Peran Literasi Digital dalam Kehidupan Sosial Remaja

Peran Literasi Digital dalam Kehidupan Sosial Remaja

Peran Literasi Digital dalam Kehidupan Sosial Remaja

Jamridafrizal*



 Abstrak

Temuan-temuan terkait aspek sosial dari aktivitas digital remaja. Komputer, perangkat seluler, dan internet semakin banyak digunakan dalam praktik sosial sehari-hari kaum muda, membutuhkan kompetensi yang sebagian besar masih belum diajarkan di sekolah. Untuk berkembang di era digital, kaum muda perlu secara kompeten menggunakan alat digital dan mendefinisikan, mengakses, memahami, mengevaluasi, membuat, dan mengomunikasikan informasi digital. Mampu mengembangkan persepsi, dan menghormati, norma dan nilai sosial untuk berfungsi di dunia digital, tanpa mengorbankan privasi, keamanan, atau integritas diri sendiri juga penting. Setelah membahas prospek sosial penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kalangan pemuda, dalam tulisan ini menjelaskan perilaku online mereka melalui sifat paradoks internet (yaitu, memberikan peluang untuk pengembangan sosial versus memperkenalkan risiko). Pendidik dan layanan pemuda disarankan untuk mempertimbangkan faktor-faktor ini dalam merancang program yang fleksibel, inovatif, dan inklusif untuk kaum muda yang menggunakan TIK.


Pengantar

Temuan-temuan terkait aspek sosial dari aktivitas digital remaja  (Martinovic, Freiman, Lekule, & Yang, 2014). Komputer, perangkat seluler, dan internet semakin banyak digunakan dalam praktik sosial sehari-hari kaum muda. Statistik terbaru mengungkapkan bahwa pada Januari 2021, ada 4,66 miliar pengguna internet aktif di seluruh dunia, 59,5 persen dari populasi global. Dari total tersebut, 92,6 persen (4,32 miliar) mengakses internet melalui perangkat seluler (https://www.statista.com) Selama kuartal kedua tahun 2021, Facebook melaporkan hampir 1,9 miliar pengguna aktif harian (DAU). Secara keseluruhan, pengguna aktif harian menyumbang 66 persen dari pengguna aktif bulanan. (https://www.statista.com).

Agar berhasil di sekolah, bekerja, dan bersosialisasi, kaum muda perlu secara kompeten menggunakan perangkat digital dan mendefinisikan, mengakses, memahami, membuat, dan mengomunikasikan informasi digital. Mampu mengevaluasi informasi digital, mengembangkan persepsi, dan menghormati, norma dan nilai sosial untuk berfungsi di dunia digital, tanpa mengorbankan privasi, keamanan, atau integritas diri sendiri juga penting. Kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan generasi baru untuk sukses di era digital sebagian besar masih belum diajarkan di sekolah.


Latar Belakang

 Dalam sekitar 15 tahun terakhir, TIK menjadi semakin mudah diakses di sebagian besar negara. TIK seperti komputer pribadi, telepon seluler, dan internet dapat digunakan baik untuk kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah, dan sangat cocok untuk menghubungkan individu dan masyarakat secara global (Beetham, McGill, & Littlejohn, 2009). Menggunakan alat-alat ini dengan tepat sehingga seseorang dapat hidup, belajar, dan bekerja dalam masyarakat digital, secara luas didefinisikan sebagai melek digital (Beetham, 2010). Namun, pada umumnya, kompetensi dan keterampilan ini tidak diajarkan di sekolah (Martinovic, Freiman, & Karadag, 2011). Misalnya, Jenkins (2006) menemukan bahwa remaja tidak diajarkan bagaimana berpartisipasi dalam praktik online sosial (misalnya, dalam berbagi informasi dan kolaborasi) meskipun ada bahaya bagi pengguna yang tidak terampil, sedangkan beberapa penulis (Martinovic & Magliaro, 2007; Noveck, 2000) menekankan pentingnya memahami sifat paradoks Internet, di mana seseorang dapat dihadapkan dengan informasi tak terbatas sambil memperoleh lebih sedikit pengetahuan; di mana aksesnya relatif murah, tetapi lingkungan semakin dikomersialkan, dan di mana komunitas terbentuk, tetapi atomisasi terjadi

