ARSISTEKTUR MASJID DAN PUSAT KOTA SERANG ABAD KE-19 (SERI DISKUSI GIRANG #9)

ARSISTEKTUR MASJID DAN PUSAT KOTA SERANG ABAD KE-19 (SERI DISKUSI GIRANG #9)

SERI DISKUSI GIRANG #9 ARSISTEKTUR MASJID DAN PUSAT KOTA SERANG ABAD KE-19

SERANG - 10 Agustus 2020, Seri Diskusi Girang yang merupakan kerja sama antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Laboratorium Banten Girang, Ikatan Pustakawan Indonesia dan biem.co kembali digelar. Diskusi virtual seri Diskusi Girang yang ke-9 menghadirkan narasumber Mushab Abdu Asy Syahid yang membahas Arsitektur Masjid dan Pusat Kota Serang Abad ke-19.

Mushab menghadirkan fakta-fakta sejarah yang telah ia susun dalam tesisnya. Melalui fakta-fakta yang dikumpulkan tersebut ia mencoba merekonstruksi Kota Serang Abad ke-19. “berdasarkan peta pada tahun 1897-an, terdapat 2 masjid yang terdapat dipusat Kota Serang yaitu, Masjid Pegantungan (At Tsauroh) dan Masjid di Kaujon (Masjid Kuno)” ujar Mushab Abdu Asy Syahid. Menurut Mushab yang menarik adalah bahwa tokoh pribumi yang melatari pembangunan (renovasi?) Masjid Agung At Tsauroh (yang dikenal dengan Masjid Pegantungan) dan Masjid Kaujon adalah R.T. Basudin Tjondronregoro (1849—1870) yang ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memerintah sebagai regen (bupati) di Serang. Regen Basudin adalah seorang Jawa yang besar di Yogyakarta.

Latar belakang Regen Basudin yang dekat dengan kebudayaan Jawa kemudian dianggap mempengaruhi gaya arsitektur dua masjid di pinggiran pusat kota Serang, yaitu Masjid Pegantungan dan Masjid Kaujon. Mushab menjelaskan bahwa kedua masjid tersebut jauh lebih mirip dengan bentuk masjid Demak di daerah Jawa. Kemiripan itu dicirikan dengan adanya atap tajuk dan atap cengkuk tiga, juga adanya bentuk kemiripam masjid demak, hal itu tidak terlepas dari pengaruh tokoh politik yang ada di balik pembangunan kedua masjid tersebut.

Masjid Pegantungan tercatat dibangun oleh Regen Basudin di tahun 1870. Pada peta tahun 1878, masjid tersebut sudah terekam, termasuk juga Masjid Kaujon. Oleh pemerintah kolonial, daerah Kaujon dikategorikan sebagai wilayah radikal karena sering menjadi basis perlawanan orang-orang Serang, terutama dari orang-orang Kaujon, Kaloran, dan Pegantungan. Pada tahun 1888, Pemberontakan Ki Haji Wasyid di Cilegon telah menjadi inspirasi bagi pergerakan jawara, kelompok agama, juga pejabat pribumi yang secara aktif sering berkumpul di dua masjid tersebut. “Namun, karena pemberontakan di Cilegon gagal, gerakan pemberontakan di Serang tidak berlanjut,” papar Mushab.

“Saya cukup kesulitan mencari arsip-arsip foto pada tahun 1900-an, mungkin karena masjid-masjid tersebut menjadi basis pergerakan perlawanan terhadap kolonial, juga adanya anggapan bahwa orang-orang non-muslim dilarang untuk mengunjungi masjid,” papar Mushab. Hingga pada peta di awal abad 20, yaitu tahun 1915, kedua masjid tersebut tidak tampak. “Hilangnya masjid tersebut dari peta menimbulkan pertanyaan, apakah masjid tersebut dihancurkan atau memang hancur secara alamiah,” terang Mushab.

Namun, politik etis Belanda mendorong adanya intervensi Belanda untuk melakukan restorasi terhadap dua masjid tersebut. Pada tahun 1933 dan 1936, tercatat bahwa pemerintah Belanda meresmikan pendirian kembali dua masjid tersebut. Terlihat dari nuansa Eropa yang tampak di beberapa bagian, yaitu boven atau lubang angin. Keterlibatan pemerintah kolonial dalam membangun kembali dua masjid itu dianggap Mushab sebagai implementasi politik etis yang ingin menunjukkan bahwa pemerintah kolonial peduli dengan keagamaan dan sosio-kultural negeri koloni.

Dalam perkembangannya masjid At Tsauroh telah beberapakali mengalami renovasi dari sejak zaman kemerdekaan hingga seperti apa yang terlihat hari ini. Dalam diskusi itu juga terungkat ide tentang bangaimana mendorong kawaasan-kawasan yang memilihi nilai historis untuk di jadikan kawasan cagar budaya oleh pemerintah. Hal ini dilakukan untuk menghindari perubahan atau bahkan penghilangan bangunan-bangunan yang bernilai historis seperti yang telah terjadi. Tim DPK

Share :