Rasionalisasi Karya Fiksi dan Peningkatan Literasi

Rasionalisasi Karya Fiksi dan Peningkatan Literasi

Rasionalisasi Karya Fiksi dan Peningkatan Literasi


Oleh: Mahbudin, M.Pd*


Jika Anda pernah mengira membaca karya fiksi adalah aktifitas hiburan atau sekadar untuk mengisi waktu luang, atau bahkan mengira itu kegiatan kurang berfaedah tanpa memberi dampak berarti terhadap keterampilan membaca, maka itu berarti kita pernah sependapat tentang ini. Namun, jika Anda masih berpegang pada keyakinan bahwa hanya buku-buku ilmiah, jurnal, koran, majalah, atau karya nonfiksi berbau akademis lainnya yang akan meningkatkan keterampilan membaca seseorang, maka itu artinya kita sudah tidak lagi sependapat. Mengapa demikian? Mari kita diskusikan dalam paparan sederhana yang penulis istilahkan dengan Fiction Effects, dimaksudkan sebagai pengaruh membaca karya fiksi terhadap keterampilan membaca (literasi) seseorang.

Keterampilan membaca adalah salah satu aspek kecakapan hidup fundamental untuk membantu seseorang dapat berpartisi aktif baik dalam masyarakat maupun dunia kerja. Untuk mewujudkan masyarakat yang terampil dalam membaca, aktifitas membaca harus dijadikan sebagai budaya. Sayangnya, pembudayaan membaca dalam masyarakat kita masih memiliki tantangan tersendiri. Oleh karena itu, pembudayaan membaca harus diupayakan melalui usaha terencana dan sistematis melalui kolaborasi berbagai pihak dimulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

Menyadari urgensi pembudayaan kegemaran membaca dalam masyarakat, pemerintah Indonesia melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan pada tahun 2016 meluncurkan program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Program ini merupakan implementasi dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Pada bagian VI Permendikbud ini dijelaskan bahwa gerakan penumbuhan budi pekerti dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Salah satunya adalah sekolah wajib menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran setiap hari.

Yang menarik dari poin ini adalah jenis buku yang wajib dibaca, yaitu selain buku mata pelajaran. Pemerintah menyadari penumbuhan budaya membaca lebih efektif dilakukan melalui sumber bacaan non-pelajaran. Peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih bacaan yang ingin mereka baca. Ini sesuai dengan hasil riset Krashen sebagaimana dikutip oleh Renandya (2019) bahwa kebebasan untuk memilih sumber bacaan (self-selected reading) memiliki dapak signifikan terhadap perkembangan literasi, termasuk kosakata, gaya penulisan, kemampuan membaca, dan ejaan.

Satu hal sudah jelas bahwa sumber bacaan non-pelajaran berdampak baik terhadap kemampuan membaca. Kemudian muncul pertanyaan, dari sekian banyak jenis sumber bacaan non-pelajaran, jenis bacaan apa yang memiliki dampak paling besar terhadap kemampuan membaca? Jerim dan Moss pada tahun 2018 melakukan riset tentang hal ini. Mari kita pelajari bersama-sama.  

Istilah Fiction Effects penulis adaptasi dari penelitian Jerrim dan Moss (2018) berjudul The link between fiction and teenagers’ reading skills. International evidence from the OECD PISA study. Dalam penelitian ini Jerrim dan Moss menggunakan data PISA (Program for International Student Assessment) tahun 2009 dengan responden 35.000 siswa berusia 15 tahun di 35 negara berkembang. Penelitian ini mempelajari 5 jenis teks yang biasa dibaca remaja di 35 negara tersebut, yaitu: majalah, nonfiksi, fiksi, koran, dan komik. Dari kelima jenis teks ini kemudian dianalisis yang memberi dampak paling besar terhadap skor PISA dalam kemampuan membaca.