Livingstone (2008) menjelaskan dikotomi opini optimis dan pesimis yang berasal dari akademisi dan media tentang bagaimana TIK mempengaruhi kaum muda:

    Optimis menekankan peluang baru untuk ekspresi diri, sosialisasi, keterlibatan masyarakat, kreativitas, dan literasi baru. Mereka membayangkan perubahan dalam dinamika sosial, dengan keterlibatan pemuda dalam penciptaan bersama budaya inovatif dan kontra-konsumerisme baik secara lokal maupun global. Pembuat kebijakan publik dan pendidik melihat peluang untuk terlibat dalam pembelajaran kolaboratif dan berbagai layanan pemerintah online. Xie (2014), misalnya menemukan bahwa komunikasi seluler melalui situs jejaring sosial, memperkuat modal sosial remaja.

       Pesimis mengasosiasikan perilaku remaja  di situs jejaring sosial dengan hilangnya privasi dan kurangnya rasa malu. Mereka melihat jejaring sosial sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu dan mengisolasi sosial yang mungkin memiliki efek negatif yang luas pada keselamatan kaum muda. Yang lain takut bahwa remaja  yang tumbuh di era digital mungkin mandul dalam memahami nuansa emosional dan membaca isyarat sosial, dan mungkin kurang empati (Stout, 2010). Mereka mencatat bahwa cyberbullying menghasilkan perubahan perilaku dan masalah emosional yang mendalam di antara para korbannya (Mitchell, Ybarra, & Finkelhor, 2007; Ybarra, Diener-West, & Leaf, 2007), dan bahwa efek komunikasi Internet baik dengan teman sebaya maupun dengan orang asing pada kesejahteraan mungkin sangat merugikan bagi remaja kesepian (Valkenburg & Peter, 2007). Patton dkk. (2014) memperingatkan terhadap peningkatan kekerasan remaja di ruang online, yang meliputi cyber-bullying, -geng, -stalking, dan -bunuh diri. Selain itu, kaum muda menyadari bahwa penggunaan Internet untuk tugas sekolah dapat mendorong mengambil jalan pintas, menyontek, kemalasan, semangat sekolah rendah, dan dapat menghambat pengembangan keterampilan belajar (Ben-David Kolikant, 2010). dan berbagai layanan pemerintah online. Xie (2014), misalnya menemukan bahwa komunikasi seluler melalui situs jejaring sosial, memperkuat modal sosial remaja.

      Berdasarkan contoh-contoh ini, orang yang melek digital harus dapat menavigasi antara peluang dan jebakan yang diciptakan dengan memperkenalkan TIK yang berbeda dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Praktik Sosial Online Remaja

        Menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bahwa pengguna internet di Indonesia 2019 -2020 bahwa  total pengguna internet Indonesia saat ini mencapai 196,7 juta dari total populasi Indonesia sekitar 266,9 juta,   Kemkominfo menemukan bahwa 98 persen dari anak-anak dan remaja tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet (https://kominfo.go.id/)

Menurut Survei Microsoft Digital Civility Index 2021 menyebutkan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Dalam laporan tersebut terdapat fakta yang belum dibahas yaitu penyebab utamanya adalah tingkah laku berinternet dari orang dewasa usia 18-74 tahun. Sementara tren global memang menunjukkan bahwa remaja adalah kelompok yang justru memimpin pulihnya kesopanan global sepanjang 2020

Aktifitas remaja terkait dengan media sosial di indoensia menurut  T. Endah, A Dimas, N Akmal (2017), yaitu: 1.) Menyatakan eksistensi diri dengan mengomentari foto diri teman-teman mereka di akun media sosial 2.) Mendekatkan diri dengan follower dan friends melalui aktivitas memberi komen atau chatting 3.) Mencari informasi terkini karena keingintahuan mereka. 4.) Mencari teman yang memiliki minat yang sama. 5.) Menyalurkan minat mereka dengan mencari informasi dan terlibat dalam aktivitas online. 6.) Mengunggah hasil aktualisasi mereka, termasuk foto, lagu dan video. 7.) Menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan, termasuk bermain game.

Sejumlah media sosial menarik untuk anak-anak, bahkan yang kurang dari 13 tahun. Anak-anak di bawah usia 13, misalnya, sudah memiliki akun Facebook walaupun syarat memiliki akun Facebook adalah berusia di atas 13 tahun. Hal ini disebabkan karena Facebook memiliki beberapa feature game online

Masalah pembentukan identitas, persahabatan, budaya partisipatif, dan keterlibatan politik dalam konteks penggunaan TIK. Bidang-bidang perkembangan sosial remaja  ini digambarkan dalam literatur sebagai tergantung pada usia mereka(T Endah, A Dimas, N Akmal – 2017)


Formasi Identitas Remaja

Isu identitas dan privasi menjadi semakin penting dalam peningkatan sosialisasi remaja usia 12-18 tahun. Penulis melakukan wawancara kelompok terarah terhadap siswa yang berusia 12-16 untuk memastikan persepsi dan kesadaran mereka terhadap teknologi digital. Penulis mengetahui bahwa Internet, dan khususnya situs jejaring sosial, memainkan peran sosial yang penting dalam kehidupan kaum muda: Ponsel membantu mereka terhubung satu sama lain; permainan komputer, untuk bersenang-senang; dan situs jejaring sosial, untuk tetap terhubung dan terhubung. Beberapa pola geografis dan budaya muncul, Jumlah teman online bervariasi dari 6 hingga 1000, rata-rata 85-200. Kegiatan favorit di situs jejaring sosial adalah “berbicara/bertemu dengan teman”, “tetap berhubungan”, “memperbarui profil”, “memeriksa profil lain”, “memeriksa pesan”, “mengirim pesan kepada teman”, dan “multitasking” (mis. menggunakan komputer, mendengarkan musik, dan menonton TV).

Bagi remaja, media elektronik adalah agen sosialisasi yang kuat, tetapi mereka tidak sepenuhnya menggantikan sumber lain untuk interaksi sosial. Peserta Hundley dan Shyles (2010) suka menggabungkan sosialisasi tatap muka dan online; kelompok sosial online mereka mencerminkan komunitas kehidupan nyata mereka. Para peserta menyadari risiko online dan melihat bahaya serangan cyber pada privasi mereka, tetapi siap menerima risiko karena mereka berhati-hati untuk tidak mengungkapkan informasi pribadi apa pun. Namun, beberapa peserta mengakui bahwa mereka kadang-kadang tidak jujur ​​ketika memberikan informasi di Situs Web (misalnya, menyembunyikan usia mereka), tetapi tidak melihat masalah dengan survei ini Valkenburg, Schouten, dan Peter (2005) terhadap 600 remaja dan menemukan bahwa Internet memainkan peran penting peran dalam eksplorasi identitas mereka dan penciptaan. Penulis mengidentifikasi strategi presentasi diri yang berbeda yang digunakan oleh para remaja ini. Misalnya, remaja yang lebih muda, perempuan, dan ekstrovert secara signifikan lebih sering berpura-pura lebih tua daripada remaja yang lebih tua, laki-laki, dan introvert. Anak laki-laki dan introvert lebih sering menampilkan diri mereka sebagai orang yang macho, sedangkan anak perempuan, remaja yang lebih muda, dan ekstrovert lebih sering menampilkan diri mereka sebagai orang yang lebih cantik. Akhirnya, anak laki-laki lebih sering menampilkan diri mereka daripada anak perempuan sebagai kenalan kehidupan nyata atau sebagai karakter fantasi

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Komunikasi, FISIP Universitas tahun 2017 pada kegiatan Forum Group Diskusi  (FGD) terhadap remaja, peserta FGD menyampaikan bahwa media sosial biasanya digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dan berbagi informasi dengan keluarga, teman dan orang lain yang memiliki ketertarikan yang sama, hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh boyd dan Ellison (2007) bahwa sebagian besar situs media sosial dapat membantu orang-orang untuk dapat berkomunikasi, mengenal dan dapat terhubung dengan orang lain berdasarkan ketertarikan yang sama. Pengguna dapat melakukan komunikasi satu sama lain pada media sosial melalui fitur yang tersedia, termasuk chatting, mengirimkan pesan pribadi, berkomentar pada kolom yang tersedia, dan dapat berbagi foto-foto dan video ( Zúñiga, 2012).

