KREATIFITAS MEMBACA DIMASA PANDEMI

KREATIFITAS MEMBACA DIMASA PANDEMI

KREATIFITAS MEMBACA DIMASA PANDEMI


Oleh Ai Bida Adidah Shofa*


Keresahan yang dirasakan oleh kebanyakan orang dimasa pandemi ini adalah perubahan pola hidup yang sangat drastis. Beberapa hal yang dulu boleh dilakukan, sekarang larangan-larangan terhadap hal tersebut diberlakukan. Kehidupan sosial kemasyarakatan dibatasi, termasuk dalam dunia pendidikan.

Pola pembelajaran yang mengalami perubahan drastis ini juga menyebabkan orang tua harus berfikir kreatif dan inovatif, agar anak-anaknya tidak ketinggalan dalam pembelajaranya terutama bagi anak-anak yang dalam taraf usia dini. Menjadi orang tua merupakan suatu kewajiban yang sangat menarik, penuh dengan tantangan dan pengharapan dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh anak. Orang tua merupakan guru pertama yang sangat mempengaruhi kehidupan anak-anak selanjutnya. Maka sejak dini sudah ditanamkan dasar-dasar pendidikan yang penting sebagai pengantar paling awal belajar secara formal bagi anaknya. Dalam pembelajaran membaca misalnya, pertama yang dilakukan adalah mengenalkan huruf, membaca kata-kata sederhana, gambar-gambar, hingga menyediakan buku-buku yang disenangi sehingga anak bisa mengenal hal-hal baru dan pada tahap ini bimbingan orang tua sangat dibutuhkan.

Membaca merupakan kegiatan yang melibatkan banyak hal yang berkaitan dengan potensi diri. Ada banyak hal yang dapat dipetik seseorang dari kegiatan membaca, yang paling umum dari manfaat membaca adalah kita dapat belajar dari pengalaman orang lain dan menambah pengetahuan. Menurut riset mutakhir bahwa membaca dapat menghindarkan orang dari kerusakan jaringan otak di masa tua dan membaca dapat menumbuhkan saraf-saraf baru di otak.

Membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan anak-anak, karena dengan membaca akan merubah pola berimajinasi, mendapat ilmu pengetahuan, dan menumbuhkan daya kreatifitas anak. Pada saat membaca, otak lebih aktif terstimulus dibandingkan pada waktu menonton. Oleh karena itu, anak-anak perlu diakrabkan dengan buku.

Membaca merupakan proses yang panjang yang akan terwujud melalui kebiasaan yang dilakukan sejak usia dini. Keluarga yang memiliki kebiasaan membaca tidak mustahil anak-anaknya akan mengikuti kebiasaan tersebut. Hal ini berarti menuntut orang tua untuk lebih berperan aktif dalam usaha menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya.

Hernowo (2015) dalam buku “Quantum Reading” menyatakan bahwa ada empat langkah kegiatan membaca dan memunculkan daya kreatif. Pertama, berjanjilah untuk membaca kratif setiap hari. Yaitu dengan membuat kontrak perjanjian dengan diri sendiri untuk membaca setiap hari disamping membuat catatan kecil untuk mengingat isi buku yang telah dibaca. Kedua, membaca secara “ngemil”. Ini adalah kegiatan membaca ditengah-tengah kesibukan sehari-hari, sempatkan lima hingga sepuluh menit untuk membaca. Dengan membaca singkat seperti itu, kita memiliki kesempatan untuk membaca beragam materi yang menawarkan suatu yang baru dan berbeda tanpa harus menyelesaikan artikel atau teks tertentu. Ketiga, bacalah dari beragam sumber bacaan. Bacalah dari sebanyak mungkin sumber bacaan dalam masa rehat yang tersedia. Semakin beragam sumber bacaan anda, semakin anda menikmatinya dan semakin mekarlah basis data ide serta pengetahuan anda. Keempat, terapkanlah apa yang and abaca dalam kehidupan sehari-hari. Inilah inti rencana membaca kreatif. Pada tahap ini pemunculan ide mungkin akan terjadi yang diawali dengan “pelontaran pertanyaan prabaca” yaitu sebelum membaca sesuatu bertanyalah pada diri sendiri apa yang sedang dilakukan saat ini yang akan memberikan manfaat jika memperoleh ide baru. Dan diakhiri dengan “perenungan pascabaca” yaitu merenungkan hasil-hasil membaca semacam apa intisari dari tulisan yang sudah dibaca, ide-ide yang ditemukan dalam bacaan yang dijadikan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Permasalahan-permasalahan yang timbul dari pembiasaan membaca ini pasti akan ditemui, berbagai sarana tentunya menjadi salah satu masalah yang paling banyak dirasakan oleh orang tua. Lebih-lebih pada masa pandemi virus corona ini. Berbagai fasilitas mulai dari sekolah, perpustakaan umum, atau tempat lainnya yang digunakan untuk mendukung kebiasaan membaca banyak yang ditutup. Sekolah misalnya, adalah tempat berinteraksinya kegiatan pembelajaran sementara ini ditutup sehingga mengubah iklim pembelajaran. Anak akan merasakan hal yang berbeda jika belajar bukan pada tempatnya, sehingga banyak guru mengupayakan pembelajaran dengan mengunjungi murid ke rumah masing-masing. Pembelajaran secara daring pun menyisakan banyak permasalahan, karena tidak setiap orang mampu menggunakan teknologi. Tentu hal ini juga membuat orang tua harus mengupayakan beberapa hal agar anak-anak tetap belajar misalnya dengan tetap berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya atau menyediakan bahan-bahan informasi yang diperlukan anak.

Pemanfaat teknologi informasi untuk pembelajaran daring atau virtual yang banyak pada saat ini, perlu diinformasikan secara benar oleh orang tua kepada anak. Pamanfaatan secara benar dan resiko-resiko yang mungkin timbul akibat teknologi tersebut, bukan hanya resiko yang terkait dengan mental dan moralitas tetapi juga resiko teknis dan kesehatan. Pemanfaatan atau penggunakaan teknologi informasi ini oleh anak-anak harus terus mendapat kontrol ketat dari orang tua, sehingga kehadiran sarana ini bukan menjadi bumerang bagi kita tetapi kehadiran teknologi dapat bermanfaat bagi perolehan informasi guna mendukung pembelajaran dan peningkatan kebiasaan membaca anak.

Menumbuhkan kebiasaan membaca merupakan perilaku budaya yang berlaku pada keluarga, dan anak usia dini merupakan lahan persemaian paling memungkinkan untuk menebar benih kebiasaan membaca. Budaya yang berlaku di keluarga menjadi penentu keberhasilan upaya ini, karena hal ini tidak bisa dilakukan secara instan tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan dan memerlukan waktu yang relatif panjang. Apalagi pada saat sekarang ini, orang tua harus kreatif menyediakan bahan informasi yang bermanfaat bagi perkembangan keilmuan anak-anaknya.

*Peminat masalah sosial


Share :