Kelas Pemustaka “Menulis Cerita Untuk Anak”

Kelas Pemustaka “Menulis Cerita Untuk Anak”

Serang - Sudah setahun lebih pandemik Covid-19 melanda negara kita, kondisi yang memaksa kita beradaptasi dengan kondisi baru. Pun demikian dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Kegiatan yang bisanya dilakukan secara langsung (tatap muka) beralih ke platform digital yang dilakukan secara virtual. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten adalah Kelas Pemustaka yang dilakukan secara Virtual.

Kelas Pemustaka telah dimulai sejak tahun 2019, namun semenjak pandemik di Maret 2020, kelas pemustaka beralih menjadi virtual. Meskipun beralih menjadi virtual, kelas pemustaka tetap dapat disimak oleh masyarakat melalui akun youtube Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten (@DPK Provinsi Banten). Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi para pemustaka dalam mendalami tema-tema tertentu untuk meningkatkan kemampuan para pemustaka pada bidang yang akan digelutinya.

Pada Kegiatan kali ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten sengaja mengangkat tema “Menulis Cerita Untuk Anak” dengan menghadirkan Tias Tantaka seorang penulis yang tinggal di Kota Serang. Tujuannya adalah memberi pembekalan kepada para pemustaka yang tertarik dengan dunia tulis menulis, khususnya tentang cerita untuk anak. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pada saat ini anak-anak yang masih menjalankan pembelajaran jarak jauh, untuk itu diharapkan melalui tulisan cerita, anak-anak masih bisa belajar melalui tulisan cerita/dongeng.

Kelas Pemustaka kali ini masih dilaksanakan secara virtual pada Rabu 14 Juli 2021 jam 10.00 – 12.00 WIB. Bersama Kak Tias Tatanka, kelas pemustaka membagikan pengetahuan tentang “Menulis Cerita untuk Anak”. Kak Tias Tatanka membagikan tips dan trik menulis cerita anak, peserta dipandu menentukan tokoh pada cerita anak. Menurut Kak Tias, tokoh pada cerita anak baiknya tidak terlalu banyak karena cerita anak biasanya tidak panjang, dan bercerita tentang hal-hal sederhana di kehidupan anak. Meskipun pendek, cerita anak harus mengandung pesan yang ditujukan kepada anak-anak.

Selain jumlah tokoh dan pesan dibalik cerita, Kak Tias juga menyampaikan bahwa penulis cerita anak harus memperhatika usia tokoh utama, “ kalo tokoh utama duduk di bangku SMA rasanya bukan cerita anak lagi” pesan Kak Tias pada peserta. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, latar belakang konflik pada cerita anak, “penulis cerita anak harus memperhatikan kondisi saat ini, misalkan diceritakan ada seorang anak minta dibelikan kamera, dalam cerita itu penulis cerita baiknya menjelaskan latar belakang kenapa si anak menginginkan kamera dikarenakan saat ini handphone kamera kualitasnya sudah bagus sekali, jadi anak ini pasti memiliki latar belakang ingin memiliki kamera, ini harus diperhatikan” lanjut Tias Tantaka.


Kelas Pemustaka Virtual kali ini diikuti oleh 51 orang peserta yang berasal dari berbagai kalangan, ibu rumah tangga, relawan rumah dunia, anak-anak. Meski dilakukan secara virtual kelas pemustaka diikuti dengan penuh semangat oleh peserta, Kak Tias dengan telaten memandu seluruh peserta menyelesaikan tulisannya. Terima kasih Kak Tias dan seluruh peserta. Tim DPK.

Share :