PILAR MINAT BACA

PILAR MINAT BACA

PILAR MINAT BACA

Oleh Iman Sukwana*

Minat baca merupakan suatu ketertarikan untuk dapat mengartikan atau menafsirkan media kata-kata dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dengan adanya minat baca dapat mendorong seseorang untuk giat memperluas pengetahuannya. Semakin tinggi minat baca pada diri seseorang semakin tinggi pula hasil belajar yang diterimanya, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan belajar optimal.

Minat baca pada seseorang tidak dapat tumbuh begitu saja secara instan, tetapi melalui proses yang panjang dan tahapan perubahan yang muncul secara teratur dan berkesinambungan. Seseorang yang memiliki minat baca dalam dirinya akan memiliki gairah atau kecenderungan untuk melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis, baik dengan dilafalkan atau mengeja apa yang ditulis atau hanya dalam hati. Disertai dengan perasaan senang karena merasa ada kepentingan terhadap hal tersebut. Oleh karenanya minat baca sangat penting bagi perkembangan seseorang.

Membaca merupakan unsur penting dalam Pendidikan, baik bersifat formal maupun non formal yang harus tetap dijaga dan ditingkatkan esensinya melalui berbagai upaya pembinaan dan pengembangan kegemaran membaca. Undang Undang No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Bab XIII Pasal 48 (1) mengisyaratkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui 3 (tiga) jalur yaitu Keluarga, Satuan Pendidikan, dan Masyarakat. Pembudayaan kegemaran membaca ini lebih mudah ditanamkan pada anak sedini mungkin dan berlanjut secara terus menerus. Mewujudkan anak yang mempunyai kebiasaan membaca, dapat ditumbuhkan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi yang ada, baik perpustakaan, taman bacaan maupun koleksi buku dirumah. Agar dapat dicapai hasil yang optimal dalam upaya meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak, generasi muda dan masyarakat maka harus dipupuk dan digiatkan secara serentak dan terpadu.  Keberhasilan gerakan membaca akan dapat dicapai dengan melibatkan peran serta semua komponen secara ikhlas.

Keluarga

Keluarga merupakan lngkungan pertama dimana kita tinggal. Keluarga adalah fase pertama pendidikan diperoleh dan dilaksanakan. Dalam lingkungan keluarga perkembangan anak sejak usia dini sudah mengenal berbagai bentuk huruf dan tanda baca yang kemudian diketahuinya memiliki makna. Oleh karena itu, untuk membangkitkan rasa ingin tahu yang kuat pada diri anak, tentu di rumah tersedia sarana prasarana pendukung bagi pengembangan literasinya. Dengan demikian perlu disediakan bacaan yang menarik, baik untuk dibacakan kepada anak atau dibaca sendiri, sebagai titik awal membangkitkan minat baca.

Beberapa faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca, seperti Sutarno NS (2003) menyatakan bahwa faktor pendukung minat baca antara lain : a).rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan informasi. b).keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya abahan bacaan yang menarik, berkualitas, dan beragam. c).keadaan lingkungan sosial yang kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca. d).rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual. e). Berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.

Keluarga adalah lingkungan pertama dimana anak tinggal. Penguatan kemampuan anak dalam bidang literasi tentu membutuhkan upaya orang tua untuk menyediakan sarana pendukung bagi terwujudnya kebiasaan anak. Dan tentu yang tidak kalah penting adalah peran dan contoh yang diberikan orang tua secara riil diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pada akhirnya anak terbiasa dengan kondisi dan situasi kebiasaan literasi dilingkungan keluarga.

Sekolah

Meskipun sekolah merupakan tempat mencari ilmu, baik melalui lisan maupun tulisan, belum tentu murid mencarinya di dalam buku, atau melakukan kegiatan membaca untuk menimba ilmu. Kebiasaan guru menjelaskan dan murid mendengarkan sudah lama menjadi sitem dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Tradisi semacam ini harus dihilangkan dan tradisi baca-tulis perlu dikembangkan. Sebagaimana Laksmi (2006) mengutip dari Raharjo menyatakan bahwa cara pengembangan lterasi di sekolah dilaksanakan dengan cara pertama, menciptakan suasana untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap buku dan mengajarkan bagaimana memahami bacaan. Cara ini dilakukan dengan komitmen antara guru dan pustakawan; membuat program khusus yang terintegrasi, seperti membuat museum sekolah, membuat surat kabar/majalah dinding/kliping, membentuk klub pmbaca buku, membuat toko buku/koperasi sekolah, dan memberikan ceramah/bimbingan pemakai secara rutin; mengundang pengarang/illustrator, membuat acara diskusi, bedah buku, pelajaran teknik menulis, dan sebagainya. Kedua, membuat perpustakaan sekolah dengan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, tertata rapi, terawat dan mudah ditemukan; dengan pustakawan profesional yang menjaga komitmen dalam pekerjaannya; dengan melengkapi perpustakaan dengan perabotan yang nyaman, memadai, jam buka dan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Ketiga, membaca bersama dan berbagi pengalaman dengan cara membaca secara bergiliran; mengadakan acara jam bercerita; dan mengadakan acara diskusi buku mengenai ceritanya, pengarang, ilustrasi, pengalaman ndividu yang serupa, dan lain-lain. Keempat, melakukan aktivitas bersama guru atau pustakawan seperti membuat proyek bacaan (mendata buku seperti yang dilakukan pustakawan); membaca secara kreatif dengan menggambar, menjahit dan lain-lain  pekerjaan prakarya.

Dengan membangun suasana yang menyenangkan dan melakukan aktvitas bersama dalam kegiatan baca tulis, siswa akan tertarik dengan sendirinya dan tanpa paksaan. Mereka akan mengubah gaya hidup masing-masing menjadi gaya hidup yang berakar pada tradisi baca tulis. Jika sekolah belum menyadari pentingnya tradisi tersebut bagi kehidupan, semua gerakan meningkatkan budaya lterasi akan sia-sia dan hanya muncul sebagai sebuah utopia. Oleh karena itu, langkah yang sangat penting dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kegiatan literasi, maka upaya berikutnya akan jauh lebih mudah. Sekolah sebagai tempat yang menyenangkan, tentu perlu didukung oleh sarana prasarana yang memenuhi standar penyelenggaraan pendidikan.

Masyarakat

Selain kehidupan di keluarga dan sekolah, pada lingkungan masyarakat kita memperoleh banyak pelajaran yang dapat mempengaruhi tindakan sosial, budaya dan bahkan intelektualitas. Karena selain mendiami suatu wilayah tertentu,masyarakat juga memiliki semacam kesepakatan, aturan dan norma tertentu yang kemudian masing-masing individu dalam masyaraat tersebut memiliki kecenderungan untuk mentaati dan mempertahankan aturan dan norma tersebut. Terkadang setiap individu juga memiliki perasaan bangga untuk berada didalamnya, kemudian ada tujuan tertentu yang ingn dicapai bersama, persamaan nasib, keadaan dan perjuangan, dan adanya rasa aman dan perlindungan dari pemimpinnya.

Dalam pengembangan budaya literasi, masyarakat secara swadaya dapat membentuk lembaga-lembaga yang mendukung kegiatan tersebut. Misalnya masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan sebagai pusat kegiatan yang ada sebagai aktivitas mewujudkan masyarakat pembelajar di lingkungannya. Dimana pembentukan lembaga seperti ini ditujukan untuk mengurangi “hambatan budaya” yang tidak mudah dihilangkan, namun secara bertahap harus dikurangi. Salah satu kegiatan tersebut adalah dengan membangun tradisi mebaca yang lebih efektif. Kebiasaan sebagian masyarakat kita adalah lebih senang mengobrol tanpa arah tujuan. Maka dengan adanya inisiatif mendirikan perpustakaan dilingkungannya, secara perlahan namun pasti perubahan ke arah pencerdasan akan berjalan.

Fasilitator bagi terselenggaranya kegiatan literasi pada pilar minat baca tentu saja pemerintah. Tanpa peran aktif secara komprehensif kegiatan literasi ini akan terasa kurang. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam UU 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 48 tersebut diatas.

 

Pilar minat baca yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan pendukung terciptanya lingkungan pengembangan budaya lierasi. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembiasaan ini. Kemudian sekolah dan masyarakat merupakan dua unsur pendukung penting, karena pada dua lingkungan ini kita akan belajar bagaimana cara-cara bersosialisasi dan cara bermasyarakat. Namun, sejalan dengan perkembangan informasi dan teknologi yang mendukungnya, tentu saja arus informasi yang mengalir kepada masyarakat menjadi tidak terbendung. Ada yang diuntungkan ada pula yang dirugikan. Tinggal bagaimana secara arif kita menyikapinya.

 

*Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten

Share :