PROBLEMATIKA BELAJAR MELALUI ON LINE

PROBLEMATIKA BELAJAR MELALUI ON LINE

PROBLEMATIKA BELAJAR MELALUI ON LINE


Oleh  HMS. SUHARY  AM*


       Sejak Corona Virus  Deases 19 (Covid 19) (Maret 2019) bergerak ke seluruh penjuru dunia membawa wabah penyakit berbahaya   telah banyak mengorbankan nyawa manusia yang jumlahnya luar biasa mencapai 359.096 dari jumlah 10 negara (China, Italy, USA, Spanyol, Germany, Iran, Prancis, Swedia, Korea Selatan, Inggeris.) (https://idepedensi.com/2020). Juru bicara Covid 19 Achmad Yurianto mengatakan data pasien positif virus Corona per 14 Juni 2020 total menjadi 38.277 orang. Kami melakukan pemeriksaan spesimen sebanyak 18.760 orang. Dari jumlah tersebut  kita dapatkan kasus baru  konfirmasi  Covid 19 sebanyak 857 orang. (laporan Syambudi, 14 Juni 2020). Kasus yang sembuh jumlahnya 14.531 dan yang meninggal dunia  2.134 orang. Sampai hari ini kasus Covid 19 masih terus berlangsung dan endingnya belum bisa diprediksi.

      Selanjutnya angka kematian hingga sekarang ini bertambah 12.857 orang, 297.000 sembuh.  Kemudian Indonesia kata Menristek membutuhkan 540 juta Vaksin Covid 19 (SCTV, 22/10/’20).

     Imbas dari Covid 19 tersebut telah memukul kegiatan perekonomian dunia menjadi drastis menurun (degradasi) ke titik yang lebih rendah, sehingga menjadi permasalahan bagi semua pemimpin negara di dunia.

       Dunia parawisata yang dapat memberikan devisa dalam negeri pun lesu dan merosot, , penerbangan dalam dan luar negeri pun merosot, perkerjaan dalam pemerintahan tidak efektif, karena bergiliran dari waktu ke waktu, dunia perdagangan antara negara pun terhambat karena Covid 19 ala kulihal semuanya itu, telah menurunkan dunia atifitas perekonomian di berbagai negara termasuk Indonesia.

    Imbas itu menjalar  terhadap kegiatan peribadahan umat manusia,khususnya bagi kaum muslimin/muslimat di dunia untuk melakasanakan ibadah umrah di kota suci Mekkah al mukarramah hingga dibatasi oleh pemerintah Saudi Arabia, bahkan ibadah haji pada tahun 2020 ini Pemerintah Indonesia selama Covid 19 tidak dapat melaksanakan ibadah haji bagi umat Islam Indonesia. Demikian pula kegiatan ibadah di tanah air banyak masjid yang tutup tidak melakasanakan ibadah Jumat atau ada juga yang terus berjalan dengan menjalankan protokol kesehatan.

     Selain itu, bagi rakyat kecil, kaum pedagang, kegiatan di pasar-pasar tetap ramai hampir setiap hari mereka aktif berbelanja dan berdagang, sudah tidak menghiraukan lagi dengan Covid 19, bukan lagi melawan Covid 19 akan tetapi melawan ‘Perut Lapar’ yang tidak bisa di tahan-tahan, karena anak menangis dan keluarga dengan kebutuhan makan setiap harinya. Anehnya banyak warga tidak menggunakan masker di tengah pasar yang banyak orang, aman-aman saja. Semoga Tuhan melindungi mereka.

       Selain itu,  berpengaruh juga dalam dunia pendidikan, dimana semua pelajar dan mahasiswa tidak bisa langsung belajar  tatap muka di kelas, melainkan harus lewat belajar online.

      Jutaan rakyat Indonesia pengguna internet tidak semuanya memahamai ‘teori aplikasi’ yang dilakukan jika belajar melalui online. Banyak kaum ibu/bapak mengeluh terhadap keadaan anak-anaknya belajar melalui online. Orang tua harus bekerja meskipun ‘work from home’, bagi kaum buruh, pedagang, petani, nelayan dan lain lainnya, juga harus mencari nafkah menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya yang masuh SD/SMP/SLA  butuh bantuan orang tua dalam belajar melalui online.

