BUDAYA BACA : Tantangan dan Harapan


BUDAYA BACA : Tantangan dan Harapan

Oleh : IMAN SUKWANA

Pustakawan BPAD Provinsi Banten

 

Pendahuluan

Membaca adalah kunci bagi upaya memajukan bangsa. Dengan membaca berarti orang memberikan “nutrisi” bagi otak. Berbagai informasi, termasuk ilmu pengetahuan akan diserap dan diolah melalui proses membaca. Dari membaca itulah kualitas sumber daya manusia akan meningkat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa membaca merupakan kunci bagi kemajuan bangsa.

Bagi masyarakat yang berbudaya akademik, membaca merupakan dahaga yang tidak pernah ada ujungnya. Semakin banyak membaca maka akan semakin mendorong rasa ingin tahu dalam dirinya, sehingga tidak ada waktu luang yang terbuang dalam kehidupannya. Pemandangan semacam itu barangkali dapat dilihat dari tayangan media massa khususnya televisi. Betapa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, Eropa, membaca sudah merupakan bagian dari kehidupan mereka. Tidak pandang strata sosial, profesi, usia, ruang dan waktu. Mereka senantiasa akrab dengan buku. Sambil menunggu bis atau kereta mereka asyik membaca buku, bukan mengobrol. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan di Indonesia. Jangankan di terminal bis atau di stasiun kereta, di perpustakaan pun sepi pengunjung. Kantin menjadi tempat favorit mereka untuk mengobrol atau asyik bercanda dengan handphone mereka. Tidak sebatas perpustakaan sekolah, di kampus-kampus pun lebih banyak mahasiswa yang lebih suka mengobrol di kantin daripada membaca. Apalagi masyarakat awam. Hal ini diperparah dengan serbuan teknologi komunikasi, khususnya handphone. Ketidaksiapan masyarakat kita, termasuk masyarakat terpelajar, berkembangnya teknologi ini menjadikan munculnya culture shock atau keterkejutan budaya dikalangan masyarakat Indonesia. Apalagi dengan kehadiran facebook dan twiter. Pemandangan yang dapat disaksikan sehari-hari adalah bahwa generasi muda kita seperti mabuk teknologi informasi. Toffler mengatakan bahwa perubahan glogal memiliki dampak luas bukan sekadar liberalisasi perdagangan tetapi juga berbagai tata kehidupan serta terobosan-terobosan di bidang teknologi canggih.

Dalam proses belajar mengajar, antara guru, siswa, dan buku merupakan komponen yang tidak terpisahkan. Untuk menstranfer ilmu pengetahuan guru harus membaca. Untuk meningkatkan pengetahuan murid juga harus membaca. Jadi membaca merupakan ruh dalam proses belajar mengajar. Lebih dari itu pendidikan bukan sekadar mengasah kemampuan intelektual tetapi juga bertujuan untuk menciptakan manusia yang dapat memahami jati dirinya sendiri.

 

Aspek Budaya

Sebenarnya apabila dikatakan budaya baca masyarakat Indonesia rendah bisa jadi merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa. Dalam kehidupan sehari-hari masih dapat kita jumpai pengemudi becak, supir angkot atau profesi lain yang tidak termasuk kumunitas masyarakat intelektual begitu bernafsu  terhadap bahan bacaan. Sering kita jumpai pengemudi becak yang menemukan sobekan koran tidak serta merta mereka membuangnya tetapi akan dinikmatinya terlebih dahulu. Tidak sedikit pula dari kalangan ini yang membeli koran untuk mengisi waktu luang mereka sembari menunggu penumpang.

Apabila indikator budaya membaca adalah minat membaca koran, maka tidak dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya membaca. Permasalahannya barangkali tidak dapat digambarkan sesederhana itu. Akan tetapi sejauh mana kemauan membaca tersebut mampu mendorong terwujudnya kualitas sumber daya manusia. Bagaimanakah golongan terpelajar sebagai kalangan yang diidam-idamkan sebagai agen perubahan memiliki kebiasaan membaca.

