MINAT BACA MAHASISWA MILENIAL TERHADAP SUMBER-SUMBER ONLINE DAN CETAK

MINAT BACA MAHASISWA MILENIAL  TERHADAP SUMBER-SUMBER ONLINE DAN CETAK

MINAT BACA MAHASISWA MILENIAL

TERHADAP SUMBER-SUMBER ONLINE DAN CETAK

 

Oleh Ubaidillah, M.Pd.I*

 

Abstrak

Keberhasilan mahasiswa dalam perkuliahan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah minat untuk membaca yang ditandai dengan intensitas kunjungan ke perpustakaan, jumlah buku yang dipinjam dan waktu yang dihabiskan untuk membaca. Penelitian ini bertujuan menganalisis minat baca mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten berdasarkan 1) instensitas kunjungan ke perpustakaan dan tujuannya, 2) jumlah buku yang dipinjam selama sebulan, 3) waktu untuk membaca informasi tercetak dan online dalam seminggu. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data terhadap 131 mahasiswa Semester 1 Febi dan Syariah UIN SMH Banten dan dianalisi secara deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) minat membaca mahasiswa UIN SMH Banten, secara umum termasuk dalam kategori rendah, termasuk dalam membaca literature/informasi online, (2) mahasiswa berkunjung ke perpustakaan kebanyakan mengerjakan tugas kampus, (3) intensitas mereka berkunjung ke perpustakaan umum kampus relatif rendah terlebih luar kampus.

 

Keywords : Minat Baca, Mahasiswa Milenial, Online.

 

Pendahuluan

Membaca merupakan salah satu kemampuan dalam bahasa. Meskipun membaca bisa didefinisikan secara luas yaitu membaca situasi, kondisi, bahasa tubuh, dan lain sebagainya tetapi dalam tulisan ini penulis mendefinisikannya secara leksikal, yaitu menentukan makna dari kata dan kalimat yang dicetak atau tertulis¹ yang di dalamnya memerlukan penalaran agar dapat memahami informasi yang diperoleh. Sedangkan menurut Smith, Goodman, & Meredith membaca adalah proses aktif merekonstruksi makna dari bahasa yang diwakili oleh simbol-simbol huruf seperti halnya mendengarkan yaitu proses aktif merekonstruksi makna dari simbol bunyi bahasa lisan.² Membaca mempunyai beberapa tahapan yang harus dipelajari hingga menjadi pembaca yang advance, seperti halnya John F. Kennedy mempunyai kecepatan membaca 1.000 kpm (kata per menit). ³

Semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini semkin mudah orang mengakses informasi yang diinginkannya, baik lewat smartphone ataupun komputer. Perkembangan tersebut selayaknya kita bisa mengimbangi dan mengikuti, dan menjadikannya sebuah kemudahan termasuk dalam membaca. Tetapi persoalannya ada pada masyarakat sendiri yang kurang meminati bidang membaca. Maka tidak aneh dengan kehidupan masyarakat kita yang kurang membudayanya “membaca” sehingga dalam tataran internasional Indonesia masih merupakan negara yang minat bacanya rendah, pada Most Littered Nation In the World 2017 Indonesia berada diurutan ke-60 di dunia. Menurut survei UNESCO, minat baca masyarakat di Negara-negara ASEAN adalah yang paling rendah di dunia. Sedang di Indonesia perbandingan orang yang mempunyai minat baca yang tinggi dengan yang tidak punya hanya 1 dari 1.000 orang. Dan dilihat dari sisi banyaknya buku yang dibaca siswa SMA di beberapa negara CSM (Center for Social Marketing) mengatakan  bahwa Indonesia menempati tempat terendah, yaitu siswa SMA di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sejumlah 32 judul, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku sedangkan Indonesia 0 buku. 4

