Semangat Literasi Untuk Mengentaskan Buta Aksara

Semangat Literasi Untuk Mengentaskan Buta Aksara

Semangat Literasi Untuk Mengentaskan Buta Aksara


Oleh : Asep Awaludin*


Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”, Milan Kundera


 Bulan September tepatnya pada tanggal 8 September Masyarakat dunia memperingati Hari Aksara Internasional (HAI). Peringatan hari aksara ini dimaksudkan agar masyarakat dunia menjadi melek aksara dan melek pengetahuan. Melek aksara kemudian menjadi salah satu hak asasi manusia yang disepakati oleh bangsa-bangsa  di dunia. Berangkat dari tujuan dasar itulah, pemerintah mengapresiasi seruan dari makna yang terkandung dalam Hari Aksara Internasional tersebut sebagai semangat tersendiri untuk membebaskan warganya agar terbebas dari buta huruf.

Semangat literasi adalah perjuangan yang sangat penting untuk digalakkan. Sebagai suatu bangsa, yang sudah menikmati kemerdekaan selama 76 tahun merupakan fenomena yang harus ditransformasikan. Membaca, menganalisis, mengkritisi, menulis, berdiskusi, dan meneliti, harus menjadi perjuangan kultural untuk membangkitkan Indonesia melalui perjuangan literasinya. Dengan kata lain, literasi harus menjadi tradisi, perilaku sehari-hari manusia Indonesia.

Literasi merupakan suatu hal yang begitu penting bagi perkembangan Indonesia di masa yang akan datang, apalagi literasi Bahasa dan Sastra Indonesia di era kemajuan revolusi industri seperti sekarang ini. Literasi menjadi penopang utama akan keberhasilan target yang sudah dicanangkan.  Namun, bagaimana target tersebut akan tercapai jika penghuni negara ini enggan untuk melaksanakan atau melakukan proses literasi. Di Indonesia memang bukan hal yang tabu lagi bahwa masih ada orang yang enggan melakukan proses literasi padahal dirinya ingin mencapai kesuksesan di era revolusi industri seperti sekarang ini.

Peran literasi sebagai penopang utama kemajuan umat manusia tersebut juga disitir oleh para pakar antropologi budaya. Mereka mengatakan bahwa budaya literasi merupakan sesuatu yang memegang peranan penting dalam kemajuan penghidupan dan ketinggian kebudayaan umat manusia. Oleh karena itu, untuk mengukur sejauh mana ketinggian peradaban suatu bangsa, kita dapat melihatnya dari sejauh mana bangsa tersebut pernah mengalami persentuhan dengan aktivitas literasi atau kegiatan baca tulisnya. Atau tegasnya, untuk melihat apakah bangsa itu telah memiliki peradaban yang tinggi, sedang, atau primitif. Kita dapat melihatnya dari aktivitas literasi (baca-tulis) yang dilakukan oleh bangsa tersebut. Semakin tinggi aktivitas literasi suatu bangsa maka secara hipotesis akan semakin tinggi pula tingkat peradaban bangsa tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah aktivitas literasinya maka akan semakin rendah pula tingkat peradaban mereka.

Sementara itu, konsep literasi menunjukan sebuah kegiatan yang mengacu pada kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi. Di Era milenial seperti sekarang mengajarkan kita mengerti dan memahami betapa pentingnya pemahaman terhadap berbagai hal. Tidak hanya dituntut supaya mengerti dan memahami dalam hal perekonomian dan industri namun, kita juga dituntut untuk mengerti dan memahami pentingnya membaca yang sering kita sebut dengan pemahaman literasi. Sudah kita ketahui bahwa literasi pada era sekarang sedang memiliki perhatian tersendiri.

Pemerintah Indonesia saat ini sedang mencanangkan betapa pentingnya literasi yang sangat berpengaruh kepada kemajuan setiap individu manusia untuk kemudian mampu juga berpengaruh terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Tentunya hal tersebut bukanlah pencanangan program yang biasa-biasa saja, melalui program ini pasti ada harapan yang sangat ingin dicapai. Pastinya akan menjadi berdosa ketika kita sebagai generasi penerus bangsa yang sudah mengetahui mengenai pentingnya proses literasi tetapi tidak melaksanakan program tersebut.

Mengapa literasi itu penting? Pemahaman seseorang sampai dengan orang tersebut dikatakan nalar bahkan mampu mengaplikasikan kenalarannya, semua itu pasti berawal dari proses literasi. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “Membaca atau buku adalah jendela dunia” maka sudah barang tentu bahwa proses literasi merupakan sesuatu yang begitu penting adanya. Melakukan proses literasi yang dikaitkan dengan minat dan bakat akan mendorong kemauan yang cukup besar bagi setiap individu untuk melakukan proses literasi sehingga bukan tidak mungkin akan tercapai target yang diimpi-impikan di era revolusi industri seperti sekarang ini. Langkah pengaitan literasi dengan minat dan bakat itu dilaksanakan sebagai pancingan awal agar orang tersebut lebih tertarik untuk melakukan proses literasi. Ketika sudah terbiasa tentunya pada saat nanti diarahkan supaya membaca dengan tema tertentu atau tema apapun akan tertarik dan mau karena sudah terbawa oleh kebiasaan dalam hidupnya melakukan proses literasi.


Upaya pengentasan Buta Aksara

 Rendahnya literasi membaca Indonesia itu bisa dikaitkan dengan angka buta huruf di Indonesia yang masih tinggi. Di era teknologi dan informasi yang masif seperti sekarang, tetap tidak menyingkirkan fakta bahwa jutaan penduduk Indonesia masih ada yang buta huruf. Menjadikan masyarakat agar melek aksara bukan hal mudah, ada sejumlah faktor yang ada sebagi penghambat bahkan melekat di hati masyarakat, faktor apa yang menjadi kendala masih banyaknya masyarakat yang mengalami buta huruf menjadi pertanyaan besar yang perlu diketahui akar persoalannya, padahal berbagai program pendidikan luar sekolah semakin digalakkan dimana-mana, serta berbagai alternatif kegiatan dilakukan dengan berbagai metode yang dilakukan untuk memberantas buta keasaraan yang terjadi di Indonesia, apakah program tersebut belum menyentuh kepada masyarakat, atau sudah dilakukan tapi belum maksimal dalam pelasanaannya, Keaksaraan Fungsional berfungsi mengembangkan kemampuan dasar manusia yang meliputi kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang bersifat fungsional dalam meningkatkan mutu dan taraf kehidupan dan masyarakatnya.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam memberantas buta aksara di Indonesia perlahan tapi pasti telah menunjukan hasil, dengan terus berkurangnya jumlah buta aksara yang sangat signifikan. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik pada tahun 2020 jumlah buta aksara di Indonesia tersisa 1,7 persen atau 3,2 juta  dari penduduk Indonesia yang berada didaerah terpencil dan sulit dijangkau. Selain itu pemerintah juga terus melakukan kegiatan gerakan literasi kepada mereka sehingga keaksaraan mereka terus berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya Pemerintah dalam menjalankan beragam program dan kegiatan untuk menuntaskan buta aksara patut kita apresiasi. Melalui berbagai penguatan program pendidikan keaksaraan dengan budaya, keterampilan, dan bahasa, angka buta aksara bisa terus dilakukan penekanan atau pengurangan. Kedepan kita berharap semangat literasi masyarakat Indonesia harus lebih digalakkan agar masyarakat Indonesia terbebas dari buta aksara.


*Pemustaka


Share :