SHOLAWAT SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DI BANTEN

SHOLAWAT SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DI BANTEN

SHOLAWAT SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DI BANTEN


Penulis: Muhammad Fahri*


Jika kita mendengar kata Banten, yang ada di fikiran kita adalah daerah yang pekat dengan ilmu magis, bela diri dan jawara. Tambah lagi banyak orang luar Banten yang mempelajari ilmu magis, dan orang tersebut mengklaim bahwa ilmu yang dia miliki berasal dari Banten. Peristiwa tersebut menjadikan citra Banten lebih tajam perihal ilmu magis.

Selain ilmu magis dan pencak silat, Banten juga kaya dengan budaya sholawatan. Nenek moyang terdahulu berhasil mengkolaborasikan bahasa Arab dengan bahasa Jawa Banten (Bebasan), bahasa Arab dengan Sunda, menjadi bentuk sholawatan.

Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud RI, berkembangnya kebudayaan Islam di Nusantara menambah khasanah budaya nasional, memberikan dan menentukan corak pada kebudayaan bangsa Indonesia.

Perkembangan budaya Islam tidak menggantikan atau memusnahkan kebudayaan yang sudah ada di Indonesia. Karena kebudayaan yang berkembang di nusantara sudah begitu kuat di lingkungan masyarakat. Sehingga terjadi akuturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang sudah ada.

Akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Menurut Merriam Webster Dictionary, akulturasi adalah penggabungan budaya sebagai hasil dari kontak yang berkepanjangan.

Dilansir dari Kompas.com, Hasil proses akulturasi antar kebudayaan masa pra-Islam dengan massa Islam masuk berbentuk fisik kebendaan (seni bangunan, seni ukir atau pahat dan karya sastra) serta pola hidup dan kebudayaan non fisik. Bentuk lain akulturasi kebudayaan pra-Islam dan kebudayaan Islam adalah upacara kelahiran, perkawinan, kematian, selametan pada waktu tertentu. Misal selametan 10 Muharam, maca syekh bulan Sapar, maulid Nabi atau memperingati kelahiran Nabi Muhammad, Nyadran untuk menghormati para leluhur atau sanak keluarga yang sudah meninggal.

Sebagai umat Islam maka harus mendialogkan antara budaya dengan Islam. Ajaran-ajaran Islam yang diyakini oleh umat Islam mengandung nilai-nilai Islam yang memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kebudayaan Islam. Kebudayaan Islam selalu berkaitan dengan nilai-nilai Ilahiyah yang bersumber dari ajaran kitab Al-Quran dan Hadits.

Pada tulisan ini penulis akan menyinggung tentang budaya sholawat yang saya temukan di Kabupaten Serang, Banten. Serta penggunaan sholawat pada kegiatan budaya lain.

Banyaknya macam-macam sholawat sekarang merupakan hasil kecerdasan nenek moyang kita membuat lirik sholawat. Ada kalimat sholawat yang dipadukan dengan bahasa Jawa, sholawat yang dipadukan dengan bahasa Sunda, ada juga yang menggunakan bahasa Jawa-Sunda dalam satu rangkaian sholawat. Kalimat sholawat inilah yang biasanya dilantunkan menjelang adzan maghrib, isya dan subuh.

Seiring perkembangan zaman, di Banten kalimat sholawat menjadi unsur “wajib” dibaca sebelum melaksanakan kegiatan kesenian, yang kita temui sholawat menjadi unsur wajib sebelum memulai kegiatan adalah pencak silat dan kesenian Debus.

Sholawat bentuk jamak dari kata salla atau salat yang berarti doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah.

Arti bersholawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika sholawat itu datangnya dari Allah SWT. berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan sholawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah SWT. memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya.

Sholawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan sholawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt., serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw., bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik sholawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).

Pada kesempatan ini, penulis memiliki tujuan, diantaranya : Pertama, ingin menjaga warisan budaya nenek moyang kita, supaya tidak lebur oleh perkembangan zaman. Jika dilihat, masyarakat sekarang lebih menikmati canggihnya teknologi ketimbang belajar budaya-budaya tradisional. Kedua, penting untuk generasi muda memiliki keinginan mewarisi budaya lokal, khususnya yang ada di masing-masing daerah, lebih luas budaya Nusantara.

Beberapa alasan di atas merupakan bentuk ke khawatiran saya tentang kebudayaan yang ada di Banten. Sampai saat ini, yang mewarisi budaya tersebut adalah generasi 80-90 an. Di khawatirkan jika mereka meninggal dunia, warisan budaya tersebut lebur begitu saja tidak terwarisi, baik sisi keturunan maupun tulisan.