Sedangkan menurut hasil penelitian dari Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa dari 70 negara yang telah disurvei Indonesia berada di urutan 62 dengan skor rata-rata 397. Walaupun Indonesia mengungguli Brazil, tapi masih berada dibawah Yordania. Sedangkan negara Singapura berada pada urutan ke 1 dengan nilai rata-rata 535, disusul oleh Jepang dan Estonia,  sedangkan urutan ke 4 ditempati oleh China Taipei dengan nilai 497, disusul Finlandia, Macao (China), Canada, Vitnam, lalu disusul Hong Kong pada urutan 9 dengan skor rata-rata 527. dilanjutkan, Jerman berada pada urutan ke 15, disusul oleh Netherland. sedangkan Amerika Serikat berada di urutan ke 25 dengan Score 497.5

Dengan semakin majunya dunia dan semakin cepatnya perkembangan teknologi menuntut siapapun harus menghadapinya dan menyesuaikan diri. Dengan realita diatas seharusnya masyarakat Indonesia terlebih bagi mahasiswa tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca di era milenial ini, karena dengan perkembangan teknologi sudah sangat memfasilitasi dalam bidang apapun termasuk dalam bidang membaca, sehingga memudahkan manusia pada umumnya untuk mencari informasi dan menambah wawasan. selain itu tidak bisa dipungkiri bahwasanya perguruan tinggi mempunyai peran sentral dalam perkembangan ilmu pengetahuan teknologi suatu negara. Oleh karena itu tidak aneh dalam beberapa waktu terakhir ini dunia perguruan tinggi selalu diingatkan akan adanya kemungkinan perubahan radikal yang sewaktu-waktu dapat merubah peta persaingan dalam berbagai bidang yang juga berdampak pada eksistensi lulusan perguruan tinggi. Hal ini mempunyai tujuan baik untuk mengingatkan agar dapat mengantisipasi dunia yang sangat cepat berubah (volatile), tidak mudah diprediksi (uncertain). semakin rumit (complex), dan multitafsir (ambiguous) yang menurut Whiteman (1998) diistilahkan sebagai VUCA world.6

Lalu pertanyaanya apa faktor yang menyebabkan masih rendahnya minat baca mahasiswa milenial terhadap sumber-sumber online dan tercetak?. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal diatas sebenarnya dikategorikan menjadi dua, yaitu pertama faktor internal, yaitu faktor yang berhubungan dengan psikologi seperti motivasi dan minat baca. Bagaimana pun hobi membaca tidak akan muncul selagi dalam diri mahasiswa tidak ada motivasi atau minat untuk membaca, terlebih ketika sudah tertanam rasa malas. Dalam menumbuhkan minat baca haruslah melibatkan fisik dan psikis. Solusinya adalah tenaga pengajar (guru/orang tua) harus mendorong anak didiknya menyukai baca dan memberikan pengetahuan mengenai manfaat-manfaat membaca. Dari diri mahasiswa haruslah belajar mulai membaca dengan mengatur jadwal husus membaca perhari.

Kedua,, faktor eksternal, yaitu faktor diluar kejiwaan seperti kondisi perpustakaan yang kurang menunjang, lingkungan dan lain-lain. Solusinya adalah lembaga/keluarga harus memberikan fasilitas yang sekiranya mampu menarik minat orang dan memberikan sosialisasi terhadap lingkungan mengenai pentingnya membaca.

Selain faktor-faktor tersebut di atas, tentunya masih banyak lagi faktor-faktor lain yang juga menjadi penyebab kurangnya minat baca seseorang. dalam penelitian ini penulis berusaha menganslisis minat baca mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dengan tujuan mengetahui: 1) Berapa besar intensitas berkunjung mahasiswa ke perpustakaan dan mengetahui tujuannya, 2) Berapa banyak buku yang dipinjam selama sebulan, 3) Berapa banyak waktu yang diluangkan untuk membaca informasi dalam seminggu baik online ataupun cetak.

