GURU DIGUGU DAN DITIRU : Peran Literasi Pengetahuan

GURU DIGUGU DAN DITIRU : Peran Literasi Pengetahuan

GURU DIGUGU DAN DITIRU : Peran Literasi Pengetahuan


Oleh: Kholid Ma’mun*


Pendidikan merupakan satu sistem dan proses yang melibatkan berbagai komponen. Komponen-komponen tersebut adalah komponen tujuan, pendidik (guru), peserta didik (siswa/ santri), alat, lingkungan/lembaga, kurikulum, dan evaluasi. Antara satu komponen dan komponen lain saling bekerja sama dalam mencapai tujuan. Apabila ada komponen yang baik, tetapi juga ada yang jelek, maka tujuan tidak akan tercapai dengan baik.

Dalam tulisan ini, penulis akan membahas salah satu dari beberapa komponen yang disebutkan di atas, yaitu pendidik atau guru. Menurut Husnul Chotimah (2008), guru dalam pengertian sederhana adalah orang yang memfasilitasi alih ilmu pengetahuan dari sumber belajar kepada peserta didik. Sementara, masyarakat memandang guru sebagai orang yang melaksanakan pendidikan di sekolah, masjid, mushala, atau tempat-tempat lain. Semua pihak sependapat bila guru memegang peranan yang sangat penting dalam mengembangkan daya manusia melalui pendidikan.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat saat ini, tentunya memunculkan tantangan tersendiri bagi guru. Merujuk kepada definisi pendidikan di atas bahwa guru bukan satu-satunya sumber informasi sehingga muncul pendapat bahwa pendidikan bisa berlangsung tanpa guru. Hal ini benar jika pendidikan diartikan sebagai proses memperoleh pengetahuan. Namun, perlu diingat, pendidikan juga media pendewasaan, maka prosesnya tidak dapat berlangsung tanpa guru.

Menurut Prof. Herawati Susilo MSc Ph.D, pakar pendidikan Universitas Negeri Malang, ada enam kriteria guru masa depan, yaitu belajar sepanjang hayat, literate sains dan teknologi, menguasai bahasa inggris dengan baik, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas, rajin menghasilkan karya tulis ilmiah, dan mampu mendidik berdasarkan filosofi kontruktivisme dengan pendekatan kontekstual.

Sedangkan menurut Wijana Kusumah (2009), guru ideal adalah sosok guru yang mampu menjadi panutan dan selalu memberi keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.

Peran Guru

Guru adalah aktor penting yang menjadi garda terdepan kemajuan peradaban sebuah bangsa. Peran guru sangat diharapkan mampu membentuk kepribadian, karakter, moralitas dan kapabiltas intelektual generasi muda. Inilah tugas besar yang diemban, diamanatkan dan disematkan di pundak seorang guru. Dari guru seorang murid mengenal ilmu, dari guru seorang murid mengenal akhlak dan moral, dari seorang guru seorang murid mengenal semangat dalam menggapai cita dan harapan, dan dari seorang guru murid mendapat bimbingan kepada kebenaran, bahkan tidak sedikit murid yang mengikuti jejak para gurunya.

Oleh sebab itu, seorang guru tidak cukup hanya sekedar transfer of knowledge (memindah ilmu pengetahuan) dari sisi luarnya saja, tetapi juga transfer of value (memindah nilai) dari sisi dalamnya. Perpaduan dalam dan luar inilah yang akan mengokohkan bangunan pengetahuan, moral, dan kepribadian murid dalam menyongsong masa depannya.

Jika seorang guru hanya bertugas memindahkan ilmu pengetahuan, maka masa depan murid akan terancam. Sebab, moralitas dan integritas mereka rapuh, mudah terombang-ambing oleh arus gelombang modernisasi yang menghalalkan segala macam cara demi memuaskan nafsu hedonism. Namun, apabila seorang guru hanya memindah nilai saja tanpa mentrasfer keilmuan yang memadai, mereka terancam pada gelombang salju dan tembok tebal kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan. Keduanya penting, dan harus berjalan seiring, tidak boleh ada yang dimarginalkan antara satu dan yang lainnya.

Perlu diketahui, bahwa seorang guru tidak boleh hanya berpikir jangka pendek terhadap muridnya, artinya hanya sekedar memberikan pengajaran, tanpa peduli terhadap perubahan sikap, perilaku, dan moralitas anak didiknya, maka dari perlu ditanamkan dalam jiwa seorang guru untuk memperbaiki moralitas anak didiknya secara komprehensif.

Seorang guru tidak boleh melempar tanggung jawabnya dengan berbagai alasan dan argumentasi yang absurd dan klise. Seperti, mengatakan “itu bukan tanggun jawab saya, itu tanggung jawab kepala sekolah” atau “itu tanggung jawab guru agama”, atau “itu tanggung jawab pengawas sekolah” dan kalimat-kalimat lain yang tidak solutif.

Konsep sistem pendidikan Indonesia berorientasi untuk menjadikan pendidikan Indonesia mampu berbicara dan menjawab berbagai masalah dan musibah nasional. Maka dari itu, sentuhan guru yang bertangan dingin dan profesional sangat dinanti untuk melahirkan kader-kader pengubah sejarah baru untuk masa depan bangsa Indonesia.

Jika seorang guru mengajar hanya untuk mengejar kebutuhan finansial, maka ia akan sulit melahirkan kader pengubah sejarah yang membutuhkan kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan besar. Kalau semuanya diukur dengan meteri, maka orientasi keilmuan dan masa depan bangsa menjadi kabur. Lepas dari persoalan finansial yang menjadi kebutuhan setiap manusia, ketulusan guru dalam mendidik dan mengantarkan anak didik menggapai cita-cita luhur adalah karya terbesarnya yang akan diabadikan sejarah.

Masyarakat akan melihat dan memantau sikap prilaku seorang guru. Apabila sikap dan prilakunya bisa menjadi cermin bagi anak didiknya, maka masyarakat akan semakin menghormati dan mencintainya. Namun, jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan, masyarakat akan merendahkan dan meremehkannya.

Seorang guru harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya, karena guru adalah seorang yang digugu dan ditiru (ucapannya dipercaya dan prilakunya dicontoh), maka sangat tidak berlebihan jika dikatakan seorang guru adalah pahlawan bangsa, hal ini karena jasanya yang begitu besar dalam mengantarkan anak didiknya untuk menjadi generasi bangsa yang berilmu dan beradab yang siap memajukan bangsa dan menjadi generasi yang membanggakan di masa depan.

Untuk menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat bukanlah perkara yang mudah. Banyak indikator tingkah laku yang harus ditunjukkan  dalam sikap dan perkataan, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Meski tidak mudah, bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Untuk itu, setiap guru harus senantiasa berupaya menjadi teladan bagi setiap siswanya, sehingga keteladanan yang diberikan akan mampu membawa perubahan yang berarti bagi anak didik dan juga bagi sekolah tempat ia mengabdikan ilmu.


*Bidang Pendidikan dan Dakwah FSPP Prov. Banten dan Pengurus ICMI Orwil Banten


Share :