Was-was (Anak) Kecanduan Gawai

Was-was (Anak) Kecanduan Gawai

Was-was (Anak) Kecanduan Gawai


Oleh : Supriyono*

 

Mengapa kita was-was berlebihan kepada anak yang menggunakan gawai? Jangan-jangan, kita inilah yang kurang tepat atau bijak menggunakannya. Lantas, berdalih “gawai” menjadi “candu” bagi anak sebagai kambing hitamnya.

Padahal keseharian kita sendiri begitu akrab dengan gawai. Hampir setiap hari, gawai tak bisa lepas dari genggaman kita. Bisa dibilang, kita inilah pecandu gawai. Sementara, anak kita hanya mengikuti perilaku kita saja.

Toh, tak sedikit dari kita membawa gawai ke ranjang tidur. Menggenggam gawai dari mau tidur hingga bangun tidur. Bahkan saat paket kuota habis, kita seperti kelimpungan. Panik tipis-tipis.

Setuju atau tidak, begitulah cerminan keseharian kita. Kita tidak bisa mengelak dari gawai. Lah, mau berpergian saja, tanya alamatnya ke gawai. Ditambah dengan menyibukan diri di tenga hiruk pikuk era digital. Paling tidak untuk sekadar update status di medsos (media sosial).

Saya sendiri pun demikian. Gawai bikin candu. Ditambah gawai itu memang menyenangkan. Darinya kita bisa seolah tersambung dengan banyak teman-lintas wilayah. Bisa berselancar mengetahui banyak hal. Jika tidak sibuk, saya bisa belajar berbagai aplikasi yang disediakan di dalamnya. Itu terkesan gratis. Padahal, ya enggak juga.

Lihat saja, untuk mengoperasikan perangkat gawai kita itu, ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Pertama, kita bisa mengoperasikan aplikasi yang ada. Lalu memasukan berbagai data privasi di dalam ketentuannya.

Syarat lainnya, tentu saja tinggal di daerah yang punya jaringan internet. Dan juga punya paket kuota. Kalau mau sedikit ribet, bisa menyiasatinya dengan nebeng wifi gratisan.

Meski menyenangkan, tidak sedikit orang punya kekhawatiran terhadap gawai. Khawatir jika anaknya menjadi kecanduan gawai. Anaknya jadi tidak bermain atau bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dan beragam alasan lainnya, yang bla bla bla, banyak sekali.

Kita khawatir, tapi sekaligus tidak bisa menghindar. Mungkin, kita sendiri yang sebenarnya kecanduan. Tapi, yang terjadi malah meminta si anak: “jangan main gawai, jangan main game online, dan jangan lama-lama dengan gawai,” sambil penuh khusuk menggunakan gawai di genggaman tangan.

Saya tidak sedang menyalahkah. Toh, banyak alasan orang tua berlaku seperti itu. Ada yang memang karena kebutuhan bekerja, seperti menjadi admin online shop, deadline menulis berita, artikel dan sebagainya. Bisa juga, kejar target membuat laporan tugas kantor. Tapi, ada juga seh, yang cuma ngintip-ngintip gibahan di grup WhatsApp. Atau sekadar hahahihi berbalas komentar di medsos. Saya juga sering begitu. Hahaha.

Jika sudah begitu, kenapa mesti larang anak kita memakai gawai? Apalagi mesti marah-marah ke anak kita. Bukankah anak-anak itu peniru ulung yang pilih tanding perilaku kita sehari-hari? Kendati tidak berlaku umum, pepatah “buah tidak akan jatuh dari pohonnya,” sepertinya masih berlaku bor. Setidaknya di masa perkembangan si anak.

Lalu ada yang bertanya. Bagaimana bisa lepas dari jeratan gawai? Apa cara agar anak-anak kita tidak sampai candu dengan gawai? Ya, silahkan saja konsultasi ke psikolog, atau ikut seminar-seminar parenting. Siapa tahu bisa ketemu jawabannya. Toh, sekarang banyak kok, seminar parenting online. Nah kan, online lagi. Pakai gawai lagi.

Tapi begini. Kemarin bersamaan hari aksara, Facebook mengingatkan saya dua postingan beberapa tahun lalu. Pertama, postingan saya yang memperlihatkan anak saya sedang bersama laptop di ruang perpustakaan keluarga. Postingan itu tertulis caption, “Ken mau bantu ayah nulis.” Kedua, postingan istri yang memperlihatkan foto anak saya sedang ngacak-ngacak buku. Captionnya, “Ken, pagi-pagi sarapan buku.”

