DONGENG SEBAGAI PENDIDIKAN MORAL DAN MEDIA LITERASI

DONGENG SEBAGAI PENDIDIKAN MORAL DAN MEDIA LITERASI

DONGENG SEBAGAI PENDIDIKAN MORAL DAN MEDIA LITERASI

Oleh ERVI WIDIAWATI*


Pendahuluan  

Secara etimologis moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti tata cara, adat istiadat atau kebiasaan. Kata moral mempunyai arti sama dengan kata yang berasal dari Bahasa Yunani ethos yang menurun dari kata etika. Dalam bahasa Arab kata moral berarti budi pekerti adalah sama dengan akhlak, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata moral dikenal dengan kesusilaan (Daroeso, 1986:22).

Berdasarkan pada pengertian tersebut menunjukkan, bahwa moral sangat penting sebagai pedoman dalam bertingkah laku manusia. Moral merupakan kesinambungan antara niat yang baik, tujuan untuk melakukan kebaikan sampai pada munculnya perbuatan atau tindakan yang baik. Manusia yang menunjukkan perilaku baik yang didasarkan pada niat dan tujuan untuk berbuat kebaikan dapat dikatakan sebagai manusia yang bermoral, sedangkan manusia yang menunjukkan perilaku yang tidak baik atau menyimpang dari nilai–nilai moral dapat dikatakan amoral atau tidak bermoral. Pada dasarnya sejak manusia dilahirkan telah dibekali potensi moral, potensi tersebut terus tumbuh dan mengalami perkembangan sesuai dengan tingkat kematangan berpikir individu dan perubahan lingkungan tempat tinggal. 

Pada usia kanak–kanak mulai dikembangkan konsep–konsep pengetahuan oleh sebab itu pendidikan moral akan efektif apabila diterapkan pada usia ini, melalui pengenalan perbuatan–perbuatan yang dapat dilakukan, serta perbuatan–perbuatan yang tidak dapat dilakukan atau hal–hal yang dilarang. Karena pada masa itu anak-anak memiliki daya ingatan yang cukup baik. Meskipun usia anak–anak merupakan usia yang sangat tepat untuk mengembangkan pendidikan moral namun tidak dapat dilupakan bahwa masa anak–anak merupakan masa bermain dan mengembangkan potensi, sehingga proses pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan anak, agar tujuan dari pendidikan moral dapat tercapai. Pendidikan moral dapat dilakukan melalui kegiatan yang menyenangkan bagi anak–anak, salah satu diantaranya adalah dongeng.


Pengertian Dongeng

Dongeng adalah bentuk sastra lama yang menceritakan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang luar biasa berupa fiksi (tidak nyata) atau khayalan. Dongeng ini merupakan bentuk cerita tradisional atau juga cerita yang disampaikan secara terun-temurun dari nenek moyang yang mempunyai fungsi untuk dapat mengajarkan nilai-nilai moral serta juga sebagai hiburan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), dongeng melibatkan unsur dan kejadian luar biasa.


Melalui cerita dongeng diselipkan nilia–nilai moral yang dapat ditiru oleh anak–anak dalam kehidupan sehari–hari. Pentingnya pendidikan moral yang dilaksanakan sejak usia kanak–kanak melalui media dongeng sebagai media edukasi yang tepat. Dalam Dongeng terdiri dari beberapa jenis diantaranya :

1)      Cerita  Fabel (Binatang)

2)      Cerita Jenaka (Lucu)

3)      Cerita Legenda (berhubungan tentang suatu tempat atau asal usul sebuah tempat)

4)      Cerita Mitos (berhubungan dengan kepercayaan masyarakat)

5)      Cerita Sage (mengandung unsur sejarah)

6)      Cerita Parabel (mengandung unsur pendidikan dan keagamaan)

Di Indonesia sudah banyak Komunitas Mendongeng salah satuanya adalah Kampung Dongeng Indonesia yang merupakan Komunitas dibawah naungan Yayasan Kampung Dongeng Tunas Bangsa yang didirikan oleh Ka Awam Prakoso, yang berpusat di Tangerang Selatan dan sudah memiliki banyak cabang di hampir seluruh daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya mendongeng untuk menumbuhkan imajinasi anak, kreativitas anak, dan mengembangkan moralitas anak.


Dongeng Sebagai Media Literasi

Literasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Secara etimologis istilah literasi berasal dari bahasa Latin ‘literatus’ di mana artinya adalah orang yang belajar. Dalam hal ini, arti literasi sangat berhubungan dengan proses belajar membaca dan menulis. Dongeng sebagai media literasi pada masa kini dapat dilakukan dengan berbagai cara, sesuai perkembangan zaman. Pada saat Pandemic Covid 19 yang berdampak pada sekolah , perpustakaan dan berbagai tempat  wisata edukasi anak untuk sementara tutup sehingga menyulitkan anak-anak mengembangkan imajinasinya. Oleh sebab itu dongeng dapat dilakukan dengan memanfaatkan buku cerita yang ada dirumah, memanfaatkan media sosial seperti Youtube, Instagram (IG), Facebook (FB) atau media sosial yang lain untuk melihat dan mendengarkan dongeng secara Virtual (Dongeng Virtual), Film Animasi, dll.

Kegiatan mendongeng bersama dengan anak-anak yang dilakukan oleh orang tua memiliki banyak keuntungan diantaranya mempererat hubungan anak dengan orang tua, memberikan pemahaman kepada anak apabila didalam dongeng terdapat hal-hal yang kurang dipahami, menambah perbendaharaan kata, sifat dan watak, menanamkan pesan jangka panjang. Dan kegiatan mendongeng juga dapat dipergunakan sebagai penguasaan bahasa ibu. Oleh karena, bahasa Ibu merupakan bahasa yang digunakan oleh anak dan ibunya dalam bekomunikasi sehingga penguasaan bahasa Ibu diwajibkan kepada anak. Selain itu, orang tua juga mampu mengembangkan kosa kata bahasa Ibu dengan kegiatan mendongeng.

Perlu diketahui cara memilih dongeng yang baik antara lain:

1.     Mengetahui kebutuhan dan minat anak terhadap dongeng. Setiap anak memiliki kebutuhan mengenai karakter yang akan diajarkan kepada anak. Pemberian dongeng kepada anak juga mempertimbangkan minat anak terhadap dongeng. Apabila kita memaksakan dongeng yang tidak disukai anak maka anak akan menolak dan merasa terpaksa.

2.      Memberikan buku dongeng kepada anak harus memperhatikan usia anak. Di dalam memilih buku dongeng haruslah disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Apabila anak tersebut masih dalam usia dini maka buku dongeng yang cocok yaitu buku dongeng dengan gambar-gambar yang lebih banyak daripada buku dongeng anak-anak usia Sekolah Dasar.

3.   Mempertimbangkan kualitas buku dongeng. Pengajaran karakter dalam dongeng merupakan tujuan utama orang tua dalam memberikan buku dongeng kepada anak. Maka, kualitas buku harus dipertimbangkan sehingga karakter-karakter dalam dongeng dapat ditiru dengan baik oleh anak-anak.

Kesimpulan

Proses pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan anak, agar tujuan dari pendidikan moral lewat kegiatan dongeng dapat dilakukan dengan sangat menyenangkan. Gerakan literasi melalui mendongeng diharapkan dapat ditanamkan sejak usia dini dengan menggunakan karya sastra. Penggunaan karya sastra misalnya dongeng, karena dongeng mengandung imajinasi dan kreatifitas cerita yang memiliki daya tarik yang tinggi. Peran serta orang tua juga dapat mempengaruhi lancarnya gerakan literasi anak, maka orang tua diharapkan mampu mengarahkkan anak dalam membaca dongeng. Peran orang tua berkaitan dalam pemilihan buku dongeng yang baik dan berkualitas. dapat tercapai sehingga gerakan literasi anak dapat berjalan dengan baik dan lancar.


*(Penulis, adalah Alumni Kemah Dongeng Angkatan ke -25 , Kampung Dongeng Indonesia)


Share :