Indikator Minat baca

Peningkatan minat baca sebenarnya bisa dilakukan semenjak dini dengan cara tidak memaksa dan menyenangkan, misalnya membaca teks film kartun atau membacakan buku cerita yang bergambar dan berwarna. Kedua cara tersebut adalah hal yang banyak disukai anak-anak. Dari sini minat baca anak akan muncul secara perlahan. Tugas orang tua adalah mengarahkan dengan penuh kesabaran. Karena untuk menumbuhkan minat baca bagi anak sangat membutuhkan energi. Selain itu meningkatkan pemahaman anak juga perlu menjadi pertimbangan karena Memberikan akses mengenai buku-buku yang bagus pun tidak cukup walaupun disuguhkan dengan model yang menarik, selagi buku yang bagus itu tidak dipahami oleh anak.

Crow and Crow menyebutkan bahwa minat membaca meliputi lima indikator, yaitu: penggunaan waktu, motivasi, emosi, usaha untuk membaca, dan pemusatan perhatian.7 Berdasarkan indikator-indikator diatas bisa dinilai apakah mahasiswa mempunyai minat baca yang tinggi atau rendah. Mahasiswa yang mempunyai minat baca yang tinggi akan menghabiskan waktunya untuk membaca, dengan selalu muncul keingin tahuannya yang tinggi sehingga ketika membaca dalam waktu yang lama dia merasa senang (enjoyable).

Dalam membaca Jeanne S. Chall dalam Stages Of Reading Development, mengkategorikannya kedalam 6 tingkatan, disesuaikan dengan tingkat usia dan pengalaman pendidikannya, yakni : tingkat 0 (prereading, 6 tahun ke bawah), Tingkat 1 (membaca awal dan decoding, kelas 1-2), Tingkat 2 (Confirmation, Fluency, and Ungluing from Print, kelas 2-3), Tingkat 3 (Learning the New, kelas 4-8), Tingkat 4 (Multiple Viewpoints, kelas 9-12), Tingkat 5: Construction and Reconstruction, (perguruan tinggi).8 pengklasifikasian diatas dimaksudkan untuk menyesuaikan tingkat kemampuan anak dengan muatan materi yang akan diberikan demi menunjang keefektifan hasil pembelajaran.

1.Tingkat 0 : prereading, 6 tahun ke bawah. Selama tahap ini, anak-anak juga mengembangkan beberapa pengetahuan tentang cetak, seperti mengenali beberapa huruf, kata-kata, dan tanda-tanda cetak lingkungan.

2.Tingkat 1 : membaca awal dan decoding, (kelas 1-2). Masa ini sekitar umur 6-7 tahun. Dalam masa tersebut anak-anak mengembangkan pemahaman tentang prinsip abjad dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang hubungan ejaan suara untuk memecahkan kode kata-kata.

3.Tingkat 2 : Confirmation, Fluency, and Ungluing from Print, (kelas 2-3). Tahap ini sekitar umur 7-8 tahun, anak-anak semakin mengembangkan dan memperkuat keterampilan decoding mereka. Mereka juga mengembangkan strategi tambahan untuk memecahkan kode kata-kata dan membuat makna dari teks

4.Tingkat 3 : Learning the New (kelas 4-8). Sekitar umur 9-14 tahun, Selama tahap ini, membaca menuntut perubahan. Anak-anak mulai menggunakan bacaan lebih sebagai cara untuk mendapatkan informasi dan belajar tentang nilai-nilai, sikap, dan wawasan orang lain.

5.Tingkat 4 : Multiple Viewpoints (kelas 9-12). Tingkatan ini sekitar umur 14-17 tahun atau mulai pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Selama tahap ini, pembaca menemukan bahasa dan kosakata yang lebih kompleks ketika mereka membaca teks di area konten yang lebih maju.

