APA YANG SALAH DARI SEKOLAH ?

APA YANG SALAH DARI SEKOLAH ?

APA YANG SALAH DARI SEKOLAH ?

Oleh Muhammad Furqon Hadiwijaya*


Hidup memang penuh dengan kebingungan dan itu memang harus, karena kadang-kadang kebingungan juga dapat membantu mencari kebenaran dengan caranya sendiri. Sejak kecil bahkan sampai dengan hari ini saya masih sering mendengar kalimat " sekolah yang rajin biar pintar dan dapat kerja yang enak" dan itu adalah doktrin yang sangat manjur dan bertahan lama sehingga banyak orang masih percaya bahwa jika sekolah rajin pasti akan pintar dan jika sudah pintar akan mendapat kerja yang enak.

Dulu, dulu sekali mungkin pemahaman itu masih relevan ditengah-tengah peradaban yang masih sempit, tapi sekarang dimana teknologi sudah mulai canggih, gadget sudah menjadi kebutuhan pokok bahkan sudah menjadi sebuah alat yang multifungsi, industri sudah berevolusi, dan masih banyak lagi perubahan yang lain.

Lalu apakah sekolah adalah cara agar pintar ?

Lalu apakah syarat untuk bekerja adalah pintar?

Lalu apakah tujuan dari bekerja itu? Uang?

Lalu apakah satu satunya cara mendapat uang itu harus bekerja (pabrik, kantor, toko, dll?).

Oke, saya ingin memberikan beberapa pandangan yang mungkin kita tidak sepaham, tapi paling tidak saya bisa memberikan pilihan untuk memulai banyak diskusi dan ide yang bisa mengubah semua itu.

Pertama apakah tujuan dari sekolah itu untuk pintar?

Jawabannya tentu tidak, karena ada segudang alasan kenapa orangtua kita dahulu mendaftarkan kita ke sekolah?. Bisa jadi karena tak sanggup mengajari dirumah, keterbatasan kemampuan, tidak ada waktu dan lain sebagainya. Tapi sebagai kalimat penyejuk untuk anak-anaknya agar tidak panjang menjelaskan dan karena disekolah itu ada guru yang mengajar dan banyak teman baru. Maka sekolah menjadi efektif untuk menitipkan anak agar belajar bersama guru dan murid lainnya.

Kemudian apakah kepintaran itu didapat dari sekolah? Jika kita lebih cermat mengamatinya dengan seksama, pintar itu diraih oleh individu masing-masing dan tentu melalui banyak hal agar individu itu bisa pintar karena semua sekolah tidak menjamin bahwa setiap orang yang bersekolah akan menjadi pintar. Tentu akan ada perbedaan antara pintar karena bersekolah dengan bersekolah menjadi pintar.

Kedua apakah syarat untuk bekerja adalah pintar?

Jawabannya tentu saja tidak, karena tidak semua pekerjaan membutuhkan pekerja yang pintar, idealnya adalah lapangan pekerjaan anak mencari tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut dan itu sangat beragam kategorinya. Jika saja kita analogikan pintar itu adalah cara berpikir, maka perusahaan yang hanya membutuhkan tenaga manusia untuk mengangkat barang tidak akan membutuhkan tenaga kerja yang pintar, perusahaan hanya butuh yang tenaganya kuat dan menurut ketika diperintahkan.

Yang ketiga apakah tujuan bekerja itu? Uang?

Tentu jawabannya tidak, karena akan sangat banyak sekali alasan kenapa individu itu bekerja, ada yang karena uang, ada yang karena butuh makan, ada yang bosan dirumah, ada yang ingin mencoba dan lain sebagainya. Kesalahpahaman kita menurut saya adalah mudah sekali menganggap bahwa bekerja itu untuk uang, padahal itu berbeda.

Jika yang dibutuhkan adalah uang maka tentu tidak akan pilih pilih jenis pekerjaan, apapun pekerjaannya asalkan menghasilkan uang maka idealnya akan dijalani. Tapi sebaliknya jika masih memilih-milih jenis pekerjaan, seperti apa kerjanya dan harus sesuai kemampuan dan lain sebagainya, tentu ini tipe yang bekerja bukan hanya sekedar untuk uang, tapi bisa juga untuk gaya dan kenyamanan tertentu.

Yang keempat apakah cara mendapatkan uang harus bekerja?

Jawabannya tentu saja tidak, karena untuk mendapatkan uang itu banyak caranya. Jika bekerja kita artikan diperusahaan,dikantor, ditoko dan ditempat formal lainnya yang jam kerjanya sudah diatur, seragamnya diatur dan semua hal yang lainnya juga diatur. Tentu bukan hanya dengan cara bekerja kita bisa menghasilkan uang. Ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan apalagi di jaman yang sekarang ini.

Berapa banyak orang yang menghasilkan uang dari internet, berapa banyak orang yang punya uang dari kreativitasnya, berapa banyak yang kaya dari karyanya, dan banyak sekali contohnya yang sudah sering kita lihat sehari-hari.

Terakhir saya ingin menunjukkan data yang bersumber dari BPS ( Badan Pusat Statistik ) Provinsi Banten pada bulan Agustus 2019 tercatat bahwa jumlah pengangguran yang ada di provinsi Banten tertinggi di Indonesia dari 490,8 ribu orang yang ada di Banten mencatat angka 8,11% padahal angka pengangguran Nasional adalah 5,28%.

Berapa banyak sekolah yang ada di Banten?

Bersumber dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_sekolah_menengah_atas_di_Banten ada 9.816 sekolah dari SD sampai SMA baik Negeri maupun Swasta, tentu itu adalah jumlah yang sangat banyak.

Lalu pertanyaan pokoknya adalah apa yang salah dari sekolah?

Apakah aturannya?

Apakah pemerintahannya?

Apakah DPR nya?

Apakah masyarakatnya?

Apakah kita semuanya?

Saya tidak tahu siapa yang salah dan saya juga tidak ingin menyalahkan siapapun, tapi saya punya keyakinan bahwa jika sebuah daerah menginginkan peradaban yang maju maka mulailah dengan memberikan jabatan kepada orang-orang yang secara kemampuan dan kualitasnya sesuai dengan posisi dan jabatan tersebut. Karena jika orang-orang yang tidak mengerti dan paham diberikan jabatan maka jangan kaget jika tidak sesuai dengan yang diharapkan.

*Direktur TBM HAHALAEN


Share :