Perpustakaan Virtual iBanten

Perpustakaan Virtual iBanten

Perpustakaan Virtual iBanten

Aip Rohadi*

 

Di era net generation yang disokong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan ilmu pengetahuan mendorong perubahan pola hidup manusia. TIK sangat membantu aktivitas manusia sehingga pola hidup manusia cenderung dituntut dengan kecepatan, termasuk dalam memenuhi kebutuhan informasi. Dengan adanya internet semua orang sangat leluasa untuk mencari dan menyebarluaskan informasi. Menurut survei Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 pengguna internet di Indonesia  mencapai 54,68% atau 143,26 juta jiwa dari 262 juta penduduk Indonesia. Angka tersebut naik dari hasil survei APJII tahun 2016 yang mencapai 132,7 juta pengguna internet.

Dewasa ini internet sudah menjadi teman dekat bagi manusia, hampir tidak ada jarak antara internet dan manusia. Informasi yang mereka butuhkan bisa dengan cepat dicarialui internet. internet pun banyak dimanfaatkan dalam kehidupan manusia seperti bisnis hingga berkomunikasi dengan individu lain. Perubahan yang terjadi dalam akses informasi yang didukung oleh perkembangan internet akan menjadi sebuah nestapa bagi perpustakaan. Maka dari itu perpustakaan haruslah mengikuti perkembangan teknologi dalam memberikan pelayanannya seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang 43 Tahun 2007. Hal itu karena Perpustakaan merupakan penyedia informasi bagi masyarakat yang seharusnya ikut berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat di era net generation saat ini.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah kebiasaan manusia dalam mendapatkan informasi mudah. Internet membuat semuanya lebih dekat dan informatif. Kemudahan dan kecepatan menjadi indikator utama untuk melakukan aktivitas dalam dunia digital. Konten yang berat diindikasi dengan halaman tebal dan banyak informasi dalam satu buku, mulai dihindari untuk dibaca. Saat ini yang dibutuhkan konten ringan, inovatif, dan mudah diakses oleh multi device tanpa batasan ruang dan waktu.

Di samping itu, kegaduhan dunia digital dilengkapi dengan kehadiran pengguna media sosial dan smartphone, mengharuskan aplikasi yang bisa menampung kegiatan sehari-hari dalam  komputer yang digenggam dalam jemari kecil yang disebut smartphone atau telepon pintar. Bacaan ringan yang dipadu dengan interaksi sesama pengguna dengan menggunakan telepon pintar, telah menarik generasi muda untuk membaca melalui cara berbeda dari sebelumnya. Oleh karena itu, dibutuhkan konten/buku ringan dan menyenangkan untuk dibaca bagi pengguna digital agar mendapatkan informasi dan pengetahuan tanpa harus meninggalkan kesenangan bersosialisasi mengunakan media sosial.

Perkembangan teknologi digital dengan semua aplikasi pendukungnya menyebabkan kebutuhan konten sangat besar untuk mengisi informasi seperti buku digital, musik, data, dan lain-lain. Dunia telah menyerap dan memanfaatkan perkembangan digital untuk, menggerakan potensi ekonomi besar seperti, Amerika, Brazil, Cina, Eropa, bahkan Malaysia, telah dicatat dalam berbagai laporan industri konten telah menjadi tumpuan utama untuk menyebarkan konten digital melebihi konten konvensional, berupa cetak dan media lain.

Indonesia masih jauh tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan teknologi digital. Beberapa pelaku yang telah membuat ekosistem buku digital seperti Aksaramaya dengan Moco yang menggabungkan fitur sosial media dengan buku digital dan Telkom dengan Qbaca, namun belum banyak pihak yang terpanggil untuk memanfaatkan teknologi digital menjadi alternatif media penyebaran konten, khususnya buku. Pengguna buku digital terbiasa mengakses buku bajakan, sementara penggiat buku digital dibiarkan tumbuh dan mati atas upaya sendiri-sendiri, kehadiran pemerintah dibutuhkan untuk menggerakkan industri ini agar budaya masyarakat berubah dan industri digital berkembang menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Perkembangan yang dilakukan oleh Perpustakaan saat ini adalah dengan membuka layanan perpustakaan pada ruang virtual yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun. Perpustakaan virtual mulai dikembangkan di Indoensia dengan kemunculan iJakarta. iJakarta dibuat pada awal tahun 2015 yang dicetuskan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Saat ini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) Provinsi DKI Jakarta atas inisiatif Gubernur Provinsi DKI Jakarta, membangun satu perpustakaan digital berbasis sosial media. Setelah iJakarta dianggap berhasil mulailah dikembangkan oleh Perpustakaan milik pemerintah lainnya seperti iPusnas, iSantri, iJabar, dan provinsi lainnya.