Kebiasaan bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba, demikian pula dengan membaca. Membaca bukan suatu yang menyangkut aspek vokasi sementara. Kebiasaan membaca juga tidak bisa ditumbuhkan secara instan, karema kebiasaan membaca menyangkut perilaku seseorang. Dalam teori prilaku, kebiasaan dapat ditumbuhkan kalau dilakukan secara terus menerus tetapi juga diperlukan pemaksaan, dalam artian hal ini diperlukan penekanan pada seseorang agar melakukan kegiatan membaca, sehingga terbentuk kebiasaan membaca.

Kebiasaan membaca tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakatnya. Artinya, untuk menumbuhkan budaya membaca juga tidak lepas dari aspek yang menyangkut budaya. seperti telah kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia cenderung memiliki budaya lisan dibanding dengan budaya menulis, banyaknya seni pertunjukan rakyat yang diwariskan secara lisan adalah contoh kuatnya budaya lisan, demikian juga budaya yang berkembang di masyarakat sehari-hari. Masyarakat pedesaan dengan kultur petani tradisional memiliki kebiasaan sanja atau ngerumpi sambil mencari kutu bagi sebagaian kaum perempuan untuk mengisi waktu luang mereka. Atau tradisi orang tua dulu yang mempunyai kebiasaan mendongeng sebelum tidur, walaupun cerita yang disampaikan hanya berkisar pengulangan belaka. Lonjakan perubahan budaya masyarakat yang seharusnya dari lisan kemudian ke tulisan lalu membaca, diperparah dengan keadaan perkembangan teknologi komunikasi yang dahsyat. Masyarakat cenderung mengambil alih teknologi terlebih dahulu ketimbang membaca. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat membaca apalagi menumbuhkan budaya membaca, selain membutuhkan waktu yang panjang juga dibutuhkan sentuhan yang bernuansa budaya dalam artian yang lebih luas.

Secara teoritis, merubah perilaku bukan persoalan mudah, apalagi yang menyangkut persoalan sistem nilai. Budaya membaca lebih terkait pada pembiasaan. Merubah perilaku yang tidak terkait dengan nilai, memiliki kemungkinan untuk diubah dibanding dengan budaya yang menyangkut nilai. Untuk menumbuhkan budaya membaca perlu merubah pola pikir masyarakat. Artinya masyarakat perlu ditanamkan secara terus menerus arti penting dan keuntungan membaca.

Dapat ditarik suatu pengertian bahwa secara kultural bangsa Indonesia adalah masyarakat yang lebih cenderung  memiliki budaya melihat dan bicara dibanding budaya atau kebiasaan membaca. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki minat yang tinggi untuk melihat sesuatu.

 

Keterbatasan Fasilitas

Barangkali keterbatasan fasilitas merupakan permasalahan klasik. Akan tetapi hal tersebut merupakan fakta yang tak terbantahkan. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan makro dalam pelaksanaan pembangunan. Konsep pertumbuhan ekonomi yang sejak masa orde baru menjadi tema besar pembangunan nasional sehingga membawa konsekuensi yang bersifat ekonomis juga. Dalam artian ini dapat dikatakan juga bahwa faktor material menjadi ukuran dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Akibatnya, sesuatu yang tidak memberikan keuntungan ekonomis secara langsung cenderung tidak terprioritaskan.

                        Dalam proses pembangunan harus diakui kemajuan fisik melesat secara spektakuler. Program pembangunan yang bernuansa ekonomis memperoleh porsi yang cukup menguntungkan. Sementara sektor yang tidak memberi keuntungan secara langsung cenderung kurang diperhatikan. Bidang perpustakaan, sekalipun diakui sebagai kunci dalam proses pembentukan dan pengembangan SDM tetapi tidak memperoleh porsi sebanding dengan sektor ekonomis. Akibatnya pemenuhan kebutuhan kepustakawanan relatif banyak menemui hambatan. Bahan pustaka, ruang baca, dan fasilitas lainnya jauh dari memadai. Kemauan masyarakat untuk  membaca buku barangkali tidak diimbangi dengan kemampuan untuk membeli buku. Sisi lain lembaga publik di bidang perpustakaan pun belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.

 

Perkembangan Teknologi Informasi

Masyarakat moderen sebagai produk globalisasi dan revolusi teknologi informasi memunculkan berbagai masalah sosial. Pengaruh kehidupan moderen, arus informasi maupun semakin membudayanya nilai sosial mempengaruhi tingkat perkembangan, perilaku, dan permasalahan yang  dihadapi anak. Media masa, khususnya televisi merupakan biang keladi yang paling handal untuk mempengaruhi perilaku anak. Fenomena tersebut merupakan trend yang tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi informasi juga berdampak pada sikap dan perilaku siswa SD. Tidak sedikit dari mereka yang sudah menggunakan teknologi informasi baik berupa handphone, facebook, twiter maupun internet. Tidak jarang kondisi ini menimbulkan efek negatif bagi mereka.

Kehadiran teknologi informasi semestinya disikapi secara proporsional. Sikap gagap teknologi adalah suatu yang tidak boleh terjadi, tetapi sikap kaget akan memalukan dan merugikan. Kecenderungan yang terjadi pada generasi muda pada umumnya saat ini adalah hanya mampu menggunakan teknologi komunikasi bukan memanfaatkannya. Istilah menggunakan lebih memberikan kesan netral yang belum tentu memiliki nilai positif, tetapi istilah memanfaatkan lebih memiliki nuansa positif.

 

Beberapa Alternatif

Pertama perubahan budaya, Apabila faktor budaya menjadi penghalang bagi pengembangan minat dan budaya baca, maka harus diupayakan juga dengan melakukan perubahan budaya. Hal ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah upaya penyesuaian terhadap nilai-nilai yang baru bukan hal yang sederhana, akan tetapi hal ini bukan sesuatu yang tidak dapat diupayakan. Diperlukan waktu dan ketekunan untuk mencapainya. Demikian halnya dengan perubahan budaya yang telah berakar di masyarakat. Merubah budaya dari mendengar kemudian melihat ke budaya membaca menjadi suatu hal yang teramat sulit, diperparah pula dengan semakin maraknya fasilitas untuk memanjakan mata melalui layar televisi dan internet, hal yang paling memungkinkan adalah melalui pendidikan. Sudah seharusnya sejak mereka mengenyam pendidikan dasar (SD/TK) anak harus dikenalkan dan dibiasakan dengan budaya membaca. Dengan demikian ketika mereka menginjak tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi tidak merasa kaget dan kesulitan untuk mencari bahan informasi dengan membaca.

Kedua lingkungan kondusif, Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui lembaga pembina di bidang perpustakaan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Bantuan buku, lomba di bidang perpustakaan, layanan perpustakaan keliling, sampai bimbingan teknis pengelolaan perpustakaan adalah bentuk dari upaya menumbuhkan minat baca. Akan tetapi secara hakiki hal tersebut lebih cenderung sebagai aspek penunjang. Pembiasaan untuk membaca merupakan langkah yang lebih mendasar.

Menumbuhkan kebiasaan membaca pada masyarakat bukan menyangkut perkara yang mudah, diperlukan perangkat dan strategi yang tepat untuk melakukannya. Apalagi bagi masyarakat yang telah memiliki budaya mapan yang tidak seiring dengan budaya membaca.

Oleh karena itu upaya menumbuhkan minat baca, atau bahkan budaya baca, lebih tepat diarahkan pada anak-anak, namun hal ini juga tergantung pada lingkungannya. Dimana mereka tiinggal, strata sosial masyarakat seperti apa, dan yang paling menentukan adalah partidsipasi orang tua mengkondisikan kegiatan membaca di rumah. Orang tua jangan hanya memberikan arahan atau omongan. Dia memerintahkan pada anaknya untuk membaca sementara dia asik menonton televisi. Maka perlu ditanamkan pada anak-anak seberapa besar manfaat dan keuntungan dari membaca untuk kehidupan mereka dimasa datang.

