• Monday, 21 October 2019
  • Belajar Membaca dari Orang Kaya Dunia Dan Implementasi Membaca Dikalangan Pelajar Indonesia


    Belajar Membaca dari Orang Kaya Dunia

    Dan Implementasi Membaca  Dikalangan Pelajar Indonesia

    Oleh: Rahmat Heldy Hs )**

    Persoalan terbesar bangsa ini dalam lingkup pendidikan adalah masih rendahnya minat baca dikalangan pelajar. Padahal kita mengetahui bahwa bangsa kita akan mendapatkan bonus demografi, yaitu membludaknya usia angkatan muda pada beberapa tahun mendatang. Usia angkatan muda saat ini, jika tidak dibekali dengan kekuatan membaca, maka akan menjadi bencana bagi bangsa Indonesia. Pengangguran dimana-mana akan menimbulkan gejala penyakit social, disebabkan lemahnya penguasaan informasi dan skill untuk bekerja. Dampak terbesarnya berimplikasi pada beban negara. Maka idealnya membaca harus mampu meningkatkan taraf kehidupan ekonomi, daya kritis, budaya kerja dan budaya mutu dalam bidang hasil produk masyarakat. Sayangnya kesadaran budaya baca ini masih jauh dari harapan.

    Kekhawatiran tentang rendahnya minat baca dapat kita lihat pada hasil laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievermen), di Asia Timur menunjukkan bahwa tingkat terendah membaca anak-anak dipegang oleh negara Indonesia. Kajian PIRLS (Progress International Reading Literacy Study) yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yang disponsori oleh IEA ini menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia. Kajian PIRLS ini menempatkan siswa Indonesia kelas IV Sekolah Dasar pada tingkat terendah di kawasan Asia. Indonesia mendapat skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Bukan itu saja, kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, yaitu 30 persen saja dari materi bacaan karena mereka mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal bacaan yang memerlukan pemahaman dan penalaran. Studi internasional mengenai literasi membaca yang dilakukan OECD (Organization or Economic Co-operation Development) bisa dijadikan cermin peta kemampuan literasi siswa Indonesia dibandingkan siswa lain seusia mereka di tataran internasional. OECD sendiri mencoba memetakan profil literasi membaca siswa dalam ruang lingkup internasional melalui kajian PISA (Programme for International Student Assessment). PISA adalah studi literasi yang bertujuan untuk meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun (kelas III SMP dan kelas I SMA) dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics literacy), dan sains (scientific literacy). Studi PISA melaporkan bahwa 25% – 34% dari siswa Indonesia masuk dalam tingkat literasi-1. Artinya, sebagian besar siswa kita masih memiliki kemampuan membaca pada taraf ‘belajar membaca’. Siswa pada tingkat literasi-1 hanya mampu untuk membaca teks yang paling sederhana, seperti menemukan informasi dalam bacaan sederhana, mengidentifikasi tema utama suatu teks atau menghubungkan informasi sederhana dengan pengetahuan sehari-hari. Sedangkan untuk taraf tingkat literasi-5, kurang dari 1% siswa Indonesia berada pada taraf tertinggi dari studi PISA ini. Artinya, hanya sedikit dari siswa kita memiliki kemampuan membaca yang canggih, seperti menemukan informasi yang rumit dalam teks  yang  tidak  dikenal  sebelumnya. Data lain juga menyebutkan hal yang sama. Pada dokumen UNDP dalam Human Development Report 2000 melaporkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen, sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat umumnya sudah mencapai 99,0 persen. Dengan kondisi seperti itu, tidak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti. Sumber:  Penelitian Sri Wahyuni (2009), Menumbuhkembangkan Minat Baca Menuju Masyarakat Literat.  Lalu bagaimana kondisi terkini minat baca masyarakat Indonesia? Dari hasil survei  Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2015 menunjukan bahwa Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, sebanyak 91,47% anak usia dini lebih suka menonton televisi dan 13,11% yang suka membaca, lihat data membaca pada buku panduan Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (gernasbaku) tahun 2018. Dari data-data di atas keprihatinan kita saat ini cukup beralasan bahwa, ketertinggalan kita saat ini, berbanding lurus dengan rendahnya membaca bangsa kita.

    Belajar dari Orang Kaya Di Dunia Tentang Membaca

    Perlu kiranya untuk meningkatkan motivasi membaca bagi kita yaitu dengan melihat bagaimana orang-orang kaya di dunia menempatkan bacaan di dalam kehidupan mereka. Agar pandangan skeptis masyarakat, bahwa membaca adalah buang-buang waktu dan tak ada guna, sindiran orang yang membaca adalah mereka orang yang tak punya pekerjaan dan menganggur. Bisa dijawab dengan data, dari sumber //www.rumahawan.com/orang-sukses-dan-kebiasaan-membaca-mereka dapatlah kita temukan jawabannya, diantaranya; pertama, Warren Edward Buffet. Dia salah satu orang terkaya di dunia berasal dari Amerika Serikat. Hal yang mendukung kesuksesannya adalah kebiasaan membaca. Chairman dan CEO Berkshire Hathaway ini mengatakan bahwa rahasia orang sukses berpikir cerdas dan mengambil keputusan tepat adalah membaca 500 halaman buku setiap hari. Sebanyak 80% waktunya di kantor dihabiskannya dengan membaca laporan, sementara di rumah, Buffet membaca koran dan buku-buku. Untuk mengawali hari, Warren Buffett membaca berbagai berita lokal dan nasional, semacam Wall Street Journal, Financial Times, New York Times, USA Today, Omaha World-Herald dan American Banker. Buffet melakukan ini agar dirinya selalu bisa mengikuti perkembangan dunia bisnis yang terjadi. Dari sinilah biasanya dia bisa membuat perencanaan bisnis yang lebih matang lagi. Buffet juga dikenal sebagai seorang pebisnis yang mahir membaca situasi pasar sehingga dapat membuat keputusan yang hampir selalu tepat. Kebiasaan Warren Buffet ini membuatnya berhasil menjadi raja bisnis di kancah dunia. Kedua, Bill Gates. Sempat menjadi orang terkaya di dunia, juga merupakan sosok bos Microsoft yang juga mencapai kesuksesan dengan memiliki kebiasaan membaca. Dahulu Gates membaca untuk mendalami ilmu komputer yang disukainya. Bill Gates menyatakan bahwa dirinya harus dipaksa untuk menuntaskan satu buku setiap minggunya. Pria ini membaca berbagai buku ekonomi yang dianggap berguna untuk menambah insight-nya sebagai seorang pebisnis. Selain itu, ia membaca aneka surat kabar untuk mengikuti perkembangan bisnis dunia terkini, yaitu Wall Street Journal, New York Times, dan Economist secara jeli. Gates memberikan pernyataan dalam buku karangannya, Road to Success, tentang membaca, “have such a sense of curiousity about the world helps anyone to succeed, no matter what job they choose”.  Yang jika diartikan (Memiliki Rasa ingin tahu tentang dunia  membantu siapa pun untuk berhasil, tidak peduli pekerjaan apa yang mereka pilih). Ketiga, Carlos Slim Helu pria kelahiran Meksiko 1940,  pernah dinobatkan orang terkaya di dunia 3 tahun berturut-turut. Carlos adalah seorang pengusaha, sebagai seorang CEO perusahaan bidang telekomunikasi Teléfonos de MéxicoTelcel, dan América Móvil. Hampir sama dengan kebiasaan orang sukses lainnya, Carlos juga memiliki kebiasaan membaca sejak muda. Kebiasaan ini memperluas wawasan dan pengetahuannya terutama dalam bidang bisnis. Pengetahuan luas ini, dimanfaatkannya untuk mengelola bisnis, saham, serta keuangannya, hasilnya, tiap tahun kekayaan Carlos bertambah secara signifikan pula. Keempat,  Elon Musk Pria kelahiran Afrika Selatan termasuk  orang yang meraih kesuksesan diusia muda. Elon Musk seorang pria kelahiran tahun 1971 yang sukses dengan proyek awal pribadinya  Zip2,  perusahaan perangkat lunak web.  Pria cerdas ini merupakan CEO sekaligus pendiri SpaceX, CEO Tesla Motors dan salah satu pendiri PayPal. Musk memiliki kebiasaan membaca sejak kecil, yaitu mampu menghabiskan waktu 5 jam per hari untuk membaca. Kebiasaan ini masih dilakukannya hingga sekarang, sehingga mampu membuatnya menjadi seorang jenius dan berwawasan luas. Sang ibu, Maye Musk, mengatakan bahwa Musk dulu suka membaca komik super hero dan buku J.R.R Tolkien. Menurut Forbes, rak buku milik Musk bagaikan perpustakaan besar di rumahnya. Namun saat ini Musk lebih memilih untuk membaca buku melalui iPhone miliknya. Musk juga dilaporkan tidak lagi membaca karya fiksi, dan cenderung membaca buku non-fiksi. Dari catatan keempat tokoh dunia baik dari segi kekaryaan dan kekayaannya ternyata kita mengetahui bahwa semuanya tidak bisa dilepaskan dari kekuatan membaca.

    Maka kesimpulannya, jika kita tidak memulai bersemangat membaca dari hari ini, kita akan sangat jauh ketinggalan, sebab mereka yang sukses adalah mereka yang “gila” dengan bacaan.

    Implementasi Membaca  Dikalangan Pelajar

    Hal yang paling memungkinkan untuk meningkatkan budaya baca bagi bangsa adalah adanya budaya baca yang kuat dikalangan pelajar, mulai dari PAUD dengan program Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (gernasbaku), lalu ada gerakan literasi sekolah (GLS) yaitu suatu upaya memberikan kesempatan membaca bagi siswa selama lima belas sampai dua puluh menit di sekolah. Umumnya dilakukan dipagi hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar dan masih banyak lagi program lain yang perlu digagas. Tetapi gerakan-gerakan semacam ini masih nampak tidak berdiri tegak, umumnya ramai diadakan jika ada himbauan dari atasan, atau ramai dan gencar jika aka ada pemeriksaan dan kunjungan. Selebihnya, berjalan apa adanya. Jika kenyataannya seperti  ini,  maka perlu kiranya ada kegiatan-kegiatan lain yang dapat diimplementasikan oleh sekolah untuk meningkatkan minat baca pelajar. Harus ada hal serupa yang saling berkesinambungan. Jika minat baca dikaitkan dengan implementasinya di sekolah, maka pernyataan Usman dalam bukunya yang berjudul Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum (2002:70), mengatakan, “Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.” Nah, persoalannya ketika gerakan literasi sekolah diadakan, pada umumnya sekolah hanya berujung pada membaca, ketika jam waktu membaca habis, maka bacaan disimpan. Kegiatan selesai hanya disitu, pada akhirnya siswa bosan dan membaca tidak lagi menarik kemauan siswa.

