Literasi Langkah Penting Mendukung Pembangunan

Literasi Langkah Penting Mendukung Pembangunan

Literasi Langkah Penting Mendukung Pembangunan


Oleh : Gito Waluyo*


 Kemajuan era digital saat ini kian mengubah pengguna internet yang tidak hanya dihadapkan pada sajian berita saja, melainkan juga tanggung jawab memberi edukasi kepada warganet. Peranan warganet diharuskan mampu memberikan pesan literasi secara efektif dan juga menyenangkan. Selain itu juga diharapkan mampu menumbuhkan sikap optimisme terhadap persatuan dan kesatuan guna memajukan bangsa Indonesia.

Dengan ikut berkontribusi membuat postingan positif secara masif di media sosial, yang diharapkan dapat mampu meredam penyebaran hoaks yang terjadi di Indonesia, serta ikut mendorong kemajuan bagi Indonesia melalui pesan positif berupa keunggulan bangsa dan partisipasi bangsa dalam pembangunan nasional.

Membicarakan hoaks memang sangat pelik, pasalnya di revolusi digital seperti saat ini justru hoaks lebih mudah dalam penyebarannya. Masyarakat tidak hanya lagi menjadi penikmat konten tetapi juga mampu bertindak menjadi pelaku penyebaran informasi bahkan produsen konten.

Sebab itu diperlukan sinergi warganet untuk melawan hoaks dan menolak konten-konten negatif lainnya seperti propaganda radikalisme yang mengancam persatuan Indonesia demi mewujudkan persatuan bangsa guna mensukseskan pembangunan nasional menuju Indonesia maju.

Selain itu, demi mewujudkan Indonesia maju, sinergi antar komponen bangsa sangat di perlukan dan harus dilakukan dalam mendukung segala kebijakan dan program pemerintah. Terlebih Indonesia saat ini juga sedang dihadapkan oleh berbagai permasalahan global yang berimbas pada perkembangan nasional termasuk masalah lapangan kerja. Bonus demografi harus dimaknai sebagai sebuah peluang dengan semangat optimisme menyongsong Indonesia yang lebih baik .

Peran Perpustakaan dan Pustakawan

Pada masa pandemi ini tentu peran perpustakaan dan pustakawan sangat penting. Saat pandemi ini hampir semua akses yang terkait dengan ruang publik ditutup tak terkecuali perpustakaan.

Mengutip dari hasil riset Ali (2019) dalam jurnalnya yang berjudul “Refleksi dan Peran Pustakawan di Masa Pandemi Covid-19”, menyebutkan bahwa ada tiga dimensi peran pokok pustakawan di masa pandemi Covid-19. Pertama, peran sebagai fasilitator pendukung guru dan siswa dalam proses pembelajaran jarak jauh. Selama masa belajar dari rumah, meskipun siswa dan guru tidak hadir di sekolah secara fisik, pustakawan dapat tetap memberikan pelayanan reguler seperti biasa melalui aplikasi daring ataupun luring. Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, pustakawan dapat menyediakan materi pelajaran berupa e-book serta link-link buku gratis untuk guru dan siswa. Jika untuk alasan mendesak dikarenakan siswa mengalami kendala alat komunikasi ataupun masalah jaringan/kuota, maka pustakawan dapat membuka layanan peminjaman dan pengembalian buku teks secara tatap muka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Layanan darurat tatap muka ini harus dilakukan secara cepat dan di area terbuka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pustakawan juga dapat mengatur jadwal shift peminjaman per kelas untuk menghindari keramaian atau penumpukan siswa di sekolah. Pustakawan dapat melibatkan guru mata pelajaran dan wali kelas untuk membantu proses ini agar berjalan dengan aman dan lancar.

Kedua, peran pustakawan sebagai agen literasi penyedia informasi akurat terkait Covid-19 dan membantu kampanye kesehatan masyarakat sebagai bentuk dukungan bagi program pemerintah terhadap pencegahan penyebarannya. Misalnya, pustakawan dapat mengutip informasi dari sumber-sumber resmi pemerintah terkait Covid-19 (update terkini jumlah kasus, jumlah kematian dan kesembuhan, peta zona kondisi lapangan, dll) dan kemudian menyebarkannya melalui platform media sosial yang populer dan biasa diakses oleh siswa, misalnya WhatsApp, Telegram, Instagram, Facebook, Twitter, serta YouTube. Peran pustakawan dalam menyebarluaskankan informasi yang valid di masa pandemi ini harus dipandang sangat penting dan perlu dilakukan. Karena kita tahu bahwa di dunia maya saat ini banyak beredar informasi-informasi yang sifatnya hoax dan seringkali menciptakan ketakutan baru serta menyesatkan masyarakat luas. Oleh sebab itu pustakawan dapat bertindak sebagai agen pelurus informasi akan hal tersebut.

Ketiga, peran sebagai inisiator yang memberikan masukan ide-ide program baru bagi bagian kurikulum dan kesiswaan. Pustakawan dapat secara aktif menyuntikkan energi dan ide-ide segar kepada manajemen sekolah berupa kegiatan kreatif berbagai perlombaan dan proyek siswa yang dilakukan secara jarak jauh seperti pembuatan video/audio mendongeng dari rumah, ataupun kegiatan menulis jurnal harian, membuat poster, dan lain-lain dapat didiskusikan secara konstruktif bersama guru sehingga membuat guru dan siswa menjadi lebih bersemangat di masa pandemi. Menciptakan berbagai kegiatan kreatif selama masa pandemi Covid-19 ini diharapkan dapat mengurangi stres ataupun kebosanan siswa di masa-masa sulit ini.

Literasi, Obat Virus Hoaks

Informasi tentang Covid-19 selalu menjadi daya tarik tersendiri sehingga beragam berita dan informasi lainnya berkaitan dengan virus ini selalu disuguhkan oleh media. Informasi Covid-19 selalu berubah dengan cepat, baik informasi positif yang bermanfaat bagi masyarakat maupun informasi negatif yang cenderung menyesatkan dan menjerumuskan masyarakat.

Warganet menjadi sasaran empuk penyebaran hoaks di Media Sosial yang selalu mereka pakai sehari-hari. Dalam sehari bisa 10 jam lebih warganet menggunakan media sosial untuk berinteraksi, bekerja, belajar dan mencari hiburan. Begitu sadisnya para pembuat konten hoaks ini sehingga memanfaatkan fenomena pandemi corona untuk penyebaran hoaks.

Ribuan Hoaks tersebar begitu cepat tiap harinya. Whatsapp group menjadi tempat utama penyebarannya, apalagi melalui WhatsApp, persebarannya akan menjadi semakin masif. Orang-orang dengan mudah mem-forward pesan tak jelas asal-usulnya ke rekan kerja atau keluarga. Di saat-saat seperti inilah kemampuan literasi masyarakat Indonesia diuji dalam menangkap informasi dan berita tentang Pandemi Covid-19.

Sekarang ini lah momentum terbaik untuk menguji kemampuan literasi masyarakat dengan melakukan seleksi dan mem-filter segala informasi terbaru tentang Covid-19 sebagai wabah yang membahayakan.

Masyarakat harus terus menerus memperbaharui (update) data dan informasi Covid-19 dari sumber yang kredibel, yaitu dari para ahli yang menangani pandemi ini atau situs resmi penangganan Covid-19.

Akan tetapi masih banyak pula warganet yang mempercayai info yang berbeda, dengan alasan berbeda, dan katanya dengan sistem pencarian yang berbeda. Hal ini yang sangat berbahaya, sebagaian orang ingin dirinya dikatakan jago dalam mencari info yang tersembunyi. Padahal, dibalik itu semua, hoaks saja isinya. Tak lain hanya ingin mendapatkan pengakuan semata.

Dengan kematangan dan kemampuan literasi akan menjadikan masyarakat tidak mudah percaya dalam mengahadapi hujan informasi Covid-19. Masyarakat tidak "halu" akan data-data yang tak jelas penelitiannya.

Membaca adalah melawan, dengan banyak membaca kita tidak akan mudah panik dan resah akan kabar yang beredar tentang Covid-19. Selain itu kita dapat melawan penyebaran yang masif dari wabah Covid-19. Dengan ilmu yang memadai, kita bisa saja menjadi supervisor hoaks yang tersebar.

Mari bersama-sama kita lakukan literasi dan gunakan informasi yang benar untuk mengurangi laju penyebaran Pandemi ini. Yakin Indonesia akan segera pulih!


*)Penulis adalah pekerja seni, menggeluti seni sastra, dan seni rupa juga pernah melatih teater. Saat ini bekerja di Harian Umum Kabar Banten dan menjadi desainer grafis disamping menjadi penulis lepas terkait pendidikan seni dan budaya.


Share :