ISU LITERASI MILENIAL (GEN A) : Pandemik, Krisis Pangan dan Perang Nuklir

ISU LITERASI MILENIAL (GEN A) : Pandemik, Krisis Pangan dan Perang Nuklir

ISU LITERASI MILENIAL (GEN A) : Pandemik, Krisis Pangan dan Perang Nuklir

           Oleh  Ratu Nizmah Salamah

 Ini adalah ramalan kaum milenial dan hanya ada di tahun millenial. Yakni masa depan meramalkan (prediksi/Issue) akan terjadi pandemik (wabah), krisis pangan dan kemungkinan terburuk jika terjadinya Perang Dunia ke III maka dipastikan akan ada perang nuklir. Kaum millenial yang paling berperan dalam menghadapinya adalah generasi Alfhabet (Gen A). Yakni anak cucu kita kelak. Anak-anak generasi millenial. Bukankah saat ini sudah terjadi pandemik global? Warga menengah ke bawah sudah terdampak krisis pangan? Akankah perang dunia kembali ? Bagaimana kaum millenial memandang hal ini? Mari kita paparkan satu persatu dalam artikel literasi yang ringkas ini.

 Apa itu Gen- A ?

Kepanjangan dari Generasi Alfabeth (Gen- A). Gen - A Menurut Mark McCrindle, analis sosial-cum-demograf dari grup peneliti McCrindle, Generasi Alfa adalah Generasi yang lahir di antara tahun 2010 – 2024, Penamaan Alfa dibuat berdasarkan alfabet Yunani, dan sesuai alfabet, Alpha dipilih karena generasi yang lahir sebelumnya telah menggunakan nama Generasi Z, Anak-anak dari Generasi Milenial, Sekitar 2,5 juta Generasi Alfa lahir setiap minggu di dunia, Jumlahnya akan mencapai 2 miliar pada 2025.

 Ciri Generasi Alfa

Sejak lahir mereka sudah hidup di dunia dengan perkembangan teknologi yang pesat. Gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tumbuh dengan iPad di tangan, tidak bisa hidup tanpa smartphone, dan mampu mengoperasikan gadget hanya dengan mengenali tombol-tombolnya. Perubahan teknologi yang masif ini membuat anak Generasi Alfa sebagai generasi paling transformatif.

Generasi paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dengan umur mereka yang masih sangat muda, mereka memengaruhi putaran ekonomi dunia. Menurut ahli strategi pemasaran, Christine Carter, generasi Alfa menghabiskan 18 juta dolar per tahun hanya untuk konsumsi mainan, pakaian, dan perangkat teknologi baru yang cuma ada di zaman ini.

Kemajuan teknologi yang pesat ini ke depannya akan memengaruhi mereka, mulai dari gaya belajar, materi yang dipelajari di sekolah, sampai dengan pergaulan mereka sehari-hari. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan, jarak semakin tidak berarti, pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi. Tidak heran, dari semua yang mereka dapatkan membuat Generasi Alfa ini menjadi lebih cerdas dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. (www.parenting.co.id)

Namun dengan fasilitas yang lebih canggih dari generasi-generasi sebelumnya. Gen-A juga mengalami ancaman masa depan yang tak kalah canggihnya. Oleh karena itu mereka harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Dan para orangtua dari generasi milenal harus mengetahui tentang apa yang menjadi isu literasi milennial dan generasi selanjutnya.

 Wabah Seratus Tahun ?

Konon katanya ada wabah yang muncul setiap seratus tahun sekali. Pada tahun 1720 terjadi wabah penyakit di Merseille Prancis. Kedua, Pada tahun 1820 terjadi wabah Kolera. Ketiga, Pada tahun 1920 terjadi wabah penyakit Influenza Spanyol. Keempat, pada saat ini, tahun 2020 M terjadi wabah penyakit Corona (Covid-19) yang berawal dari Wuhan China dan menyebar hingga kini ke 188 negara di seluruh dunia. Hingga tulisan ini dibuat, korban yg terinfeksi sudah mencapai 7.75 juta dan yg meninggal berjumlah 428,106 orang dan total pemulihan di seluruh dunia 3,56 juta per tanggal 14 Juni 2020. (Reuters.com).

