KH. Tb. Achmad Chatib : Pahlawan Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten

KH. Tb. Achmad Chatib :  Pahlawan Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten

KH. Tb. Achmad Chatib :

Pahlawan Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten

 

Oleh :  Ratu Nizma Oman*

 

"Persatuan Ummat, Pemimpin yang Kuat dan Pemerintahan yang Adil"

(K. H. Tb. Achmad Chatib)

Kyai Haji Tubagus Achmad Chatib adalah seorang ulama dan pahlawan nasional serta perintis kemerdekaan dari Banten. Beliau dilahirkan di Kampung Gayam Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang - Banten, pada Tahun 1890 di bulan Safar (menurut catatan putranya, K.H.Tb.A. Suchari Chatib).

Kyai Haji Achmad Chatib adalah keturunan dari Maulana Hasanuddin yang ke-11. Ayahnya bernama Kyai Haji Tubagus Muhammad Wasi al-Bantani dan ibunya bernama Ratu Ashifah. Ayahnya, Haji Wasi seorang ulama yang kharismatik dan juga seorang saudagar yang sukses. Ibunya juga seorang ahli agama dan ibu rumah tangga yang taat beribadah. Achmad Chatib adalah anak kelima dari 10 bersaudara. 

Bintang Pelajar

Ketika Nusantara sedang berada dibawah jajahan bangsa asing yaitu Belanda dan sekutunya. Cita-cita anak pribumi pada masa itu sangat tinggi yaitu ingin mengusir para penjajah dari tanah air. Jika orang tua mereka belum mampu melakukannya maka generasi muda akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan para leluhur. Mengemban tugas yang berat dan mulia itulah maka ghirah jihad sangat menggelora di tubuh kaum muda pada masa itu. Termasuk Achmad Chatib yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu.

Pada usia 10 Tahun, beliau dikirim ke Pesantren Qira'atul Qur'an di Serang dan dengan cepat sudah hafal Al-Qur'an dan menguasai bahasa Arab. Sehingga beliau mendapat predikat sebagai "Bintang Pelajar". Banyak orang dewasa yang datang kepadanya dengan membawa makanan dan minta dibacakan doa atau diajari mengaji. Pada usia semuda itu beliau sudah terlihat wibawa dan kharismatiknya sebagai seorang ulama dan seorang pemimpin ummat.

Menantu Syekh Asnawi

Pada Tahun 1910, Achmad Chatib yang saat itu sedang belajar di Pesantren Caringin kemudian dipinang oleh gurunya yaitu Syekh Asnawi, ulama yang sangat berpengaruh di Banten pada masa itu. Setelah mendapat restu dari orang tuanya, Achmad Chatib yang saat itu usianya 20 tahun kemudian menikah dengan putri ketiga Syekh Asnawi yaitu Ratu Hasanah yang saat itu berusia 21 tahun. Setelah menikah, Achmad Chatib tetap tinggal di Caringin dan mengajar di pesantren milik mertuanya. Begitu pula isterinya juga mengajar ngaji khusus perempuan.

Pada tahun 1912,  Syekh Asnawi memboyong keluarganya dan pembantu-pembantunya untuk berangkat Haji ke Mekkah. Termasuk Achmad Chatib dan isteri, hingga melahirkan anak pertama disana. Namun pada Tahun 1914, terjadi Perang Dunia I dan keluarga Syekh Asnawi serta para warga asing lainnya diminta pulang oleh Sulthan Syarif Mekkah ke negara asalnya karena situasi di tanah suci sedang tidak aman. Mekkah sedang dilanda peperangan dan wabah penyakit.

Tetapi perjalanan pulang pun tidak mudah karena semua lautan dipenuhi ranjau. Terpaksa mereka menggunakan jalan darat dan tinggal berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Perjalanan pulang ke tanah air memakan waktu selama 3,5 Tahun lamanya. Bapak Achmad Chatib tidak menyia-nyiakan perjalanan ke Negeri Para Nabi itu dengan menuntut ilmu kepada para Syekh disana dan juga kepada mertuanya yang sambil bekerja sebagai pengajar di sebuah madrasah. Begitupun Bapak Achmad Chatib juga turut mengajar dan putra-putra, menantu laki-laki dan para pembantunya juga bekerja apa saja ketika dalam pengembaraan mereka. Ada yang bekerja sebagai kuli, pegawai rendah, pengantar surat kabar, dll. Demi membiayai hidup mereka dirantau dan mengumpulkan bekal untuk pulang. Hingga akhirnya mereka sampai ke India dan ada seorang saudagar Muslim kaya raya nan dermawan yang mau membiayai Keluarga Syekh Asnawi pulang ke tanah air dengan menggunakan kapal dagangnya. Akhirnya pulanglah keluarga Syekh Asnawi dan Bapak Achmad Chatib ke tanah air dengan selamat.

Laskar Mujahidin 1926

Pada Tahun 1918, datanglah Syarikat Islam (SI) ke Banten yang dibawakan langsung oleh H.O.S Tjokroaminoto. Setelah diadakan musyawarah Akbar , Bapak Achmad Chatib terpilih menjadi Presiden SI Banten. Sejak itu bertambah lah aktivitas beliau selain berdakwah juga menjalankan organisasi. SI di bawah pimpinan Bapak Achmad Chatib sangat solid. Banyak kegiatan sosial yang mereka lakukan. Seperti membangun masyarakat, desa, kota, irigasi, perekonomian, pendidikan, memelihara anak yatim dll. Sehingga memunculkan kekuatan umat Islam.

Pada tahun 1924, SI dipusat terpecah dan menjadi dua kubu. Ada kubu SI Merah (kaum radikal) dan SI Putih (kaum moderat). Aliran radikal inilah yang masuk ke Banten sesuai dengan jiwa orang-orang Banten. Kemudian pada tahun 1926, rakyat memberontak terhadap pemerintahan Belanda dan menuntut kemerdekaan serta kedaulatan rakyat. Selain itu dipicu oleh masalah ekonomi karena terjadi paceklik dan rakyat kelaparan serta pajak yang tinggi. Akhirnya timbullah perlawanan dari kalangan pribumi dengan para ulama sebagai pemimpinnya.

Syekh Asnawi adalah tokoh sentral dan spiritual dalam memimpin perjuangan 1926. Bersama putra, menantu, para tokoh ulama dan masyarakat kemudian mengadakan perlawanan dan menyerukan Jihad untuk memerangi para penjajah. Dibentuklah suatu gerakan bernama Laskar Mujahidin dengan Bapak Achmad Chatib sebagai Panglimanya dan Kyai Moekri Karabohong sebagai wakilnya serta Ki Emed, putra Syekh Asnawi sebagai seksi logistik. Laskar ini sangat ditakuti Belanda karena bisa bergerak dan menghilang seperti hantu.

Perlawanan rakyat dan pertempuran tahun 1926 di Labuan Caringin terkenal dengan nama "Perang Cisanggoma" sebab terjadi di jembatan sungai Cisanggoma. Peperangan terjadi antara pasukan Belanda melawan laskar Mujahidin. Belanda yang sudah panik akhirnya memgamuk dan membakar desa serta membantai para penduduk. Termasuk Keluarga Bapak Achmad Chatib akan dibantai. Akhirnya atas perintah Syekh Asnawi, Bapak Achmad Chatib keluar dari persembunyiannya sehingga mudah ditangkap Belanda. Kemudian beliau diasingkan ke pulau yang sangat jauh dan tak berpenghuni serta banyak buayanya yaitu di Boven Digoel, Papua, selama waktu yang tidak ditentukan.

Anggota PETA

Pada tahun 1940, mulai terdengar PD II. Negeri Belanda dibom dan ditaklukkan oleh Jerman. Akibatnya para tahanan Digoel dipindahkan sebagian dan sebagian lagi dipulangkan ke kampung halamannya termasuk Bapak Achmad Chatib meski statusnya sebagai "sedat ares" (tahanan kampung). 

Namun saat beliau pulang, Syekh Asnawi mertuanya telah wafat. Tepatnya pada tahun 1935. Gemparlah daerah Banten pada saat itu karena kehilangan seorang Waliyullah dan tokoh pemimpin ummat. Syekh Asnawi juga sempat diasingkan ke daerah Cianjur bersama keluarganya selama 3,5 tahun. Dalam pengasingannya ikut serta termasuk Keluarganya dan putrinya Ratu Hasanah, isteri Bapak Achmad Chatib serta kedua anaknya yang masih kecil. Pasca wafatnya sang guru mertua, Bapak Achmad Chatib sangat kehilangan dan setiap hari selalu menziarahi makamnya sambil mengajar dan melanjutkan kegiatan dakwah  disana. 