6.Tingkat 5 : Construction and Reconstruction (perguruan tinggi). Tahapan ini sekitar umur 18 tahun ke atas. Tahap ini ditandai dengan "pandangan dunia." Pembaca menggunakan informasi dalam buku dan artikel sesuai kebutuhan; yaitu, seorang pembaca tahu buku dan artikel mana yang akan memberikan informasi yang ia butuhkan dan dapat menemukan informasi itu dalam sebuah buku tanpa harus membacanya secara keseluruhan. Pada tahap ini, membaca dianggap konstruktif; yaitu, pembaca mengambil berbagai informasi dan membangun pemahaman mereka sendiri untuk penggunaan individu berdasarkan analisis dan sintesis informasi tersebut. Tidak semua pembaca maju ke tahap ini.

Tingkatan diatas menunjukan klasifikasi perkembangan otak manusia yang didasarkan atas usia. Berdasarkan data diatas seharusnya mahasiswa masuk pada level terahir, yaitu 6 yang sudah bersifat konstruktif. Tetapi andaikan masih merasa belum masuk pada level tersebut, maka mulailah membaca dari mulai sekarang. Karena Semakin banyak membaca semakin luas wawasan seseorang, dan semakin bijak dalam menghadapi permsalahan dan perbedaan. Bahkan dengan membaca akan terlihat sampai mana tingkat pendidikan seseorang, Menurut Sharon Grimes membaca merupakan cerminan dari tingkat pendidikan yang berbeda dan cara menjembatani perbedaan di antara mereka.9 Oleh karena itu bagi mahasiswa milenial seharusnya mempunyai kesadaran diatas sehingga akan merasa malu apabila mahasiswa memiliki wawasan yang minim dan rendah dalam minat baca, dan selanjutnya mahasiswa harus memulai belajar membaca cepat. Kecepatan membaca bisa ditentukan dengan rumus sebagai berikut: 10

Jumlah kata yang dibaca

x 60 = jumlah kata per menit

Jumlah detik untuk membaca

Dengan menggunakan rumus diatas akan diketahui seberapa cepat kemampuan seseorang dalam membaca.

Mahasiswa UIN SMH Banten perlu memperhatikan akan tuntutanya sebagai mahasiswa yaitu salah satunya menjadi agen perubahan social (agen of change). Peran sebagai agen of change mahasiswa bukan hanya mencetuskan gagasan-gagasan cemerlang melainkan juga harus terjun langsung merealisasikan gagasan tersebut. Apalagi menghadapi kenyataan yang menyatakan bahwa Indonesia masih merupakan Negara yang masuk dalam kategori Negara yang rendah dalam minat baca. Selain itu peran mahasiswa adalah social control, yaitu mahasiswa harus mengontrol semua jalannya roda kehidupan Negara, minimalnya adalah masyarakat tingkat desa yang terkadang masih banyak penyimpangan dan pelanggaran misalnya dalam penggunaan anggaran, tugas dan fungsi sebagai pelayan publik. Disini mahasiswa harus mengoptimalkan perannya sebagai social control. Selain itu peran mahasiswa adalah sebagai iron stock, yaitu memiliki kemampuan, skill, dan akhlak al-karimah demi menjadi calon pemimpin yang kredibl dan bertanggungjawab.

Dari semua peran tersebut hemat penulis mahasiswa merupakan asset bangsa yang sangat berharga bahkan tak ternilai untuk kemajuan sebuah bangsa. Dan mau diakui atau tidak bahwa semua peran diatas akan tercapai dengan optimal salah satunya dengan cara banyak membaca. Karena ketika aplikasi tanpa teori (ilmu) akan menghasilkan sesuatu yang tidak optimal bahkan bisa jadi akan menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan.

