DISRUPSI PERPUSTAKAAN

DISRUPSI PERPUSTAKAAN
DISRUPSI PERPUSTAKAAN

Atih Ardiansyah*

 

Semakin hari, tantangan yang kita hadapi dalam upaya meningkatkan daya baca masyarakat semakin berat saja. Selain harga buku yang terus mengalami peningkatan yakni 10-20 persen per tahun, daya beli masyarakat terhadap buku pun cenderung semakin rendah. Mau ke perpustakaan, tidak semua perpustakaan dalam kondisi ideal, terutama perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa. Sederet masalah yang mengiringi eksistensi perpustakaan seperti kekurangan pustakawan, koleksi buku yang terbatas, dan tata letak yang kurang menarik membuat masyarakat semakin menjauh.

Saat para pegiat literasi dan Perpustakaan Daerah bahu membahu  mendekatkan buku kepada masyarakat, kesemestian zaman membawa masyarakat kita untuk lebih memilih menyaksikan video daripada membaca buku. Youtube, sebagai kanal kolektor video paling lengkap di dunia, telah menjadi magnet baru yang makin menjauhkan masyarakat dari buku. Betapa tidak, masyarakat bisa mengakses apa pun melalui Youtube tidak lagi melalui buku. Daya beli masyarakat yang cenderung menurun terhadap buku, justru berbanding terbalik dengan makin meroketnya daya beli masyarakat terhadap kuota internet demi bisa mengakses video di Youtube dan media sosial lainnya.

Alert! Disrupsi telah turut menyerang perpustakaan dan kegiatan literasi. Realitasnya, disrupsi tak terelakan lagi telah turut melanda bidang literasi. Kita belum benar-benar menggandrungi pada buku cetak, kini kita harus berhadapan dengan buku elektronik. Dari segi harga memang lebih murah bahkan bisa dibilang gratis, namun proses edukasi dengan realitas ini memerlukan pendekatan yang sungguh-sungguh baru. Godaannya sangat besar, tarik menarik dengan pesona media sosial.

Tabiat disrupsi tak ada yang lain selain kita harus mengikutinya, jika tidak ingin ketinggalan. Secara definisi, disrupsi memang demikian, yakni doing things differently, so others will be obsolete—membuat banyak hal baru sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman (Kasali, 2017). Kita tidak bisa melawan disrupsi, yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengannya.

Bagaimana langkah-langkah agar perpustakaan dan kegiatan literasi tidak tergerus oleh disrupsi?

Pertama, para para pegiat literasi dan pemerintah harus beradaptasi dengan kondisi yang baru ini. Teknologi memang bisa mendisrupsi kegiatan literasi, akan tetapi di balik itu tersaji peluang yang bisa kita optimalkan. Salah satu peluangnya yaitu kemurahan akses. Buku-buku yang semula mahal bisa menjadi lebih murah bahkan gratis. Para pegiat literasi dan pemerintah tinggal memikirkan cara yang tepat bagaimana membuat masyarakat menggandrungi buku elektronik. Ingat, hari ini hampir semua orang memiliki telepon pintar (smartphone), bahkan satu orang bisa memiliki dua atau lebih.

Kemudian perpustakaan yang kadang-kadang sepi pengunjung lantaran kekurangan  koleksi dan penataan yang kurang, bisa direvitalisasi dengan konsep co-working space. Artinya, perpustakaan yang selama ini hanya menyediakan buku-buku, juga harus menyiapkan ruang berbagi tempat kerja bagi pengunjung. Maka perpustakaan harus menambah kelengkapan sarana penunjangnya, mulai dari koneksi internet, meja dan kursi yang nyaman untuk bekerja di belakang laptop, tempat rehat, tempat ibadah, dan kantin. Bahkan perpustakaan bisa menyiapkan buku-buku yang dipesan (by request) oleh pengunjung untuk menunjang aktivitas kerja mereka.

            Kedua, kolaborasi. Pegiat literasi dan pemerintah harus bisa membangun aplikasi multi platform. Dengan satu aplikasi tersebut, para pegiat literasi dan pemerintah membantu masyarakat untuk tidak hanya membaca tetapi juga sekaligus bisa membeli buku dengan memanfaatkan financial technology (fintech). Ini sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa teknologi tidak serta-merta membikin buku menjadi gratis. Pembaca harus tetap memberikan penghargaan kepada penulis  dan karya intelektualnya.

Ketiga, inovasi. Setelah para pegiat dan pemerintah memiliki aplikasi literasi, inovasi tidak boleh berhenti. Aplikasi tersebut harus bisa memfasilitasi eksistensi masyarakat dan pengunjung perpustakaan. Fitur-fitur yang disediakan di dalam aplikasi, misalnya, harus bisa memfasilitasi user untuk berkarya dan saling berinteraksi. Interaksi meliputi saling memberi penilaian (rating) dan merekomendasikan bacaan.

Ini seperti memindahkan aktivitas di luar ke dalam jaringan. Apakah hal itu sudah harus dilakukan oleh ekosistem literasi kita? Penulis merasa hal tersebut harus sudah mulai dipikirkan dan dirintis. Perubahannya memang tidak akan terasa, tetapi lihatlah apa yang terjadi dengan Nokia ketika lambat merespons perubahan: mereka mengalami kepunahan.


*(Founder Cendekiawan Kampung, dosen FHS UNMA Banten)


Share :