PANDEMI DAN UJIAN LITERASI

PANDEMI DAN UJIAN LITERASI

PANDEMI DAN UJIAN LITERASI

Oleh Muhamad Zufikar Alfaraby*

Prolog

            Wabah COVID-19 atau biasa disebut virus corona telah menjadi persoalan skala global. Statusnya yang kini menjadi pandemi mengartikan bahwa wabah ini sulit untuk dikendalikan pencegahan dan penularannya antar manusia di suatu tempat. Virus ini merupakan jenis baru yang merupakan keluarga dari SARS-COV dan MERS-COV. Sehingga proses identifikasi terhadap virus ini masih terus dilakukan oleh seluruh pakar terkait di seluruh dunia guna menemukan vaksin yang cocok diaplikasikan kepada manusia. Persebaran virus ini terus mengalami peningkatan, grafiknya yang bergerak secara eksponensial menunjukkan bahwa masih terjadi penambahan korban positif dan meninggal dunia yang akan terus bertambah tiap harinya.

            Meskipun banyak prediksi yang beredar untuk mengukur jangka waktu persebaran wabah ini, tetapi belum ada kepastian waktu kapan wabah ini benar-benar berakhir hingga vaksin ditemukan. Seluruh negara-negara di dunia saat ini fokus pada upaya preventif dan kuratif untuk menekan laju persebaran virus agar angka korban menjadi sedikit. Dampak dari wabah COVID-19 ini bukan saja menyasar pada sektor kesehatan, namun pada banyak sektor seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, serta agama pun merasakan dampaknya. Implikasi secara langsung yang dirasakan tiap individu adalah timbul rasa takut dan cemas dalam menyikapi situasi pandemi ini, karena mereka merasakan berbagai perubahan yang terjadi secara signifikan di segala sektor dan akan bertahan dalam jangka waktu yang tidak pasti kedepannya. Situasi tersebut menghasilkan gejala psikomatik yang membuat banyak asusmsi dan opini yang tidak disandarkan pada data/fakta, sehingga menambah kegaduhan di ruang publik karena sifatnya menyesatkan dan cenderung bernuansa kebohongan/hoax.

Kegagapan Literasi dan Implikasinya

            Situasi pandemi secara global ini dialami oleh hampir seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia. Masyarakat Indonesia banyak sekali mengkonsumsi berita dan informasi yang mempunyai kaitan dengan wabah COVID-19 ini. Namun pada kondisi seperti ini, publik kerap kebingungan untuk memilah mana berita yang valid dan bersandarkan pada data/fakta dengan berita bohong atau hoax yang bersifat opini tidak bertanggung jawab. Bagi sebagian orang yang mempunyai taraf pengetahuan dan literasi memadai, mungkin akan mudah mengklasifikasikan serta mensortir berita yang valid dan tidak valid. Problemnya adalah pada budaya literasi masyarakat indonesia yang masih sangat rendah, hal tersebut mengakibatkan banyak sekali produksi berita kebohongan yang beredar di ruang publik untuk kemudian dikonsumsi secara luas dan mentah-mentah oleh banyak orang.

            Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua persoalan yang terkait dengan berita COVID-19 dan menjadi diskursus publik dewasa ini. yaitu berita hoax dan teori konspirasi. Kedua isu tersebut menguasai mayoritas linimasa media sosial di indonesia. Berikut ini akan penulis breakdown kedua problem tersebut untuk melihat sebab kemunculannya serta akibat yang ditimbulkannya.

1.      Berita hoax dan disinformasi

            Menurut data dari Kominfo (2020) pada april 2020, tercatat sebanyak 1.125 berita hoax terkait COVID-19 yang beredar luas melalui platform Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Youtube dan berbagai media daring lainnya. Ada sebanyak 77 tersangka yang sedang menjalani proses hukum dan 12 diantaranya telah ditahan. Data tersebut memperlihatkan bahwa amplifikasi produksi berita hoax terus terjadi di ruang publik. Jika kita melihat motif berita hoax dibuat, tentu ada yang sengaja di produksi dan ketidaksengajaan di produksi karena pengetahuan yang minim

            Berbagai macam jenis informasi yang tidak benar tersebut juga menjadi hambatan bagi pencegahan penyebaran wabah COVID-19. Yang paling ramai dibicarakan adalah perihal anjuran beribadah dirumah, pemerintah melalui lembaga terkait seperti kementrian agama dan Majelis Ulama Indonesia menyerukan bahwa kegiatan ibadah seperti shalat berjamaah di masjid ditiadakan demi menekan persebaran virus COVID-19. Sebagai gantinya, ibadah dirumah lebih dianjurkan. Namun pada pelaksanaanya anjuran tersebut tidak begitu mulus, masih banyak masjid yang melaksanakan kegiatan ibadah yang mengundang keramaian. Di DKI Jakarta saja yang menjadi epicentrum penyebaran COVID-19 terdapat 20 masjid yang masih melaksanakan ibadah shalat Jum’at di masjid saat pelaksanaan PSBB berlangsung (Kompas,2020). Paradigma berpikir masyarakat yang demikian bersumber pada informasi yang tidak utuh, masih banyak informasi yang bersifat kontraproduktif dan berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat umum seperti menyerukan untuk tetap menjalankan aktifitas ibadah di masjid seperti biasanya. Mereka memandang bahwa anjuran tersebut bertolak belakang dengan perintah agama. Tentu informasi dan sikap yang demikian menyesatkan karena dapat membuat kerugian dalam rangka pemutusan mata rantai COVID-19.

            Disamping itu, banyak juga terdapat informasi tidak valid terkait dengan pencegahan virus COVID-19. Seperti penggunaan cairan desinfektan, seharusnya cairan ini digunakan untuk pembunuhan bakteri/virus pada benda-benda mati. Namun karena konsumsi informasi yang tidak utuh, banyak informasi yang menganjurkan penggunaan cairan desinfektan pada tubuh manusia. Akibatnya adalah, bukan menjadi rahasia umum lagi pada setiap kegiatan masyarakat ini harus melakukan penyemprotan cairan tersebut pada tubuh. Terdapat bilik desinfektan yang harus dilalui oleh orang pada tiap gedung bahkan di tiap-tiap gerbang perumahan. Padahal menurut WHO penyemprotan cairan desinfektan kepada tubuh manusia sangat berbahaya dampaknya, apalagi sampai menyentuh selaput lendir manusia. WHO menyebutkan bahwa cairan desinfektan hanya membunuh virus pada permukaan benda-benda mati saja, bukan pada kulit manusia. fungsi desinfeksi tentu berbeda dengan antiseptik. Namun kegiatan tersebut telah menjadi hal yang “benar” menurut pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya.

            Kemudian banyak pula informasi yang tersebar di grup-grup media sosial seperti WhatasApp yang berisi tentang obat-obatan untuk mencegah bahkan mengobati virus COVID-19. Meskipun niatnya baik untuk memberikan informasi kesehatan, namun akan menjadi sangat berbahaya jika isi dari informasi tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan. Yang paling banyak dibicarakan diantaranya; corona akan mati pada cuaca panas di Indonesia, makan bawang putih yang banyak dapat menghindari corona, hingga memakai kalung antivirus yang ramai dipercaya. Pesan-pesan tersebut sebetulnya mempunyai hal yang positif jika diimplementasikan dengan benar. Namun akan menyesatkan bila penggunaannya tidak sesuai konteks COVID-19.

            Hal-hal diatas bisa terjadi karena kebiasaan masyarakat memproduksi serta mengkonsumsi informasi tidak utuh. Padahal jika pemahaman literasi telah terinternalisasi dengan baik, ini akan meminimalisir kesalahan-kesalahan dalam menerima informasi yang tidak benar. Pengetahuan yang terbatas pun menambah problem berita hoax dan disinformasi, karena jika masyarakat memiliki pengetahuan literasi yang baik tentunya proses telaah informasi atau verifikasi berita akan dilakukan sebelum bertindak. Menurut pendapat penulis, jumlah berita hoax akan berbanding terbalik dengan taraf budaya literasi. Artinya jika masyarakat indonesia mempunyai taraf literasi yang baik, berita hoax akan dengan mudah dikikis secara alamiah. Juga berlaku sebaliknya, jika taraf literasi nya rendah tentu produksi berita hoax dengan subur akan tersebar di ruang publik.

2.      Teori Konspirasi

            Untuk mengetahui kebenaran di situasi pandemi seperti ini, cara terbaiknya adalah menggunakan diskursus ilmiah yang bersumber dari pengetahuan literasi yang baik. Proses pencarian informasi yang valid bisa bersumber dari pelbagai macam platform baik media daring maupun dalam bentuk fisik seperti buku. Namun problemnya biasanya terletak pada penerimaan informasi, pada orang yang tidak biasa membudayakan literasi seringkali melewatkan tahapan verifikasi atau telaah informasi sehingga mengakibatkan perspektif yang sesat. Hal ini pula yang terjadi dewasa ini, dimana terdapat orang-orang yang menggunakan teori konspirasi dalam memandang wabah COVID-19.

            Jika dilihat secara akademis, orang yang menganut teori konspirasi biasanya tidak terbiasa membaca buku secara utuh dan mendogma satu sumber refrensi yang tidak valid. Sehingga mengakibatkan kemalasan berpikir karena ingin menggunakan cara alternatif bernama konspirasi untuk melihat suatu fenomena tanpa melalui proses kajian secara komprehensif. Setidaknya ada 3 poin besar dari sudut pandang ilmu psikologi mengapa teori konspirasi menarik bagi banyak orang. Pertama Epistemik, merupakan alasan kebutuhan akan pemahaman dan konsistensi. Jika ada orang mendapatkan informasi yang berbeda, orang tersebut akan connecting the dot dan teori konspirasilah yang biasa menyediakan koneksi-koneksi ini meskipun tidak disandarkan pada sumber bacaan yang jelas dan valid. Karena kepercayaan bahwa terdapat hal-hal yang tersembunyi dari pandangan publik, quote and quote jadi merasa ditipu. Faktor ini juga dapat dihubungkan dengan tingkat pendidikan dan literasi seseorang, dimana orang dengan tingkat liteasi yang rendah cenderung akan mempercayai teori konspirasi. Kedua Eksistensial,  faktor ini menjadi semacam “zona aman” bagi para pemercayanya. Orang yang merasa tidak berdaya secara psikologis, sosiopolitik, dan kecemasan lebih cenderung percaya pada teori konspirasi. Efek jangka panjang dari konspirasi ini adalah dapat membuat orang lebih tidak berdaya dari sebelumnya. Ketiga Sosial, beberapa peneliti berhipotesis jika percaya konspirasi yang mengusir kelompok sebagai oposisi, orang tersebut bisa merasa lebih baik terhadap dirinya dan kelompok sosial mereka sendiri.

            Kepercayaan pada konspirasi ini berakar pada apa yang disebut sebagai narsisme kolektif, keyakinan bahwa kelompok sosial sendiri lebih baik, tetapi kurang dihargai oleh orang lain. Teori konspirasi juga menandakan matinya kepakaran karena bagi mereka yang mempercayainya sulit untuk memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk penjelasan yang tak dramatisir. Mereka lebih percaya pada omong kosong atau hoax daripada menerima bahwa ada hal-hal yang bersumber dari pengetahuannya.

Solusi dan Produktifitas Literasi ditengah Pandemi

            Untuk menghindari kegagapan literasi kita seperti penjabaran diatas, maka perlu adaptasi dan langkah konkrit di situasi pandemi seperti ini guna merawat nalar serta budaya membaca kita. Karena segala persoalan diatas merupakan faktor dari rendahnya taraf pendidikan dan literasi masyarakat indonesia pada saat ini. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menjaga produktifitas selama pandemi berlangsung sekaligus mencegah konsumsi informasi dan pengetahuan yang tidak berdasarkan pada fakta.

1.      Verifikasi informasi/berita

                Pemerintah sebetulnya sudah menyediakan kanal berita resmi dan aplikasi untuk mendukung penyebaran informasi kepada masyarakat melalui berbagai platform. Seperti pada WhatsApp yang meluncurkan akun chat resmi yang bernama COVID-19 untuk menyediakan informasi aktual setiap hari. terdapat juga hotline resmi dari Kementerian Kesehatan untuk merespon segala informasi yang berkaitan dengan COVID-19 di nomor 119. Ditambah dengan akun web resmi beserta call center yang tersedia pada masing-masing daerah untuk menyokong informasi COVID-19.

            Ketersediaan layanan informasi COVID-19 tersebut harus didukung pada tindakan preventif pribadi untuk menangkal berita hoax terkait dengan COVID-19. Pertama kenali berita palsu. Perhatikan tanda-tanda yang dapat membantu untuk memutuskan apakah informasi itu palsu. Misalnya, pesan yang diteruskan tanpa sumber atau tanpa bukti. Foto, video, bahkan rekaman suara dapat direkayasa untuk menyesatkan. Kedua Berhenti dan pikirkan lagi sebelum membagi pesan yang diteruskan. Pesan dengan label "Diteruskan" (Forwarded) membantu untuk mengetahui apakah pesan tersebut ditulis oleh teman atau kerabat, atau apakah pesan tersebut sebenarnya berasal dari orang lain. Ketika pesan diteruskan dari satu pengguna ke pengguna lain lebih dari lima kali, pesan ini akan ditandai dengan ikon ‘panah ganda’ untuk menunjukan bahwa pesan tergolong ‘Banyak Diteruskan’ (Highly Forwarded), dan mungkin berpotensi mengandung hoaks atau misinformasi. Ketiga Bantu hentikan penyebaran. Jika menyadari bahwa sebuah informasi tidak terlihat benar atau membuat klaim medis tidak resmi, tanyakan kepada pengirim apakah mereka dapat memverifikasi informasi tersebut. Jangan teruskan pesan hanya karena orang lain meminta Anda untuk melakukannya, meskipun orang tersebut merupakan teman sendiri. Keempat verifikasi dengan sumber lain. Cari faktanya secara online dan periksa situs yang dapat dipercaya seperti WHO, Kementerian Kesehatan, atau situs berita terpercaya untuk mengetahui dari mana cerita itu berasal. Kelima Laporkan pesan atau akun yang terbukti membagikan informasi tidak akurat. WhatsApp mendorong pengguna agar melaporkan konten, kontak, grup yang bermasalah dengan melaporkan segala informasi dalam aplikasi melalui klik di ‘Pengaturan/Setelah > Bantuan > Hubungi Kami (Tirto id, 2020).

2.      Membaca buku fisik atau e-Book

                Salah satu upaya terbaik dalam rangka mencegah informasi yang tidak valid adalah dengan cara membaca buku. Momentum untuk diam dirumah harus dimanfaatkan dengan baik dengan membaca buku yang tersedia dirumah. Membiasakan kegiatan membaca buku dirumah juga akan mengikis kebiasaan kita untuk mendapatkan informasi secara instant dan cenderung tidak bertanggungjawab sumbernya. Asupan informasi yang cukup pun dapat membuat pengetahuan kita terus bertambah dan menjadi hal positif bagi perkembangan budaya literasi. Tidak ada batasan bagi kita untuk terus memperkaya ide dengan membaca buku dimanapun dan dalam situasi apapun.

            Jika kita mempunyai problem tidak mempunyai buku fisik atau tidak bisa berkunjung untuk membaca di perpustakaan dan taman baca. Sekarang banyak sekali alternatif lainnya yang dapat ditempuh di era digital seperti ini. Apalagi buku secara fisik kini telah dimodifikasi dan berkembang ke arah digital atau biasa disebut e-Book. Berbagai jurnal-jurnal ilmiah dan buku digital telah tersedia secara luas dalam berbagai platform, kemudahan akses literasi ini pun menjadi previllage bagi para pengguna internet. Maka perlu dimanfaatkan dengan baik sarana yang tersedia di dunia daring ini.