Secara umum, hasil studi ini menyimpulkan bahwa remaja yang sering membaca memilliki kemampuan akademik yang lebih baik. Studi ini juga menemukan bahwa remaja yang sering membaca fiksi memiliki kemampuan membaca lebih baik dibandingkan dengan temannya yang tidak membaca. Hal yang menarik dari hasil penelitian ini adalah dari 5 jenis teks yang dibaca remaja itu, teks fiksi adalah yang memberi dampak paling besar terhadap kemampuan membaca remaja dibandingkan 4 jenis teks lainnya. Hasil studi ini sekaligus mengubah paradigma sebagian kita yang meyakini bahwa hanya karya ilmiah saja yang akan meningkatkan kemampuan membaca seseorang.

Mengapa membaca karya fiksi berpengaruh lebih siginifikan dalam mengembangkan keterampilan membaca remaja dibandingkan 4 jenis teks lainnya: majalah, nonfiksi, koran, dan komik? Setidaknya ada 2 faktor esensial yang membuat teks fiksi berperan lebih dominan dalam membangun kemampuan membaca.

Pertama, membaca fiksi adalah membaca mendalam (deep reading). Waktu yang dibutuhkan untuk membaca fiksi lebih lama dibandingkan dengan membaca jenis teks lainnya. Ketika membaca karya fiksi, seseorang biasanya akan membaca keseluruhan isi buku tanpa ingin melewatkan kata per katanya, karena “kenikmatan” membaca karya fiksi terletak pada rangkaian setiap peristiwa dan untaian kalimat-kalimatnya. Pembaca karya fiksi seperti tenggelam bersama yang dibacanya, memaknai setiap rangkaian peristiwa yang dituturkan, lalu bereksplorasi bersama imajinasinya. Inilah yang dimaksudkan dengan membaca mendalam (deep reading). Ini berbeda jika seseorang membaca koran misalnya, yang biasanya hanya membaca headline dan sejumlah informasi yang dianggap penting saja. 

Dan satu lagi, hal terpenting dari faktor membaca karya fiksi dalam meningkatkan kemampuan membaca seseorang terletak pada proses menikmati bacaan yang dibaca. Karena jika seseorang menikmati yang dibacanya, ia akan menjadikan aktifitas membaca itu menjadi bagian dari kesehariannya, dan dari sanalah kemampuan membacanya tumbuh dan berkembang. Hal ini diperkuat dengan temuan PISA (2011)  bahwa menikmati bacaan adalah prasyarat penting untuk menjadi pembaca yang efektif.

Kedua, membaca fiksi terkait dengan eksposur kosa kata yang kaya dan kompleks. Dengan jumlah kata dalam novel yang berkisaran di angka lebih dari 40.000 kata, novela 17.500 – 40.000 kata, novelet 7.500 – 17.500 kata dan cerpen di bawah 7.500 kata, pembaca akan disuguhkan berbagai kosa kata yang kompleks dan beragam. Keberagaman tema yang tersaji dalam karya fiksi menghasilkan kekayaan kosa kata bagi pembacanya. Sebut saja novel Ayat Ayat Cinta yang masuk dalam ketegori ketebalan buku “sedang”, memiliki 87.888 kata. Bayangkan novel dengan ketebalan dua kali lipat dari pada ini seperti Harry Potter atau Aroma Karsa. Maka sangat wajar, penikmat karya fiksi memiliki kekayaan kosa kata lebih dibandingkan yang tidak membacanya.

Akhirnya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa membaca fiksi bisa menjadi salah satu solusi untuk menumbuhkan minat dan kemampuan membaca. Marilah ajak diri kita, keluarga kita, dan orang-orang di sekitar kita untuk memperkaya bacaan kita dengan karya-karya fiksi.

Sebagai penutup, pandemi Covid-19 yang mengharuskan setiap orang untuk menjaga jarak sosial (sosial dinstancing) ini seharusnya menjadi kesempatan emas untuk mendapatkan lebih banyak Me Time untuk membaca. Ayo membaca!      


*Teacher Librarian MTsN 1 Pandeglang


Share :