PERAN PERPUSTAKAAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN


PERAN PERPUSTAKAAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Oleh Asep Awaludin*

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi di satu sisi banyak memberikan kemudahan bagi aktifitas kehidupan manusia, tetapi di sisi lain membawa dampak dan permasalahannya sendiri. Informasi dengan berbagai bentuknya yang dulu merupakan barang mahal dan susah diperoleh, sekarang dengan mudah dan murah hampir semua orang memiliki dan menggunakannya. Bahkan informasi tersebut mampu menerobos ke kamar tidur tanpa kita kehendaki. Keadaan ini cenderung terus meningkat pada waktu yang akan datang.

Sebagian masyarakat kita, memang belum siap. Seakan kita dipaksa memasuki era informasi. Dan situasi ini jelas banyak berpengaruh pada proses dan praktek pendidikan. Pendidikan dan pembelajaran tidak mungkin terus dipertahankan bentuknya dengan cara-cara model lama. Informasi itu ada dan jelas akan ada dimana-mana. Pendidikan dan pembelajaran semakin tidak mungkin lagi untuk dibatasi terjadi hanya di dalam ruang kelas.  Yang berlangsung satu arah dari guru ke siswa. Para siswa ini harus aktif mendapatkan informasi sebanyak mungkin untuk mendukung keilmuannya, sementara guru lebih banyak memberi arahan, contoh dan motivasi.

Tuntutan akan keluwesan dan kelonggaran waktu dan tempat belajar semakin memberikan inovasi yang pada saatnya belajar itu tidak terbatas pada ruang dan waktu. Dan sumber-sumber belajar yang semakin beraneka ragam perlu diidentifikasi, disediakan, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk memudahkan terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran. Dari proses ini siswa menjadi memiliki kekuatan untuk berinformasi.

Berinformasi adalah proses aktif, memelukan pencapaian pengetahuan dari beragam sumber dan tidak hanya sekedar menerima secara pasif dan mengulang fakta saja, maka peran guru bergeser dari pemberi pengetahuan menjadi lebih berperan sebagai pembimbing. Para pengelola perpustakaan/pustakawan sekolah berkolaborasi dengan guru dan lainnya untuk mengembangkan cara dengan melibatkan siswa agar tidak hanya menggunakan bahan ajar saja, tetapi menggunakan sumber informasi lain yang tersebar di masyarakat. Guru harus mengarahkan siswanya untuk menjadi pemikir kritis, pengamat, pencipta, dan pengguna informasi yang memiliki sifat keingintahuan intelektual. Tujuannya adalah menciptakan siswa belajar mendapatkan informasi secara mandiri. Salah satu sarana yang menunjang keberinformasian dalam dunia pendidikan adalah perpustakaan.

Perpustakaan menempati posisi sentral dalam dunia pendidikan karena perpustakaan memiliki komponen penting dalam mengemban tugas dan mendukung lembaga induknya dalam mencapai tujuan. Beberapa indikator peran perpustakaan sebagaimana dijelaskan dalam  Rangking of the best college libraries (Testiani Makmur. 2015) adalah :

1. Services and  colection. Layanan perpustakaan berarti penyediaan informasi di perpustakaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka. Semakin beragam pemustaka yang dilayani, maka akan semakin beragam pula koleksi bahan informasi yang dimiliki perpustakaan. Layanan perpustakaan harus dilaksanakan secara transparan, akuntabilitas, kondisional, partisipatif, kesamaan hak dan kewajiban. Sementara koleksi perpustakaan ditujukan untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan, menciptakan kemandirian siswa dalam memperoleh berbagai sumber informasi yang dibutuhkan, menciptakan sikap demokratis para siswa dengan menghargai perbedaan dan pendapat dan juga sebagai tempat rekreasi ilmiah.

2. Accessibility. Semua fasilitas yang tersedia di perpustakaan adalah ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada pemustaka. Untuk kemudahan mendapatkan informasi yang ada, maka tersedia berbagai akses bagi pemustaka yang sudah mengenal baik dengan teknologi informasi maupun bagi mereka yang belum mengerti. Kemudahan akses ini tidak membuat para pemustaka merasa bingung dan canggung ketika mereka berada di dalam gedung perpustakaan.

3. Variety of literary offerings. Ragam bahan informasi harus tersedia di perpustakaan. Karena kebutuhan informasi setiap individu tidak sama. Dengan demikian perpustakaan harus selalu mengupayakan ketersediaan koleksi bahan informasi secara berkelanjutan dan terprogram. Termasuk menyediakan layanan internet secara cuma-cuma dengan tetap ada kontrol dari petugas perpustakaan/pustakawan.

4. Comfort and availability of reading/studying spaces. Masyarakat yang mengunjungi perpustakaan selain mencari informasi yang dibutuhkan, ia juga mencari kenyamanan. Nyaman mencari informasi dan nyaman menikmati suasana perpustakaan. Tempat yang sejuk, terhindar dari kebisingan sehingga perpustakaan dijadikan sebagai tempat belajar atau mencari informasi yang menyenangkan.

5. User satisfaction. Prioritas utama adalah mengidentifikasi keinginan, kebutuhan, dan harapan pemustaka. Setelah itu membuat rancangan sistem yang berkelanjutan. Masyarakat yang menggunakan perpustakaan merasa terpuaskan dengan layanan yang diberikan. Terlebih lagi informasi-informasi yang tersedia dapat memenuhi kebutuhannya.

Pusat Sumber Belajar

Sebagaimana disebutkan dalam UU No. 43/2007 tentang Perpustakaan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dengan demikian perpustakaan memiliki peran dan fungsi yang vital dalam dunia pendidikan yang menunjang para siswa untuk melakukan penelitian dan rujukan informasi.

Perpustakaan sebagai lembaga yang mengelola sumber informasi semestinya menduduki posisi kunci dalam proses pendidikan. Namun kenyataannya masih jauh dari harapan. Sebenarnya, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, berkembang pula konsep perpustakaan. Perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan menyediakan berbagai informasi, fasilitas dan akses yang mudah bagi pemustakanya. Dengan visi kedepan bahwa perpustakaan menjadi pusat sumber belajar sebenarnya.

Perkembangan konsep pusat sumber belajar adalah perpaduan antara fungsi perpustakaan dan pusat multi media untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Timbulnya konsep ini adalah adanya pengakuan atas pentingnya pelayanan dan kegiatan belajar nontradisional. Pelayanan belajar yang menekankan pada kegiatan belajar mandiri dan tidak banyak bergantung pada orang lain.

Pusat kegiatan belajar bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar mengajar melalui pengembangan instruksional yang sistematis dan berkelanjutan yang membantu para guru merencanakan kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar memungkinkan kepada para siswa untuk memperoleh sumber informasi pelajaran bukan hanya dari satu sumber saja yaitu guru, akan tetapi dari berbagai sumber literatur yang melimpah di perpustakaan. Dan perpustakaan berkembang sebagai pusat kegiatan belajar tidak akan terlepas dari dukungan berbagai pihak terkait dan kebijakan yang diterapkan oleh manajemen sekolah. Semoga.

*Pemustaka

Sumber Tulisan

  1. E. Koswara (ed). 1998. Dinamika Informasi dalam Era Global. Bandung : Remaja Rosda Karya.
  2. Testiani Makmur. 2015. Budaya Kerja Pustakawan di Era Digitalisasi. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan