PEGIAT LITERASI YANG DIBENCI TUHAN


PEGIAT LITERASI YANG DIBENCI TUHAN

Oleh Atih Ardiansyah*

Di tengah hiruk pikuk gerakan literasi dan heroisme pegiatnya, terlebih ditunjang oleh masifnya teknologi informasi, (pegiat) literasi diandaikan sebuah gerakan yang sudah mapan. Mapan karena selain menjadi gerakan, ia merupakan isu yang seksi. Kekurangan yang ada pun seolah-olah bisa dimaklumi. Siapa Anda berani mengkritik aksi dan gerakan yang pendanaannya keluar dari kantong pribadi? Siapa Anda yang berani menggugat, menyalahkan, dan nyinyir pada penggerak literasi yang sudah berkorban banyak demi pendidikan yang masih jauh dari kata “adil” di negeri ini? Sebagai yang menaruh perhatian yang, meskipun tidak penuh pada gerakan ini, saya pun barangkali akan terusik kalau ada orang atau sekelompok orang yang meremehkan gerakan ini.

Akan tetapi, sebuah gerakan yang kebal kritik saya kira juga kurang baik. Sesuatu yang antikritik itu biasanya adalah sesuatu yang dimitoskan, dikeramatkan. Anggaplah ini sebuah otokritik. Semata-mata demi kemajuan gerakan literasi dan kebaikan para pegiat literasi yang selama bekerja tanpa pamrih. Tulisan ini berangkat dari sebuah itikad baik, mengajak kita semua untuk berintrospeksi.

Allah Swt berfirman dalam surat Shaff ayat 2 dan 3, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Dalam asbabunnuzul diterangkan bahwa ayat di atas berkenaan dengan orang-orang yang berkata-kata tentang perang namun tidak melakukannya. Kemudian, sebagaimana diriwayatkan at Tirmidzi dan al hakim, yang bersumber dari Abdullah bin Salam, pula diriwayatkan Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas, ayat 3 merupakan lanjutan dari ayat 1-2 pada surat yang sama. Kala itu, para sahabat Rasulullah Saw sedang bermudzakarah, di antara mereka ada yang berseru: “Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih dicintai Allah, pasti kami akan mengerjakannya.” Ayat ini pun turun sebagai tuntunan yang berkenaan dengan amal yang diridhai Allah Swt, yaitu berkorban mempertahankan dan mengamalkan agama.

Poinnya adalah dalam konteks apapun, kita hampir tidak menyukai ucapan yang tak sesuai dengan realita, begitupun Tuhan. Dalam konteks gerakan literasi, ulasan ringkas di atas bisa dipertemukan dengan sebuah narasi yang seharusnya membuat kita merenung: “Saya sering melihat para aktivis literasi mengampanyekan untuk membaca, tetapi dirinya tidak membaca.”

Kalimat tersebut milik Iqbal Dawami, seorang penulis produktif asal Banten yang menetap di Pati, Jawa Tengah, dalam bukunya Pseudo-literasi: Menyingkap Sisi Lain Dunia Literasi  (Penerbit Maghza, 2017). Pada tulisan terdahulu, sempat dimuat di Harian Radar Banten, saya sempat mewakili keresahan Iqbal Dawami dengan menyodorkan gugatan: Bagaimana mungkin kampanye membaca dan menulis dilakukan oleh orang yang tidak membaca dan menulis? Atau setidaknya, yang tidak menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian tak terpisahkan dari kesehariannya? Ini sesuatu yang amat ironis!

Di balik gegap-gempita gerakan literasi, memang ada celah yang bisa dimainkan oleh para pegiat literasi palsu, atau kata Iqbal Dawami, pseudo-literasi. Pelaku pseudo-literasi ini, atau saya menyebutnya sebagai pegiat literasi yang dibenci Tuhan ini, menyebar di segala aspek. Dari pelaku sampai pembuat kebijakan di bidang literasi. Oknumnya.

Selama ini, mengutip AS. Laksana, gerakan literasi tak jauh beda dengan perayaan tujuh belas agustusan. Pesannya hanya “kami telah menjalankan anjuran untuk memasyarakatkan budaya membaca” (Dawami, 2017:44). Sekadar menjalankan anjuran, bukan “kami telah dan akan terus melakukan dan menerapkan budaya literasi dalam kehidupan kami sehari-hari, seraya memasyarakatkan budaya membaca.”

Kita kerap menjumpai para pegiat literasi yang memamerkan kegiatan di Taman Bacaan Masyarakat miliknya di media sosial. Mereka memamerkan foto-foto kegiatan di Facebook, Twitter, Instagram maupun di grup Whatsapp yang menampilkan anak-anak yang sedang membaca buku atau menampilkan pose salam literasi (ibu jari dan telunjuk diacungkan membentuk huruf L). Bahkan pada level yang lebih parah, yang dipamerkan itu bukan anak-anak melainkan dirinya sendiri. Lalu dengan semena-mena, pegiat itu mengklaim gerakan literasinya telah berhasil, atau menunjukkan bahwa dirinya peduli gerakan literasi, atau yang sejenis dengan impresi demikian. Sementara diri mereka sendiri, amat jarang kita temukan melaporkan aktivitas literasi berupa laporan hasil baca dan yang semacamnya yang memungkinkan hal tersebut diteladani para pegiat literasi yang lainnya (Ardiansyah, Gerakan Literasi Berbasis Keteladanan, Radar Banten, 2017).

Ucapan atau foto atau video yang tidak sesuai realita itu pun terjadi pada program-program yang digalakan oleh institusi formal. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) misalnya. Para siswa diwajibkan membaca minimal 15 menit setiap sebelum memulai pelajaran, tetapi para guru, kepala sekolah dan segenap unsur sekolah tidak memberlakukan hal yang serupa. Merangkak ke atas, kita akan menemukan kejanggalan lagi. Di kementrian, dinas pendidikan, dinas perpustakaan, pengurus Forum TBM, sudahkah literasi menjadi tradisi, manunggal ke dalam diri? Jika belum, berarti gerakan yang sejauh ini sudah dilakukan merupakan gerakan yang tidak begitu penting dan kurang bermanfaat sehingga logika yang terbangun mungkin seperti ini: membaca dan menulis penting bagi orang lain tetapi tidak bagi saya (Dawami, 2017:39-45).

Terjebak dalam gerakan literasi yang sifatnya seremonial, mungkin sudah biasa. Akan tetapi, bila kita merenungkan Quran surat Shaff ayat 2-3, jangan-jangan kita ini tergolong para pegiat literasi yang dibenci oleh Tuhan. Naudzubillah.

*Penulis, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNMA Banten


Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan