CITRA DAN KUALITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN

CITRA DAN KUALITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN

CITRA DAN KUALITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN

Oleh Firman Daiman*


Citra merupakan seperangkat kesan atau image di dalam pikrian seseorang terhadap suatu objek. Citra perpustakaan dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang diberikan masyarakat tentang sebuah institusi perpustakaan. Setiap perpustakaan  selalu memiliki kesan, baik yang positif maupun yang negatif dari berbagai pihak yang saling berhubungan. Hal ini merupakan konsekuensi logis, mengingat dalam segala aktivitasnya perpustakaan selalu berhubungan dengan berbagai pihak, khususnya dengan pemustaka. Jadi dengan sendirinya pihak yang berkepentingan akan selalu mengamati keberadaan perpustakaan agar tidak merugikan pemakainya, misalnya perlakuan kasar terhadap pemustaka dan lain sebagainya, hal ini akan memberikan efek atau kesan negatif pada citra perpustakaan. Oleh karena itu setiap perpustakaan diharapkan mampu memberikan citra yang positif agar selalu sukses dalam berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya.

Citra positif bisa didapatkan dengan mengkomunikasikan keunikan dan kualitas terbaik yang dimiliki perpustakaan tersebut kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan perpustakaan memiliki peran penting sebagai jembatan penghubung menuju penguasaan ilmu pengetahuan. Beberapa faktor yang mempengaruhi perpustakaan diantaranya adalah layanan perpustakaan, sarana prasarana yang dimilikinya dan kualitas produk atau jasa.

Atribut pelayanan terhadap pemustaka berperan dalam pembentukan image masyarakat terhadap perpustakaan, karena layanan yang diberikan akan dirasakan langsung oleh pemustaka. Layanan yang ramah, cepat, tepat dan akurat yang diberikan oleh petugas layanan akan membuat pemustaka merasa nyaman dan betah di perpustakaan sehingga membawa dampak positif bagi citra perpustakaan, hal ini dikarenakan kualitas layanan merupakan faktor utama dalam membangun citra perpustakaan.

Unsur lain yang mempengaruhi citra perpustakaan yaitu fasilitas fisik atau sarana prasana yang dimiliki perpustakaan. fasilitas yang dimiliki ini akan mempengaruhi layanan yang diberikan perpustakaan itu sendiri. Persepsi pemustaka terhadap fasilitas fisik perpustakaan mencakup persepsi terhadap ruangan perpustakaan, suasana, penerangan, dan sarana lainnya. Ruangan perpustakaan misalnya, merupakan fasilitas yang sangat penting. Ruangan yang nyaman, sejuk, asri serta teratur akan menarik pemustaka dan betah berlama-lama di ruang perpustakaan.

Perpustakaan merupakan tempat belajar bagi beragam individu maupun  masyarakat luas. Pada saat  sekarang ini semakin banyak informasi disimpan dan disebarkan secara elektronik, maka pada saatnya nanti melek informasi juga akan mensyaratkan melek teknologi informasi, sehubungan dengan hal ini, perkembangan perpustakaan menuju digitalisasi koleksi menjadi tidak dapat dielakan lagi. Maka muncul perhatian atau masalah yang dihadapi perpustakaan antara lain; bagaimana melaksanakan perannya dalam proses belajar sepanjang hayat, bagaimana menerapkan teknologi informasi yang berkembang sangat cepat, dan bagaimana harus mempertahankan kelangsungan hidup perpustakaan.

