AKSELERASI BUDAYA LITERASI BAGI MAHASISWA GUNA MENYEIMBANGI KEMAJUAN GLOBAL

AKSELERASI BUDAYA LITERASI BAGI MAHASISWA GUNA MENYEIMBANGI KEMAJUAN GLOBAL

AKSELERASI BUDAYA LITERASI BAGI MAHASISWA GUNA MENYEIMBANGI KEMAJUAN GLOBAL



Oleh: Muhammad Fahri*



Globalisasi dan Modernisasi telah meretas sekat-sekat geografis antara negara dan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi dunia. Arus informasi yang begitu cepat menuntut setiap bangsa untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Selain itu kemajuan yang cukup pesat diperlukan demi mengejar ketertinggalan, sekaligus menghancurkan skat antara negara maju dan negara berkembang. Dalam menjawab tantangan ini, Indonesia membutuhkan para intelektual muda yang mampu dan berkompeten untuk bersaing di tingkat dunia. 


Salah satu icon intelektual muda saat ini yaitu mahasiswa. Para mahasiswa memiliki keahlian dalam berinovasi, kemudian dikombinasi dengan potensi kepemimpinan pada sebuah gerakan yang terorganisir. Gerakan yang terorganisir ini adalah salah satu ciri khas mahasiswa yaitu sebagai agen perubahan (agent of change). Oleh karena itu, sebenarnya mereka memiliki kewajiban dalam meningkatkan kompetensi, kontribusi, produktivitas, serta kapasitas dan kapabilitas intelektualnya.


Terkait respon intelektual, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan gagasannya melalui proses kritik yang sehat. Salah satu ciri seorang intelektual yaitu seseorang yang mampu menyampaikan gagasannya melalui tulisan. Dalam sejarah Soe Hoek Gie misalnya, tercatat sebagai seorang mahasiswa yang kritis, berani mengkritik rezim Orde Baru dengan tulisan-tulisannya di media massa. Begitu juga dengan Hamka, Pramoedya, Rendra, Goenawan Mohammad dan Ayip Rosidi. Mereka adalah kaum intelektual yang juga menyampaikan gagasannya melalui tulisan. Oleh karena itu mereka merupakan beberapa contoh tokoh intelektual yang menggerakkan massa melalui budaya literasi.


Budaya literasi juga merupakan cermin kemajuan sebuah bangsa. Para Antropolog bahasa, seperti Lucian Levy-Bruhl, Claude Levi-Strauss, Walter Ong, dan Jack Goody memandang budaya literasi sebagai titik yang membedakan antara masyarakat primitif dan masyarakat “beradab”. Dengan demikian untuk membuat pembaruan dalam negeri, para intelektual muda terkhusus mahasiswa dituntut untuk aktif menjadi opinion leader melalui publikasi tulisan dan kemampuan berbahasa asing. Namun, saat ini bangsa Indonesia tertinggal jauh dalam penerbitan buku, publikasi artikel, serta jurnal Internasional. Tercatat pada 2003 silam, posisi Indonesia berada pada urutan 134 dunia, dengan indeks 0,88 artikel per 1 juta penduduk. Begitupun dengan publikasi jurnal Internasional yang tertinggal jauh dari negara tetangga. Padahal salah satu indikator ranking Universitas di dunia adalah melalui publikasi jurnal Internasionalnya. Jadi, kita harus mengoptimalkan budaya literasi ini agar proses berbagi ilmu pengetahuan antar negara dapat berjalan secara optimal. Dalam konteks yang lebih sempit, menyemai budaya literasi di perguruan tinggi merupakan langkah yang baik untuk memulai perubahan global. 


Selain itu ciri dari kaum intelektual adalah beranian untuk menyampaikan sesuatu yang benar dan yang salah (intellectual courage). Di era informasi yang cepat di serap seperti saat ini, media massa memegang peranan penting dalam segala aspek kehidupan. Media, tanpa disadari, mengkonstruksi realitas objektif dan menggiring opini publik. Berbagai permasalahan bangsa di dunia bahkan terekam di media dengan beragam kepentingan dan nilai tersendiri. Namun, seorang intelektual yang baik adalah mereka yang selalu menguji kebenaran dengan objektif sehingga tidak mudah terjebak pragmatism atau isu politik yang berkembang. Sikap kritis tersebut diperoleh dengan adanya budaya literasi, mengumpulkan beragam premis yang bisa mengantarkan seorang intelektual pada kesimpulan objektif.


Melihat kenyataan yang ada, Thomas Kuhn dalam The Structure Scientific Revolution  mengatakan bahwa kondisi keilmuan dewasa ini telah masuk di samping krisis  sekaligus anomali, yaitu norma dan perangkat ilmu yang lama sudah tak relevan, sedangkan yang baru belum terwujud. Hal ini terutama dialami oleh ilmu-ilmu kemasyarakatan. Ilmu ekonomi, misalnya, belum mampu menjawab problema stagflasi, ilmu hukum cenderung tebang pilih, sementara ilmu politik begitu rapuh mendeskripsi tumbuhnya kekuatan kapitalisme internasional yang menjadi supra sistem dari sistem nasional. Untuk menjawab anomali tersebut, dibutuhkan peran mahasiswa dalam meluruskan gagasannya tanpa menghilangkan karakter gerakan berbasis massa.  


Berdasarkan kondisi di atas, analisis permasalahan dan cara yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan budaya literasi adalah pertama, optimalisasi fungsi Perpustakaan. Hal ini mampu menjadi sarana dalam pemenuhan rasa ingin tahu para mahasiswa, seperti optimalisasi sarana & prasarana akademik, dukungan dari dosen dalam melakukan penelitian yang bersifat analitis, serta menyelenggarakan lomba karya tulis untuk mahasiswa di tingkat Universitas. Kedua, optimalisasi Kelompok Studi (KS) misalnya Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) membuat program kerja lomba di setiap perguruan tinggi untuk memiliki komunitas atau kelompok studi yang khusus bergerak dalam bidang keilmuan dan riset. Kelompok studi ini dibangun berdasarkan core competence masing-masing fakultas. Akan lebih baik jika semua KSF (Kelompok Studi Fakultas) memiliki KS pusat yang merangkul semua disiplin ilmu. Terakhir, kurikulum wajib bahasa Inggris. Karena penguasaan bahasa Inggris adalah hal yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Dengan penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris, para mahasiswa diharapkan mampu meretas komunikasi global.


Menggiatkan budaya literasi dengan cara aktif membaca, menulis, menjadi opinion leader, menggiatkan penelitian, dan menguasai bahasa Inggris adalah cara yang tepat untuk mengasah daya kritis, membumikan wacana, dan mengatasi permasalahan, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.


 

*Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta 2021-2022


Share :