Provinsi Banten melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten juga telah meluncurkan perpustakaan virtual dengan nama iBanten. Sama halnya dengan iJakarta, iPusnas, Aplikasi iBanten pada dasarnya adalah sebuah aplikasi membaca buku digital (ebook-reader) yang dilengkapi dengan fitur media sosial  dan dapat diakses melalui berbagai jenis perangkat keras (multi device) maupun perangkat lunak  (multi platform), seperti android iOS, dan Windows.

iBanten sebagai perpustakaan virtual yang berisi koleksi buku buku digital terdiri darihalaman koleksi, ePustaka, feed,sShelf dan notification, dilengkapi dengan fitur-fitur sosial media seperti following/follower, rekomendasi buku, sharing (berbagi), review (ulasan), comment (komentar) dan chatting serta masih banyak lagi fitur lainnya. Di dalam aplikasi iBanten, perseorangan, lembaga/instansi, komunitas, kelompok sosial, tidak hanya berperan sebagai user (pengguna), tetapi juga dapat mempunyai perpustakaan digital yang disebut ePustaka dengan menyediakan konten melalui self published.

iBanten dikembangkan dengan konsep perpustakaan digital terbuka “Open Digital Library”, artinya semua pihak dapat mempunyai perpustakaan digital yang disebut ePustaka dalam iBanten, sepanjang mempunyai konten yang dapat dipublikasi dan dipinjamkan oleh anggota ePustaka tersebut, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, dalam iBanten ePustaka dibagi sesuai kategori masing-masing.

Berdasarkan tema, ePustaka dibedakan menjadi: ePustaka Dinas, ePustaka Sekolah, ePustaka Universitas, ePustaka Tokoh, ePustaka Profesi, ePustaka Hobi, dan sebagainya. iBanten mempunyai aturan dalam proses peminjaman eBook, mulai dari masa keanggotaan, jumlah eBook yang dipinjam, lama peminjaman dan jumlah copy eBook yang tersedia bisa diatur sesuai kebutuhan layaknya sebuah perpustakaan konvensional.

Sebuah aplikasi yang dibangun harus mempunyai konsep kuat agar dapat memberikan manfaat bagi pengguna, tidak terkecuali iBanten, gabungan beberapa platform dan fitur dalam satu aplikasi menjadi modal dasar iBanten sebagi media untuk meningkatkan minat baca dan menulis sekaligus bersosialisasi sesama pengguna sehingga terbentuk komunitas pencinta buku yang kuat dan dapat mempengaruhi generasi pengguna digital untuk membaca dan menulis buku.

Koleksi iBanten

Pengadaan koleksi menurut Sutarno (2006) merupakan proses awal dalam mengisi perpustakaan dengan sumber-sumber informasi. iBanten merupakan perpustakaan umum yang memiliki koleksi digital, untuk itu iBanten tidak memiliki ketentuan khusus dalam pemilihan subjek koleksinya. Artinya koleksi yang ada pada iBanten sama halnya dengan koleksi perpustakaan umum seperti koleksi buku anak, fiksi, hingga koleksi terbitan instansi pemerintah. Ada berbagai cara dalam pengadaan koleksi pada iBanten, yaitu:

1.Kerjasama dengan Penerbit

Dewasa ini perkembangan konten digital dan perubahan media membaca masyarakat terhadap konten digital semakin pesat, hal tersebut yang menjadi alasan bagi penerbit untuk merubah produknya menjadi konten digital. iBanten yang merupakan sebuah perpustakaan berbasis media sosial open source yang memiliki banyak pengguna, menjadi daya tarik sendiri bagi penerbit sebagai ajang promosi produknya. iBanten merangkul beberapa penerbit untuk bekerja sama dalam pengadaan koleksinya. iBanten memiliki sistem yang sama dengan perpustakaan konvensional dalam penggunaan koleksinya. Artinya koleksi yang ada iBanten memiliki batasan eksemplar. Dengan sistem pengembalian otomatis, pengguna iBanten tidak bisa memiliki kepemilikan penuh terhadap koleksi iBanten. Karena itu iBanten dapat dijadikan sebagai tempat promosi penerbit untuk menjual produknya, sebab koleksi yang ada pada iBanten jumlahnya terbatas, dan untuk memiliki hak penuh terhadap koleksinya pengguna iBanten dapat membeli koleksi langsung kepada penerbit melalui link yang disediakan oleh iBanten.

2.Kerja sama dengan Instansi Pemerintah

iBanten merupakan bentukan dari pemerintah provinsi Banten, untuk itu iBanten dapat dimanfaatkan oleh instansi pemerintah Banten untuk mempublikasi hasil karyanya. Selain itu perpustakaan instansi pemerintah Banten pun dapat mempublikasikan koleksi digital mereka pada iBanten. Bukan hanya itu, kedutaan besar negara sahabat pun bisa ikut andil dalam publikasi e-book dari negara mereka.

3.Koleksi Digital Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten.

DPK Provinsi Banten merupakan instansi yang membangun iBanten, jadi koleksi yang terdapat pada iBanten merupakan koleksi digital dari DPK Provinsi Banten. Jadi koleksi digital yang ada pada seluruh perpustakaan kabupaten dan kota di Provinsi Banten dapat dipublikasikan pada iBanten.

4.Donasi

Selain membaca, pengguna iBanten pun dapat mendonasikan koleksi e-book yang disediakan oleh iBanten. Karena eksemplar koleksi yang ada pada iBanten terbatas, maka penggunanya dapat membeli koleksi melalui fitur yang disediakan oleh iBanten. Sehingga pengguna iBanten pun dapat membuat perpustakaan pribadi di dalam iBanten itu sendiri. Selain donasi dari pengguna, iBanten juga menerima donasi dariperusahaan (corporate).

Kesimpulan

Untuk menjawab tantangan dalam pemenuhan informasi masyarakat dan meningkatkan kualitas minat baca pada era net generation saat ini, DPK Provinsi Banten membuat sebuah perpustakaan virtual yang menggabungkan sistem perpustakaan konvensional dengan media sosial yaitu berupa aplikasi iBanten. iBanten menawarkan sensasi membaca serupa dengan media sosial, sehingga pengguna iBanten dapat membagi referensi bacaan mereka terhadap teman lainnya. Untuk pengadaan koleksinya sendiri, iBanten yang merupakan perpustakaan dengan koleksi digital di dalamnya melakukan beberapa cara dalam pengadaan koleksinya, yaitu dengan cara melakukan kerjasama dengan penerbit, instansi pemerintah, dan DPK Provinsi Banten. iBanten pun memiliki daya tarik sendiri bagi penerbit dan perpustakaan instansi pemerintah untuk mempromosikan produk yang mereka miliki.

*Anggota Dewan Perpustakaan Provinsi Banten

Daftar Pustaka

APJII. 2016. Infografis penetrasi & perilaku pengguna internet Indonesia.

https://iBanten.id/ diakses pada tanggal 2 januari 2017 pukul 18.50

Kominfo.go.id. https://www.kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media. Diakses pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 20.00.

Mafar, Fiqru. 2012. Isu-isu strategi pembangunan perpustakaan digital. Visi Pustaka Vol. 14 No. 1, April 2012.

Priyanto, Ida fajar. Perpustakaan digital: Apa dan bagaimana. Jogjakarta,2009

Sutarno, 2006. Manajemen perpustakaan: suatu pendekatan praktik. Sagung Seto, Jakarta

Share :