MENDAMPINGI ANAK BELAJAR MEMBACA

MENDAMPINGI ANAK BELAJAR MEMBACA

MENDAMPINGI ANAK BELAJAR MEMBACA

Oleh Ai Bida Adidah Shofa*


Membaca merupakan keterampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Membaca dapat dikembangkan, dibina, dan dipupuk melalui proses belajar, baik dilingkungan informal, norformal maupun formal.

Keinginan membaca harus timbul dalam pribadi seseorang dan tidak ada unsur paksaan. Bila dalam diri seseorang terdapat keinginan untuk membaca sebaiknya dikembangkan dengan mencari informasi yang sesuai dengan tingkat umurnya, kemudian kegiatan ini dilanjutkan secara terus menerus dan berkelanjutan sehingga membaca menjadi suatu kebutuhan hidup yang tidak dapat diabaikan.

Pada masa pandemi virus corona atau masa adaptasi kehidupan kenormalan baru sekarang ini, pembelajaran anak secara tatap muka di sekolah ditiadakan dan proses pembelajaran dialihkan ke rumah masing-masing. Hal ini membawa dampak besar bagi anak dan orang tua itu sendiri, pembelajaran harus dilakukan secara daring (dalam jaringan) internet atau online. Dampak situasi ini pada orang tua dan anak adalah harus tanggap terhadap perkembangan teknologi, yaitu pembelajaran dengan menggunakan gawai, pada sisi lain pertimbangan ekonomi juga mempengaruhi system pembelajaran seperti ini. Belajar secara daring tentu saja memiliki tantangan tersendiri, bukan saja suasana rumah yang harus mendukung pembelajaran, tetapi koneksi internet juga harus memadai. Namun proses pembelajaran yang efektif juga tak kalah penting, misalnya komunikasi antara guru dan murid berjalan dengan baik, aktif berdiskusi dengan teman, manajemen waktu belajar sangat penting dengan memastikan membuat catatan mana saja tugas yang sudah dikerjakan dan yang belum dikerjakan.

Peran dan aktifitas orang tua untuk mendorong minat dan kebiasaan membaca bagi anak-anaknya sangat besar sekali. Ini merupakan kewajiban. Dan apabila hal ini tidak dilakukan sejak dini, dapat mengakibatkan hal-hal yang akan merugikan anak itu sendiri dimasa datang. Aktifitas  dalam keluarga itu juga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, sehingga secara tidak langsung mereka akan meniru kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga itu. Pada saat ini dimana produk-produk elektronik (televisi, radio, komputer, dll) sudah merambah berbagai tempat sehingga akses hiburan dapat dijangkau dengan mudah. Kemudahan mendapatkan hiburan semacam itu bisa berpengaruh sangat besar untuk menjauhkan orang dari bahan bacaan.

Sebagai orang tua, kita harus cermat dalam membagi waktu bagi anak-anaknya. Karena pada usia kanak-kanak, keinginan bermain sangat besar. Maka untuk menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca di rumah, sejak dini mereka harus disediakan lingkungan yang mendukung terhadap penyediaan kesempatan membaca. Dalam lingkungan ini mereka harus mendapat kesempatan merasakan  bahwa membaca itu adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Begitu pula ketika anak mengerjakan tugas-tugas sekolah atau menginginkan sesuatu dan menanyakannya kepada orang tua, maka tindakan orang tua jangan langsung menjawab, tetapi mereka dituntun unuk mencari sendiri informasi dimaksud. Dengan membiasakan anak-anak mencari informasi sendiri penjelasan yang ingin mereka ketahui dari sumber informasi maka sekaligus pula minat baca mereka akan bertambah.

Untuk mengkondisikan dan menumbuhkan minat dan kebiasaaan membaca anak dalam lingkungannya, maka orang tua memegang peranan yang amat penting sebagai model yang akan ditiru dan diteladani oleh anak-anak dirumah. Tentu kita tidak bijaksana apabila anak-anak diminta untuk membaca buku, sementara orang tua malah asyik nonton televisi. Salah satu hal yang sangat penting dilakukan untuk mengkondisikan dan menumbuhkan minat baca dan mengurangi kegiatan nonton televisi bagi anak-anak adalah membuat aturan dengan mematikan televisi pada saat jam belajar setiap hari. Pada saat liburan sekolah pun menonton televisi tetap dibatasi berdasarkan waktu yang dapat dirundingkan bersama anak-anak. Karena bagaimanapun juga terlalu banyak menonton televisi dapat melemahkan minat baca anak-anak.

Selain kasus diatas, anak-anak juga harus didorong untuk mampu mengapresiasi atau membuat rangkuman dari apa yang mereka baca, sehingga nantinya ketika ada permasalahan atau keingintahuan terhadap sesuatu, yang dicari pertama kali adalah bahan/sumber informasi, orang tua tinggal mengarahkan sumber informasi apa yang harus didapatkannya, atau mereka diajak mengapresiasi dan mengevaluasi buku yang dibacanya. Mendiskusikan bersama atau menyimpulkan isinya.bisa saja anak memiliki gagasan yang berbeda atau ingin mengkritik tema cerita, ini semua merupakan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan berbagai ide kreatifnya. Selain itu, apabila ada waktu luang/libur, anak-anak diajak ke toko buku atau perpustakaan untuk memilih sendiri buku apa yang mereka inginkan.

Menurut Cochrane Efal (dalam Nurbiana Dhieni, 2005), perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak usia 4-6 tahun berlangsung dalam  lima tahap yakni :

1. Tahap Fantasi (Magical Stage) Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir bahwa buku itu penting dengan cara membolak-balik buku. Kadang anak juga suka membawa-bawa buku kesukaannya. Pada tahap ini orang tua hendaknya memberikan model atau contoh akan arti pentingnya membaca dengan cara membacakan sesuatu untuk anak, penggunaan bahasa dalam berbagai situasi sosial yang berbeda

2. Tahap  pembentukan konsep diri (self Concept Stage) anak memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan dirinya dalam kegiatan membaca, pura pura membaca buku. Orang tua perlu memberikan rangsangan dengan jalan membacakan buku pada anak.

3.Tahap membaca gambar (Bridging Reading Stage). Anak menyadari cetakan yang tampak mulai dapat menemukan kata yang sudah dikenal.

4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take-off Reader Stage) Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak mulai tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan seperti membaca kardus susu, pasta gigi dan lain-lain. Pada tahap ini orang tua masih harus membacakan sesuatu pada anak. 

5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stage) Anak dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Orang tua dan guru masih harus tetap membacakan buku pada anak. Tindakan tersebut dimaksudkan dapat mendorong anak untuk memperbaiki bacaannya, bantu anak memilih bacaan yang sesuai. Dan agar tidak ada kesan pemaksaan “belajar membaca” pada anak maka harus dilakukan dengan menyenangkan. Sebelum mengajarkan membaca pada anak, dasar-dasar kemampuan membaca atau kemampuan kesiapan membaca perlu dikuasai anak terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengetahui apakah anak sudah siap diajarkan membaca.

Kebiasaan membaca atau reading habit, diharapkan pada saatnya nanti bermuara pada keterampilan membaca (reading skill). Bermula dari kesukaan “belajar membaca”, berkembang menjadi kebiasaan membaca dan pada akhirnya menjadi sebuah keterampilan membaca, yaitu tidak lagi belajar membaca tetapi sudah pada tataran “membaca untuk belajar”. Hal ini bermakna bahwa membaca bukan hanya dapat memaknai apa yang dibaca, atau tidak sekedar menghafal dan mengingat tetapi juga dapat membedakan, membandingkan, mengkaji, mengeksplorasi dan seterusnya. Itulah sebuah makna keberaksaraan informasi atau literasi informasi.

*Peminat masalah sosial


Share :