Pendidikan : Teknologi Vs Guru

Pendidikan : Teknologi Vs Guru

Pendidikan : Teknologi Vs Guru


Oleh Muhammad Furqon Hadiwijaya*


Siapa yang tidak sepakat bahwa dewasa ini teknologi sudah berkembang dengan sangat maju, dari hal yang sangat sepele sampai hal yang begitu rumit nyaris semua sudah berbasis dengan teknologi. Hal apa yang sekarang tidak bisa dilakukan manusia dengan menggunakan teknologi? hampir semua hal bisa manusia lakukan dengan menggunakan teknologi yang sudah dirancang sedemikian khusus oleh manusia itu sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia. Dari mulai urusan pakaian, belanja, makan, jalan-jalan, dan berbagai hal lainnya akan lebih mudah dan bisa dijangkau dengan bantuan teknologi.

Ada berapa banyak toko online, belajar online, pekerjaan online, jasa online, dan hal-hal lainnya yang bersifat online dan berbasis internet serta teknologi?

Saking hebatnya teknologi bahkan manusia hampir dibuat lupa dengan manusia lainnya, mungkin bisa jadi teknologi adalah “tuhan yang baru di era sekarang.

Seolah-olah semua hal bisa diselesaikan dengan bantuan teknologi, tidak heran jika satu jam saja manusia tidak menggunakan teknologi pasti akan merasa sangat tidak nyaman, entah karena pengaruh teknologi itu terhadap manusia atau karena memang semua kebutuhan manusia lebih mudah dilakukan melalui teknologi.

Dalam dunia pendidikan yang biasa kita sebut dengan sekolah, kuliah, pesantren, atau istilah lainnya kita mengenal yang namanya guru, dosen, ustadz, kyai, mentor dan lain sebagainya yang akan menjadi pembimbing dan pendidikan kita untuk membentuk karakter dan mental. Lalu apa yang akan terjadi jika teknologi mengambil porsi dan peran tersebut? tentu tidak secara langsung tapi melalui tahapan dan proses yang pelan tapi pasti dengan cara anak didiknya lebih sering bertanya kepada internet dan memahami apa yang dibaca dan didengar dengan sendirinya tanpa bimbingan dari guru, ustadz, dan kyai.

Jika situasi dan kondisinya seperti ini tentu akan sangat mengkhawatirkan terhadap pola pikir pembentukan karakter dan mental manusia itu sendiri. hari ini sejak kecil anak-anak sudah mulai dikenalkan dengan teknologi kemudian lambat laun pola pikir dan perkembangan anak akan sangat dipengaruhi oleh teknologi. Sampai-sampai pada satu kondisi yang memprihatinkan teknologi tidak bisa dilepaskan dan dipisahkan dari pola pikir dan perkembangan hidup manusia.

Dalam dunia pendidikan baik sekolah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya yang resmi ataupun tidak resmi kita tentu mengenal istilah yang namanya guru, ustadz, kyai ataupun sebutan lainnya yang mencerminkan bahwa orang tersebut adalah orang yang memberikan pelajaran, pemahaman, dan ilmu pengetahuan kepada sang murid.

Sampai sini tentu kita sudah dapat membayangkan jika semua kebutuhan itu sudah terakomodir oleh bantuan teknologi maka apakah keberadaan guru, ustadz, kyai, dan sebutan lainnya masih mempunyai posisi yang tinggi di kalangan sekolah, pesantren, atau lembaga pendidikan lainnya.

Bagi orang-orang yang usia 25 tahun keatas yang masa kecilnya belum mengenal teknologi seperti saat ini tentu posisi guru, ustadz, dan kyai masih mempunyai kedudukan yang amat sangat tinggi dalam membimbing dan mendidik membangun karakter dan mental serta pola pikir saat usia anak-anak bahkan menjelang remaja.

Sehingga orang-orang yang berusia 25 tahun ke atas masih sangat mengenal yang namanya akhlak, sopan santun dan adab, karena pendidikan yang diberikan oleh guru, ustaz, bahkan Kiai lebih mengedepankan akhlak sebelum meningkat kepada ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Mari kita bandingkan dengan anak-anak usia sekolah hari ini kita bisa melihat, mendengar, bahkan mengalami secara langsung banyak sekali kejadian-kejadian yang mencerminkan bahwa posisi guru, ustadz, bahkan kyai di mata anak-anak sekarang tidak berada pada posisi yang lebih tinggi daripada teknologi itu sendiri.

Kenapa bisa demikian? saya melihatnya bahwa anak-anak sekarang lebih mendewakan teknologi daripada manusia, dengan pertimbangan teknologi bisa menjawab segala persoalan yang yang dialami oleh anak-anak masa kini apapun yang mereka ingin tahu mereka akan mencarinya melalui internet bahkan nyaris tidak bertanya kepada guru, ustad, atau kyai walaupun pada dasarnya ilmu dan pengetahuan yang didapat sama saja tapi yang mendasar yang menjadi perbedaan adalah akhlak, sopan santun dan adab.

Maka ada beberapa ungkapan yang sering dijadikan bahan diskusi "akrab dan kurang ajar beda tipis". Kalimat ini adalah salah satu contoh dari tingkah laku anak-anak sekarang yang lebih mendewakan teknologi daripada guru, ustadz dan kyai. secara keilmuan tentu mereka pintar dan cerdas tapi secara akhlak, sopan santun dan adab cenderung kurang ajar karena tidak dididik langsung oleh guru, ustad atau kyai.

Ini adalah sebagian kecil kegelisahan yang saya rasakan, bukan bermaksud untuk merendahkan kedudukan guru, ustadz, atau kyai dan bukan juga membandingkan mereka semua dengan keberadaan teknologi yang demikian masif, tapi lebih kepada bagaimana posisi guru, ustadz, dan kyai tetap menjadi yang tertinggi di atas teknologi.

Dengan begitu pembentukan akhlak, sopan santun, adab, mental dan karakter menjadi yang utama sebelum ilmu dan pengetahuan karena akan percuma menjadi pintar tapi tidak punya akhlak karena berguru pada teknologi.

Semoga ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua agar pendidikan kita bisa lebih baik dikemudian hari, disadari atau tidak peran teknologi sudah mengambil banyak ruang dalam pola pikir anak-anak muda hari ini.

Pertanyaannya adalah sanggupkah guru bersaing dengan teknologi untuk mendidik akhlak dan mental anak-anak didiknya ?


*Direktur Tbm Hahalaen


Share :