TAMAN BACA MASYARAKAT (TBM) : Sebuah Resolusi Peradaban?

TAMAN BACA MASYARAKAT (TBM) : Sebuah Resolusi Peradaban?

TAMAN BACA MASYARAKAT (TBM) : Sebuah Resolusi Peradaban?

Oleh Muhammad Furqon Hadiwijaya*

 Banyak hal yang terjadi dalam perjalanan sebuah peradaban, baik yang terasa langsung maupun tidak langsung, ada banyak pergeseran nilai yang terasa sangat erat dan begitu cepat sehingga cukup sulit menentukan tolak ukur sejauh mana peradaban itu sendiri berhasil. Perlu diketahui peradaban yang saya maksud disini adalah sebuah proses yang berorientasi pada literasi dan sumberdaya manusia yang memiliki daya saing tinggi sehingga tercipta suatu dinamika yang sehat dan pola pikir yang kritis.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa untuk menciptakan sebuah peradaban dari dulu sampai sekarang akan selalu ada perkembangan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi, tapi seolah sudah disepakati bahwa pihak yang bertanggung jawab penuh untuk itu adalah lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan itu muncul dalam sebuah ruang yang kita kenal secara umum dengan nama sekolah atau kampus, diruang itulah semua hal yang berhubungan dengan pendidikan karakter, pengetahuan, wawasan, dan banyak lagi hal yang dipelajari disana. Kemudian muncul pertanyaan yang mendasar yaitu apakah hanya sekolah yang bisa mencetak generasi perubahan peradaban dikemudian hari? Apakah sekolah atau kampus secara menyeluruh sudah bisa dikatakan berhasil dengan sistem yang dijalankan?

Pertanyaan itu perlu mendapatkan jawaban yang kongkrit dan bisa deterima oleh semua pihak sebagai bukti dan penguat bahwa sekolah atau kampus bisa menjamin kualitas sumberdaya manusia yang berdaya saing tinggi. Karena sampai saat ini sekolah atau kampus masih jadi pilihan utama bagi setiap masyarakat untuk menimba ilmu pengetahuan dan membangun karakter walaupun tolak ukur keberhasilannya subyektif untuk diuji lebih lanjut.

Dilihat dari banyaknya persoalan yang terjadi dilingkungan sekolah dan kampus yang dimulai dari sistem kurikulum, oknum tenaga pengajar yang memberikan contoh buruk, lingkungan yang tidak mencerminkan peradaban yang bersifat kritis dan argumentatif, pelajar yang melakukan tindakan yang kurang baik dan masih banyak lagi.

Itu hanya sebagian kecil contoh yang terjadi dilingkungan sekolah atau kampus, walaupun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa banyak juga prestasi dan hal baik yang terjadi dan banyak dirasakan oleh banyak orang. Akan tetapi apakah sebanding dan bisa dikatakan wajar apabila yang terjadi adalah seperti uraian diatas, atau ini bisa dibilang tidak sebanding?. Lalu apa tolak ukurnya jika dikatakan wajar atau tidak wajar?.

Bagi saya hal itu menjadi paradoks dan terlihat kontras ketika kita melihat banyak hal yang sudah dilakukan oleh lembaga sekolah ataupun kampus, sehingga pandangan saya terhadap sekolah dan kampus seolah menjadi kurang baik.

Padahal kita juga sama sama tahu sejak awal kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, di mana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni).

Dari pengertian diatas bahwa sekolah itu hanya mengisi waktu luang yang orientasinya baik untuk perkembangan anak tersebut, akan tetapi hal itu berbanding terbalik 360° bahwa hari ini sekolah yang kita kenal bukan lagi tentang ilmu pengetahuan dan karakter saja. Jauh lebih daripada itu sekolah hari ini seakan sudah diorientasikan kepada bisnis sehingga angka bayarannya sangat tinggi dan cenderung yang miskin tak lagi bisa sekolah karena kurang biaya.

Ilmu pengetahuan dan karakter yang dipelajari didalamnya tidak bisa menjamin bahwa siapapun yang menjadi siswanya akan menjadi manusia yang berdaya saing tinggi, lalu apakah benar sekolah atau kampus hanya dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang tidak perlu berdaya saing tinggi yang penting mempunyai selembar bukti bahwa pernah sekolah atau kuliah yang kita sebut dengan nama ijazah.

Lalu apakah tujuan utama sekolah atau kuliah adalah semata-mata hanya untuk mendapatkan selembar kertas ijazah yang dijadikan sebuah tolak ukur keberhasilan bahwa ia telah berpengetahuan luas dan berdaya saing tinggi?.

Jika hanya ijazah yang dijadikan tolak ukur sebuah keberhasilan bersekolah atau berkuliah pantas saja jika sumberdaya manusia lulusannya tidak akan memiliki ilmu pengetahuan, karakter dan mental yang akan mengantarkannya menjadi sumbernya manusia yang berdaya saing tinggi.

Bagaimana pembangunan peradaban akan berkembang apalagi maju jika tolak ukurnya hanya selembar kertas ijazah?, Lalu ilmu pengetahuan macam apa yang bisa kita banggakan jika dilihat hanya dari ijazah?.

Sekarang banyak pihak-pihak yang mendirikan sebuah wadah yang diberi nama TBM yang berorientasi pada literasi dan pembangunan peradan yang lebih baik dikemudian hari.

Walaupun masih banyak kebingungan dan pro kontra yang terjadi tentang darimana sesungguhnya lahirnya TBM dan siapa yang melahirkannya? Apakah ini ide pemerintah ataukah ini ide individu-individu yang gelisah melihat situasi dan kondisi yang memprihatinkan?.

Jawabannya belum diketahui secara pasti, tapi bagi beberapa orang TBM adalah salah satu resolusi untuk menuju pembangunan peradaban ditingkatkan sosial paling dasar, dimana banyak orang yang tidak tersentuh oleh pihak lain dan tidak mampu untuk mendapatkan pengetahuan dilingkungan yang lebih jauh.

Kemudian timbul juga pertanyaan mendasar apakah TBM bisa menjadi resolusi pembangunan peradaban? Apakah hanya sekedar gebrakan semata yang tak menjadi kritik terhadap sistem pendidikan yang terjadi saat ini.

Menurut saya apapun alasannya dan apapun jawabannya yang jelas adalah pembangunan peradaban harus ditingkatkan dan terus diupayakan sebagai bentuk kegelisahan kita bersama melihat situasi dan kondisi yang terjadi.

Kritik dan saran yang membangun harus terus diberikan baik kepada lembaga pendidikan ataupun kepada TBM agar mereka paham bahwa yang dibutuhkan untuk membangun peradaban yang lebih baik bukanlah selembar ijazah semata, tapi jauh lebih daripada itu kita butuh ilmu pengetahuan yang luas, karekteristik individu yang mencerminkan kebangsaan, serta mental yang kuat untuk menuju peradaban yang lebih baik dikemudian hari.

 *Direktur TBM Hahalaen Pabuaran Serang

Share :