Beberapa bentuk sholawat yang saya temukan di Banten:

Dikentongi di adzani ora teka (dikentongin di adzanin tidak datang)

Iku wong bakal cilaka (Orang itu akan celaka)

Dikentongi di adzani ora teka (dikentongin di adzanin tidak datang)

Iku wong bakal cilaka (Orang itu akan celaka)

Sugih sawah sugih mobil (Kaya sawah kaya mobil)

lamun mati tunggangane katil (kalau meninggal/mati kendaraannya katil)

Harta benda ore ngintil (Harta benda tidak ikut)

Sing ngintil amal secuil (Yang ikut amal sedikit)

(Jamhari, 59 Tahun, Desa Sujung, Tirtayasa, Serang-Banten)

Sholawat yang tertulis di atas memiliki maksud bahwa umat Islam harus mendirikan shalat. Dunia adalah alam fana. Walaupun banyak sawah, banyak mobil, ketika meninggal dunia, harta duniawi tidak bisa di bawa ke alm kubur maupun akhirat. Ke alam kubur naik katil/keranda mayat, bukan mobil. Dan yang di bawa ke akhirat bukan sawah, tapi amalan kita selama di dunia.

Bapak Ibu katuran sholat (Bapak ibu ayo sholat)

Limang waktu napik telat (Lima waktu jangan telat)

lamun telat siksane berat (kalau telat siksanya berat)

kisuk ning alam akherat (Besok di alam akhirat)

Sholat boten ngaji boten (Sholat tidak ngaji tidak)

Pahalane boten wenten (Pahalanya tidak ada)

lamun boten sholat siksane berat (Kalau tidak sholat siksanya berat)

kisuk ning alam akherat (Besok di alam akhirat)

Sholawat nabi gonah sekabeh umat (Shalawat nabi untuk semua umat)

Umat islam aje tinggal sholat (Umat islam jangan tinggal sholat)

Tinggal sholat siksane berat (Tinggal sholat siksanya berat)

Kisuk ning alam akhirat (Besok di alam akhirat)

(Jamhari, 59 Tahun, Desa Sujung, Tirtayasa, Serang-Banten)

Sholawat ini memiliki maksud yang sama seperti sholawat sebelumnya, yaitu memberitahu kepada umat bahwa shalat adalah kewajiban seorang muslim.

Sholawat dari bahasa Sunda:

Eling-eling umat (Sadarlah Umat)

Muslimin muslimat (Muslimin Muslimat)

Hayu urang berjama’ah shalat estu kawajiban (Ayo kita shalat berjamaah untuk untuk kewajiban)

Urang keur hirup di dunya (Saya lagi hidup di dunia)

Kanggo pibeukeuleun Urang jaga di akherat (Buat pembekalan saya di akherat)

dua puluh tujuh ganjaran nu berjama’ah (27 ganjaran buat yang berjamaah)

lamun sorangan hiji ge mun bener fatihah (kalau shalat munfarid, pahalanya satu, kalau fatihahnya benar)

(Romlah, 65 Tahun, Desa Sujung, Tirtayasa, Serang-Banten)

Sholawat ini memiliki maksud, ajakan umat Islam untuk shalat berjamaah. Menyampaikan pesan, bahwa shalat berjamaah itu pahalanya lebih besar dari pada shalat munfarid (sendiri). Selain itu, masih banyak lagi jenis sholawat, baik dari bahasa Jawa, Sunda, campuran bahasa Jawa-Arab, bahasa Sunda-Arab, maupun sholawat Badar, Nariyah yang di ubah cengkoknya.

Banten sudah melewati berbagai fase sejarah. Seperti masa Pra-Sejarah, masa Hindu Budha, masa kolonial, masa kesultanan, masa kemerdekaan, masa Banten jadi Provinsi, sampai saat ini. Tapi masyarakat Banten tidak menghapus budaya nenek moyang terdahulu. Di masa kesultanan Banten misalnya, masyarakat Banten tidak menghilangkan budaya Hindu Budha, tapi mencoba memodifikasi budaya tersebut ke arah yang lebih Islami atau tahuid.

Begitulah masyarakat Banten mengubah keyakinan melalui budaya. Strategi tersebut sering kita dengar di masa sejarah Wali Songo menyebarkan syariat Islam di Nusantara. Wajar saja, karena Maulana Hasanudin, banyak belajar strategi dakwah dari ayahnya, yaitu Syarif Hidayatullah atau biasa disebut Sunan Gunung Djati.

Semoga generasi muda sekarang senantiasa mewarisi warisan budaya dan kearifan lokal nenek moyang kita, khususnya di Banten. Jika individu mengakui budaya daerahnya, maka akan menjadi kekayaan untuk daerah tersebut. Jika suatu daerah menjaga budaya daerahnya, maka akan menjadi kekayaan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.


 *Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta Periode 2021-2022

Share :