BANTEN DAN SUMANTERA BARAT DALAM TAHUN-TAHUN PENUH AKSI 1920—1927

BANTEN DAN SUMANTERA BARAT DALAM TAHUN-TAHUN PENUH AKSI 1920—1927

BANTEN DAN SUMANTERA BARAT DALAM TAHUN-TAHUN PENUH AKSI 1920—1927

 

Serang - Bagi bangsa Indonesia, awal abad ke-20 sering disebut sebagai awal munculnya kesadaran baru tentang kebangsaan. Hal itu dikarenakan perubahan politik global serta tumbuhnya intelektul-intelektual baru hasil dari politik etis Belanda. Tumbuhnya organisasi-organisasi pergerakan pada akhirnya melahirkan cara baru dalam menentang kolonialisme. Selain dengan melakukan perlawanan bersenjata, generasi pada masa itu juga mulai menggunakan media lain untuk melakukan perlawanan. Misalnya, melalui tulisan, pembentukan organisasi, dan bentuk-bentuk agitasi lainnya.

“Meski pendek, periode 1920—1927 juga punya arti penting dalam sejarah Indonesia. Dalam periode inilah terjadi pembangkangan-pembangkangan, pemogokan-pemogokan, mobilisasi-mobilisasi politik anti-kolonial yang cukup teroganisir dengan puncaknya pemberontakan tahun 1926—1927 yang kita kenal sebagai aksi massa atau demonstrasi,” buka Randi Raimena, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Andalas dalam Seri Diskusi Girang #22 yang berlangsung pada Senin, 2 November 2020.

Dalam diskusi yang dipandu Niduparas Erlang itu, Randi juga mengungkapkan bahwa peristiwa-peristiwa pemberontakan itu sering luput dari sejarah nasional karena intervensi Pemerintah Orde Baru untuk menciptakan narasi bahwa gerakan 1926—1927 tak lebih dari huru-hara yang didalangi oleh kaum “komunis”. “Padahal, peristiwa-peristiwa itu adalah akumulasi dari berbagai sebab, terutama sejak dimulainya ekonomi liberal yang makin memperkuat penetrasi kolonial; mengubah banyak hal dalam tatanan masyarakat hingga memicu krisis” ujar Randi.

Lebih lanjut, Randi mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa itu seolah dihilangkan, padahal pergerakan rakyat tidak hanya lewat organisasi-organisasi pendidikan semacam Boedi Oetomo. “Ada banyak peran kaum pekerja yang berusaha menuntut hak-hak mereka yang dilakukan dengan terstruktur, meskipun upaya untuk menggulingkan pemerintah kolonial pada 1926-1927 itu gagal karena adanya kebocoran informasi,” jelas Randi.

Dalam paparannya, Randi menekankan bahwa dalam melihat peristiwa sejarah, kita tetap perlu memperhatikannya dalam konteks zaman. Bahwa komunis yang berkembang pada saat itu tidak bisa begitu saja kita lihat sepenuhnya sama dengan komunis yang diciptakan oleh narasi Orde Baru, pasca-65. Dalam konteks 26—27, pemberontakan di Banten dan Sumatra Barat didominasi oleh peran ulama, jawara, hingga saudagar. Hal ini menunjukkan adanya kesamaan tujuan di berbagai kalangan, yaitu melakukan perlawanan terhadap kolonialisme.

“Sebelum revolusi 1945, pemberontakan 1926—1927 merupakan perlawan anti-kolonial pertama yang bisa dikatakan cukup teorganisir dan dilakukan dalam skala yang bisa dikatakan nasional. Artinya, pemberontakan 1926—1927 melampaui perlawan-perlawanan sebelumnya yang bersifat lebih lokal,” lanjut Randi dalam penutup diskusi. [*]

Share :