Jika dilihat dari tahunnya, anak pertama saya itu masih berusia tiga tahun. Usia yang cukup belia untuk kenal buku. Hanya saja, istri saya memang hobi menyediakan banyak buku anak untuk koleksi perpustakaan keluarga di rumah. Ken----anak saya yang pertama---, sejak usia setahun sudah mulai dikenalkan dengan banyak buku oleh mamanya. Mulai buku cerita yang penuh gambar sampai buku berbahan kain dan berbentuk bantal.

“Masih kecil kok sudah dibelikan buku?” tanya salah satu saudara kepada istri saya suatu ketika. “Kan kalau sejak dini dikenalkan pada buku, setidaknya anak jadi akrab. Syukur-syukur cinta. Dan kalau sudah cinta, InsyaAllah bakal suka dan mau membacanya,” katanya istri, yang membuat saya senyum sambil nguping pembicaraan diam-diam.

Okeh. Katakan dua foto itu menunjukkan aktivitas berliterasi sedari dini dalam keluarga. Setidaknya terlihat dari aktivitas gambar foto dan caption yang tertera. Katakan membudayakan buku di rumah. Mulai membaca-kan, mendongeng atau sampai menulis.

Tapi, waktu saya dan istri saya memfoto anak saya itu, juga pakai gawai. Jadi, secara otomatis anak saya melihatnya. Belum lagi, saya dan istri juga sering---katakan saja khilaf---main gawai di depan anak. Entah saat saya lagi bikin berita, lagi nonton televisi, atau lagi ngobrol santuy di ruang keluarga. Bahkan saat update-update koleksi buku itu sendiri.

Dari situ, saya dan istri tidak bisa mengelak dari pandangan anak. Yang ternyata, diam-diam penasaran dengan kelakuan saya menggunakan gawai menyolok mata. Akhirnya anak pun meniru sama persis.

Sialnya lagi, setelah anak kenal gawai, banyak aplikasi yang menarik. Mulai dari animasi, video sampai beragam game yang terus menjerat anak lebih terpikat penasaran.

Jangankan anak-anak yang punya rasa ingin tahu lebih, kita-kita yang mengaku dewasa juga sering demikian. Bahkan seringkali tidak terkontrol toh? Asik dengan game online atau perkacapan di medsos. Maka, tanpa sadar kita sering menyontohkan sedari dini juga kepada anak-anak kita dengan gawai.

Istri saya sempat panik menyikapi situasi ini. Dia sampai cari-cari informasi, dan lewat gawai lagi. Ups.

Sampai akhirnya, kita bicara banyak hal soal situasi ini saat si anak tidur. “Gimana ini mas, biar anak enggak kecanduan gawai?” tanyanya. “Kasih saja gawainya.” Jawab saya. “Loh kok gitu?” balik tanya istri saya bingung. “Tapi kan ya harus tetap diawasi dan dikontrol. Aplikasi gawai juga banyak permainan yang edukatif. Kenapa tidak justru dimanfaatkan saja.”

Istri saya coba metode hasil obrolan tersebut. Tapi, rupanya tidak mudah juga. Butuh kesabaran dan ketelatenan tingkat dewa. Apalagi si anak tetap masih lebih suka dengan gawai daripada dengan buku-bukunya yang lama.

Akhirnya, kita coba kombinasikan dengan cara lain. Lebih sering pergi ke toko buku, perpustakaan umum, dan museum. Juga tempat-tempat rekreasi, kafe, dan ruang publik lainnya. Tujuannya lebih lebih menyenangkan si anak dan bisa mengalihkan perhatian ke hal lain. Syukur-syukur tempat-tempat itu banyak buku atau hal-hal yang bisa menjadi bahan cerita.

Lumayan berhasil. Ditambah lagi, istri juga kerap mendongeng atau menanyakan hal yang anak dikerjakan sebelum memasuki waktu tidur. Belakangan istri saya punya resep baru. Resep itu berupa mengaji “Iqra” sebagai tiket bagi anak sebelum diizinkan memainkan gawainya.

“Apa itu enggak terlalu transaksional yang,” tanya saya kepada istri. “Memang. Lagi pula, apa yang salah dengan transaksi yang membawa manfaat. Toh, anak mengaji dengan senang. Dan dia, tetap bisa main gawai biar kelak tidak gaptek,” selorohnya sambil meneruskan aktivitas mengaji sambil bermain penuh riang gembira itu.

Apa anak saya bisa lepas dari jeratan gawai? Ya tidak. Justru gawai itu sudah menjadi salah satu perangkat bermainnya. Toh, aktivitas pekerjaan saya juga tidak bisa lepas dari yang namanya gawai. ***

(tulisan ini pernah dimuat juga pada media online ibtime.id jogja beberapa waktu lalu)

 

 *Penulis adalah jurnalis – esais dan Koordinator Journalist Lecture di sela melanjutkan studi Magister Ilmu Komunikasi Untirta.

 



Share :