Mahasiswa Milenial

Menurut Presiden Pew Research, Michael Dimock bahwa generasi seseorang bisa di identifikasi melalui umur seseorang, apakah termasuk generasi silent (kelahiran tahun 1928-1945 sekitar umur 74-91 tahun), boomers (kelahiran tahun 1946-1964 sekitar umur 55-73 tahun), generasi-X (kelahiran tahun 1965-1980 sekitar umur 39-54 tahun), Millenial, atau generasi z. Ketika memasuki 2018 Pew Research menemukan kejelasan dalam menentukan klasifikasi generasi. Siapapun yang lahir antara tahun 1981-1996  atau sekitar usia 23-38 tahun maka dianggap sebagai masuk generasi milenial, dan siapa yang lahir sekitar tahun 1997-seterusnya maka masuk pada generasi baru atau generasi Z.11

Selain itu menurut analisis Pew Research Center generasi milenial  mempunyai beberapa karakteristik yang meliputi hal sebagai berikut: 12

-Menggunakan teknologi (pesan teks, Internet dll.) dalam semua aspek kehidupan.

-Generasi Millenial memiliki rasa keunikan dan ldentifikasi dengan kelornpok generasi mereka.

-Peran pemberi pengaruh (orang tua, pembimbing, teman, dll.) sangat penting dalam kesuksesan hidup.

-Cita-cita dan pencapaian pendidikan adalah norma.

-Keseimbangan pekerjaan dan kehidupan adalah aturan, bukan suatu harapan.

-Generasi Millenial memiliki kecenderungan kuat terhadap pandangan sosial liberal dan politik yang demokratis.

Mereka menganggap bahwa kelompok mereka menginginkan kekayaan dan popularitas.

Sedangkan menurut Menurut Stafford dan Griffis ketika melakukan penelitian dengan sampel pemuda di Amerika menemukan beberapa karakter yang dimiliki oleh generasi milenial yang ada disana, yaitu: optimis, influencer, penggunaan teknologi, respon terhadap politik dan sosial dan mendukung sikap tegas, disiplin.13 Dilihat dari sisi nusantara (milenial nusantara) menurut Hasanuddin Ali dan Lilik bahawa karakter milenial terangkum dalam tiga karakter, pertama adalah confidence. artinya generasi yang memiliki percaya diri yang tinggi, berani menutarakan pendapat walaupun di hadapan publik. Kedua, creative, yaitu orang yang berpikir out of the box, kaya akan gagasan, dan mampu mengomunikasikannya dengan brilian. Ketiga, connected, yaitu mampu bersosialisasi dengan baik terutama dengan komunitas mereka, serta menguasai teknologi terutama dalam bermedia sosial dan internet.14

Dari karakteristik generasi milenial diatas dalam konteks mahasiswa selayaknya mahasiswa milenial adalah mahasiswa yang mempunyai sikap percaya diri yang tinggi dalam segala hal yang bisa mendongkrak kompetensi diri, termasuk bertanya ketika dalam kelas atau membaca buku digital diluar kelas dan perpustakaan. Selain itu mahasiswa milenial mampu menggunakan dan memanfaatkan teknologi digital dengan baik.

Metode Penelitian

Dalam tulisan ini penulis berusaha mendeskripsikan minat baca mahasiswa milenial UIN SMH Banten dengan menggunakan metode penelitian survey. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang sama atau sejenis dari berbagai kelompok atau orang, dengan cara menyebarkan angket atau melakukan wawancara secara pribadi.15 Hasil analisis ini akan dilaporkan dalam bentuk tabulasi frekuensi dan persentase. Subyek penelitian adalah mahasiswa UIN SMH Banten yang dilakukan pada tiga fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Fakultas Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dengan subyek penelitian mahasiswa FTK yang meliputi jurusan Pendidikan Bahasa Arab semester 4 sebanyak 3 kelas, mahasiswa Fakultas Syariah semester 2 sebanyak 3 kelas, dan mahasiswa FEBI semester 6 sebanyak 2 kelas. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling.

Kuesioner dimaksudkan untuk mengetahui hasil dari responden dengan pernyataan tertulis via google form, hal ini dilakukan karena jumlah populasi yang lumayan banyak. Selain dari itu untuk menguatkan data yang diperoleh dilakuakan juga observasi langsung yaitu mengamati mahasiswa UIN SMH Banten.

