MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA

MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA

MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA


Oleh : Hadijah

 


Membaca merupakan kunci dalam proses belajar. Saat seseorang memiliki kemampuan membaca yang baik, maka ia akan dapat menyerap berbagai macam pengetahuan. Hal ini penting untuk meningkatkan kesempatan orang tersebut dalam memperbaiki kehidupannya. Dalam upaya peningkatan kemampuan membaca masyarakat Indonesia tentu lebih mudah dan cepat bila didukung oleh semua pihak. Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kemampuan membaca. Namun demikian, menurut hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015 tentang kemampuan siswa dalam membaca, Indonesia menempati urutan 66 dari 72 negara yang disurvei. PISA merupakan studi internasional tentang kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun dan bagaimana mereka mengaplikasikan pengetahuan ini dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil PISA tersebut, para pelajar Indonesia meraih skor 397 dalam kemampuan membaca. Dibanding negara tetangga, Indonesia tertinggal dari Malaysia di peringkat 43 dengan skor 431, dan Singapura di peringkat pertama dengan skor 535.


Dengan melihat fenomena tersebut peran guru dan orang tua sangatlah penting dalam berperan aktif untuk meningkatkan minat baca bagi siswa. Adapun peran atau upaya guru dalam meningkatkan minat baca siswa sebagai berikut :


1.    Guru sebagai motivator yang selalu mendorong dan memotivasi siswa untuk mewujudkan minat baca yang tinggi.


2.    Guru sebagai dinamisator yang mengatur dan mengelola semua kegiatan membaca siswa dengan mendinamiskan seluruh sumber bacaan yang ada.


3.    Guru sebagai supervisor yang selalu mengawasi proses membaca anak baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh agar anak merasa selalu ada yang mengawasi.


4.    Guru bekerja sama dengan pengelola perpustakaan untuk membuat jadwal kunjungan ke perpustakaan.


5.    Mewajibkan semua siswa membudayakan membaca dan membuat slogan-slogan di kelas seperti “Tiada Hari Tanpa Membaca”, “ Gunakan waktu luang untuk membaca”, dan “Buku adalah jendela ilmu   pengetahuan”.


Dari pembahasan mengenai peningkatan kemampuan setiap siswa dalam membaca, munculah beberapa pertanyaan yang menjadi persolanan dalam diri siswa tersebut Apa itu membaca? Siapa yang harus membaca? Dimana kita harus membaca? Kapan kita membaca? Buku apa yang harus kita baca? Apakah harus membaca buku pelajaran? Dan mengapa kita harus membaca? Mari kita simak jawaban dari pertanyaan-pertanyaaan diatas.


Apa itu membaca? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada 5 makna dari kata membaca yaitu melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati), mengeja atau melafalkan yang tertulis, mengucapkan, mengetahui/meramalkan, memperhitungkan/memahami. Kesimpulannya adalah membaca dapat diartikan sebagai kegiatan memahami, mengeja, melafalkan simbol-simbol, abjad hingga menjadi kata sampai kalimat yang mempunyai makna.


Menurut Mr.Smith dalam buku Mr.Ginting (2005) membaca merupakan proses  yang membangun sebuah pemahaman sari bacaan (teks) yang tertulis. Berbeda dengan pendapat Hittleman (1978) dikutip dari bukunya yang berjudul Reading in a Changing World yang mengatakan bahwa “Reading is a verbal process interrelated with thinking and with all other communication abilities- listineng, speaking, and writing. Specially, reading is the process of reconstructing from the printed patterns on the page the ideas and information intended by the author. Yang berarti membaca adalah sebuah proses merekontruksi kembali gagasan atau ide yang terdapat dalam sebuah teks/tulisan serta informasi yang digagas oleh penulis. Pengertian membaca menurut para ahli memang berbeda-beda, namun sebenarnya memiliki esensi yang sama.


Membaca bukanlah suatu kegiatan yang digemari setiap orang. Bahkan, seringkali kegiatan itu terasa menyeramkan atau membosankan. Ada beberapa sebab yang membuat seseorang merasakan membaca terasa membosakan bahkan menyeramkan yaitu faktor lingkungan sekitar.  Banyak anak-anak yang lebih memilih untuk pergi ke warnet, jalan-jalan bersama teman keluar rumah dan sedikit yang mengisi waktu luang dengan membaca.


Siapa yang harus membaca?

Kira-kira siapa yang harus membaca? Presidenkah, Petani Atau hanya guru saja..? membaca tidak bergantung pada profesi baik presiden, menteri, siswa atau bahkan tukang becak pun harus membaca. Karena perintah pertama Allah swt kepada Nabi Muhammad SAW dalam wahyu-Nya yakni Iqra yang artinya bacalah. Sungguh mengherankan perintah pertama Allah kepada Nabi Muhammad. Betapa tidak, beliau diperintahkan membaca padahal beliau adalah seorang yang tidak pandai baca tulis. Namun demikian keheranan itu segera sirna begitu kita menyadari bahwa membaca adalah tangga menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Karna dengan tanpa bisa membaca seseorang individu tidak akan bisa memahami apa-apapun yang sedang dan akan dikerjakannya. Oleh sebab itu, Islam sejak dini sudah mendeklarasikan perang terhadap buta huruf, yang ditegaskan pula dalam Al-quran bahwa janganlah engkau mengikuti apa-apa yang tidak engkau ketahuinya terlebih dahulu, seperti halnya engkau dilarang mengatakan apa-apa yang engkau tidak memahaminya apalagi mengikutinya.


Jadi sekiranya kebanyakan orang Islam malas membaca tentu saja berdosa, karna membaca merupakan intruksi Allah yang pertama sekali sebelum yang lainnya sebagai bukti betapa pentingnya membaca tersebut.


Dimana kita harus membaca? Kapan kita membaca?

Kita bisa membaca dimana saja dan kapan saja karna memang membaca tak pernah lepas dari keseharian kita. Pemerintah juga menyediakan fasilitas/tempat untuk membaca seperti Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Provinsi, Perpustakaan Daerah bahkan Perpustakaan Keliling. Ya, perpustakaan adalah tempat dimana adanya kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia.


Perkembangan zaman dan pastinya teknologi sudah merasuk ke berbagai segmen, kegiatan membaca pun tak luput dari perkembangan zaman dan teknologi. Saat ini orang  bisa dengan mudahnya  membaca buku secara digital tanpa harus datang ke perpustakaan, banyaknya buku elektronik (e-book) atau aplikasi untuk membaca seperti ipusnas dan ibanten memudahkan kita untuk membaca apalagi dalam masa pandemic covid-19 ini. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca.


Buku apa yang harus dibaca? Apa harus buku pelajaran?

Membaca adalah suatu hal yang dapat dilakukan dengan cara yang cukup mudah dengan berbagai manfaat dan bisa dilakukan oleh siapa saja, terutama siswa. Namun sangat disayangkan, pada zaman modern sekarang ini masih banyak orang yang belum paham benar dengan manfaat membaca dan justru menitikberatkan kegiatan membaca selalu berkaitan dengan pelajaran, padahal nyatanya tidak. Buku jenis apapun yang dibaca, secara langsung atau tidak akan berdampak pada sifat dan kepribadian. Contohnya kita membaca buku pelajaran, buku agama novel, majalah, baliho dan lain sebagainya..


Mengapa kita harus membaca?

Harus disadari bahwa membaca dan budaya literasi adalah suatu kegiatan yang tak pernah lepas dari keseharian. Hal ini juga mampu menjadi faktor dalam keberlangsungan hidup. Kurangnya literasi membuat orang kini mudah untuk tersulut  emosi. Dikit-dikit hate speech, nyebar hoax, mudah diadu domba, dll. Ini adalah dampak dari kurangnya literasi masyarakat.


Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa peran sekolah sangat berpengaruh terhadap peningkatan minat budaya baca terhadap siswa disekolah.  Para guru yang mengerti akan mulai memberlakukan budaya literasi di sekolah, entah dalam metode pembelajaran atau diluar pembelajaran. Pemerintah pun tak akan tinggal diam, mereka pasti ingin generasi muda bangsa tumbuh menjadi orang-orang yang cerdas..


Penulis adalah Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kab. Pandeglang


Share :