MINAT BACA DAN PERSOALANNYA

MINAT BACA DAN PERSOALANNYA

MINAT BACA DAN PERSOALANNYA

Oleh : Asep Awaludin*

Pendahuluan

Kebutuhan pembangunan yang menjadi salah satu prioritas dan perlu mendapat perhatian adalah peningkatkan kualitas sumber daya manusia yang mampu secara aktif menjadi subyek pembangunan yang handal. Upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut kiranya tidak mudah dan sederhana mengingat begitu pesat dan cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus selalu diikuti kalau tidak ingin tertinggal oleh kemajuan jaman dan menjadi manusia yang tidak berguna. Disamping itu dari segi kondisi sumber daya manusia yang ada secara umum masih belum menggembirakan,  memang diperlukan upaya yang ekstra kuat dengan strategi yang mantap dan konsisten.

Pengembangan dunia pendidikan merupakan salah satu cara yang dirasa mampu untuk memenuhi harapan dan kebutuhan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun dibalik itu semua, dunia pendidikan demikian pelik dalam penanganannya, sehingga secara efektif dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dan kita memang tidak bisa menangani pendidikan itu hanya secara parsial namun harus secara komprehensif dan terpadu dalam suatu sistem yang handal. Dari segi sasaran yang ditangani pendidikan itu harus mencakup kepada seluruh insan dari sejak sebelum lahir hingga yang bersangkutan tiada lagi (long life education). Dari segi penangannya pendidikan dapat diselenggarakan secara formal, nonformal dan informal. Pendek kata banyak segi yang harus diperhatikan secara cermat dalam rangka mewujudkan sistem pendidikan yang handal dan efektif.

Perpustakaan merupakan salah satu dimensi dalam sistem pendidikan yang selama ini ini kiranya kurang mendapat perhatian yang semestinya, mengingat perannya yang sangat strategis dalam menunjang upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perpustakaan kadang diperankan dalam posisi marginal dibanding aspek pendidikan lainnya. Perpustakaan kadang dikelola secara kurang profesional dengan SDM, sarana prasarana, bahan pustaka, bahkan dana yang serba terbatas. Hal ini tentu tidak akan membawa pada terwujudnya visi dan misi penyelenggaraan perpustakaan. Salah satu tugas yang harus diemban oleh perpustakaan adalah meningkatkan minat baca masyarakat yang secara jangka panjang diharapkan dapat mendorong dan mempercepat terwujudnya budaya baca pada masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut maka kondisi “serba kurang” pada perpustakaan ini perlu diatasi kalau tidak ingin peran perpustakaan menjadi semakin terpinggirkan dan tidak mendapat perhatian dari masyarakat atau pengguna perpustakaan.

Minat Baca

Minat baca merupakan suatu ketertarikan untuk dapat mengartikan atau menafsirkan media kata-kata dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dengan adanya minat baca dapat mendorong seseorang untuk giat memperluas pengetahuannya. Semakin tinggi minat baca pada diri seseorang semakin tinggi pula hasil belajar yang diterimanya, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan belajar optimal.

Minat baca pada seseorang tidak dapat tumbuh begitu saja secara instan, tetapi melalui proses yang panjang dan tahapan perubahan yang muncul secara teratur dan berkesinambungan. Seseorang yang memiliki minat baca dalam dirinya akan memiliki gairah atau kecenderungan untuk melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis, baik dengan dilafalkan atau mengeja apa yang ditulis atau hanya dalam hati. Disertai dengan perasaan senang karena merasa ada kepentingan terhadap hal tersebut. Oleh karenanya minat baca sangat penting bagi perkembangan seseorang.

Pengembangan minat baca seseorang selamanya tidak akan berjalan mulus, karena banyak faktor yang memepengaruhinya. Apalagi pada saat sekarang ini orang lebih suka  menikmati audio-visual (pandang dengar) ketimbang membaca.

Upaya yang perlu ditempuh

1.      Keluarga

Lingkungan keluarga memiliki atmosfir yang kuat untuk mendukung seseorang (anak)  memiliki minat baca yang kuat, dalam lingkungan keluarga tercipta kondisi yang hangat, demokratis, dan bisa mengarahkan anak-anak mereka pada kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, suka menantang anak untuk berfikir, dan suka mendorong anak untuk mandiri merupakan orang tua yang memiliki sikap yang dibutuhkan anak sebagai persiapan yang baik untuk belajar di sekolah. Rumah juga berpengaruh pada sikap anak terhadap buku dan membaca. Orang tua yang gemar membaca, memiliki koleksi buku, menghargai membaca dan senang membacakan cerita pada anak-anak umumnya menghasilkan anak yang gemar membaca pula.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah mengenalkan tujuan membaca pada anak, mereka diarahkan untuk apa membaca, bahan informasi apa yang diperlukan, kemudian mencatat bahan informasi penting yang dibutuhkan. Selain itu anak diarahkan pada situasi yang menarik, suasana yang menyenangkan dan tempat belajar yang dibuat santai. Sehingga memungkinkan anak belajar dengan tenang dan dapat mencerna serta memahami apa yang dipelajari atau dibacanya.

2.      Sekolah

Sistem pengajaran di kelas yang dulu berlangsung satu arah dan seakan-akan guru adalah segalanya, menguasai bidang ilmu yang diajarkan, sementara para murid diyakini tidak mengerti apapun, layaknya wadah kosong yang siap di isi apapun atau seperti kertas putih yang bisa di isi atau di tulis dengan apapun yang dikehendaki. Murid harus sepenuhnya mematuhi guru dan memahami pelajaran sebagaimana guru itu memahaminya. Kepatuhan itu tampak misalnya, pada saat belajar mengajar berlangsung, guru berdiri atau duduk di depan kelas sementara murid menghadap kedepan dan harus mendengarkan guru mengajar.

Pembelajaran semacam itu adalah salah satu hambatan terhadap pengembangan minat dan kebiasaan membaca. Kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan komunikasi tidak terisolasi iklim komunikasi secara keseluruhan. Kalau murid senantiasa disuapi oleh guru dan menelan bulat-bulat apa yang disampaikan oleh guru, harus menjawab pertanyaan guru persis sebagaimana yang diajarkan atau yang tertuang dalam buku pelajaran, maka rasa ingin tahu murid tidak akan berkembang maksimal. Dengan demikian, murid akan berfikir buat apa mengetahui berbagai masalah apabila toh jawaban ketika ulangan harus sesuai buku pelajaran (teks book). Murid akhirnya menjadi makhluk mekanis yang seakan-akan tanpa jiwa dan kurang kreatif.

Sistem pembelajaran seperti demikian sudah mulai ditinggalkan, namun belum sepenuhnya. Guru masih mengambil peran yang dominan di kelas. Walaupun sudah terjadi dialog-dialog yang menunjukan adanya demokratisasi dibidang pendidikan. Untuk lebih mengoptimalkan sistem pembelajaran itu maka peran guru hendaknya sebatas motivator dan fasilitator bagi pemecahan masalah-masalah yang dihadapi murid-muridnya, apabila ada permasalaan yang tidak terselesaikan di kelas, maka guru harus mengarahkan mereka ke perpustakaan atau sumber informasi lannya. 

Dalam rangka meningkatkan minat dan budaya baca di sekolah, maka upaya yang dilakukan guru adalah bagaimana membuat atmosfir agar siswa terkondisikan walaupun dengan ”pemaksaan” untuk membaca buku-buku pendukung pelajaran. Dari kebiasaan ini suatu waktu akan tumbuh pada mereka semangat untuk meningkatkan potensi diri melalui membaca. Pada akhirnya membaca bukan hanya sekedar untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, tetapi membaca sudah merupakan suatu kebutuhan, karena ia haus akan informasi

Untuk menumbuhkan minat baca, ketika murid menemukan suatu masalah, maka tempat pertama yang mereka kunjungi dan bertanya adalah perpustakaan. Hal ini harus berbanding lurus dengan ketersediaan bahan informasi di perpustakaan sekolah (dengan segala fasilitas sarana dan prasarananya) harus dipertimbangkan secara komprehensip oleh pengelola sekolah (guru, komite, pengelola perpustakaan dan lainnya), sehingga secarainstitusional, perpustakaan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, selalu membimbing untuk berfikir kreatif dan mempunyai hasil karya yang inovatif.

Pendekatan lain yang diupayakan oleh guru di sekolah adalah proses belajar mengajar yag mengarah pada dialog-dialog secara demokratis, tugas-tugas yang diberikan oleh guru hendaknya lebih banyak melibatkan perpustakaan daripada mendengarkan ”ceramah” guru di depan kelas. Hal ini akan berdampak positif terhadap pengembangan minat baca anak. Secara tidak langsung mereka diarahkan pada penyelesaian permasalahan di kelas baik individu maupun kelompok. Kreatifitas mereka akan tumbuh,seandainya ada persaingan diantara mereka bisa diselesaikan secara sehat.

3.      Masyarakat

Selain kehidupan di keluarga dan sekolah, pada lingkungan masyarakat kita memperoleh banyak pelajaran yang dapat mempengaruhi tindakan sosial, budaya dan bahkan intelektualitas. Karena selain mendiami suatu wilayah tertentu, masyarakat juga memiliki semacam kesepakatan, aturan dan norma tertentu yang kemudian masing-masing individu dalam masyaraat tersebut memiliki kecenderungan untuk mentaati dan mempertahankan aturan dan norma tersebut. Terkadang setiap individu juga memiliki perasaan bangga untuk berada didalamnya, kemudian ada tujuan tertentu yang ingn dicapai bersama, persamaan nasib, keadaan dan perjuangan, dan adanya rasa aman dan perlindungan dari pemimpinnya.

Dalam pengembangan budaya literasi, masyarakat secara swadaya dapat membentuk lembaga-lembaga yang mendukung kegiatan tersebut. Misalnya masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan sebagai pusat kegiatan yang ada sebagai aktivitas mewujudkan masyarakat pembelajar di lingkungannya. Dimana pembentukan lembaga seperti ini ditujukan untuk mengurangi “hambatan budaya” yang tidak mudah dihilangkan, namun secara bertahap harus dikurangi. Salah satu kegiatan tersebut adalah dengan membangun tradisi mebaca yang lebih efektif. Kebiasaan sebagian masyarakat kita adalah lebih senang mengobrol tanpa arah tujuan. Maka dengan adanya inisiatif mendirikan perpustakaan dilingkungannya, secara perlahan namun pasti perubahan ke arah pencerdasan akan berjalan.

Beberapa Langkah

Beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam rangka peningkatan minat baca antara lain :

a.    Meningkatkan kualitas dan profesionalitas pengelola perpustakaan; Pengelola perpustakaan menjadi kunci untuk majunya perpustakaan sehingga mereka harus ditingkatkan baik dalam kuantitas maupun kualitas/profesionalitasnya. Dengan pengelola yang berkualitas diharapkan gerak maju pemberdayaan dan peningkatan pengelolaan perpustakaan akan semakin dinamis dan aspiratif dalam memenuhi harapan para pemustaka/pengguna.

b.     Meningkatkan sarana prasarana perpustakaan; Sarana dan prasarana memiliki peran dan fungsinya yang strategis dalam mendukung kualitas layanan yang dibutuhkan para pemustaka. Dewasa ini sarana dan prasarana perpustakaan ini mestinya juga termasuk sarana prasarana layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi. Dengan demikian dapat memudahkan pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan.

c.    Meningkatkan koleksi perpustakaan; Koleksi perpustakaan merupakan “ruh” perpustakaan, baik koleksi yang tercetak maupun non cetak termasuk digital. Karena dengan koleksi perpustakaan tersebut akan mempengaruhi maju mundurnya perpustakaan. Perpustakaan dengan koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan para penggunanya, maka perpustakaan tersebut akan selalu mendapat tempat di hati mereka. Sebaliknya perpustakaan dengan koleksi bahan pustakanya sangat terbatas dan tidak mengikuti perkembangan akan semakin ditinggalkan penggunanya sehingga kemunduranlah yang akan ditemui. Meningkatkan koleksi perpustakaan ini tidak mesti hanya melalui pembelian, namun juga dilakukan dengan kerjasama dengan berbagai pihak yang memungkinkan untuk bertambahnya dan lengkapnya koleksi perpustakaan.

d.    Promosi perpustakaan;  Promosi perpustakaan merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh pengelola perpustakaan. Dengan promosi yang dilakukan, masyarakat dapat mengetahui tentang keberadaan perpustakaan dengan berbagai nilai tambah yang dapat diperoleh dari perpustakaan tersebut, sehingga dapat menarik dan mendorong masyarakat/pengguna. Promosi adalah pelayanan mengenalkan seluruh aktivitas yang ada di perpustakaan agar diketahui oleh khalayak umum. Tujuan promosi adalah aktivitas memperkenalkan perpustakaan dari segi fasilitas, koleksi,  jenis layanan, dan manfaat yang dapat diperoleh oleh setiap pemakai. Atau dengan kata lain tujuan promosi perpustakaan adalah untuk memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat,  mendorong minat baca masyarakat agar menggunakan koleksi perpustakaan dan menambah jumlah orang yang membaca, memperkenalkan pelayanan dan jasa perpustakaan.

e.      Membangun kerjasama antar perpustakaan; Menyadari akan keterbatasan suatu perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi sangat beragam, maka membangun kerjasama perpustakaan merupakan langkah yang tepat untuk dilaksanakan. Dengan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi, maka membangun kerjasama antar perpustakaan akan lebih mudah dan efisien.

f.     Meningkatkan variasi layanan;  Layanan perpustakaan di zaman sekarang ini tidak terbatas pada layanan membaca atau memperoleh informasi, namun dapat diperkaya dengan kegiatan yang bersifat edukatif lainnya seperti lomba sinopsis, lomba mendongeng/bercerita, temu anggota/forum komunikasi anggota perpustakaan, termasuk layanan pinjam paket buku, serta layanan penunjang lainnya seperti layanan rekreatif sehingga dapat membuat betah dan nyaman bagi pengunjung.

g.     Dukungan anggaran; Untuk mewujudkan layanan yang optimal seperti yang diharapkan tentu membutuhkan dana, meskipun dengan dana tersebut tidak serta merta dapat mewujudkan impian yang diharapkan. Dengan demikian kebutuhan dana untuk pengembangan perpustakaan secara proporsional mutlak untuk diupayakan sehingga perpustakaan dapat meningkatkan kualitas layanannya dalam rangka mendorong minat baca masyarakat sehingga dapat menunjang upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Penutup

Kurangnya minat baca pada anak-anak kita merupakan persoalan yang kompleks.  Diperlukan berbagai upaya dan usaha untuk menciptakan lingkungan yang mendukung terciptanya kebiasaan membaca. Disisi lain tayangan televisi memiliki peran negatif yang cukup signifikan terhadap peningkatan minat baca anak-anak. Dengan demikian, rumah, sekolah dan masyarakat harus menciptakan lngkungan yang mendukung semuanya. Sekolah harus menyediakan perpustakaan yang representatif untuk mendukung proses pembelajaran, sementara itu, pemerintah mengeluaran kebijakan-kebijakan dalam penyediaan bahan informasi yang relatif berfariasi melalui perpustakaan.

 

*Pemustaka


Share :