulis sendiri beberapa kali ikut menghadiri acara tersebut. Sepanjang jalan kawasan Tanara yang berbatasan langsung dengan kabupaten Tangerang yang biasa sehari-hari lengang itu akan padat oleh pengunjung. Pengunjung harus berjalan beberapa kilometer, karena pada malam puncak peringatan tersebut, jalanan padat oleh banyaknya kendaraan yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Melihat kondisi ini, pada akhirnya membuat banyak pendatang dari dalam dan luar Banten yang sengaja datang jauh-jauh hari agar bisa merasakan spirit membaca dan menulis yang digelorakan Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Akan tetapi, memang kita sudah berada di jaman yang telah jauh melampaui masa kehidupan Syeikh Nawawi. Hari ini kita disebut berada di akhir jaman. Sementara generasi kita disebut-sebut sebagai generasi Z. Butuh cara dan strategi jitu guna menemukan dan menampilkan citra sosok dan spirit Syeikh Nawawi Tanara sehingga perhatian mereka mampu teralihkan dari aktivitas-aktivitas moderenitas berbasis digital.

Dalam teori generasi kita mengenal lima macam generasi. Pertama ada yang disebut dengan Generasi Baby Boomer, mereka lahir rentang waktu di tahun 1946-1964. Kedua, ada yang disebut Generasi X yang lahir pada rentang waktu di tahun 1965-1980. Pada urutan ketiga, kita mengeal Generasi Y yang lahir di rentang waktu pada tahun 1981-1994. Keempat, barulah tiba dengan sebutan Generasi  Z yang lahir di rentang waktu tahun 1995-2010, dan yang terakhir atau generasi kelima ada yang disebut Generasi Alpha, mereka lahir di rentang waktu tahun 2011-2025.

Dengan kata lain, generasi saat ini adalah generasi internet. Generasi Z tumbuh di era digital dan bebas mengakses segala informasi dari internet. Mereka bisa mengakses informasi apa pun dari internet, hanya saja penulis tidak yakin kalau generasi Z di Banten akan mencari informasi tentang sosok Syeikh Nawawi Tanara sepanjang kesadaran mereka terhadap figur Syeikh Nawawi Tanara belum tertanam. Buku-buku Syeikh Nawawi Tanara nampaknya akan semakin ditinggalkan karena generasi ini sibuk dengan dunia baru yang belum disinkronkan dengan tradisi lama sehingga potensi mereka awam tokoh besar negeri sendiri bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Maka tantangan mengenalkan sosok menginspirasi yang besar karena tradisi membaca dan menulis pada generasi Banten menjadi semakin terasa berat.   

Bagi penulis sendiri, Nawawi memang sudah tidak ada. Meski demikian, namanya yang harum telah memberi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar. Meski beliau sudah wafat, Nawawi mampu “membantu” warga Tanara dalam mencari rejeki dengan cara membuka dagangan setiap acara peringatan wafatnya digelar. Maka tidak heran ada ungkapan, orang berilmu karena rajin membaca dan menulis matinya saja sudah bermanfaat bagi sesama, apalagi semasa hidupnya. Begitulah kira-kira kesimpulan yang didapat jika kita terus mengakrabi aktivitas membaca, terlebih melanjutkan kebiasaan itu ke ranah menulis karya-karya yang abadi hingga terus dikenang sebagaimana yang dilakukan oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Nawawi adalah sosok pembelajar sejati yang tidak lepas dari aktivitas membaca dan menulis setiap harinya sebagai kegiatan yang hari ini dikenal dengan tradisi literasi. Guna mengingatkan kembali akan sosok ulama yang diberi gelar Ulama Hijaz tersebut, penulis mencoba menghadirkan biografi sosok Syeikh Nawawi Tanara secara ringkas saja. Saat lahir, ia memiliki nama lengkap Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali Al-Tanara Al-Jawi Al-Bantani. Tetapi ia lebih dikenal dengan nama Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Nawawi lahir di kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada 1230 H.

Ayahnya bernama Kyai Umar, seorang aktivis dan pemimpin masjid setempat. Jika dirunut dari silsilahnya, nasab Nawawi bertemu dengan Sultan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, Cirebon dan Maulana Hasanuddin Banten dari garis turunan Syeikh Sunyara-ras atau yang ebih dikenal dengan naa Tajul ‘Arsy. Lebih jauh, nasab Syeikh Nawawi juga tersambung kepada Nabi Muhammad lewat nasab Imam Ja’far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husain, hingga Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah.

