Menulis Untuk Keabadian (Alasan Logis Mengapa Harus Menulis)

Menulis Untuk Keabadian  (Alasan Logis Mengapa Harus Menulis)

Menulis Untuk Keabadian

(Alasan Logis Mengapa Harus Menulis)


Oleh: Mahbudin, M.Pd*


Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa adalah manisfestasi dari sebuah pemikiran. Pemikiran berasal dari proses berfikir dan belajar. Sebuah pemikiran, ide atau gagasan, sekecil apapun, merupakan sumbangan bagi peradaban. Eksistensi dan kebermanfaatan seseorang bisa dilihat antara lain dari sumbangan pemikirannya. Seperti kata-kata Rene Descartes seorang filsuf Prancis “Co gito ergo sum” (Aku berfikir maka aku ada). Namun, sebuah pemikiran akan hilang dan takkan bisa dirasakan banyak orang jika tidak diabadikan. Faktanya, cara terbaik mengabadikan sebuah pemikiran adalah melalui tulisan. “Tulisan kita tak akan pernah mati, bahkan ketika kita mati”, begitu kata novelis Helvi Tiana Rosa.

Menulis adalah tingkat literasi paling tinggi setelah mendengar, berbicara, dan membaca. Karena itu menulis memerlukan usaha ekstra untuk melakukannya. Meskipun menulis itu tidak mudah, ia tetap harus dilakukan oleh setiap orang sebagai bukti bahwa dia ikut memberikan sesuatu bagi peradaban. Tanpa meninggalkan tulisan, manusia akan semakin mudah dilupakan. Mendiang sastrawan Indonesia Pramudya Ananta Toer mengingatkan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dalam tulisan lainnya, beliau juga menegaskan, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”. Tentu saja kita tidak ingin keberadaan kita di kehidupan ini hanya seperti numpang lewat saja – dilahirkan, lalu hidup kemudian dikebumikan. Alangkah ruginya jika saatnya tiba, jasad kita dikuburkan tanpa meninggalkan jejak-jejak keberadaan. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati sebaiknya meninggalkan tulisan.

Nah, mari sekarang kita bertutur tentang kisah orang-orang yang telah terkubur ratusan tahun, berkalang tanah dan menjadi tulang belulang, namun keberadaannya seolah masih dirasakan,  namanya tetap diperbincangkan, buah pemikirannya masih menjadi rujukan solusi dalam kehidupan. Salah dua orang saja yang akan disampaikan dalam artikel ini dari tak terkira banyaknya manusia pemenang keabadian yang dapat menjadi pelajaran bagi kita yang masih diberi kesempatan.

Tepat setahun sudah dunia dilanda pagebluk virus mengerikan yang pertama kali muncul di provinsi Wuhan, China pada akhir 2019 lalu. Virus ini – yang kemudian dinamai Corona Virus Disease (Covid-19) dengan cepat menjangkiti jutaan penduduk bumi. Sampai artikel ini ditulis, 20/12/2020, berdasarkan data dari John Hopkins University & Medicine, sebanyak 76.199.167 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan total kematian sebanyak 1.683.910 di seluruh dunia.

Sejak awal kemunculannya, para ahli kesehatan telah sepakat agar setiap negara segera melakukan karantina untuk mencegah penyebaran lebih masif pandemi Covid-19 ini. Sejarah mencatat, metode karantina telah terbukti efektif untuk menekan penyebaran virus. Sejak saat itu, kata “Quarantine” atau karantina menjadi trending topic di mesin pencari (Search Engine). Berdasarkan data dari Google Trend, kata “Quarantine” naik 10.000 % di mesin pencari.

Namun, tahukah tuan dan puan bahwa istilah Quarantine (karantina) telah sejak berabad yang lalu dikenalkan pertama kali oleh ilmuwan muslim Ibnu Sina? Dikutip dari https://www.moroccoworldnews.com/, Ibnu Sina dalam buku fenomenalnya Al Qonun Fit Thib (The Canon of Medicine) atau Aturan Pengobatan, telah meletakkan fondasi dasar ilmu kedokteran tentang metode karantina untuk mencegah penularan virus yang menyebar melalui partikel kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kelak, temuan ini dibuktikan kembali secara ilmiah setelah penemuan Microscopes.