Beberapa langkah yang harus ditempuh perpustakaan agar peran dan fungsinya dapat secara langsung dirasakan masayarakat adalah pertama, mengidentifikasi permasalahan penting dan mendesak yang benar-benar dihadapi masayarakat, dimana pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan diarahkan agar dapat ikut memecahkan persoalan komunitas, terutama masalah kesejahteraan. Bahan koleksi informasi yang dilayankan kepada masyarakat luas bisa dimanfaatkan secara teori dan praktek, yang bisa membantu mereka menemukan jalan untuk meraih kesuksesan atau mensejahterakan mereka. Kedua, hendaknya perpustakaan tidak dikembangkan secara eksklusif. Perpustakaan harus menyatu dengan masyarakat. Mereka dilibatkan agar dalam diri mereka tertanam rasa memiliki terhadap perpustakaan. Dana-dana yang dikelola perpustakaan, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak langsung dari masyarakat harus de kelola untuk sebesar-besarnyanya kepentingan mereka. Masyarakat akan menilai seberapa jauh keberfihakan perpustakaan terhadap kepentingan masyarakat.

Upaya-upaya yang dilakukan perpustakaan adalah meningkatkan dan menjamin kebebasan akses masyarakat, penyediaan infrastruktur maupun pelatihan, membantu masyarakat untuk dapat mengambil keuntungan termasuk penyedian akses bagi yang tidak memiliki kemudahan sendiri, mengatasi hambatan yang dihadapi sebagian pengguna di daerah untuk mengakses jaringan informasi sehubungan dengan kelemahan infrastruktur, mengurangi kesenjangan informasi masyarakat sebagai dampak negatif atas akses pada sumberdaya informasi, dan mencukupi tambahan dana guna mempertahankan kelangsungan hidup perpustakaan.

Perpustakaan memiliki peran strategis dalam proses pendidikan formal, nonformal dan informal. Melalui koleksi bahan pustaka dan fasilitas yang ada di perpusakaan, masyarakat dapat melakukan proses belajar sepanjang hayat (long life education), yakni proses belajar segala aspek kehidupan yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dalam rangka peningkatan kualitas kehidupan.  Dimana ciri individu sebagai pembelajar sepanjang hayat adalah memiliki kesadaran bahwa ia harus belajar sepanjang hayat, memiliki semangat dan pandangan bahwa belajar hal-hal yang baru merupakan cara  logis untuk mengatasi masalah, menyambut baik perubahan, dan percaya bahwa tantangan hayat adalah peluang untuk belajar pada hal-hal yang baru. Hal yang sangat mendasar dalam proses belajar sepanjang hayat adalah melek informasi (information literate). Melek informasi adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, menemukan kembali, mengartikan dan menerapkan informasi.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan pemahaman literasi masyarakat, maka perkembangan pengelolaan perpustakaan pun mengalami perubahan dan pergeseran. Yang kemudian muncul istilah-istilah yang mengikutinya seperti perpustakaan elektronik (e-library), perpustakaan digital (digital library), perpustakaan terpasang (online library), perpustakaan tanpa dinding (library without wall), perpustakaan maya (virtual library). Kemudian akibat dari perkembangan teknologi informasi ini Blasius Sudarsono dalam buku “Antologi Kepustakawanan Indonesia” mengatakan bahwa terdapat pergeseran salah satu  fungsi pengelolaan perpustakaan dari pengelolaan koleksi (collection management) ke pengelolaan data (data management) menuju pengelolaan informasi (information management) sampai pada konsep terkini yaitu pengelolaan pengetahuan (knowledge management). Teknologi informasi telah banyak mengubah wajah dan praktik perpustakaan. Perpustakaan tidak lagi hanya ditangani oleh pustakawan, namun juga profesional teknologi informasi.

Sejalan dengan perkembangan pengetahuan di masayarakat, lebih lanjut Sudarsono mengatakan bahwa Orientasi pembangunan perpustakaan yang dapat diterapkan adalah model pendekatan kemanusian (humanistic approach), pendekatan ini melihat perpustakaan menjadi sub sistem dari sistem masyarakat, dan merancang perpustakaan menjadi bagian yang memiliki kebergunaan (usability) yang tinggi dalam menjaga dan meningkatkan harkat manusia. Dengan demikian masyarakat akan menilai seberapa tinggi citra dan kualitas layanan perpustakaan yang diberikan, dan mampu memberikan niali positif bagi pengembangan sumber daya manusianya.

*Pemustaka

Share :