Hasil penelitian dan pembahasan

Seperti penjelasan diatas hasil penelitian ini berdasarkan data yang diperoleh dari kuesioner yang disebar ke beberapa jurusan lintas fakultas dan observasi.

a.Intensitas Berkunjung Mahasiswa ke perpustakaan dan Tujuannya.

Secara umum kunjungan mahasiswa dalam sebulan sudah dikatakan cukup bagus, dalam tabel dibawah ini terlihat prosentase yang lumayan yaitu, 1.5% tidak pernah sama sekali berkunjung ke perpustakaan, yang berkunjung satu kali sebanyak 22.1%. yang berkunjung dua kali/bulan paling banyak yaitu 34.4% atau setengah dari jumlah mahasiswa yang ada. Selanjutnya yang berkunjung 3 kali/bulan sebanyak 20.6%. lalu yang berkunjung empat kali/bulan sebanyak 10.7%, dan yang terakhir adalah yang berkunjung lima kali/bulan mempunyai prosentase yang sama dengan yang empat kali, yaitu sebanyak 10.7%.

Dari data diatas bisa disimpulkan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan minat baca di lingkungan UIN SMH Banten adalah dengan memperbanyak tugas yang ada kaitannya dengan perpustakaan, misalnya memberikan tugas yang didalamnya harus mencantumkan standar referensi. Tetapi walaupun seperti itu dosen juga harus memperhatikan ketentuan-ketentuan pembelajaran agar tujuannya tercapai, jangan sampai terlalu banyak tugas membebani mahasiswa sehingga tidak menghasilkan apa-apa. Selain itu juga dosen harus tahu bahwa minat baca penduduk Indonesia masih rendah dan lebih suka mendapatkan informasi lewat mendengar bukan membaca.

Selain prosentasi intensitas mahasiswa berkunjung ke perpustakaan kampus yang masih terbilang rendah, begitu juga intensitas mahasiswa berkunjung keperpustakaan di luar kampus. Dalam tabel dibawah ini menunjukan bahwa mahasiswa berkunjung ke perpustakaan luar kampus selama sebulan 26,9% tidak pernah, 33,1% hanya sekali, 16,9% sebanyak 2 kali, 13,8% sebanyak 3 kali, 6,2% sebanyak 4 kali, 3,1% sebanyak 5 kali.

Deskripsi diatas memperkuat data sebelumnya mengenai intensitas mahasiswa berkunjung di perputakaan kampus. Seyogyanya bagi mahasiswa yang berperan dalam perubahan bangsa memperbanyak bacaan, bahkan tiada hari tanpa membaca. Di lingkungan kampus UIN SMH Banten penulis sangat jarang menyaksikan pemandangan mahasiswa membaca buku di halaman atau diluar ruangan.

b.Buku yang dipinjam

Dalam poin ini penulis ingin mengetahui intensitas mahasiswa meminjam buku selama sebulan. Dan dari data yang diperoleh menunjukan bahwa mahasiswa meminjam buku di perpustakaan masih dikatakan rendah. Data yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa sebanyak 35% mahasiswa selama sebulan tidak pernah meminjam buku, 20% meminjam hanya 1 buku/bulan, 28% meminjam 2 buku/bulan, 9,5% meminjam 3 buku/bulan, 3,2% meminjam 4 buku/bulan, 2,4% 5 buku/bulan. Dari penjelasan tersebut hampir 50% mahasiswa belum pernah meminjam buku, dan ini menunjukan minimnya keinginan untuk membaca buku.

c.Waktu untuk Membaca

Poin ini mendeskripsikan mengenai waktu membaca yang digunakan mahasiswa dalam seminggu. Dan data menunjukan bahwa 5,4% mahasiswa dalam seminggu tidak pernah membaca buku sama sekali, 41,5% membaca 1 buku/minggu, 23,1% membaca 2 buku/minggu, 16,9%  membaca 3 buku/minggu, 3,1%  membaca 4 buku/minggu, dan 10%  membaca 5  buku/minggu.

