PENDIDIKAN ANAK DAN DO’A ORANG TUA

PENDIDIKAN ANAK DAN DO’A ORANG TUA

PENDIDIKAN ANAK DAN DO’A ORANG TUA

Oleh: Kholid Ma’mun*

Anak adalah anugerah yang sangat luar biasa dari Allah Swt. betapa tidak, sejak berada di dalam kandungan, calon buah hati telah mampu memberikan perasaan senang dan bahagia bagi ayah dan bundanya, kakek dan neneknya, om dan tantenya, paman dan bibinya serta orang-orang yang berada disekitarnya. Dari perbaikan nutrisi dan memberikan chek up ke dokter atau bidan yang terbaik, sampai mempersiapkan segala sesuatunya, membeli pakaian, tempat tidur, memperdengarkan ayat suci Al-Qur’an dan hal positif lainnya. Semua itu dilakukan karena akan hadir seorang dambaan hati dan belahan jiwa.

Untuk memaksimalkan kecerdasan otak calon bayi, diberikanlah macam-macam vitamin dan makanan yang bergizi tinggi. Agar mempunyai akhlak dan prilaku yang baik, setiap kesempatan, orang tua selalu memohon kepada Allah agar anaknya kelak menjadi anak yang shalih dan shalihah. Begitu yang dinanti lahir, syukur yang disampaikan kepada Allah semakin bertambah banyak. Kebahagiaan semakin membuncah ketika ternyata sang jabang bayi lahir dengan normal, sekaligus sehat dan lucu.

Banyak cerita tentang bagaimana orang-orang shalih bagaimana mereka mendidik anak, ulama-ulama terdahulu tidak mau melontarkan kata-kata buruk pada anak-anaknya, bahkan ketika mereka marah sekalipun. Jika ia marah dan terpaksa melontarkan kata-kata keras kepada anaknya, maka kata yang terucap tetap terdengar indah: “Yahdikumullah ya walady”. Semoga Allah memberimu petunjuk hai anakku. Meski kata ini diungkapkan dengan nada yang kasar tetapi didalamnya tetap terselip do’a kebaikan, memohonkan hidayah dan petunjuk kepada Allah swt., yang selalu dibutuhkan dan dinanti-nantikan pertolongannya kapanpun dan oleh siapapun.

Ada pelajaran penting yang harus kita petik dari kisah diatas. Namun sebelumnya, ada baiknya kita simak kisah yang penuh dengan hikmah yang terjadi pada zaman Rasulullah saw. Dikisahkan, pada suatu hari salah satu sahabat Rasulullah saw. Meninggal para sahabat berdatangan ke rumah duka untuk berta’ziah, termasuk juga Rasulullah saw. Begitu para sahabat berkumpul, ada hal aneh yang mereka lihat pada mayat tersebut. Mata mayat melotot ke atas. Melihat peristiwa itu, ada desas-desus di kalangan keluarga mayat. Kemudian Rasulullah saw., bersabda:” Jangan kalian berdo’a untuk diri sendiri kecuali dengan kebaikan. Sebab para Malaikat akan mengamini apa-apa yang kalian ucapkan”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dari kisah dan hadis di atas dapat kita tangkap sebuah pesan bahwa apa yang terkandung pada kisah pertama tersebut mengandung arti, bahwa: “sebuah kata merupakan kata lain dari do’a, hakikatnya adalah suatu bentuk permintaan, sebagaimana pula kata-kata buruk yang kita lontarkan adalah kata lain dari dari meminta keburukan. Itulah sebabnya mengapa dalam sebagian hadis yang lain Rasulullah bersabda: ”Jangan kalian berdo’a untuk diri kalian, anak-anak kalian dan harta kalian. Karena ada suatu waktu yang apabila kalian meminta Allah pada waktu tersebut, maka Dia akan mengabulkannya. (HR. Al-Bukhari).

Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari diatas sebenarnya tidak melarang siapapun untuk mendo’akan dirinya, anak-ananknya ataupun hartanya. Hadis ini hanya memberikan peringatan bahwa do’a bisa terkabulkan kapan saja dan di mana saja . Sehingga kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam berdo’a, termasuk juga dalam bertutur kata. Karena kata-kata yang baik akan menjadi permintaan yang baik, sebagaimana kata-kata yang buruk akan menjadi peromohonan yang buruk. Dari sini dapat dipahami, bahwa mengucapkan kata-kata yang baik kepada anak berarti juga memintakan kebaikan bagi mereka, sebagaimana pula melontarkan kata-kata yang buruk kepada anak berarti memintakan keburukan bagi mereka.

Selanjutnya, jika kita dianjurkan berahati-hati dalam bertutur kata, maka anjuran ini harus sangat diperhatikan oleh orang tua. Sebab, do’a orang tua yang dipanjatkan untuk anak-anaknya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh do’a-do’a yang lain. Rasulullah saw. Bersabda:

دُعَاءُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ كَدُعاءِ النَبِى لِاُمَتِه (رواه الديلمي عن انس)

Artinya: “Do’a orang tua untuk anaknya bagaikan do’a Nabi untuk umatnya.” (HR. Ad-Dailami dai sahabat Anas ra.)

Ini mengandung arti bahwa Allah senantiasa mengabulkan do’a orang tua yang dipanjatkan untuk anak-anaknya seperti halnya Allah swt., senantiasa mengabulkan do’a para Nabi yang dipanjatkan untuk umatnya.

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. Bersabda:

دُعَاءُ الْوَالِدِ يُفْضِى اِلَى الْحِجابِ (رواه ابن ماجه والطبرانى)

‘Do’a orang tua dapat memcah/ menyingkap tirai (HR. Ibnu Majah dan At-Thabrani)

Walhasil, setelah kita membaca, mencermati, dan sekaligus memahami apa yang telah dijelaskan diatas, maka tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak memintakan kebaikan bagi anak-anaknya. Lebih-lebih bagi anak yang sedang menimba ilmu di pesantren. Dengan do’a, in sya Allah anak akan lebih mudah dalam menyerap, memahami dan mengamalkan ilmu-ilmu yang digalinya di pesantren. Sehingga, anak benar-benar tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang shaleh dan bertakwa yang sesuai dengan harapan orang tua dan agamanya.

Lebih utama lagi apabila kita mendo’akan anak, selain setelah shalat lima waktu, ada juga waktu yang mustajab yaitu setelah mengerjakan shalat tahajud. Pada waktu pertengahan malam atau menjelang waktu subuh. Kita bermunajat kepada Allah dengan ketulusan hati memohon keagungan-Nya agar anak kita dijadikan anak yang berbakti kepada orang tuanya, dijadikan pejuang agama dan bangsa yang bermanfaat bagi agama dan bangsanya, dan dijadikan suri tauladan bagi sesamanya dan mendapatkan khusnul khatimah di akhir hayatnya.

Allah swt berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Artinya:

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan (QS. Al-Muzammil)

Menurut cerita, kebanyakan para kiai dan ulama, ketika mendo’akan anaknya maka mereka memilih pada waktu shalat malam (tahajjud), selain setelah shalat lima waktu. Dan, apabila kita lihat bahwa anak para kiai, kebanyakan dari mereka waktu kecilnya biasa-biasa saja, namun ketika dewasa dengan atas rahmat Allah, menjadi orang terpandang, meneruskan perjuangan abahnya. Ini tentu tidak lepas dari riyadhah (tirakat) orang tuanya yang selalu mendo’akannya, khususnya setelah shalat malam.

Wallahu ‘Alam Bisshawab

* Penulis Buku Celoteh Santri & Anakku You're My Everything,(Sebuah Kado Pernikahan)

Share :