Kita selalu menemukan angka tahun 20 yang selalu muncul di setiap jeda 100 tahun sekali dengan fenomena mewabahnya virus penyakit yang mematikan. Ada apa dengan angka 20? Benarkah demikian? Namun dikutip dari WHO.int, Black Death dikenal sebagai pandemi pes di abad ke-14 yang menewaskan lebih dari 50 juta orang di Eropa. Penyakit ini pertama kali mewabah antara tahun 1347-1351, bukan 1720 seperti disebut dalam beberapa versi infografis siklus pandemi 100 tahun yang viral.

Wabah pes memang pernah terjadi pada 1720, tepatnya di Prancis. Dikenal sebagai Great Plague of Marseille, dan menewaskan lebih dari 126.000 orang di Eropa. Karena sebagian besar kasus ditemukan di Prancis, wabah ini tidak dikategorikan sebagai pandemi. Pandemi kolera di abad ke-19 juga tidak dimulai pada 1820, melainkan pada 1817. Jutaan orang tewas akibat pandemi yang bermula di Kalkuta, di sepanjang Sungai Gangga, tersebut. Flu Spanyol yang disebabkan oleh virus H1N1 menyebar bukan cuma di tahun 1920, melainkan sejak 1918-1919. Sebanyak 500 juta orang atau nyaris sepertiga penduduk dunia terinfeksi virus ini. Dengan kematian mencapai 50 juta orang di seluruh dunia, flu spanyol tercatat sebagai salah satu pandemi paling buruk sepanjang sejarah.

Sebenarnya ada banyak pandemi lain yang tidak mengikuti siklus 100 tahun. Pandemi kolera misalnya, terjadi beberapa kali sejak mewabah di India pada 1817. Siklus 100 tahun juga tidak terlihat jika memperhitungkan sejumlah pandemi lain dalam sejarah, misalnya flu babi atau H1N1 pada 2009. (health.detik.com).

Namun terlepas adanya isu mengenai wabah seratus tahun atau bukan. Yang pasti, dengan adanya wabah (pandemik) global ini bisa mengakibatkan krisis pangan global sementara Negara-negara maju dan negara konflik semakin memperkeruh. Dengan kepentingan politis dan persaingan dagang global bisa mengakibatkan perang dunia ke III.

 Krisis Pangan

Pangan menjadi kebutuhan utama manusia, agar tidak terjadi krisis maka ketahanan pangan yang menjadi salah satu solusi tepat. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 1992, mendefinisikan ketahanan pangan sebagai situasi di mana semua orang memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.

Setiap harinya penduduk dunia terus bertambah, Menurut International Fund Agriculturale Development (IFAD) 925 Juta penduduk dunia kelaparan dan  Populasi pada 2050 mencapai 9,1 Miliar penduduk serta 1,4 Miliar penduduk memperoleh penghasilan kurang dari 1,25 USD/Days. Beberapa masalah yang menyebabkan terjadinya krisis pangan, bukan hanya persoalan penduduk dunia semakin meningkat, namun, alih fungsi lahan pertanian berubah menjadi lahan infrastruktur dan properti, stabilitas harga yang terus menaik, dan bencana yang mengakibatkan terjadinya krisis pangan di lokasi bencana tersebut. (Https://www.qureta.com)

Mengatasi persoalan krisis pangan diperlukan pemerintahan yang ‘kuat’ dan peduli untuk mendorong sistem kebijakan dan produksi pangan yang terkait dengan: ekonomi, pertanian, ilmu dan teknologi. (Wantimpres.go.id)

