Gerakan Literasi untuk Mendukung Vaksinasi Nasional

Gerakan Literasi untuk Mendukung Vaksinasi Nasional

Gerakan Literasi untuk Mendukung Vaksinasi Nasional


Oleh : Gito Waluyo*


Vaksinasi covid-19 nasional sudah dimulai sejak Januari 2021. Program ini harus berhasil, agar semua orang bisa bebas dari penyakit corona yang berbahaya. Untuk mensukseskan vaksinasi, maka hoaks harus diberantas. Tujuannya agar tidak ada yang terjebak berita palsu dan punya disinformasi vaksin, dan semua setuju untuk disuntik vaksin.

Hoaks adalah berita atau gambar palsu yang sengaja diproduksi, agar masyarakat tidak mempercayai suatu hal. Sayangnya hoaks masih bercokol di Indonesia, dan ada kalangan yang mempercayainya. Penyebabnya karena kemampuan literasi mereka kurang, karena tidak hobi membaca. Sehingga ketika ada berita hoaks tidak diperiksa, bahkan tak dibaca, tapi langsung di-share di media sosial.

Kelemahan inilah yang membuat hoaks tumbuh subur di negeri kita. Padahal hoaks adalah musuh besar dari vaksinasi nasional. Karena ketika ada kalangan masyarakat yang mempercayai berita palsu mengenai vaksin corona, maka program ini diprediksi gagal. Sehingga selain sosialisasi vaksin, kita wajib mengadakan gerakan lawan hoaks, agar berhasil 100%.

Pakar epidemiologi dari UI, dokter Pandu Riono, menyatakan bahwa sebuah hoaks menyebar lebih cepat daripada informasi yang benar. Oleh karena itu, ia meminta agar dokter dan tenaga medis lain yang memberikan informasi mengenai vaksin corona. Karena mereka memiliki kapasitas ilmu di bidang kesehatan.

Dalam artian, ketika para nakes yang menjadi corong pemerintah untuk mensosialisasikan vaksin dan melawan hoaks, maka masyarakat percaya kehebatannya. Mereka pun tidak peduli dengan hoaks. Karena lebih memilih untuk mengikuti omongan dokter daripada sekadar berita di media sosial.

Untuk mewujudkan usulan dari dokter Pandu, pemerintah bisa menggandeng dokter yang sudah terkenal di media massa. Misalnya dokter Tirta, dokter Lula Kamal, dll. Mereka akan menjelaskan keamanan vaksin corona dan menjawab pertanyaan masyarakat mengenai hoaks. Sehingga tidak ada yang terjebak berita palsu lalu memutuskan untuk menolak vaksin.

Mengapa harus memerangi hoaks? Karena efeknya sangat dahsyat. Selain penolakan vaksinasi, maka para antivaks dan orang yang terjebak hoaks bisa berpikiran untuk menghancurkan stok vaksin. Karena bagi mereka vaksin itu berbahaya. Kita tentu tidak ingin kemungkinan terburuk ini akan terjadi di Indonesia.

Ketika terjadi situasi kacau seperti ini, bisa jadi program vaksinasi corona gagal terwujud. Padahal untuk keluar dari status pandemi, harus terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity) pada masyarakat. Hal itu baru bisa terjadi jika semua WNI diberi suntikan vaksin corona. Ketika ada penghalang, maka kita akan mengalami pandemi berkepanjangan.

Prediksi ini sungguh mengerikan dan kita berusaha keras menghindarinya. Oleh karena itu, wajib untuk memerangi hoaks, sekecil apapun. Untuk melawan hoaks, maka kita bisa bergabung dalam Kelompok Masyarakat Indonesia Anti Hoaks. Mereka gencar mengadakan gerakan Indonesia anti hoaks, karena sadar bahwa berita palsu bisa membawa kebinasaan dan kegagalan.

Kelompok Masyarakat Indonesia Anti Hoaks biasanya bekerja di dunia maya, karena di media sosial banyak berita palsu yang beredar. Selain melaporkan status berita atau foto yang ternyata hoaks ke pihak Facebook dan Instagram, mereka juga berkampanye di timeline masing-masing. Dengan mengajak semua orang untuk tidak mempercayai hoaks, khususnya berita palsu mengenai vaksin corona.

Mari kita dukung vaksinasi nasional dengan memerangi berita dan foto palsu, yang menyudutkan vaksin corona. Karena jika hoaks dibiarkan akan merajalela, dan membuat banyak orang jadi takut saat disuntik. Padahal program vaksinasi nasional harus berhasil 100%. Vaksinasi adalah syarat jika Indonesia ingin keluar dari status pandemi covid-19.


 Hindari Hoaks

Hoaks seputar Covid-19 menjadi ancaman yang dapat menghambat penanganan Covid-19 nasional. Warganet pun diajak untuk ikut menangkal virus tersebut dan terus mendukung Pemerintah dalam menangani penyebaran virus Corona di Indonesia.

Terkait informasi hoax yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 yang akan digunakan adalah vaksin untuk uji klinis. Bahwa vaksin Covid-19 yang saat ini sudah berada di Bio Farma dan akan digukanan untuk program vaksinasi nantinya, akan menggunakan vaksin yang telah memperoleh izin penggunaan dari BPOM, sehingga kemasannya pun akan berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk keperluan uji klinik.

Kemasan Corovac untuk uji klinik menggunakan kemasan pre-filled syringe atau biasa disingkat PFS, dimana kemasan dan jarum suntik berada dalam satu kemasan. Sedangkan vaksin yang akan digunakan untuk program vaksinasi peerintah dikemas dalam bentuk vial dose dan tidak aka nada penandaan “only for clinical trial” karena telah memperoleh izin penggunaan.

Bahwa vaksin Covid-19 buatan sinovac tidak mengandung vero cell atau sel vero, karena sel vero hanya digunakan sebagai media kultur untuk media kembang dan tumbuh virus tersebut untuk proses perbanyakan virus sebagai bahan baku vaksin. Jika tidak mempergunakan media kultur, virus akan mati sehingga tidak dapat digunakan untuk pembuatan vaksin.

Setelah mendapatkan jumlah virus yang cukup, maka akan dipisahkan dari media pertumbuhan dan sel vero ini tidak akan ikut atau terbawa dalam proses akhir pembuatan vaksin. Dengan demikian, pada produk akhir vaksin, sudah dapat dipastikan tidak akan lagi mengandung sel vero tersebut.

Bahwa anak muda perlu dilibatkan untuk mewakili masyarakat milenial dan bisa menjadi contoh.

Saat ini sudah banyak pergeseran profesi yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Segala profesi yang berhubungan dengan teknologi dan digitalisasi saat ini sedang berkembang.

Sehingga siapapun baik dari kalangan pelajar hingga dosen sekalipun, semua memiliki peluang yang sama untuk bisa menjadi seorang konten kreator. Apalagi konten positif ini bisa menjadi pembanding tatkala berita hoax justru banyak dipercaya oleh masyarakat.       

Secara historis, kemerdekaan tidak bisa lepas dari peran penting kelompok pemuda. Saat ini dimana bangsa Indonesia menghadapi pandemic, generasi milenial atau kelompok muda tentu perlu mengambil bagian dengan menjadi motor dari penguat solidaritas sosial.

Terkait maraknya kabar hoax mengenai efek samping vaksin Covid-19 yang digunakan pemerintah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, carilah informasi informasi seputar vaksin melalui sumber resmi yang dipercaya.

Hoaks di Internet muncul hampir setiap detik, sehingga patroli cyber yang digalakkan tetap saja kewalahan dalam memeriksa konten-konten yang diduga memiliki kesesatan.

Tentu saja selain bersikap skeptis terhadap berita ‘heboh’, kita juga bisa berperan dalam mendukung penanganan pandemic Covid-19 dengan cara menyebarkan konten positif agar konten negative tersebut dapat tenggelam.


 *Penulsi adalah Pekerja Seni dan Penulis Lepas lokal Banten


Share :