MENGUJI KOMPETENSI DIRI PUSTAKAWAN

MENGUJI KOMPETENSI DIRI PUSTAKAWAN

MENGUJI KOMPETENSI DIRI PUSTAKAWAN

Oleh Iman Sukwana*

Pada awal September 2020 ini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten kembali menggelar Lomba Pustakawan Berprestasi Tahun 2020, namun dari sekitar kurang lebih 75 pustakawan yang tersebar di berbagai jenis perpustakaan di Provinsi Banten hanya 9 orang yang mengikuti kegiatan pemilihan pustakawan berprestasi tahun ini. Hal ini menunjukan bahwa kegiatan ini kurang mendapat apresiasi positif dari para pustakawan. Padahal kegiatan ini bisa dijadikan ajang untuk mengasah diri dan mengukur kemampuan diri pustakawan sejauh mana menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah karya tulis dan mempresentasikannya.

Ide dan gagasan murni yang muncul dari mengikuti kegiatan ini adalah untuk memacu dan memotivasi diri agar terbiasa menuangkannya dalam sebuah tulisan dan mempertahankan ide tersebut dalam sebuah presentasi dihadapan para juri. Adapun tujuan pemilihan pustakawan berprestasi sebagaimana disebutkan dalam Pedoman Lomba Pustakawan Berprestasi Tahun 2020 antara lain adalah :

1.  Memberi penghargaan kepada pustakawan yang berprestasi terbaik yaitu memiliki produk inovatif dalam bentuk apapun; memiliki nilai manfaat bagi masyarakat; memiliki capaian/kegiatan yang diakui oleh masyarakat/lembaga.

2.      Mengembangkan profesionalisme pustakawan Indonesia.

3.      Meningkatkan motivasi, inovasi dan etos kerja Pustakawan.

4.      Menambah dan berbagi pengetahuuan, keterampilan, dan wawasan diantara para peserta

5.      Mendorong terjalinnya jaringan kerjasama jasa informasi perpustakaan yang kuat diantara para peserta.

6.      Mewujudkan citra pustakawan sebagai profesi yang dapat dibanggakan.

Keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan banyak bergantung pada pengelolanya, maka agar perpustakaan dapat berjalan dengan baik perlu dikelola oleh sejumlah tenaga/pustakawan yang terampil, professional dan mandiri. Selain harus memiliki ilmu pengetahuan tentang kepustakawanan dan mengetahui tentang kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninya, para petugas perpustakaan/pustakawan juga dituntut memiliki kualifikasi kepribadian yang baik seperti bermoral, luwes, suka membantu, sabar, berwawasan luas memiliki inisiatif dan inovatif dan mampu berkomunikasi dengan baik melalui lisan dan tulisan.

Hal ini juga menyangkut bidang manajemen perpustakaan secara keseluruhan. Dimana salah satu unsur manajemen itu adalah sumber daya manusia. Semua unsur sumber daya manusia mulai dari pimpinan, staf, maupun pelaksana teknis perpustakaan merupakan unsur utama dan pertama yang paling menentukan berhasil tidaknya proses manajemen dalam mencapai tujuannya. Manusia merupakan pemikir, perencana, dan pelaksana serta pengawas seluruh kegiatan. Organiusasi yang sehat sebaiknya menempatkan dan mengisi formasi jabatan, tugas, dan fungsi dengan orang-orang yang tepat sesuai dengan latar belakang pendidikan, kemampuan dan keterampilan serta motivasi untuk bekerja karena menyenangi pekerjaannya. Apabila mereka mau bekerja dengan penuh semangat, dedikasi, dan loyalitas yang tinggi maka dapat diharapkan mampu menghasilkan produktivitas yang optimal. Mereka merasa tergerak dan tergugah untuk melaksanakan semua tugas dan kewajibannya, baik karena perintah pimpinan maupun atas keasadarannya sendiri. Hal itu akan tumbuh ketika keberadaan dan eksistensi mereka diakui sebagaimana mestinya.

Jadi sumber daya manusia merupakan kekuatan dasar dan besar dalam sebuah organisasi. Dan semua potensi positif yang dimilikinya seperti kreatif, analitis, inovatif, produktif, dan konstruktif diberdayakan secara maksimal. Namun apabila yang terjadi sebaliknya, maka pimpinan harus mampu menggerakan dan memotivasi agar roda organisasi terus berlangsung sesuai dengan perencanaan untuk mencapai tujuannya. Dalam hal kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi, sebenarnya pustakawan diberikan kewenangan yang tiada terbatas

Sehubungan dengan kemampuan kompetensi pustakawan, menurut  Widjanto sebagaimana dikutip Testiani makmur ( 2015) menyatakan bahwa :

1. kompetensi intelektual, antara lain berupa kemampuan berfikir dan bernalar, kemampuan kreatif (meneliti dan menemukan), kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan yang mendukung kehidupan global.

2. Kompetensi personal, antara lain berupa kemandirian, ketahan-bantingan, keindependenan, kejujuran-keberanian, keadilan, keterbukaan, mengelola diri sendiri, dan menempatkan diri sendiri secara bermakna serta orientasi pada keunggulan yang sesuai dengan kehidupan global.

3. Kompetensi komunikatif, antara lain berupa kemahirwacanan, kemampuan menguasai sarana komunikasi mutakhir, kemampuan bekerjasama, dan kemampuan membangun hubungan-hubungan dengan pihak lain yang mendukung kehidupan global dalam satu sistem dunia.

4. Kompetensi sosial budaya, antara lain berupa kemampuan hidup bersama orang lain, kemampuan memahami dan menyelami keberadaan orang lain, kemampuan memahami dan menyelami keberadaan orang/pihak lain, kemampuan memahami dan menghormati kebiasaan orang lain, kemampuan berhubungan atau berinteraksi dengan pihak lain, dan kemampuan bekerja sama secara multikultural.

5. Kompetensi kinetis-vokasional, antara lain berupa kecakapan mengoperasikan sarana-sarana komunikasi mutakhir, dan kecakapan menggunakan alat-alat mutakhir yang mendukung perpustakaan untuk berkiprah dalam kehidupan global.

Dengan demikian, seorang pustakawan harus terus berupaya meningkatkan kompetensi diri dalam menghadapi berbagai kemungkinan, karena teknologi terus berkembang, kebutuhan masyarakat yang dilayani semakin dinamis, dan kedepan berbagai jenis layanan perpustakaan akan lebih variatif mengikuti perkembangan teknologi. Hal ini memungkinkan bagi pustakawan terus bergerak dinamis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Semoga.

*Pustakawan DPK Provinsi Banten


Share :