Ketika Pembelajaran Harus Jarak Jauh

Ketika Pembelajaran Harus Jarak Jauh

Ketika Pembelajaran Harus Jarak Jauh


Oleh Muhammad Furqon Hadiwijaya*


Kurang lebih dalam kurun waktu 7 bulan terakhir kita semua tertatih menghadapi pandemi virus covid 19 yang sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran kita semua untuk bagaimana bisa menghadapinya dan tetap menjaga kesehatan serta keselamatan diri, keluarga, dan sanak saudara kita semua. Sampai hari ini kita tidak tahu pasti kapan pandemi ini akan berakhir, yang kita harus tetap lakukan adalah bahwa hidup harus berjalan sebagaimana mestinya dan kita tidak boleh menyerah bagaimanapun situasi dan kondisinya karena sejatinya hidup harus tetap hidup.

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh tim kesehatan, pemerintah dan banyak lagi pihak lainnya yang terus berusaha agar pandemi ini segera berakhir karena kita semua sudah merasakan dampak yang ditimbulkan begitu luas bahkan hampir semua sektor dalam kehidupan sehari-hari terdampak dan tentu hal ini menyebabkan kita semua dalam kesulitan baik secara ekonomi, sosial, pendidikan dan lain sebagainya.

Begitu banyak kendala yang kita hadapi tanpa terkecuali khususnya dalam bidang pendidikan semenjak pemerintah memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh atau daring tentu ini banyak menyisakan kendala yang bervariatif di banyak tempat dan daerah khususnya yang secara ekonomi belum begitu baik dan secara letak geografis masih jauh daripada jaringan internet. Bagaimana tidak selama ini saya sendiri melihat, mendengar, dan mengalami di lingkungan rumah saya sendiri di mana ada banyak sekali anak-anak yang harus belajar secara online sedangkan fasilitas, alat, dan penunjang lainnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belajar, akhirnya situasi itu menjadi demikian rumit. Salah satu contoh kasus mungkin kalau dihitung secara luas akan lebih banyak lagi, ada satu keluarga yang mempunyai lebih dari satu anak yang  usia sekolah dasar dan orang tua hanya punya satu handphone android yang orang tua itu sendiri pun membutuhkan handphone tersebut untuk mengajar.

Sudah jelas terbayang bahwa satu handphone digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar sang orang tua yang menjadi guru dan anak yang harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolahnya, tentu ini tidak akan efektif di samping keterbatasan alat dan tingkat pengetahuan anak-anak untuk menggunakan Android juga masih kurang.

Mungkin hal ini berbeda ketika kita membicarakannya di kota-kota besar yang sudah maju dan terbuka secara teknologi tapi kalau kita membicarakan ini di kampung-kampung di desa-desa yang secara keterbukaan teknologi dan pengetahuan untuk anak-anak usia sekolah dasar masih belum cukup untuk bisa mengoperasikan dan menjalankan pembelajaran secara online tanpa pengawasan orang tua.

Melihat sekilas apa yang terjadi sudah cukup untuk bisa membayangkan bagaimana kesulitan yang dialami oleh para orang tua dirumah. kemudian saya menjadi bertanya-tanya bagaimanakah seharusnya sistem pembelajaran dilakukan di tengah-tengah pandemi yang sedang terjadi hari ini jika memang pendidikan jarak jauh ini dinilai tidak maksimal untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.

Apakah harus disederhanakan kurikulumnya?

Apakah harus diliburkan tanpa ada pembelajaran jarak jauh?

Apakah gurunya harus mendatangi murid satu persatu?

Apakah muridnya yang harus mendatangi guru ?

Apakah sekolah harus mulai dibuka dengan tetap menggunakan protokol kesehatan?

Apakah yang tidak punya handphone harus diberikan secara gratis? Darimana anggarannya?

Apakah kuota internet harus disubsidi? Darimana anggarannya?

Tentu saja banyak dari pertanyaan-pertanyaan diatas yang sulit dijelaskan melihat situasi yang terjadi sangat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya karena letak geografis dan faktor lainnya. Sehingga setiap pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang akan kembali menghasilkan pertanyaan lainnya yang lebih detail dan tak kunjung selesai dengan sebuah solusi yang kemudian akan mendapatkan pertanyaan yang baru tentang siapa yang harus bertanggung jawab? dan Siapa yang berhak mengeluarkan kebijakan?

Pasti tidak akan pernah selesai dan tidak akan ketemu solusinya, akan tetapi intinya adalah bagaimana kegelisahan yang terjadi hari ini bisa menjadikan kita lebih berpikir kritis dan bisa menghasilkan solusi untuk diri kita masing-masing dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi dimasa pandemi ini khususnya dalam ruang lingkup pendidikan. Saya sangat sadar bahwa pemerintah memiliki banyak sekali keterbatasan untuk menanggung beban ini semua tapi bukan berarti saya membenarkan dan membela pemerintak karena mau bagaimanapun pemerintah dibayar menggunakan uang rakyat untuk bisa menghadirkan solusi yang kongkrit untuk kepentingan rakyat itu sendiri.

Bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan dan dalam hal ini pemerintah yang menjadi tokoh sentral untuk bisa melaksanakannya, oleh karena pemerintah tidak bisa berjalan sendirian karena  memiliki banyak keterbatasan maka peran serta lembaga pendidikan diluar pemerintah, organisasi, kelompok, komunitas dan sebutan lainnya yang konsern dalam ruang lingkup pendidikan juga bisa saling berkolaborasi untuk tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akhirnya semua kembali lagi kepada pihak masing-masing mau mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara saling berkolaborasi antara satu sama lain, mencari solusi bersama-sama untuk tujuan yang sama apalagi dimasa pandemi seperti sekarang yang banyak membatasi ruang gerak kita semua, akan tetapi kebutuhan ilmu dan pengetahuan harus tetap berlangsung karena itu adalah hal yang utama.

Semoga kita semua sadar dan mau untuk saling berkolaborasi tanpa melihat profesi dan latar belakang masing-masing, serta sedikit menurunkan ego demi kepentingan bersama yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.


*Direktur Tbm Hahalaen


Share :