INFORMASI SEBAGAI ASET PERPUSTAKAAN

INFORMASI SEBAGAI ASET PERPUSTAKAAN

INFORMASI SEBAGAI ASET PERPUSTAKAAN

Oleh Iman Sukwana*

Arus informasi yang menyebar dan berbaur saat sekarang ini memungkinkan sangat cepat diakses oleh sebagian besar masyarakat, walaupun informasi tersebut belum diketahui kebenarannya. Dengan demikian setiap orang yang mengakses informasi dari manapun harus menyaring, memilah dan memilih serta mampu mengenali kebutuhan informasinya. Semua itu dilakukan agar kita tidak terjebak dan tersesat oleh informasi yang diterimanya.

Jika kita bicara tentang perpustakaan, maka tidak dapat terpisahkan dari informasi yang dikelola didalamnya. Informasi yang ada di perpustakaan akan dibutuhkan oleh pemustaka untuk memperbaharui pengetahuannya atau sebagai bahan untuk melakukan diskusi mengenai topik tertentu atau informasi digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan. Dengan demikian, sebagai masyarakat yang sudah melek informasi, kita harus mampu memilah dan memilih informasi yang diperoleh sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Dalam dunia perpustakaan, kemampuan seperti ini disebut literasi informasi.

Literasi informasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi. Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. (https://wikipedia.org.id//wiki/literasi informasi).

Dengan demikian sikap seseorang terhadap informasi adalah untuk mengetahui kapan memerlukan informasi, mengetahui mengapa memerlukan informasi, mengetahui kemana mencari informasi, mengetahui bagaimana mengevaluasi informasi, mengetahui bagaimana menggunakan informasi, dan mengetahui bagaimana mengomunikasikan informasi.

Clay dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1) Literasi Dini (Early Literacy), yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. 2) Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi. 3) Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah. 4) Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. 5) Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. 6) Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. (https://rahmarizqy.wordpress.com /2017/02/02/gerakan-literasi-sekolah/)

Literasi merupakan sebuah proses belajar sepanjang masa yang bertujuan membentuk individu yg bijak, kritis, kreatif, bersimpati dan berempati pada diri sendiri dan lingkungannya. Pada hakikatnya literasi bertujuan menciptakan individu yg cakap secara kognitif, memiliki kesadaran sosial, refleksi kritis melakukan perubahan kearah yg lebih baik, dan kontribusi dalam membangun peradaban.

Sementara itu, Wina Erwina berpendapat sebagaimana dikutip Kristanti (2016) mengatakan bahwa tujuan literasi informasi adalah untuk mempersiapkan individu agar mampu melakukan pembelajaran seumur hidup, meningkatkan kemampuan berfikir kritis, dan meningkatkan kemampuan individu untuk mengevaluasi informasi di tengah ledakan informasi serta meningkatkan kemampuyan pengguna informasi yang lebih efisien dan efektif yang relevan secara etis, legal, dan juga dapat menghindari plagiat. Literasi informasi sangat berperan aktif dan dapat dijadikan pembelajaran untuk mengekspresikan ide, membangun argumentasi, mempelajari hal baru, dan mengidentifikasi kebenaran informasi serta menolak informasi yang salah.

Perpustakaan merupakan lembaga atau pusat informasi yang tugasnya tidak hanya mengumpulkan dan mengorganisasi informasi, tetapi menyebarluaskan informasi itu kepada masyarakat secara luas. Penyebaran informasi tersebut hanya akan terjadi bila perpustakaan mengadakan berbagai kegiatan atau layanan yang memungkinkan para pemustaka memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dimiliki oleh perpustakaan.

*Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten

Share :