Kedua, masyarakat mulai berkebun, menanam dan bertani. Jika tak ada lahan untuk berkebun, bisa dengan menggunakan pot untuk menanam sayuran dll. Solusi berkebun sayur, buah atau budidaya ikan di dalam bak plastik, minimal untuk konsumsi pribadi bisa mengurangi krisis pangan dalam satu keluarga dan juga menghemat biaya transportasi apabila belanja ke pasar. Jika ini dilakukan oleh masyarakat baik di perkotaan dan di pedesaan maka krisis pangan bisa diatasi dan kita selamat dari ancaman kelaparan. Inilah yang harus dipelajari oleh generasi Alfha; yaitu berkebun, bertani, beternak dll untuk menghindari ancaman krisis pangan di masa depan. Apalagi saat ini adalah masa pandemik global. Ancaman kelaparan di depan mata ditambah ancaman nuklir di masa mendatang.

 Perang Nuklir

Perang nuklir adalah peperangan di mana senjata nuklir digunakan. Ini hanya berlaku sekali - pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat terhadap Kekaisaran Jepang yang mengakhiri Perang Dunia II di Asia. Pada masa kini istilah ini biasanya merujuk kepada konfrontasi di mana kedua pihak berlawanan dilengkapi dengan senjata nuklir. Dibanding perang konvensional, perang nuklir lebih hebat daya ledaknya dan menghasilkan jumlah kerusakan lebih besar.

Mayoritas generasi millenial takut atau khawatir serangan dengan senjata nuklir akan terjadi di suatu tempat di dunia dalam sepuluh tahun mendatang. Demikian survei yang dilakukan Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Sekitar 47 persen responden survei dari 16.000 orang anak muda juga percaya serangan senjata nuklir di suatu tempat di dunia lebih mungkin daripada tidak akan adanya perang dunia ketiga dalam hidup mereka.

Jadi, mungkinkah perang nuklir akan terjadi? Siapkah kita dan terutama anak cucu kita, generasi Alfha menghadapinya? Benarkah setelah pandemik akan ada krisis pangan dan perang dunia/ nuklir? Apapun itu, dari sekarang kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuk. Namun Tidak perlu panik secara berlebihan. Tidak ada yang bisa meramal masa depan dengan pasti. Seperti saat ini tidak ada yang mengetahui akan ada pandemik global. Kita hanya perlu mempersiapkan dan membekali diri untuk menghadapi masa depan yang tantangannya lebih berat dari jaman orangtua kita. Lalu apa yang harus dipersiapkan oleh generasi milenial dan khususnya generasi Alfha kelak. Berikut persiapannya untuk menghadapi kemungkinan krisis pangan dan perang nuklir.

 Menghadapi Perang Nuklir

Sinyal-sinyal menuju "Perang Dunia III" sudah bermunculan. Konflik di berbagai negara seperti Suriah, Irak, Korea, China, Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Belum lagi Israel - Palestina, India dan Pakistan yang mengklaim memiliki senjata rudal balistik.

Apalagi di masa pandemik global ini, kemungkinan perang dengan senjata biologis bisa terjadi. Ditambah krisis pangan dunia, akankah menjadi akhir yang sangat tragis? Akhir zaman seperti yang sudah diprediksi para pakar dan penafsir kitab suci. Berikut persiapan diri untuk menghadapi Perang Nuklir yang diramal oleh para ahli, kemungkinan akan terjadi 10 Tahun mendatang.

1. Lokasi Teraman

Karena kekuatan nuklir paling banyak dimiliki negara-negara di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), maka tetap lah berada di bagian selatan ekuator (khatulistiwa).

Dan jika perang menyebar tanpa terkendali, pergilah ke Antarika. Di sana memang dingin, namun dengan bekal yang cukup serta shelter atau perlindungan, Anda bisa bertahan hidup selama beberapa bulan.

2. Bunker

Jika Anda tahu di mana ada bunker, segera ke situ secepatnya. Tapi menurut para peneliti ada kemungkinan tempat seperti itu belum tentu aman.

3. Berlindung di bawah tanah

Satu-satunya cara untuk selamat dari bencana itu adalah tinggal di bawah tanah.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar]," QS. Arrum : 41.

Share :