       Saya melihat anak-anak belajar (SD.SMP, SMA/SMK/Aliyah/PT) nampak datang ke sekolah atau ke perguruan tinggi hanya setor muka, hasil belajar dan  intensitas belajar tidak jelas. Nampaknya mereka lebih santai belajar melalui online karena memang tidak ada kontrol dari guru. Tidak mungkinlah guru-guru mau mendatangi rumah para siswa/siswi belajar di rumahnya.

      Wawancara saya degan siswi SMK Nurul Huda Kp. Sawah Baros, Kabupaten Serang, nama siswi adalah Widi, Amel, Fitri dan Dea semuanya kelas 10 SMK NH. Kata mereka Pekerjaan Rumah (PR) terlalu banyak, dari semua mata pelajaran masing masing ada PR nya kalau 10 mata pelajaran saja sudah banyak, jika satu mata pelajaran ada 5-10 soal kali 10 mata pelajaran sudah 50 mata pelajaran. Selain itu, ada soal – soal mata pelajaran yang tidak bisa dimengerti, kemudian tidak ada yang bisa menjelaskan, karena tidak ada guru. Kemudian orang tua pada umumnya tidak mengerti, jadi tidak bisa bantu, problem lain adalah masalah gangguan sinyal dalam HP yang berakibat PR tidak bisa dikerjakan, belum listrik mati. Perasaan lain, belajar lewat online sungguh sangat membosankan, jenuh dan tidak happy...gimana ada saran atau solusi dari kalian ? tanya saya. ya....,maunya kami belajar langsung tatap muka, walaupun dalam kondisi Covid 19, kan bisa giliran, misalnya 3 hari masuk sekolah untuk separuh siswa atau 50 % dari jumlah satu kelas, jadi per tiga harilah... di rumah aja bosen tahu...!

       Perasaan dan komentar mereka tersebut juga di rasakan oleh teman-teman yang lainnya, hampir sama komentarnya, menjenuhkan Apa hendak dikata, kondisi Covid 19 membuat masalah semua pelajar dan mahasiswa tidak concern dengan dunia pelajaran.

Saya seorang dosen yang mengajar di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) juga melakukan hal yang sama banyak memberikan PR kepada para mahasiswa agar dapat dikerjakan di rumahnya, kemudian di stor ketika saya ke kampus. Namun demikian, di kampus PTS ada juga yang menjalankan kuliah dengan tatap muka dengan menjalankan aturan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker dan jarak bangku di silang x agar memenuhi syarat ‘social distancing’.

Sebenarnya bisa juga dilakukan di tingkat SD – SLA dilaksanakan dengan cara ‘Turn by Turn’  (bergiliiran) dengan menjauhi jarak (social distancing) dengan kapasitas 50 % kursi yang tersedia, bergantian, tapi ada juga sekolah swasta yang full students, khususnya di Pondok Pesanteren, datang ke sekolah belajar tatap muka, dengan mneggunakan masker, Kemudian di PerguruanTinggi (PT)  juga tidak mau repot, tetap menjalankan kebijakan pemerintah/cq Dinas Pendidikan  belajar melalui online saja. Hasilnya seperti apa ? terserah saja, hal ini risiko karena Covid 19 yang melanda dunia pendidikan.

Kesimpulannya adalah Pertama, bahwa belajar online pada umumnya tidak menarik, terjadi gangguang sinyal terhadap HP atau komputer dan listrik mati, tidak menyenangkan karena tidak bisa belajar langsung dan tatap muka dengan guru, lebih dari itu sangat membosankan.  Kedua, bahwa belajar online tidak bisa dihindari karena musibah Covid 19 yang melanda dunia termasuk Indonesia. Ketiga, realitas Covid 19 telah membawa korban nyawa manusia yang tidak sedikit, juga berakibat kepada merosotnya kegiatan perekonomian di berbagai negara. Keempat, kita harus bersabar dan tetap ikhtiar sambil berdoa dan tawakkal pada Allah SWT semoga Covid 19 segera berlalu dari Indonesia. Amiin.


 *Penulis : Ketua II PP. Majlis Pendidikan Syarikat Islam Indonesia (MPSII). Ketua Bidang Kaderisasi DPP Bakomubin (Koordinasi Muballigh Indonesia) dan Ketua Dewan Pakar Bakomubin Banten. Sekretaris Komisi Hubungan LN dan Kerjasama Internasional MUI Provinsi Banten.


Share :