MENELADANI KEPRIBADIAN ABUYA DIMYATHI

MENELADANI KEPRIBADIAN ABUYA DIMYATHI

MENELADANI KEPRIBADIAN ABUYA DIMYATHI


Oleh: Kholid Ma’mun


Nama abuya Dimyathi sudah terdengar ditelinga saya sejak kecil, ketika masih tinggal di Pati Jawa Tengah, yaitu ketika masih belajar di pesantren Raudlatul Ulum, cerita tentang beliau saya dapatkan dari guru saya, kiai Salim namanya, beliau adalah salah satu santri abuya. Inilah yang menjadi salah satu alasan saya menulis tentang ketokohan beliau dalam artikel ini, saya yakin banyak sekali ulama-ulama lain di tanah Banten ini yang tentunya tidak kalah ilmunya dengan beliau.

Abuya Dimyathi lahir pada tanggal 27 Sya’ban 1347 H/ Juni 1920 dari pasangan ayah bernama KH. Muhammad Amin dan Nyai Hj. Ruqayyah, sejak kecil abuya dididik oleh ayahandanya, sepulang sekolah di Verpolg School abuya kecil belajar ngaji ilmu agama kepada KH. Zuhdi, setamat dari Verpolg oleh guru-gurunya ia disarankan untuk melanjutkan ke HIS, namun ia lebih memilih melanjutkan belajar di pesantren.

Setelah selesai belajar ilmu dasar fikih, ilmu alat (seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq) dari ulama-ulama Banten, Dimyathi muda melanjutkan petualangan ilmunya ke tanah Jawa untuk menajamkan dan mengasah lebih dalam lagi perangkat-perangkat ilmu yang sudah menjadi bekalnya.

Mondok ke tanah Jawa

Dimyathi muda adalah orang yang haus ilmu, tidaklah mendengar atau melewati seorang alim kecuali ia ingin menjadi murid dan ngaji kepadanya. Tercatat banyak sekali ulama yang ia datangi, baik di Jawa Barat, Jawa Tengah ataupun Jawa Timur.

Diantara ulama yang menjadi guru Dimyathi muda adalah Syekh Mama Sempur- Purwakarta, beliau adalah seorang ulama yang ahli dalam ilmu fikih, pemilik sanad (mata rantai) hadis dari jalur Syaikh Mahfudz Termas dan Syekh Yasin Al-Fadani dan ulama ahli ilmu alat, karena kecerdasannya, Dimyathi muda mendapat kepercayaan dari sang guru untuk mengajarkan kitab- kitab tasawuf, diantaranya kitab Hikam yang ditulis oleh Syaikh Athaillah as-Sakandari

Selain Mama Sempur Purwakarta, Dimyathi muda juga berguru kepada ulama-ulama Lasem Jawa Tengah, diantaranya Mbah Ma’shum dan Mbah Baidhowi. Lasem adalah kota santri tertua di tanah Jawa yang ditempati oleh ulama-ulama ahli nahwu, sharaf, balaghah dan mantiq, sehingga tak heran jika  banyak orang yang hafal jurumiyah dan alfiyah di kota ini.

Dalam perjalanannya kepada ulama-ulama di Jawa, abuya sempat singgah di Kediri. Oleh karena itu, tak mengherankan jika ia sangat memahami kultur santri Kediri, paham gaya para gus (putra kiai), paham istilah keramat- gandul dan istilah-istilah lain. Diantara kiai yang diprediksi pernah berdialog dan berbincang seputar keilmuan dengan abuya selama singgah di Kediri adalah Kiai Mahrus dan Kiai Marzuqi Lirboyo, mbah Juwaini Tretek dan mbah Jamal Batho’an.

Dari sekian banyak guru ada seorang guru yang memberikan pengaruh dan mewariskan sebuah karakter yang mendalam bagi abuya, guru tersebut adalah seorang ulama Jawa Tengah yang tinggal di sebuah daerah pegunungan Magelang, beliau adalah kiai Ahmad Nahrowi atau yang terkenal dengan sebutan mbah Dalhar. Kepada mbah Dalhar, abuya selalu menyebut dengan panggilan kehormatan “murabbi ruhina”. Ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan guru dan murid. Meskipun guru abuya banyak, seperti mbah Ma’shum, mbah Baidhowi, Syekh Abdul Halim, Mama Sempur, namun ketika abuya memberikan contoh kepada santri-santri tentang karakter ulama yang zuhud, ‘alim dan wira’i, ia lebih sering menyebut Mbah Dalhar.