    Berdasarkan catatan mulai lunturnya daya baca dan kurangnya perencanaan dalam implementasi budaya baca siswa. Kiranya sepuluh cara membangkitkan minat baca disekolah perlu dicoba. Pertama, sekolah bekerjasama dengan orang tua untuk memantau bacaan buku para siswanya di rumah.  Hal ini keberlanjutan dari Gerakan Literasi Sekolah,  kalau di sekolah ada bimbingan guru dan sudah berjalan, maka perlu untuk menggandeng orangtua di rumah.  Fungsinya untuk membatasi siswa bermain di jalanan atau mengunakan gawai berlebihan. Adapun format pemantauan bisa disesuaikan dengan kebutuhan, bahan bacaan juga bisa pinjam lewat perpustakaan, hasil akhirnya kembali pada guru yang melakukan penilian. Kedua, hari kunjung perpustakaan. Saya kira banyak sekolah yang belum tahu tentang hari-hari penting tentang membaca. Padahal jika kita memprogramkan kegiatan membaca di luar sekolah manfaatnya sangat besar. Kita tahu bahwa 14 September Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca pencanangannya dimulai sejak tahun 1995 oleh Presiden Soeharto, tujuannya untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang tergolong masih rendah. Jika tempat wisata jauh dan dananya cukup besar. Bolehlah hadir dan bawa anak-anak ke acara Hari Kunjung Perpustakaan, karena perpustakaan kabupaten dan kota juga bahkan provinsi pasti mengadakannya.  Biasanya ada banyak lomba, pameran buku, temu penulis, penerbit, doorprize buku,  bahkan juga bedah buku.  Bahkan kalau ada siswa yang punya karya juga bisa obrolkan dengan penerbit. Ketiga, program kunjungan hari buku sedunia, 23 April Hari Perayan Buku Sedunia yang ditetapkan UNESCO (Penerbit, penulis, hak cipta berkumpul diacara ini.  Anak-anak akan merasa bosan berlama-lama belajar di kelas.  Hari buku sedunia menjadi alternatif untuk wisata buku. Mereka akan bertemu dengan pengarang, penerbit, dan acara bedah buku. Perlu dicoba. Jadi, tour wisata tidak melulu soal keindahan pantai, gunung dan laut. Hal semacam ini juga akan membuat siswa sangat termotivasi karena akan bertemu dengan penulis idola mereka. Keempat, mengikutkan siswa untuk kunjungan IBF. Ada satu lagi kegiatan yang cukup spektakuler, yakni  mengikutkan siswa untuk kunjungan IBF (Islamic  Book Fair)  yang dilakasanakan pada bulan April setiap tahunnya, tahun ini dilaksanakan pada tanggal 18-22 April yang bertempat di JCC (Jakarta Convention Center), Senayan-Jakarta.  Ini didominasi buku-buku Islam. Ajak semua siswa, ramaikan, siswa beri tugas dari hasil kunjungan tersebut.  Kasih rumus 5 W + I H. Umumkan di hari senin siapa yang membuat laporan/beritanya bagus untuk motivasi siswa yang menang dan juga yang belum menang. Kelima, Ada IIBF (Indonesia Internasional Book Fair). Tahun 2018  IIBF dilaksanakan pada tanggal 12-16 September di di JCC (Jakarta Convention Center, Senayan-Jakarta Pusat selama 5 hari.    Jika IBF belum bisa hadir, ini ada kegiatan yang lebih bagus lagi IIBF (Indonesia Internasional Book Fair). Ajak dan bawa, kalau di IBF adalah siswa,  di IIBF gantian gurunya. Karena meningkatkan mutu membaca tidak hanya siswa, guru juga penting sebagai leader membaca di sekolah. Keenam,  peringatan bulan bahasa. Setiap bulan oktober ada kegiatan bulan bahasa, yaitu kegiatan yang berlangsung dibulan oktober untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda hendaknya sekolah meramaikannya dengan kegiatan yang meningkatan budaya baca / mengikutsertakan siswanya dalam even lomba di berbagai kampus dan juga lembaga lain. Jika ikut lomba, ajari anak untuk memiliki mental juara. Jika jadi pelaksana kegiatan, ajari siswa untuk menjadi organisator yang baik. Kasih buku yang berisi tentang keorganisasian dan kepemimpinan. Bahkan beri juga buku tentang surat menyurat dan proposal. Kelak ketika mereka lulus dan terjun ke masyarakat mereka bisa mengaplikasikannya ketika masyarakat membangun masjid, jalan, jembatan dan kegiatan sosial lainnya untuk membuat proposal dan surat menyurat.  Ketujuh, bimbingan siswa pada ekskul jurnalistik dan sastra. Mengadakan ekskul jurnalistik dan sastra di sekolah. Akan lebih memantapakan implementasi membaca bagi para pelajar.  Bisa dilaksanakan setiap pekan atau bimbingan layaknya seperti bimbingan skripsi. Setiap ada karya dan waktu longgar. Bisa dari guru selaku pembimbingnya, sesekali mengundang tamu dari luar.   Pastikan setiap bimbingan ada kualitas bacaan dan juga kekaryaan. Kedelapan, mengunjungi perusahaan  koran atau perusahaan penerbitan. Mengunjungi perusahaan  koran atau perusahaan penerbitan merupakan salah satu alternatif. Siswa akan tahu bagaimana cara mencetak koran, mulai dari penulisan berita, editing, pemilihan gambar, layout,  pendistribusian sampai koran itu berada di tangan pembaca.  Bila perlu kita juga minta pelatihan jurnalistik langsung oleh wartawannya. Sampai pada kaidah dan kode etik jurnalistik.  Pasti siswa akan antusias. Kesembilan, praktik mengirimkan karya ke media masa dibimbing oleh gurunya.  Praktik mengirimkan karya ke media masa adalah puncak dari kegiatan ekskul. Ada sensasi luar biasa ketika siswa  mengirimkannya, ketika karya sudah dikirim ada proses melatih kesabaran, melatih berdoa, melatih ketabahan. Semua itu perlu proses saat-saat menunggu tulisan dimuat.  Jika karya dimuat beri ucapan selamat pada upacara bendera dan karyanya pajang di mading. Siswa akan senang dan akan banyak siswa lain yang akan ikut bergabung belajar membaca dan menulis.  Terakhir kesepuluh, lomba membaca bagi siswa. Perlu dicoba, selama ini lomba-lomba bahasa berkutat pada pidato, debat bahasa, membaca puisi, menulis cerpen dan menulis puisi. Tetapi lomba membaca sangat jarang dilakukan.  Padahal sederhana, sediakan stopwatch,  kemudian teks atau wacana, soal pertanyaan, lalu pakai rumus Kecepatan efektif Membaca (KEM). Usai membaca siswa diminta menjawab soal yang jawabannya benar, maka dialah yang menjadi juara.   Sementara rumus KEM nya sendiri adalah jumlah kata yang dibaca dibagi dengan jumlah waktu untuk membaca. Setelah diketahui hasilnya lalu disusul dengan beberapa pertanyaan.

    Demikianlah sepuluh cara untuk meningkatkan minat baca dikalangan pelajar,   perlu dicoba dan diimplementasikan di sekolah. Buat rancangan programnya agar semua kegiatan bisa tercapai dengan baik.  Semoga dengan sepuluh cara tadi, ikhtiar kita membangun mutu dan budaya baca, bangsa kita bisa tegak berdiri  dan mampu sejajar dengan bangsa lain di dunia. Barangkali penting juga saya tuliskan quote di sini “Buku akan mengantarkanmu menuju telaga dan membaca adalah perahu untuk mengantarkannya.” Semoga! ***

    **Penulis Buku. memiliki nama asli Rahmat, M.Pd.

    Email: sastra_waringin@yahoo.co.id  dan Instagram: rahmat_heldy


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan