GAWAI DAN KEBIASAAN MEMBACA

GAWAI DAN KEBIASAAN MEMBACA

GAWAI DAN KEBIASAAN MEMBACA


Oleh : Siti Mulyani Awaliyah *



Dizaman moderen sekarang ini teknologi sudah menjadi kebutuhan masyarakat dari segala golongan, tidak mengenal jenis kelamin, pekerjaan, dan tidak pula mengenal usia. Orang lanjut usia sekalipun memanfaatkan teknologi dalam membantu aktivitas sehari-hari, begitu pula anak-anak. Pada saat sekarang ini banyak orang tua yang menggunakan teknologi dalam kehidupannya seperti gawai dan computer sebagai media edukasi bagi anak, namun pada akhirnya tidak sedikit dari anak tersebut mengalami kecanduan gawai.


Di sisi lain, banyak orang tua yang merasa resah terhadap perkembangan anak di era milenial ini. Para orang tua ingin anak mereka berkembang secara alami tanpa diganggu oleh gawai, walaupun hal tersebut amat susah dihilangkan dari kehidupan sehari-hari. Generasi saat ini merupakan tipikal yang aktif, tidak mengenal lelah, serta cerdas. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi atau sibuk memainkan gawai. Oleh karena kebiasaan menggunakan gawai, kecanduan gadget pada anak perlahan timbul.


Persepsi orang tua bahwa dengan memberikan gawai kepada anak akan menjadikan anak mereka lebih cerdas karena anak pintar mengoperasikan gadget. Pendapat ini jelas salah besar. Karena ketika anak sudah mulai tertarik dengan gawai dan mampu mengoperasikannya, apalagi dengan banyaknya game atau permainan yang menyenangkan akan membuat anak semakin ketagihan dengan gawai. Bahkan sangat sulit untuk melepaskan ketergantungan anak pada barang kecil tersebut.


Orang tua sah-sah saja mengenalkan gawai pada anak, namun orang tua harus bijak kapan saatnya mengenalkannya pada anak. Gawai mempunyai sisi positif dan sisi negatif, jika kita lihat dari sisi positif, alat ini bisa menjadi positif jika digunakan untuk bermain sambil belajar, pilih game yang bisa melatih kecerdasan dan ketajaman otak, sehingga anak bisa belajar.


Ajari anak untuk memakai gawai secara bijak dan lebih terarah. Saat ini ada youtube kids, disitu anak hanya bisa melihat video seputar anak-anak, lihat kartun, karena disitu hanya tersedia video khusus anak-anak, kemudian untuk permainan saat ini banyak permainan yang mendidik, anak bisa belajar mengenal huruf abjad dan juga angka anak bisa belajar penjumlahan, pengurangan, mengenal hewan-hewan beserta suara hewan, jadi pintar-pintar orang tua dalam memilih aplikasi yang akan di pasang dalam gadget.


Beberapa dampak positif gawai antara lain anak menjadi tahu banyak informasi pengetahuan, terampil dalam pemakaian teknologi, dan dapat menjadi media untuk menyalurkan minat dan bakatnya 


Orang tua harus tahu dampak buruk gawai bagi perkembangan anak sebelum memutuskan memberikannya pada anak. Ada banyak dampak bagi anak, misalnya anak akan jadi malas karena terlalu asyik dengan permainannya, kurangnya bersosialisasi, enggan bermain dengan teman-temannya, ia lebih memilih memainkan gawai berlama-lama ketimbang bersosialisasi,  menurunnya prestasi disekolah, karena keranjingan dengan gawai anak jadi malas belajar, enggan membaca buku akibatnya prestasi di sekolah jadi menurun, serta masih banyak lagi dampak buruk gadget bagi anak.


Oleh karena itu peran orang tualah yang menjadikan anak lebih memilih buku atau gadget. Shane Bergin seorang fisikawan dari universitas College Dublin mengatakan bahwa orang tua sebaiknya tidak memberikan gadget kepada anak terlalu dini, karena memiliki dampak besar di masa depannya, seharusnya orang tua menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Karena media buku memberikan stimulasi yang sangat efektif dalam perkembangan otak anak.


mengenalkan buku pada anak sejak dini mampu menciptakan kebiasaan yang baik, karena anak bisa mengembangkan pengetahuan dan mencari informasi terpercaya. Sebagai proses mengenalkan buku kepada anak, orang tua bisa membacakan cerita sejak usia Batita (bayi dibawah 3 tahun) atau bahkan sejak dalam kandungan dengan menstimulasi membacakan cerita. Melalui proses mendengarkan cerita, anak akan merekam pesan moral dari cerita tersebut. Secara tidak langsung anak akan menyimpan rapi pesan moral tersebut di dalam otaknya, kalau kemudian anak terus menerus dibacakan cerita maka otak anak akan terus terstimulus untuk terbiasa dengan hal-hal yang positif. Dengan terbiasanya mendengarkan cerita akan kaya kosa kata dan berguna ketika ia mulai masuk sekolah sekaligus anak akan mampu bersosialisasi dengan orang sekitar karena membacakan buku cerita untuk anak menjadi dasar merangsang keterampilan berbicara. Jadi baik buku ataupun gawai bisa bermanfaat manakala orang tua bisa mengendalikan penggunaan dua hal tersebut. Orang tua mengenalkan kehidupan nyata, anak akan mampu berimajinasi secara langsung di dunia nyata.


*Pemustaka


 


Sumber :


Susanto, A. (2011). Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana


Widyastuti, A. (2017). Perkembangan Kemampuan Membaca . Jakarta: Elex Media Komputindo.


Share :