Ketiga pembinaan minat baca, Pembinaan untuk menumbuhkan budaya baca bagi masyarakat, terutama usia dini perlu dilakukan secara integral. Lembaga yang berwenang dibidang ini adalah perpustakaan, sekolah dan lingkungan keluarga harus memiliki visi yang sama dalam menumbuhkan budaya membaca. Secara formal lembaga perpustakaan harus merumuskan program untuk menggalakan budaya memebaca. Disamping itu sekolah juga harus merespon dan secara proaktif menciptakan kondisi yang memungkinkan nagi siswanya untuk menikmati buku di sekolah. Selain itu, dorongan orang tua, baik secara moral, material dan penciptaan kondisi di rumah menjadi sisi penting yang tidak dapat diabaikan. Disisi lain pihak yang terkait juga harus memperbanyak buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Keempat pemenuhan fasilitas Komponen terpenting dalam menumbuhkan minat baca adalah buku atau bahan pustaka lainnya. Oleh karena itu ketersediaannya harus mempertimbangkan usia dan kehidupan sosial masyarakat yang dilayani perpustakaan. Selain bahan pustaka, fasilitas perpustakaan juga harus memenuhi standar minimal. Ketika orang datang mengunjungi perpustakaan, kesan pertama yang dia rasakan adalah kenyamanan, kemudian ketika menelusur bahan informasi, pengunjung akan mendapatkannya secara cepat dan tepat. Apalagi, perkembangan teknologi pada saat ini sudah memungkinkan perpustakaan memiki fasilitas-fasilitas yang menggunakan teknologi. Dengan demikian harus ada kebijakan dari pimpinan lembaga, mau dibawa kemanakah perpustakaan ini, apakah masih menganut konsep konvensional ataukah menggunakan teknologi yang ada.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sekarang ini tidak perlu disikapi dengan keterkejutan. Plus minus dampak dari perkembangan ini tentu akan ada, namun kita harus bijak mensikapinya, memberikan filter, agar hal-hal yang bersifat negatif bisa dihindari.

Penutup

Menumbuhkan minat baca bukan sekedar persoalan teknis tetapi lebih merupakan persoalan budaya yang terkait dengan  perilaku masyarakat. Upaya menumbuhkan minat dan budaya baca harus ditumbuhkan sejak usia dini. Faktor lingkungan, khusunya keluarga, menjadi salah satu penentu keberhasilan upaya ini. Oleh karena itu, keluarga mesti menciptakan suasana agar anak-anak mereka yang masih usia dini dibiasakan dengan budaya membaca. Hal ini tidak bisa dilakukan secara instans tetapi harus dilakukan secara terus menerus dan memerlukan waktu relatif panjang.

Merubah pola pikir masyarakat merupakan langkah yang harus dilakukan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca. Selain hal yang sifatnya teknis, membidik anak usia dini merupakan hal yang lebih strategis untuk mewujudkan masyarakat pembelajar (learning society). Diperlukan keterpaduan dan kesungguhan dari berbagai pihak untuk sebuah cita-cita besar, bangsa yang memiliki kualitas handal. Selain itu pula harus diyakinkan bahwa membaca merupakan awal dari sebuah cita-cita.

Terhadap teknologi informasi harus dilakukan upaya yang lebih maksimal untuk merubah penggunaan menjadi pemanfaatan. Upaya ini dapat ditempuh dengan pengenalan secara dini teknologi informasi dengan segala aspeknya secara kontekstual. Penggunaan teknologi di perpustakaan adalah untuk menunjang pelayanan maksimal kepada masyarakat, ketika mereka membutuhkan atau mencari informasi, dapat di akses secara cepat, tepat dan akurat.

Bahan Bacaan :

1.      Blasius Sudarsono, Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto, 2006.

2.      Fahim Musthafa, Agar Anak Anda Gemar Membaca. Bandung : Hikmah, 2005.

3.      Ibnu Hasan Najafi & Mohamed A. Khalfan, Pendidikan & Psikologi Anak. Jakarta : Cahaya, 2006.


Tentang Kami


Statistik Kunjungan