Harman, Hansen, Cochran, dan Lindsey (2005) berpendapat bahwa penyalahgunaan internet dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial anak. Harman dkk. melakukan penelitian terhadap 187 siswa kelas enam, tujuh, dan delapan yang didominasi orang Eropa atau Amerika, berusia 11-16 tahun. Anak-anak yang melaporkan perilaku paling menipu di Internet (misalnya, berpura-pura lebih tua) memiliki keterampilan sosial yang lebih buruk, tingkat harga diri yang lebih rendah, tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi, dan tingkat agresi yang lebih tinggi (yaitu, ketegasan yang tidak pantas), terlepas dari jenis kelamin. Namun, penggunaan Internet yang sering tidak memengaruhi keterampilan sosial, harga diri, kecemasan sosial, dan agresi anak-anak.

Studi terbaru tentang perilaku online remaja di Bandung yang dilakukan oleh Fardiah, D. (2021) mengungkapkan kekhawatiran bahwa ketika beralih ke dunia online, remaja dapat mengembangkan fobia sosial yang mendorong mereka untuk memiliki identitas tersembunyi, sekaligus berpotensi merusak identitas alami dan nyata mereka.

Penggunaan internet oleh remaja dengan perbedaan perkembangan dan sosial dieksplorasi oleh Bannon, McGlynn, McKenzie, dan Quayle (2015). Para penulis melakukan kelompok fokus dengan 36 orang muda (berusia 13-18) yang semuanya diidentifikasi dengan Gangguan Spektrum Autistik, kesulitan belajar sedang dan/atau kesulitan sosial, emosional dan perilaku. Bannon dkk. mengidentifikasi aspek pengembangan identitas, keterhubungan sosial, dan kompetensi (misalnya, dalam keterampilan khusus serta rasa kompetensi diri) melalui penggunaan Internet peserta mereka

Orang-orang ini tidak hanya berkembang di tiga bidang ini, tetapi dengan sengaja menggunakan Internet untuk membangun ikatan sosial kepada orang lain dan menghindari rasa kecemasan komunikasi offline. Sementara segmen populasi remaja ini menggunakan internet dengan cara yang sama dan dengan manfaat serupa seperti masa muda secara umum, mereka mungkin memerlukan beberapa langkah tambahan untuk memastikan keselamatan online mereka


Redefinisi persahabatan                                                                                                            

Situs jejaring sosial memberikan fungsi yang semakin menarik bagi penggunanya.Keterlibatan intensif kaum muda dalam komunikasi elektronik, seperti SMS, pesan instan, dan obrolan internet, memengaruhi perkembangan dan ekspresi emosi mereka. Beberapa penulis (lihat Stout, 2010), Perhatian bahwa karena menurunnya komunikasi tatap muka di dalam zaman elektronik, generasi muda mungkin kurang paparan pengalaman kehidupan nyata yang membantu mereka mengembangkan empati, memahami nuansa emosional, dan membaca isyarat sosial seperti ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Akibatnya, untuk remaja dan praremaja saat ini, pertemanan rupanya terwujud melalui pertukaran teks ponsel dan pesan instan, atau di dinding Facebook dan buletin MySpace. Ada juga beberapa perbedaan gender yang dicatat dalam penggunaan situs jejaring sosial-gadis menggunakan situs tersebut untuk memperkuat persahabatan yang sudah ada sebelumnya, sedangkan anak laki-laki menggunakannya untuk menggoda dan mendapatkan teman baru (Lenhart & Madden, 2007).

Mesch (2009) melakukan survei dengan sekitar 1.000 remaja di Israel, ia menyimpulkan bahwa kaum muda tampaknya mempertahankan dua jaringan terpisah dari hubungan online dan off-line. Jenis saluran komunikasi Remaja yang digunakan sebagian besar tergantung pada kekuatan dan asal hubungan sosial di antara mereka. Mereka yang pertama kali bertemu tatap muka, yang tinggal di sekitar satu sama lain, dan yang merasa bahwa hubungan mereka kuat dan dapat dipercaya, lebih suka berkomunikasi secara langsung, tatap muka dan melalui telepon.


