MEMBANGUN EKOSISTEM LITERASI BERBASIS PLATFORM DIGITAL

MEMBANGUN EKOSISTEM LITERASI BERBASIS PLATFORM DIGITAL

MEMBANGUN EKOSISTEM LITERASI BERBASIS PLATFORM DIGITAL

Oleh Atih Ardiansyah*

 

Secara singkat, kita menyebut berbagai perubahan yang terjadi hari ini dengan sebutan disrupsi (disruption). Disrupsi, kata Prof Rhenald Kasali, adalah doing things differently, so others will be obsolete—membuat banyak hal baru sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman.

Proses disrupsi bisa dengan terang kita lihat dalam kasus transportasi. Dulu, untuk menjadi pengusaha taksi, seseorang harus memiliki armada kendaraan terlebih dahulu. Setelah itu, sopir dan banyak pegawai juga mesti direkrut. Pengusaha taksi juga harus memiliki pool sebagai garasi taksi. Secara sederhana, untuk menjadi pengusaha taksi, diperlukan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Belanja kendaraan, tanah dan bangunan untuk pool taksi, serta gaji karyawan adalah investasi yang harus dilakukan.

Era disrupsi mengubah tatanan itu. Grab dan Gojek misalnya, menjadi perusahaan transportasi tanpa satu pun armada. Mereka juga tidak memiliki pool atau mengontrak sopir. Cukup dengan bekerja sama dengan siapa saja yang memiliki kendaraan dalam kondisi layak, bahkan disopiri sendiri oleh pemilik kendaraan tersebut dan kendaraan itu bisa diparkir di garasi pemiliknya, Grab dan Gojek mampu menjadi perusahaan transportasi besar bahkan membuat para pemain lama seperti ketinggalan zaman.

Bukan hanya di bidang transportasi, disrupsi telah merambah bidang-bidang yang lain. Di bidang perbankan kini kita mengenal aplikasi online payment, agen perjalanan wisata juga terpental oleh aplikasi travel online. Tidak terkecuali dunia literasi, juga mengalami disrupsi. Dunia literasi hijrah ke dalam platform yang bersifat digital. Masyarakat yang semula mendewakan buku, kini beralih ke Youtube sebagai aplikasi penyedia konten video terlengkap sedunia.

Kegiatan membaca berubah menjadi pengamatan terhadap video. Apa saja yang selama ini hanya bisa diperoleh melalui buku, petunjuk atau tutorialnya sudah ada di Youtube. Dulu orang belajar komputer dengan cara kursus dan membeli buku panduan, sekarang orang tinggal belajar sendiri melalui Youtube. Orang-orang dulu membaca buku resep atau ikut kursus untuk bisa memasak, sekarang orang cukup dengan membuka Youtube dan melihat tutorialnya. Hampir seluruh kehidupan keseharian bisa kita ketahui dengan cara belajar dari Youtube.

Sisi baik dari fenomena disrupsi ini adalah menjadi murahnya hal-hal yang semula mahal. Untuk membaca buku, dulunya seseorang harus membeli buku yang terkadang mahal sekali. Atau harus meminjam di perpustakaan, dengan catatan mereka tercatat dahulu sebagai anggota. Belum lagi harus giliran pinjam lantaran koleksinya terbatas.

            Namun, dengan teknologi yang makin canggih, biaya yang mahal bisa menjadi lebih murah. Bahkan, gratis. Cukup melalui satu aplikasi, satu buah e-book bisa dibaca olah banyak orang dalam satu waktu yang sama. Praktis.

Aplikasi KETIX

Menyikapi shifting di era disrupsi, para pegiat literasi yang tergabung dalam Komunitas Menulis Online (KMO) telah berhasil melakukan menghadirkan sebuah aplikasi untuk membaca dan menulis sekaligus secara online. Pembaca bisa langsung menjajal aplikasi tersebut dengan cara mengunduhnya lewat App Store. Nama aplikasinya KETIX.          

Aplikasi KETIX adalah jembatan yang menghubungkan antara penulis dan pembaca, sehingga tercipta ekosistem literasi. KETIX didesain sebagai platform edutainmerce (education, entertainment, e-commerce) dengan konsep pemasaran berupa campaign, digital marketing dan menggandeng influencer. Tujuannya bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus memudahkan penulis untuk mendapatkan pembacanya. Aplikasi ini juga membantu penulis menerbitkan buku mereka dalam bentuk e-book, dengan sistem pembagian royalti (80 % untuk penulis dan 20 % untuk KETIX).

Sampai Juli 2019, sudah ada 2.400 buku yang terbit di aplikasi KETIX dari sekitar 1.200 orang penulis. Setelah dirilis selama dua, KETIX sudah diunduh 5 ribu kali dengan pembaca aktif sekitar 3.500 pengguna. Untuk memperbesar pasar pembaca, KETIX bekerja sama dengan penerbit Elexmedia. Mereka juga berencana akan bermitra dengan pemerintah untuk mengisi koleksi buku di perpustakaan digital milik pemerintah.

Di dalam aplikasi KETIX ada fitur TixRoom. Ini ruang diskusi antara pembaca dan penulis. Lalu, ada TixSeries, yaitu film pendek yang diproduksi dari hasil kurasi buku-buku terbaik di KETIX dan kelas online dari penulis-penulis terkenal yang bergabung di aplikasi tersebut.

Tidak hanya itu. Penulis diberi umpan balik berupa badge leveling user reputations. Sebuah tingkatan rewards berdasarkan jumlah pengikut dan popularitas cerita. Makin tinggi tingkatan badge, makin banyak keuntungan yang diperoleh. Contohnya, mendapat koin yang bisa ditukar dengan royalti berupa nilai rupiah.

Di era sharing economy seperti sekarang, yang sedang dilakukan KETIX adalah membangun ekosistem literasi (literacy ecosystem). Melalui aplikasi itu, dengan menganalisis data-data algoritmanya, justru memudahkan penulis atau penerbit untuk membaca tren tema buku yang sedang disukai pembaca.

Tidak hanya berdampak untuk meningkatkan kegiatan literasi. Dalam waktu yang sama, di dalamnya bisa berlangsung kegiatan ekonomi yang tidak kecil. Bila seseorang melakukan satu kali transaksi senilai Rp 50 ribu setiap bulan, maka dalam sebulan dengan anggota jutaan orang, kapitalisasi transaksinya bisa miliran rupiah.

Bagi penulis, pekerjaan mereka tidak selesai hanya menulis. Sebab, melalui aplikasi tersebut, penulis bisa mengamati popularitas bukunya. Mengecek pertumbuhan follower-nya. Sekaligus mengetahui apa saja komentar dan kritik yang diberikan pembaca terhadap karyanya. Ini positif agar penulis terpacu menghadirkan karya-karya terbaiknya.

*(Dosen dan Penulis)
Share :