Setelah sukses dan berhasil mempelajari ragam ilmu bahasa dan ilmu agama di usia 15 tahun, Nawawi kemudian menuntut ilmu di Mekah saat ia menjalankan ibadah haji.  Di sana ia memanfaatkan waktunya untuk mempelajari beberapa cabang ilmu; ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan ilmu fiqh. Sempat ia pulang dan membantu ayahnya mengajar di pesantren, tetapi ia harus kembali lagi ke Mekah karena kondisi Indonesia saat itu tidak kondusif oleh keberadaan penjajahan Belanda.

Di Mekah ia belajar dari ulama-ulama besar Indonesia yang lebih dulu mengajar di tanah suci itu. Hingga kemudian, Nawawi mampu mengajar di lingkungan Masjidil Haram pada 1860 M. Setelah menulis banyak kitab yang cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia lantaran mudah difahami Nawawi pun masuk kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H./19 M dan mendapat beberapa gelar kehormatan karena kedalaman ilmu Syeikh Nawawi Al-Bantani;  Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah, Imam Ulama’ Al-Haramain.

Tidak usahlah disebut karya-karya Syeikh Nawawi Tanara yang sangat banyak tersebut, penulis hanya akan fokus kepada peran pemerintah Provinsi Banten dalam melestarikan buku-buku Syeikh Nawawi yang telah dibaca umat di seluruh dunia, serta usaha kita sebagai masyarakat dalam menjaga spirit belajar, membaca, dan menulis yang telah disulut oleh Syeikh Nawawi Tanara jauh-jauh hari pada masanya.

Hari ini, penulis belum menemukan figur Nawawi menjadi sosok sentral dalam dunia literasi di Banten yang tak hanya dikenang perjalanan hidupnya saja, akan tetapi mampu menjadi idola remaja di Banten. Selama ini, nama Syeikh Nawawi hanya sebatas menjadi nama Masjid dan nama jalan di Banten. Seharusnya pamor Syeikh Nawawi itu merasuk ke remaja-remaja Banten, tidak kalah dengan nama-nama tokoh pergerakan semisal Che Guevara atau Hasan Al-Bana yang biasa mereka pajang di kamar-kamar kos tetapi juga disandang pada gambar kaos-kaos mereka. Nampaknya bukan sesuatu hal yang sulit menjadikan foto Syeikh Nawawi Banten diapajang di kaos jika remaja Banten sudah mengenal dan mencintai ulama besar tersebut.

Selain itu, penulis belum melihat keseriusan pemerintah Banten atau bahkan pemerintah Indonesia dalam hal penyimpanan karya dan biografi Syeikh Nawawi Tanara dalam bentuk museum khusus dan representatif yang bisa diakses warga Banten, atau bahkan mereka yang dari luar Banten. Penulis kadang merasa miris, melihat bagaimana perlakuan pemerintah terhadap kondisi tanah kelahiran Syeikh Nawawi Tanara yang setiap tahun dikunjungi banyak orang, akan tetapi kondisinya nampak tidak mengalami pembangunan yang signifikan.

Di sana, hanya ada bangunan yang di dalamnya terdapat makam Syeikh Sunyararas dan keluarga besar Syeikh Nawawi. Selebihnya hanya terminal kecil yang sempit dan kumuh, tempat ziarah, mushola kecil. Penulis belum menemukan bangunan berisi dokumentasi karya dan kehidupan syekh Nawawi Tanara yang digagas oleh pengelola tempat ziarah tersebut. Penulis berharap hal itu terwujud, sehingga masyarakat yang belum sempat mengenal karya dan perjalanan hidupnya menjadi tahu dan pada akhirnya turut mencintai dan menanamkan spirit tradisi membaca dan menulis Syeikh Nawawi kepada anak-anak mereka.

Di ranah pendidikan dasar, anak-anak di Banten seharusnya dikenalkan sosok ulama cerdas brilian tersebut dengan cara melakukan wisata belajar – seandainya ada --  ke museum Syeikh Nawawi Tanara. Bahkan di ruang-ruang kelas, foto Syeikh Nawawi dipajang, tak hanya foto-foto para pahlawan dan pemimpin negeri saat ini. Di tingkat lebih tinggi, pelajar dikenalkan karya-karya Syekh Nawawi Tanara yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para mahasiswa yang mahir dan memahami bahasa Arab, mengingat karya Syeikh Nawawi Tanara berbahasa Arab.

Nah, sampai di sini, menjadi tugas kita bersama agar spirit membaca dan menulis yang ada pada diri Syeikh Nawawi tertanam erat di jiwa dan menjadi kebiasaan generasi muda Banten saat ini. Penulis berharap, Syeikh Nawawi tanara bukan hanya sekedar “objek” penelitian para akademisi, tetapi menjadi figur yang dikenali dan dituruti tradisi membaca dan menulisnya oleh semua kalangan. Demikianlah.