Ibnu Sina – dunia Barat menyebutnya Avicenna,  adalah seorang  filsuf dan ilmuwan yang sebagian besarnya karyanya tentang ilmu kedokteran. Beliau dijuluki Bapak Kedokteran karena karya-karyanya menjadi buku wajib dalam ilmu kedokteran. Ibnu Sina juga seorang penulis produktif yang telah menorehkan sediktinya 100 – 250 buku sepanjang 57 tahun hidupnya. Dua karya yang paling terkenal adalah Al Qonun Fi Thib (ensiklopedia ilmu kedokteran yang terdiri atas 5 jilid)  dan Asy Syifa (terdiri atas 18 jilid).

Sepintas, masa hidup Ibnu Sina memang relatif pendek, 57 tahun (980 – 1037), tapi hakikatnya beliau telah “hidup” hampir seribu tahun. Hingga kini, nama beliau masih disebut-sebut dan diperbincangkan. Tulisannya tetap hidup, dipelajari, diteliti, dan dimanfaatkan banyak orang. Inilah sesungguhnya esensi dari panjang usia.    

Selanjutnya, pernahkah tuan dan puan memikirkan sejenak bagaimana Global Positioning System (GPS) bekerja? Mengapa GPS bisa dengan akurat menemukan arah yang kita tuju lengkap dengan penjelasan jarak dan estimasi waktu tempuh? GPS adalah sebuah sistem yang dimiliki Amerika untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan sinyal satelit. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan bumi, dan digunakan untuk menentukan letak, kecepatan, arah dan waktu. (dikutip dari www.gps.govt dan Wikipedia)

Dalam www.liputan6.com, ternyata agar navigasi GPS berfungsi akurat, ia harus menggunakan teori relativitasnya Alberth Einstein. Sepanjang hidupnya, Einstein telah menulis sedikitnya 300 makalah ilmiah dan lebih dari 150 karya nonilmiah, yang salah satunya adalah temuannya tentang Teori Relativitas. Seandainya pemikiran dan karya Einstein tidak dituliskan, mungkin kita tidak akan merasakan sumbangsih beliau bagi peradaban dan kita juga tidak pernah tahu bahwa ada sosok fisikawan Jerman bernama Alberth Enstein pernah hadir di muka bumi ini.

Dari sejarah dua orang manusia dalam paparan di atas tadi, hal terpenting yang kita dapatkan sebagai pelajaran adalah bahwa melalui tulisan dapat menjadi jalan terbukanya kebermanfaatan. Setiap kita tentu mendamba hidup yang bermakna, untuk diri kita, terlebih buat sesama. Melalui tulisan yang baik kita dapat mewujudkannya. Karena hakikat hidup adalah tentang memberi, maka inilah arti kesuksesan yang sesungguhnya. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”, sabda Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan Thabrani dan Daruquthni. Tulisan yang dibaca dan dimanfaatkan membuat hidup penulisnya bermakna, bahkan ketika ia telah tiada.

Rasanya tak ada lagi alasan logis bagi kita untuk tidak menulis. Berperan sebagai profesi apa pun kita, sudah berapa saja usia kita, kita dapat membuat tulisan apa saja, sesuai kemampuan kita. Sebagaimana layaknya kebiasaan banyak orang membuat resolusi di setiap tahun baru, dimulai di tahun baru 2021 ini penulis mengajak kita semua membulatkan tekad membuat tulisan yang dibaca dan dimanfaatkan banyak orang. Imam Al Ghazali berpesan, “Jika kamu bukan anak raja juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.”

Akhirnya, menulis memang butuh perjuangan, tapi itu bukan berarti sulit untuk dilakukan. Kita hanya butuh kemauan. Itu saja. Marilah kita mulai berbuat kebaikan dengan tulisan kita. Sekarang juga. Sebagai penutup, berikut ini penulis sampaikan potongan puisi Wiji Thukul (1988) dalam bukunya Aku Ingin Jadi Peluru:

Jika tak ada mesin ketik

aku akan menulis dengan tangan

jika tak ada tinta hitam

aku akan menulis dengan arang

jika tak ada kertas

aku akan menulis pada dinding

jika aku menulis dilarang

aku akan menulis

dengan tetes darah!


*penulis adalah Teacher Librarian MTsN 1 Pandeglang


Share :