Dalam masa digital ini kegiatan membaca semakin dipermudah, karena segala informasi hampir semuanyan terdapat dalam online. Dengan alasan tersebut penulis mencantumkan poin ini karena ingin memperoleh data dan mendeskrpsikan waktu yang luangkan mahasiswa untuk membaca informasi online dalam seminggu. Sederhananya adalah apabila membaca online yang mudah saja masih dalam taraf rendah apalagi membaca buku fisik.

Dari data yang diperoleh menunjukan bahwa 2,3% tidak pernah membaca informasi online, 34,4% selama 1 jam/minggu, 24,4% selama 2 jam, 17,6% selama 3 jam, 9,2% selama 4 jam, dan 10% selama 5 jam.

Hasil data pada poin ini bisa dikatakan menunjukan data yang lebih baik dibandingkan minat baca terhadap buku fisik, walaupun perbadingannya tidak jauh berbeda. Seyogyanya minat baca terhadap informasi online jauh lebih baik dibandingkan membaca buku fisik, karena mau diakui atau tidak manusia pada era revolusi industri 4.0 ini tidak lepas dari smart phone, yang semua informasi apapun terangkum dalam teknologi. Dan seharusnya sudah saatnya generasi milenial (terutama mahasiswa) menjadi generasi masa depan.

Arus globalisasi tidak bisa terbendung dan teknologi semakin canggih, sehingga informasi digital berkembang dengan pesat untuk menyeimbangkan dengan era saat sekarang, yaitu era revolusi industri 4.0. apalagi dengan terciptanya e-libarary semakin mempermudah warga indonesia menambah wawasan baru, terutama untuk para dosen dan mahasiswa.

Kesimpulan

Membaca merupakan hal yang tidak bisa tidak boleh ditinggalkan, karena dengannya kita bisa mengetahui dunia. Artinya ketika seseorang tidak pernah membaca maka akan tertinggal apalagi perkembangan teknologi berkembang sangat cepat. Oleh karena itu lembaga pendidikan merupakan salah satu perintis utama pencetak anak didik yang gemar membaca terutama perguruan tinggi dan harus merancang metode-metode pembelajaran dengan kemasan yang menarik mahasiswa minat untuk membaca.

Majunya teknologi selain memiliki efek yang positif juga bisa berdampak negatif. Artinya semakin majunya teknologi dan semakin dimudahkannya fasilitas tidak selalu memberikan efek positif dalam kehidupan. Apabila seseorang tidak bisa mengontrol dan memfilter lajunya teknologi maka bisa saja berdampak negatif menurunkan minat baca bahkan mematikannya. Dari analisis ini hal tersebut sudah terlihat dan dirasakan dalam keseharian kita bahkan dalam lingkungan pendidikan, misalnya mahasiswa lebih memilih membaca pesan elektronik berjam-jam dibandingkan membaca buku elektronik walaupun hanya dua puluh menit. Realita ini menunjukan rendahnya minat dan kesadaran mereka dalam membaca.

Berdasarkan analisis diatas dihasilkan kesimpulan bahwa minat baca mahasiswa masih dikatakan rendah dan msih perlu adanya sosialisasi mengenai pentingnya membaca, baik itu melalui workshop atau yang lainnya. Sedang bagi pembaca tingkat 0 sampai tingkat 4 kontribusi orang tua masih sangat dominan. Oleh karena itu sebaiknya orangtua selalu mendampingi mereka ketika membaca serta memberikan treatment-treatment yang bisa mendorong minat baca.

* Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Email: Ubaidillah@uinbanten.ac.id

 

Catatan kaki

[1]Wiener, Harvey S. Any Child Can Read Better: Developing Your Child's Reading Skills Outside the Classroom. Oxford University Press, 1996. Hal. 111

2 Meyer, R. J. (2001). Phonics exposed: Understanding and resisting systematic direct intense phonics instruction. Routledge. Hal. 29

3 Soedarso (2006) Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. xiii

4 Musfah, Jejen. Analisis kebijakan pendidikan. Prenada Media, 2016. Hal. 168

5 Pisa, O. E. C. D. "Pisa: Results in focus." Organisation for Economic Co-operation and Development: OECD (2015). Hal. 4

6 Benny Danang Setianto and Gustav Anandhita. “Unika Dalam Wacana Publik 2017-2018: Transformasi Inspiratif”. SCU Knowledge Media (2018). Hal 29.

7 Rumainah, R. (2018). Undergraduate Students’ Reading Interest and Reading Comprehension Achievement in a State Islamic University. Ta’dib: Journal of Islamic Education (Jurnal Pendidikan Islam), 23(1), 54-64.

8 Blevins, Wiley. Building fluency: Lessons and strategies for reading success. Scholastic Inc., 2001. Hal. 5

9 Grimes, Sharon. Reading Is our business: How Libraries can foster reading comprehension. American Library Association, 2006. Hal. 9

10Juhara, Erwan, Eriyandi Budiman, and Rita Rohayati. "Cendekia Berbahasa Bahasa dan Sastra Indonesia." (2005). Hal. 55

11 https://www.pewresearch.org/fact-tank/2019/01/17/where-millennials-end-and-generation-z-begins/

12 Taylor, Paul, and Scott Keeter. "Millennials: Confident. Connected. Open to Change." Pew Research Center (2010). Hal. 15.

13 Staffprd, D. E.; GRIFFIS, H. S. A review of millennial generation characteristics and military workforce implications (CRM D0018211. A1/Final). Alexandria, VA: CNA Corp, 2008. Hal. 21.

14 Ali, Hasanuddin, and Lilik Purwandi. Milenial Nusantara. Gramedia Pustaka Utama, 2017. Hal. xix.

15 Wagira. metodologi penelitian pendidikan: teori dan implementasi. Deepublish: Yogyakarta. 2013. Hal. 124

 

 

 

Referensi

Grimes, Sharon. Reading Is our business: How Libraries can foster reading comprehension. American Library Association, 2006.

Blevins, Wiley. Building fluency: Lessons and strategies for reading success. Scholastic Inc., 2001.

Wiener, Harvey S. Any Child Can Read Better: Developing Your Child's Reading Skills Outside the Classroom. Oxford University Press, 1996.

Soedarso (2006) Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wagira. Metodologi Penelitian Pendidikan: Teori Dan Implementasi. Yogyakarta: Deepublish. 2013.

 Pisa, O. E. C. D. "Pisa: Results in focus." Organisation for Economic Co-operation and Development: OECD (2015).

 

Musfah, Jejen. Analisis kebijakan pendidikan. Prenada Media, 2016.

 

Juhara, Erwan, Eriyandi Budiman, and Rita Rohayati. "Cendekia Berbahasa Bahasa dan Sastra Indonesia." (2005).

 

Meyer, R. J. (2001). Phonics exposed: Understanding and resisting systematic direct intense phonics instruction. Routledge.

 

 Setianto, B. D. and Anandhita, Gustav. “Unika Dalam Wacana Publik 2017-2018: Transformasi Inspiratif”. SCU Knowledge Media (2018).

 

STAFFORD, D. E.; GRIFFIS, H. S. A review of millennial generation characteristics and military workforce implications (CRM D0018211. A1/Final). Alexandria, VA: CNA Corp, 2008.

 

Ali, Hasanuddin, and Lilik Purwandi. Milenial Nusantara. Gramedia Pustaka Utama, 2017

 

Rumainah, R. (2018). Undergraduate Students’ Reading Interest and Reading Comprehension Achievement in a State Islamic University. Ta’dib: Journal of Islamic Education (Jurnal Pendidikan Islam), 23(1), 54-64.

 

https://www.pewresearch.org/fact-tank/2019/01/17/where-millennials-end-and-generation-z-begins/

Share :