MEMOTIVASI DIRI UNTUK MEMBACA

MEMOTIVASI DIRI UNTUK MEMBACA

MEMOTIVASI DIRI UNTUK MEMBACA


Oleh Teguh Wahyudi*


Membaca merupakan keterampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Membaca merupakan keterampilan yang dapat dikembangkan, dibina, dan dipupuk melalui proses belajar, baik dilingkungan informal, nonformal maupun formal.

Keinginan membaca harus timbul dalam pribadi seseorang dan tidak ada unsur paksaan. Bila dalam diri seseorang terdapat keinginan untuk membaca sebaiknya dikembangkan dengan mencari buku atau bahan informasi yang atraktif, kemudian kegiatan ini dilanjutkan secara terus menerus dan berkelanjutan sehingga membaca menjadi kebutuhan hidup yang tidak dapat diabaikan.

Gemar membaca dapat diartikan sebagai kesukaan akan membaca, ada kecenderungan hati ingin membaca. Pada prosesnya, kegemaran membaca akan membentuk kebiasaan membaca (reading habit), sehingga membaca menjadi suatu kebutuhan hidup bagi seseorang. Sementara budaya baca merupakan upaya untuk membangun sebuah masyarakat yang apresiatif terhadap bahan informasi.

Kebiasaan membaca diharapkan pada saatnya nanti bermuara pada keterampilan membaca. Kebiasaan ini bermula dari kesukaan belajar membaca, berkembang menjadi kebiasaan membaca dan pada akhirnya menjadi sebuah keterampilan membaca (reading skill), yaitu tidak lagi belajar membaca tetapi sudah pada tataran membaca untuk belajar. Hal ini bermakna bahwa membaca bukan hanya dapat memaknai apa yang di baca, atau tidak sekedar menghafal dan mengingat tetapi juga dapat membedakan, membandingkan, mengkaji, mengeksplorasi, dan itulah sebuah makna keberaksaraan informasi atau literasi informasi.

Untuk sampai pada kebiasaan membaca tersebut, ada beberapa tahapan kegiatan membaca sebagaimana yang diungkap Tony Buzan, sebagaimana dikutip oleh Hernowo (2015) mengungkapkan bahwa ada tujuh tahapan proses kegiatan membaca, antara lain :

Pertama, pengenalan. Dalam membaca sebuah buku, kita akan mengenal terlebih dahulu simbol-simbol. Simbol ini berupa abjad, ikon dan simbol berbentuk gambar. Pengenalan terhadap simbol-simbol yang ada akan membuat nyaman bagi kita ketika kita membaca buku.

Kedua, peleburan. Setelah mengenal kita mulai masuk ke proses penyesuaian atau asimilasi. Kita dibantu oleh mata kita yang menatap simbol-simbol, kemudian saraf-saraf mengirimkan makna simbol tersebut kepada pusat berfikir kita.

Ketiga, intra-integrasi. Setelah mengenal dan menyesuaikan diri dengan apa yang kiat baca, kita pun melakukan proses menghubung-hubungkan antara materi yang satu dengan yang lain, hingga kepada antara bab satu dengan bab lainnya, pada akhirnya kita mampu memadukan satu topik dengan topik lainnya.

Keempat, ekstra-integrasi. Setelah sampai pada taraf mencari sesuatu yang relevan dengan diri kita atau yang bersinggungan dengan pengalaman kita, kemudian sampailah kita pada pengambilan keputusan. Kita melakukan analisis, apresiasi, seleksi, kritik. Apakah kita mau menerima atau menolak dengan pendapat yang terdapat dalam buku tersebut.

Kelima, penyimpanan. Inilah proses yang sangat penting. Kita harus menyimpan apa yang kita peroleh dari sebuah buku, kita harus dapat memanfaatkan apa saja yang kita baca untuk pengembangan diri kita.

Keenam, pengingatan. Hal ini juga merupakan proses penting. Kita harus dapat menggunakannya dari apa yang sudah kita baca untuk dikeluarkan pada suatu saat. Proses mengingat itu harus dalam keadaan menyenangkan atau berada dalam suasana emosi yang positif.

Ketujuh, pengomunikasian. Membaca buku adalah salah satu bentuk berkomunikasi, baik berupa komunikasi intrapersonal (diri sendiri) maupun komunikasi interpersonal (antar pribadi) dengan tokoh-tokoh yang terdapat dalam bacaan.

Dalam hal kaitan antara kegiatan membaca dan memunculkan daya kreatif, dimana ada empat langkah yang dianjurkan Jordan Ayan yang juga dikutip dalam buku tersebut, yang dapat mengembangkan membaca dalam konteks kreatifitas, diantaranya pertama, berjanjilah untuk membaca secara kreatif setiap hari, kedua, membaca secara “ngemil” (sedikit demi sedikit) artinya disaat dalam kesibukan cobalah luangkan waktu lima hingga sepuluh menit untuk membaca kemudian mencatat dan merenungkan isinya. Ketiga, bacalah dari beragam sumber bacaan, artinya membaca dari sebanyak mungkin sumber bacaan dalam masa rehat singkat yang tersedia. Keempat, terapkan apa yang anda baca dalam kehidupan sehari-hari, inilah inti rencana membaca kreatif. Pada tahap ini pemunculan ide mungkin terjadi. Ada dua latihan berbeda namun sama penting yaitu proses pelontaran pertanyaan prabaca dan perenungan pasca baca, yang berarti bahwa sebelum membaca kita membuat beberapa pertanyaan terkait buku yang kita baca, dan setelah membaca kita membuat catatan-catatan kecil sebagai hasil perenungan dari membaca buku tersebut.

Dengan demikian membaca memiliki banyak tujuan. Selain mendapatkan informasi, membaca juga dapat membuka wawasan yang sangat luas. Membaca juga merupakan kunci untuk membuka gerbang kesuksesan. Tiada orang di dunia ini yang sukses tanpa membaca. Dengan memotivasi diri kita untuk membiasakan membaca pada suatu saat kita akan memetik hasilnya.

Membaca sering terlihat sebagai kegiatan yang sangat sederhana, namun sebenarnya membaca adalah kegiatan yang rumit. Ketika membaca kita bukan hanya semata-mata menyuarakan simbol-simbol dalam bentuk tulisan, bisa saja kita menyuarakan simbol-simbol itu dengan atau tanpa memahami apa yang sedang kita baca. Tujuan dan manfaat membaca dalam arti sebenarnya adalah pemahaman akan suatu bacaan, dicatat dan ditulis kembali sebagai pengembangan perenungan, sehingga pada akhirnya diaplikasikan dalam kehidupan dan mampu mempengaruhi karakter individu dalam kehidupannya. Itulah makna dari memotivasi diri untuk membaca.

*pemustaka


Share :