            Sebagai contoh adalah yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Banten melalui i-Banten. Aplikasi Perpustakaan digital bergerak tersebut disediakan sebagai bentuk respons dan kepedulian terhadap budaya literasi ditengah situasi pandemi seperti ini dimana perpustakaan fisik yang biasanya digunakan untuk sementara ditiadakan karena mengikuti anjuran pemerintah untuk menghindari keramaian. Terdapat berbagai macam fitur untuk menyokong pengguna dalam rangka membaca secara online. Kegiatan membaca akan menjadi sangat mudah karena aplikasi tersebut menyediakan banyak sekali sumber bacaan dari berbagai genre yang variatif. Terlebih tidak ada pungutan biaya atau disediakan secara gratis untuk publik. Penyediaan berbagai sumber bacaan tersebut menjadi hal positif karena dapat dijadikan kanal untuk menambah pengetahuan dan informasi yang bersumber pada data/fakta.

            Terlebih dengan adanya perubahan kegiatan aktifitas manusia sejak adanya wabah pandemi ini menjadi bergeser pada aktifitas berbasis online. Hal tersebut bersifat paradoksial karena jika tidak digunakan kearah yang positif akan menambah subur penyebaran informasi sesat atau hoax. Penggunaan internet bertambah secara signifikan pada situasi seperti ini, maka perlu adanya upaya preventif dalam menangkal pengaruh negatif dalam penggunaan media daring. Namun akan menjadi positif bila penggunaan internet diarahkan untuk membaca media seperti e-Book serta bacaan-bacaan yang dapat dipertanggungjawabkan nan ilmiah.

Kebiasaan membaca informasi secara intsant pun akan berkurang seiring berjalannya waktu dengan kegiatan membaca platform media yang jelas dan kredibel. Disamping itu, kegiatan membaca e-Book juga akan membiasakan kita pada pencarian sumber dan telaah informasi untuk memverifikasi sumber berita/informasi yang kita dapat.

            Dalam situasi pandemi seperti ini pun kita rentan dalam mengalami gejala psikomatik atau kecemasan berlebih yang berakibat buruk pada kondisi fisik kita. Hal tersebut bisa terjadi jika kita terus mengkonsumsi sumber pemberitaan COVID-19 yang mempunyai narasi menakut-nakuti. Maka upaya yang sangat efektif dan harus dilakukan untuk kita tetap melakukan aktififitas produktif juga guna merawat nalar adalah dengan tetap membudayakan literasi dalam bentuk apapun dan dimanapun berada.

3.      Membuat tulisan positif

            Membaca dan menulis mempunyai sisi tidak dapat dipisahkan, untuk menuangkan ide yang kita dapatkan dari bekal membaca, kegiatan menulis adalah langkah yang tepat untuk tetap memproduksi gagasan yang kita peroleh. Menulis bisa melalui media apapun, dan tidak melulu harus memikirkan kualitas penulisan dan sebagainya. Yang terpenting adalah tulisan bernilai positif. Berita hoax dan pengetahuan yang kita anggap sesat pun dapat kita perangi dengan membuat tulisan yang mempunyai sifat kontra narasi terhadap informasi tersebut. Akan terjadi dialektika di ruang publik ketika kita terus memelihara kegiatan menulis, karena tulisan yang bersandarkan pada data/fakta akan membuat keseimbangan informasi yang diterima.

            Kegiatan menulis pun tidak harus diabstraksikan dalam bentuk buku secara fisik. Sama hal nya dengan membaca secara online, kegiatan menulis pun dapat dilakukan dengan fleksibel seperti menuangkan dalam berbagai platform media sosial Twitter, Facebook, Instagram bahkan jika memungkinkan akan menjadi jurnal-jurnal ilmiah. Membaca dan menulis adalah satu mata rantai yang berkesinambungan. Jika produksi tulisan yang positif terus dilakukan, maka akan terciptanya berita/informasi yang berkualitas untuk dibaca secara luas oleh masyarakat. Maka menjadi tugas kita yang memiliki pengatahuan memadai dan kesadaran literasi cukup dalam upaya menyadarkan yang belum sadar dalam konteks literasi serta mengedarkan informasi berupa tulisan-tulisan positif.

*Mahasiswa FISIP UNTIRTA 2016

Share :