DINAMIKA LAYANAN PERPUSTAKAAN

DINAMIKA LAYANAN PERPUSTAKAAN

DINAMIKA LAYANAN PERPUSTAKAAN

Oleh Teguh Wahyudi*


Perkembangan yang pesat di bidang ekonomi, politik, teknologi dan lainnya telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Globalisasi memperluas ruang kehidupan masyarakat yang sebelumnya terbatas. Globalisasi mendorong terbukanya akses informasi dari  keterbatasan informasi ke arah situasi yang di sebut era informasi. Kebutuhan masyarakat atas pemenuhan informasi semakin meningkat yang berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan masyarakat atas sarana untuk memperoleh dan menyampaikan informasi. Salah satunya adalah kebutuhan atas jasa perpustakaan.

Dewasa ini, peran jasa perpustakaan dalam menyediakan informasi semakin nyata dalam rangka mendorong pertumbuhan iklim pembelajaran di masyarakat. Konsep layanan di perpustakaan terutama yang menyangkut layanan informasi, harus mampu mengkondisikan, memelihara dan mengembangkan persepsi masyarakat ke arah dinamika kehidupan yang berwawasan lebih luas tentang pentingnya sumber informasi sebagai salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, menanamkan, memelihara, dan meningkatkan “apresiasi” masyarakat yang positif dan fungsional terhadap perpustakaan harus dijadikan titik tolak dan tonggak utama bagi kiprah pelayanan lainnya dalam gerak dinamika penyelenggaraan perpustakaan.

Ase S. Muchyidin (1998) dalam “Dinamika Informasi dalam Era Gelobal” menawarkan strategi operasional peningkatan layanan informasi dengan beberapa pendekatan diantaranya:

1.     Pendekatan Koordinasi Layanan Perpustakaan. kesamaan paham dalam mempersepsi fungsi dan posisi perpustakaan bagi masyarakat luas diantara pengelolanya sangat penting dan merupakan kunci bagi keberhasilan peningkatan layanan informasi di perpustakaan. Dalam pendekatan ini perlu dipertemukan suatu rumusan kesepakatan antar pengelola perpustakaan tentang tindakan bersama dalam arena kehidupan masyarakat tentang apa yang perlu disajikan, bagaimana cara menyajikannya, siapa saja yang terkait dan berkepentingan, kondisi dan momen yang bagaimana yang perlu diperhitungkan. Itulah beberapa kata kunci dalam menjalankan kegiatan tersebut.

2.   Pendekatan kelembagaan pembinaan layanan perpustakaan. Hal ini beranjak dari realita bahwa pada umumnya di perpustakaan merupakan salah satu subsistem dari suatu lembaga yang menaunginya. Meskipun perpustakaan memiliki otonomi dalam operasional layanan, namun secara kelembagaan tetap terkait dan terpaut dengan misi lembaga induknya.

3.      Pendekatan kemitraan pelayanan perpustakaan. Secara fungsional jasa layanan yang diberikan oleh perpustakaan berhubungan angsung dengan masyarakat luas, dalam arti masyarakat disini adalah sekelompok orang yang heterogen yang bermukim pada komunitas administratif tertentu dalam artian mulai dari tingkat desa hingga tingkat provinsi.

4.      Koordinasi penataan dan penyeimbangan layanan sumber-sumber informasi. masyarakat akan merasakan manfaat dan daya guna perpustakaan dalam kiprah kehidupan mereka sehari-hari apabila pihak perpustakaan mampu menyediakan jasa layanan yang komprehensif. Artinya secara fungsional perpustakaan mampu memenuhi, merespon, menopang dan mengembangkan dinamika kehidupan masyarakat secara optimal.

5.      Koordinasi strategi operasional layanan perpustakaan. Berkaitan dengan konsep informasi layanan perpustakaan, perlu dibuat jaringan sistem layanan yang perlu diinformasikan kepada masyarakat secara luas. Masyarakat yang dilayani perlu mengetahui dengan pasti di bidang apa, kapan dan dimana jasa layanan informasi dapat diperoleh dalam sistem layanan informasi perpustakaan.

6.      Pembinaan personil dan pengembangan kualitas layanan perpustakaan. kondisi personil perpustakaan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif merupakan kunci utama bagi keberhasilan layanan informasi di perpustakaan.

Selain itu kita perlu mengantisipasi dinamika layanan dalam upaya merespon dan mengakomodasi kehidupan masyarakat yang terus menerus berubah dan berkembang. Dengan demikian aktualisasi layanan perpustakaan senantiasa dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Era informasi dan globalisasi pada saat sekarang ini, merupakan bahan pemikiran bagi kita bersama untuk mendinamiskan program layanan informasi di perpustakaan.

Kepuasan pemustaka atas layanan yang diberikan perpustakaan akan tercermin dari apa yang disajikan perpustakaan itu sendiri. Rahayuningsih (2015) dalam bukunya “mengukur Kepuasan Pemustaka” mengemukakan bahwa kepuasan pemustaka dapat diukur dari tiga unsur. Pertama, Affect of Service (kinerja petugas dalam pelayanan), yaitu kemampuan petugas perpustakaan dalam melayani pemustaka yang terdiri dari aspek rasa peduli dan memberi rasa penuh perhatian, siap/tanggap membantu pemustaka yang kesulitan, pengetahuan, wawasan, kemampuan dan keramahan petugas, serta kemampuan memberi janji dan harapan dalam pelayanan. Kedua, Information Control (kualitas informasi dan akses informasi), yaitu ketersediaan informasi dan akses informasi yang berkualitas yang terdiri dari aspek koleksi yang memadai dan kekuatan koleksi yang dimiliki, kenyaman pemustaka dalam mengakses informasi baik secara langsung datang ke perpustakaan atau secara online, dan kecukupan sarana prasarana untuk mengakses informasi. Ketiga, Library as Place (sarana perpustakaan), yaitu ketersediaan fasilitas dan ruang yang bermanfaat bagi aktifitas pembelajaran pemustaka di perpustakaan yang terdiri dari aspek kemampuan perpustakaan dalam menampilkan sarana dan prasarana yang  menarik dan rapi, ruang yang bermanfaat, desain yang menginspirasi untuk belajar, dan perpustakaan memiliki ruang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dengan demikian, sebagai wajah terdepan dari sebuah perpustakaan, layanan harus terus dikembangkan dan berinovasi, agar pemustaka yang memanfaatkan perpustakaan dan mencari informasi merasa terpuaskan dan selalu ingin kembali ke perpustakaan untuk mengakses informasi.

*Pemustaka


Share :