Literasi Kebangsaan : Peran Aktif Generasi Muda Menjaga Identitas Bangsa

Literasi Kebangsaan : Peran Aktif Generasi Muda Menjaga Identitas Bangsa

Literasi Kebangsaan : Peran Aktif Generasi Muda Menjaga Identitas Bangsa

Gito Waluyo*


Diksi “radikalisme” sedang menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini. Ada sebagian pihak melontarkan asumsi pentingnya penanggulangan radikalisme, menganggap hanya sebagai isu tematik yang sengaja dimainkan  dan sebagian lainnya menganggap radikalisme adalah penyakit yang harus diobati. 

Terlepas dari asumsi berbagai pihak, yang jelas radikalisme pasti bisa muncul kapan saja dan di manapun tempatnya. Di sinilah sebenarnya kita harus selalu waspada.

Kasak-kusuk yang sedang trending memang tidak berlebihan mengingat jika kita semua mau menengok kebelakang, amat banyak aksi dari para teroris yang tidak hanya membuat resah masyarakat, lebih dari itu banyak korban-korban berjatuhan. Di samping perlunya memberantas aksi teror, kita juga harus mengakui masih memiliki sebuah problem yang bernama intoleransi.

Menganggap sepele problem “intoleransi” dan “radikalisme” sama dengan perlahan membiarkan lepasnya ikatan keberagaman. Lepasnya ikatan keberagaman menandai keteruraian sebuah bangsa. Dalam kondisi demikian sebuah bangsa berada di ambang pintu perpecahan dan kehancuran. Toleransilah yang harus diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Toleransi memang mudah dikatakan tapi sangat sulit diimplementasikan. Namun, jika dengan keinginan kuat, tidak ada yang tidak mungkin.

Toleransi menuntut untuk selalu terbuka dalam melihat sebuah perbedaan sebagai keragaman, sehingga dampak atas  kesadaran itu adalah timbulnya sikap menghormati dan menghargai terhadap sesama anak bangsa.

Praktek toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara tidak langsung akan menjadi tatanan yang damai dan harmoni, menumbuhkan sikap menghargai dan menghormati orang lain tanpa harus saling menyalahkan dan saling memusuhi.

Banyaknya perbedaan sudut pandang dan latar belakang bangsa Indonesia menghasilkan sebuah pedoman yang unik dan hanya Indonesia yang memilikinya, yaitu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Singkatnya, Pancasila (panca berarti lima, sila berarti dasar) jika disatukan Pancasila memiliki 5 sila dan Bhinneka Tunggal Ika seperti yang tertulis d iambang Burung Garuda yang dituangkan dalam makna, “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Sebagai Warga Negara Indonesia, kita dituntut bukan hanya sekedar tahu tentang Pancasila, namun juga memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bersama melawan propaganda paham organisasi radikal dengan literasi nilai-nilai Pancasila.

Pancasila adalah dasar negara dan jangan sampai hanya menjadi hafalan saja, karena mengimpelentasikan tiap silanya bisa melancarkan hidup sehari-hari. Dengan menguatkan Pancasila dan nasionalisme, maka bisa menangkal ideologi asing seperti radikalisme yang berbahaya.

Tanggal 1 Juni adalah hari kesaktian Pancasila tetapi sudahkah kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Atau jangan-jangan, Pancasila hanya menjadi hiasan di dinding yang dilihat dan dihafalkan semata. Mengimplemetasikan Pancasila adalah kewajiban bagi tiap warga negara Indonesia.

Pancasila juga untuk menangkal ideologi asing. Mengapa harus asing? Karena sejak era reformasi, terjadi luberan arus informasi via internet, dan ideologi asing bisa dengan bebas mempengaruhi masyarakat, khususnya generasi muda. Tidak semua hal-hal yang berbau asing baik, misalnya radikalisme, ekstrimisme, dll.

Pemahaman dan pengamalan Pancasila perlu dilakukan ke seluruh lapisan masyarakat, untuk mencegah masuknya ideologi asing yang negatif. Dalam artian, ketika warga sipil mencintai Pancasila, mereka tak akan mudah terseret arus negatif dari ideologi asing.

Implementasi Pancasila bisa dilakukan mulai dari rumah hingga sekolah, karena rumah adalah tempat pendidikan pertama bagi anak-anak, dan generasi muda perlu diajari untuk mencintai Pancasila agar menjadi warga negara yang baik. Misalnya ibu mengajari anak-anak untuk taat kepada Tuhan YME dengan rajin berdoa dan beribadah, dalam mempraktekkan sila pertama Pancasila.

Hal ini juga dilanjutkan di sekolah, misalnya saat pulang dan sudah masuk waktu ibadah, maka tidak langsung keluar dari area sekolah. Melainkan mencari rumah ibadah dulu untuk beribadah kepada-Nya.

Jika sila pertama diimplementasikan maka ideologi asing seperti radikalisme akan bisa ditangani, karena mereka tidak mengajarkan welas-asih. Padahal Tuhan Maha Penyayang dan tidak memperbolehkan adanya pengrusakan di fasilitas umum, dan membunuh sesama manusia dengan cara apapun.

Sila kedua Pancasila yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Anak diajari untuk memilik rasa sensitif dan empati kepada sesama, dan adil pada semua orang. Sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh ideologi radikalisme, yang sering tidak adil pada orang dengan keyakinan lain, karena dianggap sebagai musuh. Selama ini radikalisme telah mencederai Pancasila.

Sila ketiga Pancasila yakni persatuan Indonesia, implemetasinya dengan cara mengajari anak bahwa rakyat Indonesia kompak dan bersatu untuk melawan radikalisme. Jika ada kelompok separatis dan teroris, maka akan dilawan oleh semua rakyat. Jika semua masyarakat bersatu, maka teroris akan kalah.

Sedangkan sila keempat Pancasila adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Implementasinya adalah dengan permusyawaratan jika ada sesuatu, dan tidak memaksakan pendapat pada orang lain. Jika anak sejak kecil paham akan hal ini, ia akan terhindar dari sifat otoriter.

Anak akan paham bahwa pemaksaan pendapat adalah hal yang salah, dan kelompok radikal yang sering ngotot untuk membenarkan pendapatnya. Karena Indonesia adalah negara yang majemuk dan tidak cocok dengan sistem dan ideologi asing ini yang merusak.

Sila kelima Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoensia. Anak akan belajar bahwa tiap warga negara bisa menuntut keadilan sosial dan menghormati hak orang lain. Mereka akan paham bahwa ideologi asing yakni radikalisme salah, karena tidak menghormati hak umat dengan keyakinan lain di Indonesia.

Dengan mengimplementasikan Pancasila maka seluruh warga Negara akan terhindar dari pencemaran ideologi asing, terutama radikalisme, ekstrimisme, terorisme, dan separatisme. Kita wajib mengajarkan Pancasila terutama ke anak-anak.

*Penulsi adalah Pekerja Seni dan Penulis Lepas lokal Banten


Share :