Budaya partisipatif

Internet telah menghancurkan batas-batas hierarkis tradisional antara produsen dan konsumen informasi. Saat ini, jutaan remaja berdua membaca dan menciptakan materi yang diposting di situs web yang terkait dengan topik-topik yang mereka minati. Untuk Jenkins (2006), jenis keterlibatan ini menyajikan contoh budaya partisipatif di mana kaum muda menjadi aktif terlibat dalam membangun ruang virtual mereka sendiri yang dapat mereka periksa secara kritis dari ruang orang dewasa yang sebenarnya. Peserta Jejaring Sosial juga menjadi produsen aktif media baru dan mendistribusikannya di Global Networked Publics "(Zemmels, 2012, hal. 17).

Dalam upaya menemukan tumpang tindih/koneksi antara budaya pemuda online dan offline, Wilson dan Atkinson (2005) menyelidiki bagaimana internet telah diintegrasikan ke dalam subkultur sehari-hari kaum muda Kanada. Setelah menganalisis dua kasus, 'rave' dan 'lurang', penulis menyimpulkan bahwa internet digunakan sebagai alat untuk menyatukan orang secara real time dan sebagai enabler dari ketahanan subkultural. Misalnya, musik memiliki peran ikatan yang kuat dalam komunitas pemuda; Ini berguna dalam memberikan identitas kelompok dan dalam mempromosikan gaya hidup yang berbeda. Ketersediaan berbagai format media, seperti file audio MP3 atau MPEG yang ditempatkan di situs web untuk unduhan gratis memainkan peran besar dalam hal ini. Berbagai kelompok sosial, diberi label secara resmi oleh budaya arus utama sebagai kesalahan, berhasil memenangkan ruang budaya, meskipun yang virtual. Wilson dan Atkinson menyimpulkan bahwa budaya remaja di zaman Internet dapat dilihat tidak hanya sebagai "lebih terfragmentasi, difus, dan neo-tribal daripada subkultur tradisional ... tetapi juga lebih kohesif dalam arti bahwa koneksi virtual dapat meningkatkan hubungan lokal "(Hlm. 305).

Namun, Lin et al. (2010) juga merujuk pada peneliti lain misalnya, Livingstone, Bober, & Helsper, (2004) yang mencatat bahwa remaja Inggris yang mereka pelajari memiliki sedikit minat pada keterlibatan politik di internet karena mereka berpikir bahwa politisi tidak akan mendengarkan ke mereka. Namun Livingstone, juga, menemukan bahwa 54% remaja telah mengunjungi situs amal, pemerintah, lingkungan, dan hak asasi manusia atau situs web untuk meningkatkan kondisi di sekolah atau bekerja.

Saat ini, kaum muda terlibat dalam kelompok internasional di mana mereka mendiskusikan dan mengatur peristiwa yang berkaitan dengan lingkungan (E.G., HAM BUMI) dan politik (E.G., Relay seumur hidup). Dengan kata lain, pemuda menyebarkan teknologi untuk menyebarkan pandangan politik dan sosial mereka, mempromosikan kesadaran lingkungan, dan mengumpulkan dana untuk penyebab atau amal favorit mereka (Maranton & Barton, 2010). Namun, karena Wilson dan Atkinson (2005) menunjukkan, berkonfrontasi dengan kekerasan antara individu dan kelompok di kacamata publik juga diatur terlebih dahulu melalui Internet. Juga, siswa yang dipengaruhi oleh keberadaan rekan sejawat sosial di sekolah mereka (mis., Geeks, jocks, fashionistas) dapat mengambil sikap eksklusif yang sama di Internet dan menolak menghubungkan dengan mereka yang memiliki kelompok mereka sendiri daripada mereka.


Solusi dan Rekomendasi

Apa pun yang kita katakan dan tulis tentang remaja dan kebiasaan mereka, konektivitas tetap menjadi kuncinya, yang telah memimpin beberapa penulis untuk memberi nama mereka generasi yang terhubung (Mason & Rennie, 2006). Generasi yang terlibat dalam spektrum lebar online kegiatan, termasuk membeli online. Sementara atribut positif dari konektivitas diakui dengan baik, penulis melihatnya juga sebagai jebakan, terutama bagi kaum muda; Pesan instan bisa menjadi pengalih perhatian, penggunaan ekstensif obrolan dan diskusi multiuser dapat dikaitkan dengan gangguan pencapaian akademik dan isolasi sosial, serta privasi dapat hilang melalui menyediakan akses ke data pribadi kepada penerima yang tidak diinginkan.

Memberikan solusi dan rekomendasi bermasalah, karena fenomena literasi digital berubah dengan cepat, sebagai TIK dan praktik yang mengelilingi mereka berubah. Davies dan Cranston (2008) mengusulkan menggunakan situs jejaring sosial sebagai alat untuk mendorong kaum muda menjadi lebih disosialisasikan dan untuk mempelajari sesuatu secara informal. Mereka mengakui, bagaimanapun, bahwa "sesuatu" yang dipelajari mungkin tidak diinginkan, mulai dari iklan komersial yang relatif jinak terhadap konten yang tidak berkontribusi pada perkembangan sosial dan kognitif yang sehat. Dengan demikian, kaum muda memerlukan dukungan dalam mengembangkan "keterampilan dan ketahanan yang sesuai untuk menavigasi risiko jejaring sosial online dan peluang" dan mengembangkan "pemahaman bersama pola perilaku online yang aman dan masuk akal". Saran ini melampaui pemblokiran sederhana situs jejaring sosial dan sebaliknya mendorong bekerja dengan kaum muda sebagai alternatif.


*Dosen UIN SMH Banten


 

Referensi


Afshar, M., Zeraati, M., & Damaliamiri, M. (2015). Youth and identity crisis in online technology.European Psychiatry, 30(1), 1299.

Aguiar, N. R., & Taylor, M. (2015). Childrens concepts of the social affordances of a virtual dog and a stuffed dog. Cognitive Development, 34, 16–27.

Beetham, H. (2010). Review and Scoping Study for a cross-JISC Learning and Digital Literacies Pro- gramme: Sept 2010. Bristol: JISC.

Beetham, H., McGill, L., & Littlejohn, A. (2009). Thriving in the 21st century: Learning literacies for the digital age (LLiDA project). The Caledonian Academy, Glasgow Caledonian University.

Ben-David Kolikant, Y. (2010). Digital natives, better learners? Students beliefs about how the Inter- net influenced their ability to learn. Computers in Human Behavior, 26(6), 1384–1391.

Borca, G., Bina, M., Keller, P. S., Gilbert, L. R., & Begotti, T. (2015). Internet use and developmental tasks: Adolescents point of view. Computers in Human Behavior, 52, 49–58.

Davies, T., & Cranston, P. (2008). Youth work and social networking: Final research report. Retrieved from http://blog.practicalparticipation.co.uk/wp-content/uploads/2009/08/fullYouth-Work-and-Social- Networking-Final-Report.pdf

Endah, T., Dimas, A., & Akmal, N. (2017). Kajian dampak penggunaan media sosial bagi anak dan remaja (Vol. 1, No. 1). Puskakom UI.

Fardiah, D. (2021). Anticipating Social Media Effect: Digital Literacy among Indonesian Adolescents. Educational Research (IJMCER)3(3), 206-218.

Harman, J. P., Hansen, C. E., Cochran, M. E., & Lindsey, C. R. (2005). Liar, liar: Internet faking but not frequency of use affects social skills, self-esteem, social anxiety, and aggression. Cyberpsychology & Behavior, 8(1), 1–6.

Henke, L., & Fontenot, G. (2007). Children and Internet use: Perceptions of advertising, privacy, and functional displacement. Journal of Business and Economics Research, 5(11), 59–66.

Hundley, H. L., & Shyles, L. (2010). US teenagers perceptions and awareness of digital technology: A focus group approach. New Media & Society, 12(3), 417–433.

Jenkins, H. (2006). Confronting the challenges of participatory culture: Media education for the 21st century. The John D. and Catherine T. MacArthur Foundation series on digital media and learning.

Lenhart, A., & Madden, M. (2007). Social networking websites and teens. Pew Research Center.

Lin, W.-Y., Cheong, P. H., Kim, Y.-C., & Jung, J.-Y. (2010). Becoming citizens: Youths civic uses of new media in five digital cities in East Asia. Journal of Adolescent Research, 25(6), 839–857.

Livingstone, S. (2008). Taking risky opportunities in youthful content creation: Teenagers use of so- cial networking sites for intimacy, privacy and self-expression. New Media & Society, 10(3), 393–411.

