HIDUPLAH DAYA CIPTA

HIDUPLAH DAYA CIPTA

HIDUPLAH DAYA CIPTA

Oleh: Atih Ardiansyah*

 

Saya pernah menjadi seorang guru sekira pertengahan 2014 hingga 2016. Saya mengampu mata pelajaran yang tidak biasa, namun menjadi unggulan di Lembaga tempat saya bekerja, yaitu pelajaran Menulis Kreatif. Dalam praktiknya, belajar menulis tidak semudah memasak mie rebus. Karena menulis memang bukan pekerjaan teknis, tetapi mendayagunakan imajinasi.

Untuk menguji tingkat imajinasi siswa, saya pernah melayangkan pertanyaan: “Mengapa batu tenggelam di dalam air?” Jawaban yang diberikan siswa benar, namun standar: Karena batu memiliki massa yang lebih berat.

Jawaban yang diberikan hanya bersumber dari satu sudut pandang. Jawaban tidak mencerminkan keliaran berpikir, tidak menampilkan kemampuan berimajinasi, terkungkung oleh kotak. Padahal imajinasi menembus batas-batas.

Aktor senior Indonesia, Slamet Rahardjo, menyebut bahwa pembeda utama manusia dengan makhluk lainnya adalah imajinasi. Peradaban dikendalikan olehnya. Indonesia hari ini pun tak lain merupakan buah imajinasi. Gugusan pulau, ribuan bahasa dan suku bangsa, pula karsa disatukan di bawah tugu imajinasi bernama Pancasila. Sukarno dan teman-teman segenerasinya adalah manusia imajinatif yang berada di belakang itu semua.

Tentu saja mantra ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani takkan diucapkan oleh manusia yang nirimajinasi. Di depan memberi teladan, di tengah memberi inspirasi, di belakang memberi kekuatan adalah daya cipta Ki Hadjar Dewantara yang juga mendirikan Taman Siswa.

Para pendiri bangsa seperti Sukarno, Hatta, Ki hadjar Dewantara, Haji Agus Salim adalah contoh nyata bagaimana kecintaan pada buku menjadikan mereka, bukan hanya berdaya, tetapi juga memberi daya pada sekitarnya. “Kalian boleh memenjarakanku di mana saja. Selama dengan buku aku bebas!” Demikian ucap Hatta, yang tak pernah absen membawa berpeti-peti buku-buku kesayangan ke penjara mana pun dia ditahan.

Negara-negara maju menaruh perhatian pada tumbuh kembang imajinasi. Karena mereka percaya, imajinasi adalah rahim kreativitas. Kreativitas menyebabkan orang mampu, bukan hanya menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga mengubah dan mengguncang kemapanan.

Negara kita mestinya berinvestasi lebih pada pendidikan yang mendukung daya imajinasi. Jika kita ingin meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), mendongkrak daya saing, titik sentuhnya semestinya bukan pada usaha mencocokkan sistem pendidikan dengan jenis pekerjaan di pasar industri. Pekerjaan bisa berubah seiring roda waktu, apabila sistem pendidikan lambat menanggapi, maka akan makin banyak residu yang kita sebut sebagai pengangguran. Secara bebas, saya mendefinisikan pengangguran (terutama yang terdidik) sebagai lulusan lembaga pendidikan yang memiliki kapasitas tertentu yang bertemu dengan realitas industri yang sama sekali baru.

Sampai hari ini, pengangguran menjadi narasi utama dalam kampanye politik elektoral. Solusi yang ditawarkan para kandidat pun seragam, yaitu bagaimana menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Negara dan para aktor politiknya masih melihat solusi pengangguran pada lapangan kerja, padahal para pengusaha semakin kesulitan mendapat tenaga kerja yang baik.

Saatnya beralih ke hulu. Ke orang, ke human. Bahwa penyebab utama pengangguran karena kita terlalu lama memalingkan wajah dari imajinasi. Andai perhatian pada imajinasi dan penumbuhkembangan daya cipta menjadi utama, tentu generasi kita lebih banyak yang menyediakan lapangan kerja ketimbang yang sebaliknya.

Di sini, perpustakaan dan para pustakawan menemukan momentum emasnya. Mereka harus percaya bahwa mereka adalah pengubah peradaban. Maka seharusnya, paradigma berpikir para pustakawan tak lagi berpatok pada sekadar angka kunjungan tetapi pada efek terusan yang, sayangnya, bersifat intangible (tak bisa dihitung).

Kalau para pustakawan itu tidak mengubah cara pandangnya, maka mereka persis batu yang tenggelam lantaran tak pandai berenang.

 

*) Pendiri Cendekiawan Kampung, Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Untirta.

Share :