Abuya Dimyathi dan Al-Qur’an

Dalam buku Jejak spiritual Abuya Dimyathi diceritakan bahwa, abuya menamatkan setoran hafalan Al-Qur’an kepada Mbah Dalhar hanya dalam waktu 6 bulan. Salah satu rahasia menghafal cepat yang sering abuya sampaikan kepada penghafal Al-Qur’an yaitu “Sebelum menghafal satu ayat-pun, hendaklah seseorang membiasakan untuk menghatamkan Al-Qur’an (tiap hari satu khataman), setelah ia khatam berkali-kali, setelah lidahnya akrab dengan Al-Qur’an barulah ia memulai menghafal”.

Sebelum menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada Mbah Dalhar, abuya telah menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 40 kali khataman (dalam waktu 40 hari berturut-turut). Metode mendahulukan khataman bin-nadzar sebelum bil ghaib adalah metode yang biasa digunakan oleh para Masyaikhul Qur’an (ulama-ulama Ahli-Qur’an).

Pesan abuya kepada para santri, “Jangan pernah kalian putus asa nglalar Al-Qur’an. Karena biarpun Al-Qur’an ditinggal hanya beberapa hari, lidah akan menjadi berat lagi untuk membacanya, terkadang ingatan lancar namun kalau tak pernah nderes, maka lidah tak bisa mengikuti ingatan!”

Ngaji sebagai Tahriqah

Tinggi rendahnya derajat keulamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagai contoh, jika seorang kiai mengesampingkan ngaji, atau jadwal ngaji dan shalat jama’ahnya kalah dengan dengan jadwal lain, maka kiai yang model begini menurut abuya diragukan ke-kiai-annya.

Ngaji adalah sarana pewarisan ilmu yang menjadikan seorang ulama menyandang predikat “pewaris para Nabi” sebagaimana bunyi hadis Nabi Muhammad saw. “Al-Ulamu Waratsatul Ambiya’”, melalui pengajian, sunnah dan keteladanan Nabi diajarkan, melalui ngaji, tradisi para sahaabat dan tabi’in diwariskan dan melalui ngaji pula, seorang santri dapat mengaitkan ilmu yang dipelajarinya kepada para ulama yang nyambung kepada Nabi Muhammad Saw.

Abuya adalah teladan bagi kiai-kiai dalam mendidik putra-putrinya, beliau menganggap putra-putrinya bukan hanya anak tetapi beliau juga menganggap putra-putrinya sebagai anak didik dan santrinya, sehingga abuya adalah seorang ayah sekaligus guru bagi putra-putrinya. Abunya tidak akan memulai shalat dan ngaji, kecuali putra-putrinya- yang semuanya adalah seorang hafidz/ hafidzah (hafal Qur’an) itu- sudah berjajar di barisan shaf shalat, jika ada  yang belum datang, maka kentongan sebagai isyarat waktu shalat pun dipukul bertalu-talu, sampai semua hadir dan ikut shalat berjama’ah.

Dalam urusan pendidikan abuya tidak mewakilkan kepada orang lain, barangkali ini yang menjadi sebab keberhasilan putra dan putrinya menjadi seorang hafidz dan juga alim dalam ilmu agama, seakan istilah “seorang kiai/ guru yang sibuk mengajar anak orang lain, namun anaknya sendiri tidak terurus” adalah istilah yang tidak disepakati oleh abuya, karena beliau berpegang prinsip terhadap ayat Al-Qur’an: “Qu anfusakum wa ahlikum naran” jagalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka!”

Diakhir tulisan ini penulis sampaikan pesan abuya untuk para santri dan kiai adalah “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain ataupun karena umur, sebab ngaji tidak dibatasi umur. Thariqah aing mah ngaji, ngaji dan belajar adalah thariqah-ku.” Pesan ini selalu abuya ulang, seolah beliau ingin menegaskan jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh sekalipun.


Wallahu alam bisshawab


Share :