Livingstone, S., Bober, M., & Helsper, E. J. (2004). Active participation or just more information? Young peoples take up of opportunities to act and interact on the Internet. London: London School of Economics and Political Science.

Mahiri, J. (2004). New literacies in new century. In J. C. Mahiri (Ed.), What they dont learn in school: Literacies in the lives of urban youth. New York, NY: Peter Lang Publishing Inc.

Maranto, G., & Barton, M. (2010). Paradox and promise: MySpace, Facebook, and the sociopolitics of social networking in the writing classroom. Computers and Composition, 27(1), 36–47.

Martinovic, D., & Magliaro, J. (2007). Computer networks and globalization. Brock Education Journal., 16(2), 29–37.

Martinovic, D., Freiman, V., & Karadag, Z. (2011). Child and Youth Development beyond Age 6—Tran- sitions to Digitally Literate Adults. Unpublished report, Ministry of Child and Youth Services, Ontario, Canada.

Martinovic, D., Freiman, V., Lekule, C., & Yang, Y. (2014). Social Aspects of Digital Literacy. In The Third Edition of Encyclopedia of Information Science and Technology. IGI Global.

Marwick, A. E., Murgia-Diaz, D., & Palfrey, J. (2010). Youth, privacy and reputation: Literature review. The Berkman Center for Internet & Society Research Publication Series. Retrieved from http://ssrn. com/abstract=1588163

Mason, R., & Rennie, F. (2006). Elearning: The key concepts. Key Guides. Oxon, UK: Routledge. Media Awareness Network. (2001−2012). Young Canadians in a Wired World.

Mesch, G. S. (2009). Social context and communication channels choice among adolescents. Computers in Human Behavior, 25(1), 244–251.

Mitchell, K. J., Ybarra, M., & Finkelhor, D. (2007). The relative importance of online victimization in understanding depression, delinquency and substance use. Child Maltreatment, 12(4), 314–324.

Noveck, B. S. (2000). Paradoxical partners: Electronic communication and electronic democracy. In P. Ferdinand (Ed.), The Internet Democracy and Democratization (pp. 18–36). London, UK: Frank Cass.

Patton, D. U., Hong, J. S., Ranney, M., Patel, S., Kelley, C., Eschmann, R., & Washington, T. (2014). Social media as a vector for youth violence: A review of the literature. Computers in Human Behavior, 35, 548–553.

Seibel-Trainor, J. (2004). Critical cyberliteracy: Reading and writing the x-Files. In J. C. Mahiri (Ed.), What they dont learn in school: Literacies in the lives of urban youth. New York, NY: Peter Lang Publishing Inc.

Stout, H. (2010, Apr. 30). Antisocial networking? The New York Times, Fashion and Style.

Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2007). Internet communication and its relation to well-being: Identify- ing some underlying mechanisms. Media Psychology, 9(1), 43–58. doi:10.1080/15213260709336802

Valkenburg, P. M., Schouten, A. P., & Peter, J. (2005). Adolescents identity experiments on the Internet.New Media & Society, 7(3), 383–402.

Vodanovich, S., Shen, K., & Sundaram, D. (2015). Social competence of digital natives: Impact of Social Networking Sites (SNS) use. In AMCIS 2015 Proceedings (pp. 1–9). Association for Information Systems.

West, A., Lewis, J., & Currie, P. (2009). Students Facebook friends: Public and private spheres. Journal of Youth Studies, 12(6), 615–627.

Wilson, B., & Atkinson, M. (2005). Rave and Straightedge, the virtual and the real: Exploring online and offline experiences in Canadian youth subcultures. Youth & Society, 36(3), 276–311.

Wright, M. F. (2021). Cyberbullying: Definition, Behaviors, Correlates, and Adjustment Problems. In Encyclopedia of Information Science and Technology, Fifth Edition (pp. 356-373). IGI Global.

Xie, W. (2014). Social network site use, mobile personal talk and social capital among teenagers. Com- puters in Human Behavior, 41, 228–235.

Zemmels, D. R. (2012). Youth and new media: Studying identity and meaning in an evolving media environment. Communication Research Trends, 31(4), 4−22.

Gil de Zúñiga, H., Jung, N., & Valenzuela, S. (2012). Social media use for news and individuals' social capital, civic engagement and political participation. Journal of computer-mediated communication17(3), 319-336.


Share :