MENGGAGAS PERPUSTAKAAN MASJID

MENGGAGAS PERPUSTAKAAN MASJID

Oleh Iman Sukwana*

Masjid merupakan pusat kegiatan umat yang tidak pernah sepi dari kunjungan jamaahnya. Setidaknya dalam kurun lima waktu solat dalam sehari semalam. Dan diluar kegiatan sholat tersebut, sering kita lihat para jamaah berkumpul untuk melaksanakan kegiatannya seperti pengajian, pertemuan warga atau pertemuan social kemasyarajkatan lainnya.

Di beberapa masjid dapat kita amati adanya berbagai kegiatan yang terkoordinasi oleh pengurus masjid atau masyarakat yang peduli terhadap kegiatan-kegiatan di masjid, diantaranya berupa pengajian rutin, pendidikan dalam berbagai bentuk, ceramah pembinaan umat, kegiatan sosial dan keilmuan. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang dikoordinir oleh remaja masjid, yang mencerminkan kegiatan keagamaan dengan mencerminkan peningkatan pemahaman keagamaan umat. Tidak dapat dipungkiri bahwa masjid merupakan pusat kegiatan pembelajaran keagamaan masyarakat, termasuk pusat mendalami ilmu dan kegiatan belajar masyarakat.

Masjid tidak hanya dijadikan sebagai sarana penyelenggaraan shalat, tetapi juga menjadi institusi sosial yang berperan dalam membangun pendidikan, ekonomi, dan politik umat. Masjid memiliki banyak fungsi, yang salah satunya adalah sebagai lembaga pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, masjid tidak bisa dipisahkan dari keberadaan perpustakaan. Perpustakaan masjid adalah salah satu bentuk perpustakaan khusus yang berfungsi melayani kebutuhan intelektual masyarakat di sekitarnya. Dengan adanya perpustakaan, maka masjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan karena lewat perpustakaan para jamaah masjid dan umat Islam umumnya mempelajari tentang pengetahuan agama, senantiasa dapat mengikuti dan menyesuaikan diri terhadap informasi-informasi yang baru secara positif.

Kondisi dan kenyataan seperti itu perlu ditindaklanjuti sebagai kondisi potensial bagi lahirnya sebuah perpustakaan masjid. Perpustakaan masjid memiliki eksistensi untuk memperkaya khasanah informasi, wawasan, pelayanan, dan pembinaan sebagai upaya untuk meningkatkan pembinaan dan pembangunan umat agar mereka mampu memegang teguh keutamaan hidup, cinta pada ilmu pengetahuan memiliki kesadaran sosial, serta menyadari hak dan kewajiban sebagai realisasi ketaatan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT.

Fungsi masjid selain sebagai tempat ibadah, mempunyai fungsi-fungsi lain yang berguna bagi masyarakat. Karena kedudukannya yang sentral dalam masyarakat Islam, perkembangan masjid selalu berkaitan dengan perubahan setiap saat dalam masyarakat, diantaranya sebagai pusat ibadah, sebagai pusat dakwah, sebagai pusat pendidikan, sebagai pusat bacaan/pustaka, sebagai pusat kegiatan sosial

Ase S. Muchyidin (1998) menjelaskan bahwa manajemen perpustakaan masjid merupakan subsistem dari manajemen masjid secara keseluruhan. Untuk melaksanakan tugas pokoknya memiliki dua pendekatan. Pertama, melakukan pendekatan yag besifat pengayaan yang komplementatif dalam konteks pembinaan jamaah berdasarkan pola pendekatan program dan kegiatan yang telah dan sedang berjalan. Kedua, merupakan pendekatan yang  bersifat alternatif, paralel dengan pola pendekatan program dan kegiatan pembinaan jamaah yang telah dan sedang berjalan. Melalui dua pendekatan tersebut, yang dapat berjalan bersamaan selanjutnya dijabarkan ke dalam sejumlah program dan prioritas kegiatan perpustakaan masjid.

Adapun fungsi perpustakaan masjid diantaranya adalah sebagai tempat studi atau sumber informasi bagi jamaah tentang pengetahuan umum dan keagamaan, sebagai sarana menciptakan gemar membaca bagi masyarakat, sebagai sarana pembinaan kerohanian masyarakat dan sebagai penyimpan dokumen kegiatan masjid.

Untuk penyelenggaraan dan pembinaan perpustakaan masjid, maka pengurus perpustakaan masjid atau remaja masjid melakukan berbagai kegiatan, diantaranya melakukan diskusi dan pembelajaran bersama jamaah dalam rangka membaca dan pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual jamaah, menyediakan sarana belajar membaca berupa buku dan bacaan lainnya, dan melakukan kegaiatan lainnya yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan keagamaan jamaah atau masyarakat.

Dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa pengertian perpustakaan adalah institusi pengelola karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, preservasi, informasi, dan rekreasi. Kemudian dalam buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Rumah Ibadah (Perpustakaan Nasional RI, 2011) dijelaskan tentang arti dan tujuan perpustakaan rumah ibadah. Perpustakaan masjid adalah lembaga atau unit kerja yang mengelola karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku, yang dibentuk dan dikembangkan oleh masjid guna memenuhi kebutuhan penelitian, pengetahuan, informasi, keagamaan, dan rekreasi. Perpustakaan Masjid merupakan jenis perpustakaan khusus karena koleksinya sebagian besar bersifat khusus bidang keagamaan, dengan pemustaka diprioritaskan khusus jamaah dan masyarakat sekitar masjid. Selanjutnya tujuan Perpustakaan Masjid dapat dijelaskan sebagai berikut : Tujuan umum adalah menyediakan layanan informasi dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi bagi jemaah dan masyarakat di lingkungan masjid, baik informasi untuk kecerdasan spiritual, intelektual, maupun kecerdasan emosional. Tujuan khusus adalah meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang keagamaan dan pengetahuan umum lainnya, menunjang dan membantu memenuhi kebutuhan informasi dalam aktivitas ibadah, mendukung pelaksanaan program masjid, sebagai sarana jamaah dan masyarakat untuk mendapatkan informasi hiburan atau rekreatif guna mendapatkat informasi lainnya, berperan meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan pengetahuan, mendukung pendidikan sepanjang hayat dalam kerangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Indikator dari keberhasilan pengelolaan, pembinaan dan pengembangan perpustakaan masjid terletak pada sejauh mana jamaah meningkat kualitas kehidupan sosial dan keagamaannya. Pembangunan dan pembinaan umat selama ini dilakukan mealui pola pendekatan komunikasi lisan yang dilaksanakan oleh para dai, khatib atau juru dakwah lainnya yang membuat para jamaah terbiasa dengan budaya dengar. Strategi dan pendekatan ini kiranya perlu diperkuat dan diperkaya melalui pendekatan lain yang mampu mendorong dan memotivasi para jamaah lebih aktif mencari dan mempelajari khazanah informasi yang bermanfaat secara terbimbing melalui budaya baca.

Perpustakaan Masjid merupakan sarana sumber belajar penting yang harus ada di setiap masjid karenanya seringkali dianalogikan sebagai “jantung”. Dalam pengelolaannya, agar-benar-benar berfungsi sebagai “jantung”, harus dikelola dengan berdasarkan standar manajemen perpustakaan masjid. Standardisasi penyelenggaraan Perpustakaan Masjid telah ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Standar ini menjadi pedoman dasar penyelenggaraan manajemen perpustakaan Masjid yang meliputi, tujuan, organisasi, pengembangan koleksi, pengolahan, perawatan, sarana dan prasarana, SDM, dan kerjasama perpustakan. Standar ini sangat penting bagi pelaksanaan manajemen perpustakaan Masjid yang terarah sesuai dengan tujuan didirikannya perpustakaan tersebut.

Sebagai sarana pengembangan pengetahuan jamaah, perpustakaan masjid memiliki peran yang penting, dengan demikian haruys dikelola oleh tenaga professional yang mengerti seluk beluk pengelolaan professional perpustakaan, paling tidak dari sekian pengurus perpustakaan yang ada, harus ada salah seorang yang mengikuti Bimtek/Diklat tentang pengelolaan perpustakaan secara professional.

*Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Prov. Banten

Share :