Pada tahun 1942, meluaslah PD II ke Asia Pasifik dan ke Indonesia yang disponsori oleh Jepang (Nippon). Datanglah Jepang yang mengaku sebagai Pelindung Asia oleh karenanya diterima oleh rakyat Indonesia. Namun seiring waktu berjalan ternyata pada saat kedatangan tentara Jepang, keadaan malah bertambah parah. Rakyat semakin susah dan menderita. Pengerahan Romusha (kuli paksa) yang dilakukan oleh pemerintah jajahan Jepang kepada rakyat Indonesia semakin gencar namun nasib para kuli sangat memprihatikan. Banyak yang mati kelaparan dan kelelahan. Mereka juga melecehkan para wanita pribumi.

Pada pertengahan tahun 1943, lahirlah organisasi rakyat Putra (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas permintaan Jepang untuk membantu pekerjaan dibidang sipil.

Adapun dibidang militer, dibentuklah organisasi militer yang bernama PETA  (PEMBELA TANAH AIR). Sebab saat itu kondisi Perang Dunia. Oleh karena itu Jepang melatih militer orang Indonesia yang dianggap sebagai pemimpinnya. Akhirnya Bapak Achmad Chatib mendapat latihan militer bersama para ulama dan tokoh lainnya.

Perintis Kemerdekaan

Maka pada tahun 1944, Jepang menyerah akibat kota Nagasaki dan Hiroshima di bom oleh Sekutu. Oleh karena itu PETA dibubarkan.  Mulailah organisasi PUTRA muncul kegiatannya dari mulai pusat sampai daerah. Datanglah utusan pusat yaitu sdr. Achmad Cokroaminoto menemui Bapak Achmad Chatib ke Caringin untuk membicarakan situasi yang berhubungan dengan Persiapan Kemerdekaan Indonesia setelah ditinggalkan oleh Jepang. Banyak saran yang dikemukakan oleh Bapak Achmad Chatib diantaranya ; Persatuan Ummat, Pemimpin yang Kuat dan Pemerintahan yang Adil. Kepada beliau diminta untuk mengurus daerah Banten dan hal ini disanggupi oleh beliau.

Setelah dipusat terbentuk Komite Nasional maka Bapak Achmad Chatib segera membentuk komite tersebut di daerah. Lalu setelah itu diadakan musyawarah untuk merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Tetapi karena tidak dihiraukan akhirnya terpaksa dengan jalan kekerasan yaitu memerangi tentara Jepang supaya pergi dari daerah Banten. Akhirnya terjadilah peperangan gerilya dan gencatan senjata semalam suntuk. Esoknya  rakyat Banten berhasil mengusir tentara Jepang. Kemudian didaulat lah Bapak Achmad Chatib sebagai Residen Banten Pertama dari kalangan Pribumi yang memimpin wilayahnya sendiri.

Bapak Achmad Chatib bukan hanya menjadi pahlawan di daerah namun juga di tingkat nasional. Perjuangan dan prestasi yang pernah ditorehkan oleh Bapak Achmad Chatib, antara lain :

1.     Membuat uang Banten "Oeridab" ketika terjadi blokade ekonomi oleh Belanda pada saat agresi Belanda II Tahun 1948.

2.       Menumpas gerakan pemberontakan Komunis Ce Mamat Tahun 1948.

3.     Membuat kepanitiaan Pembangunan di kawasan Kesulthanan Banten Tahun 1947 dan dilanjutkan pada tahun 1950.

4.   Mendirikan Lembaga Pendidikan, Sekolah Cokroaminoto dan turut merintis perguruan tinggi UIN Sulthan Maulana Hasanuddin Banten.

5.        Mendirikan radio RRI Banten

6.        Menggagas awal berdirinya Pembentukan Provinsi Banten.

 Prestasi di tingkat nasional :

1.       Menjadi anggota majelis syuro SI pusat

2.      Mendirikan Lembaga PAU (Persatuan Alim Ulama) dan kemudian berubah nama menjadi MU (Majelis Ulama), kini MUI dan namanya resmi dipakai di seluruh Indonesia.

3.       Menjadi anggota DPRGR/ MPRS 

4.       Anggota BPPK

5.       Menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung di pusat (Penasehat Presiden).

Beliau wafat di Gayam pada Tahun 1970 dan dikuburkan di makam keluarga Kesulthanan Banten di sebelah makam Maulana Hasanuddin.

(dari berbagai sumber)

 

*Penulis adalah Cicit dari K.H.Tb. Achmad Chatib. Ketua Forum Silaturahmi Dzuriyyat Bani Wasi al-Bantani, Penulis dan Pegiat Literasi.

Share :