POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL DI PROVINSI BANTEN


POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL DI PROVINSI BANTEN

 

Ditulis oleh :

Nurhayati, S.Pt., MP*)

 

PENDAHULUAN

Pakan merupakan komponen utama dalam suatu usaha peternakan karena pakan merupakan kebutuhan mutlak ternak untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Ketersediaan pakan baik secara kuantitas maupun kualitas merupakan faktor dominan yang mempengaruhi produktivitas ternak. Keterbatasan ketersediaan pakan merupakan penyebab utama sulitnya pengembangan skala usaha dan kepemilikan ternak serta menjadi pembatas perkembangan ternak. Penyediaan pakan yang berkualitas juga semakin sulit dilakukan oleh peternak karena harga pakan semakin mahal dan sulit untuk diperoleh.  Dengan pola pemeliharaan yang masih tradisional peternak biasanya hanya memberikan pakan seadanya tanpa mengetahui berapa kebutuhan dan pasokan pakan yang harus diberikan, dengan cara ini umumnya pakan yang diberikan tidak mampu mencukupi kebutuhan ternak untuk tumbuh dan berproduksi. Dengan tidak tercukupinya kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan akan berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan ternak sehingga menyebabkan pertambahan bobot badan harian menjadi lambat dan kinerja reproduksi rendah.  

Untuk memperoleh hasil yang optimal diperlukan pakan yang seimbang. Diperlukan penyusunan ransum yang murah, bahan yang mudah didapat, disukai ternak, dan tersedia secara terus-menerus. Untuk itu peternak perlu mengetahui potensi bahan pakan lokal yang ada di sekitarnya.

 

POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL

Bahan pakan lokal merupakan bahan pakan yang berasal dari Indonesia (bukan impor), biasanya merupakan hasil pertanian atau merupakan limbah pertanian atau hasil samping dari agro industri yang mempunyai peluang untuk dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak.  

Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pemanfaatan bahan pakan lokal dan hasil samping pertanian adalah :

  • ketersediaan,    
  • kontinuitas pengadaan, 
  • kandungan gizi, 
  • kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau   zat anti nutrisi (phytat, tanin, gosipol , sianida, dll), 
  • serta perlu tidaknya bahan  diolah sebelum digunakan,
  • Selain itu permasalahan dalam pemanfaatan limbah pertanian adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi (mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin), yang sangat sukar dicerna oleh ternak ruminansia.

Bahan pakan yang digunakan sebagai pakan ternak sebaiknya :

1.    mudah didapatkan,

2.    tersedia sepanjang musim, dan

3.    harganya terjangkau.

Namun, segi kualitas harus juga benar-benar diperhatikan. Hindari mendapatkan bahan yang murah tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga produktivitas ternak akan menurun.

Strategi penyediaan  pakan ternak :

  • Identifikasi jenis pakan ternak yang ada disekitar lokasi usaha.
  • Ketahui kandungan nutrisi dari jenis pakan ternak tersebut.
  • Pilihlah jenis pakan yang terjangkau secara ekonomis dan tersedia terus menerus (kontinyu).

Pengetahuan tentang bahan pakan ternak sangat penting , sehingga peternak mampu memilih bahan pakan yang tepat sesuai dengan tujuan penggunaannya, mampu mengantisipasi penggunaan pakan yang mengandung anti nutrisi, mampu memanfaatkan pakan lokal dengan mengantisipasi kelemahan dan kelebihannya.  

Berikut ini disampaikan beberapa contoh jenis bahan pakan lokal.

 

Tabel 1. Contoh Jenis-Jenis Bahan Baku Pakan dari Limbah Pertanian, Perkebunan,

               Perikanan, Peternakan dan  Limbah Agroindustri

 

Kelompok Bahan

Nama bahan Baku

Limbah Pertanian dan Perkebunan

Pucuk tebu

Kulit kedelai

 

Jerami kacang kedelai

Jerami kacang tanah

 

Klobot jagung

Kulit coklat

 

Kulit singkong

Jerami padi

 

Kulit kopi

Pelepah sawit

 

 

 

Limbah agroindustri

Ampas tahu

 

 

Dedak padi

 

 

Ampas kecap

 

 

Bungkil sawit

 

 

Bungkil kopra

 

Limbah Perikanan dan Peternakan

Kulit & Kepala Udang

Limbah Industri Fillet Ikan

Bulu Unggas

Kulit Telor

Limbah Rumah Potong Hewan (RPH)

Tulang

Darah

 

 

Pada prinsipnya bahan pakan ternak di bagi menjadi  :

  • Berdasarkan kandungan serat kasarnya :
  • Konsentart (penguat).
  • Hijauan pakan ternak.
  • Berdasarkan kandungan nutrisinya :
  • Sumber energi. Misalnya dedak, ubi kayu, kulit singkong, jagung.
  • Sumber protein. Misalnya sumber protein yang berasal dari tanaman (bungkil kedelai, daun kacang tanah, daun kedelai, daun singkong, lamtoro, daun ubi rambat, daun kacang hijau, bungkil kelapa) dan sumber protein hewani (tepung darah, tepung bulu, tepung ikan).
  • Sumber mineral. Misalnya tepung tulang, kapur, kerang dan garam.
  • Sumber vitamin. Misalnya ragi dan minyak ikan. hijauan kacang-kacangan, tauge
  • Berdasarkan penggunaannya :
  • Pakan konvensional. Misalnya bungkil kedelai, dedak
  • Pakan non konvensional. Misalnya ampas nenas dan isi rumen.

 

Berikut disampaikan kandungan nutrisi dari beberapa sumber bahan pakan lokal .

 

Tabel 2. Produksi dan Kandungan Nutrisi Beberapa Rumput

Jenis Rumput

Produksi (ton/ha/th)

Protein kasar

Lemak

Abu

Ca

P

R. Raja

700

13.5

3.5

18.6

0.37

0.35

R. Gajah cv. Hawaii

525

12.3

2.4

10.1

0.24

0.39

R. Gajah cv. Afrika

376

13.5

3.4

15.8

0.31

0.37

 

Tabel 3.  Produksi dan Kandungan Nutrisi Beberapa Leguminosa

Nama Leguminosa

Produksi

Protein

Kasar

Energi

Kasar

Lemak

Ca

Phospor

Calliandra calothyrsus

22

24

4630

4.1

1.6

0.25

Glirisidia sp

12

27

4200

3.8

2.7

0.25

Leucaena leucocephala

27

27

4080

3.5

1.7

0.30

Sesbania grandiflora

25

24

4825

-

1.5

0.20

Desmodium rensonii

8

24

-

5.8

-

0.26

 

 

Tabel 4.  Kandungan Nutrisi Bahan Pakan dari Limbah Industri Pertanian

 

Tabel 5. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan dari Pertanian

 

 

Tabel 6.  Komposisi Nutrien Produk Samping Tanaman dan Pengolahan Kelapa Sawit

Bahan / Produk Samping

BK

Abu

PK

SK

L

BETN

Ca

P

GE

(kal/g)

%

(% bahan kering)

Daun

46,18

13,40

14,12

21,52

4,37

46,59

0,84

0,17

4.461

Pelepah

26,07

5,10

3,07

50,94

1,07

39,82

0,96

0,08

4.841

Solid

24,08

14,40

14,58

35,88

14,78

16,36

1,08

0,25

4.082

Bungkil

91,83

4,14

16,33

36,68

6,49

28,19

0,56

0,84

5.178

Serat

93,11

5,90

6,20

48,10

3,22

-

-

-

4.684

TBK

92,10

7,89

3,70

47,93

4,70

-

-

-

-

Sumber : Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Integrasi Tanaman –                  

                Ditjennakkeswan, 2015

 

Keterangan :

BK      : Bahan Kering

PK      : Protein Kasar

L         : Lemak

BETN : Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen

Ca       : Kalsium

P         : Fosfor

GE      : Energi Bruto (Gross Energy)

 

IDENTIFIKASI BAHAN PAKAN LOKAL YANG ADA DI PROVINSI BANTEN

Pengembangan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba) saat ini menghadapi persoalan fluktuasi ketersediaan pakan hijauan. Demikian pula dengan ternak unggas yang dihadapkan pada ketergantungan impor bahan baku pakan. Tidak tersedianya produksi dalam negeri, ternak ruminansia semakin rawan kekurangan suplai hijauan akibat semakin sempit, bahkan hilangnya padang penggembalaan (pasture).

Akibat tergusur kepentingan ekonomi yang lebih prospektif, pada akhirnya sumber pakan utama ternak ruminansia hanya mengandalkan limbah pertanian (jerami padi, tebon jagung, pucuk, tebu, dan lain-lain). Kualitas nutrisi limbah pertanian ini tentu lebih rendah, dicirikan dengan rendahnya tingkat kecernaan, kadar protein kasar, dan kadar karbohidrat nonstruktural, serta tingginya kadar serat utama lignoselulosa.

Padahal sebagai negara agraris, Indonesia termasuk Provinsi Banten menyimpan potensi bahan baku pakan lokal yang besar. Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Agus, D.A.A., D.E.A, saat pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, menyampaikan bahwa di samping jagung, terdapat lima jenis sumber bahan baku pakan yang dapat diandalkan di masa depan. Kelima sumber bahan pakan yang dapat dikembangkan antara lain, adalah kacang-kacangan, ikan, kelapa sawit, singkong, dan sagu. Kelima sumber bahan pakan tersebut sangatlah potensial, baik dari aspek luasan lahan, jumlah produksi dan peluang pengembangannya.

Berikut ini disampaikan potensi bahan baku pakan lokal yang ada di beberapa wilayah di Kabupaten/Kota di Provinsi Banten.

 

C.1. KOTA SERANG

Tabel 7.  Sebaran Ketersediaan  Bahan  Baku  Pakan Lokal  Berdasarkan Limbah

                 Pertanian dan Agroindustri di Kota Serang.


NO

KECAMATAN

POTENSI BAHAN BAKU LOKAL

1

Serang

Ampas Tahu, Limbah Pasar dan Limbah Pertanian

2

Kasemen

HPT (Jerami dan Legum), Bekatul , Dedak dan Limbah Ikan (Rucah dll)

3

Cipocok Jaya

HPT (Jerami, legum), Ampas Tahu, dan Ampas Tempe

4

Walantaka

HPT (Jerami, Rmpt Gajah, Legum), Dedak, Jagung dan Ubi Kayu, Ampas Tahu

5

Curug

HPT (Jerami, Rmpt Gajah, Legum), Jagung, Dedak, Ubi Kayu dan Ampas Tempe, Ampas Tahu

6

Taktakan

HPT (limbah perkebunan, Legum), dan Ubi Kayu

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

 

Tabel 8.  Luas Tanam dan Panen Padi Sawah dan Padi Ladang Kota Serang Tahun

               2017 (Ha)

No

Kecamatan

Luas Tanam

Luas Panen

Produktivitas (Ku/Ha)

Produksi (Ton)

1

Curug

1,015

1,095

56.01

6,133

2

Walantaka

2,907

3,113

56.01

17,436

3

Cipocok Jaya

1,148

1,369

56.01

7,668

4

Serang

530

554

56.01

3,103

5

Taktakan

984

1,432

56.01

8,021

6

Kasemen

6,010

6,855

56.01

38,395

Total

12,594

14,418

336.06

80,755.22

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

Tabel 9. Luas Panen Tanaman Palawija Kota Serang Tahun 2017 (Ha)

No

 

Kecamatan

District

 

Jagung

Corn

Ketela

Pohon

Cassava

Ketela

Rambat

Sweet

Potatoes

Kacang

Tanah

Peanuts

Kacang

Hijau

Smail Green

Kedelai

Soybean

1

Serang

2

-

2

-

-

-

2

Kasemen

39

7

3

3

99

41

3

Taktakan

240

35

22

1.475

105

-

4

Cipocok Jaya

22

67

37

10

-

-

5

Curug

50

30

5

35

65

2

6

Walantaka

36

115

17

37

-

121

Jumlah

389

254

86

1.560

269

164

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

 

Tabel 10.  Produksi Tanaman Palawija Kota Serang Tahun 2017 (Ton)

No

Kecamatan

District

Jagung

Corn

Ketela

Pohon

Cassava

Ketela

Rambat

Sweet

Potatoes

Kacang

Tanah

Peanuts

Kacang

Hijau

Smail Green

 

Kedelai

Soybean

1

Serang

7,02

-

34,78

-

-

-

2

Kasemen

60

-

12

15

-

-

3

Taktakan

4.8

950

287,52

2.665,3

50,5

-

4

Cipocok Jaya

3,2

1.407

740

10

-

-

5

Curug

27,5

900,00

85,00

84,00

65,00

2,8

6

Walantaka

612

1.955

221

74

-

480

Jumlah

714,52

5.212,00

1.380,3

2.848,3

115,5

482,8

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

 

Tabel 11.  Produksi Agroindustri sebagai Potensi Pakan

NO

NAMA BAHAN PAKAN

NAMA PRODUSEN (PEMILIK)/ALAMAT

KAPASITAS PRODUKSI (Ton)

1

Ampas Tahu

H. Enjang / Link. Calung Kel. Kaligandu Kec./Kota Serang

0.2 – 1

2

 Ampas Tahu

E. Koswara/ Link. Rau Timur Kel. Sumur Pecung Kec./Kota Serang

0.2 – 1

3 

 Ampas Tahu

Rido / Link. Tingar Kel. Sukalaksana Kec. Curug Kota Serang

0.2 – 1

4

 Ampas Tahu

Samsuri  / Link. Kembang Kel. Pipitan Kec. Walantaka Kota Serang

0.2 – 1

5

Ampas Tempe

Latif, dkk / Link. Sewor Kel. Banjaragung Kec. Cipocok Jaya Kota Serang

0.2 – 1

6

Ampas Tempe

Enjoh, dkk / Link. Kaningan Kel. Sukalaksana Kec. Curug Kota Serang

0.2 – 1

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

 

C.2. KABUPATEN TANGERANG

Tabel 12. Potensi sumber pakan ternak di kabupaten tangerang

Tanaman pangan

Luas panen (hektar) sumber: bidang pengembangan pertanian dpkp kab.tangerang

Potensi sebagai bahan baku pakan ternak (ton)

Produk Utama (2014)

Jerami daun/batang

Dedak

Padi

74,914

434,421

134,842

7,491

Jagung

73

562

715

 

Kacang Tanah

32

207

115

 

Ubi Kayu (Singkong)

137

4,537

178

 

Ubi Jalar

28

870

84

 

Sumber : Pengembangan Pakan Lokal di Kabupaten Tangerang, 2018

 

C.3. KABUPATEN PANDEGLANG

Tabel 13.  Ketersediaan Bahan Pakan Lokal di Kabupaten Pandeglang

NO.

KOMODITAS

LUAS PANEN (Ha)

BAHAN PAKAN LOKAL

PRODUKSI (Ton/Th)

KET.

1.

Padi Sawah

130.265,8

Dedak

16.413,5

Distribusi :

50 % - 50 %

 

 

 

Jerami

351.978,19

 

2.

Padi Ladang

6162

Jerami

11904,98

 

3.

Ubi Kayu

828

Daun

248,4

 

4.

Ubi Jalar

332

Jerami

398,4

 

5.

Jagung

19.568

Jerami

30672,84

 

6.

Kedelai

3038

Jerami

1367,1

Panen Muda

7.

Kacang tanah

189

Jerami kc tanah

378

 

8.

Kelapa sawit

1993,75

Pelepah

3269,75

TM

9.

Kakao

1184,28

Kulit buah

78

 

Sumber : Pemanfaatan Bahan Baku Pakan Lokal Untuk Pengembangan Peternakan di Kab.

               Pandeglang, 2018

 

C.4. KABUPATEN LEBAK

Tabel 14. Sumber dan Potensi Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak

No

Nama Bahan Pakan

Produksi / Tahun (Ton)

1.

Dedak Padi

69.846

2.

Jerami Padi ok

2.011.573

3.

Jagung ok

3.234

3.

Limbah Jagung

4.851

4.

Ampas Tahu

128,24

5.

Limbah Pasar

 

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

 

Tabel 15.  Produksi Hijauan Pakan Ternak di Kabupaten Lebak

No

NAMA PRODUSEN

ALAMAT

JENIS HPT

LUAS (Ha)

1.

UPT PTR DAN HPT

Cibadak

Rumput Gajah

2

2.

Kel. Satwa Lestari

Kalanganyar

Rumput Gajah

10

3.

Kel. Sumber Alam

Cikulur

Rumput Gajah, Indigofera

5

4.

Kel. Rimba Rimbun

Cileles

Rumput Gajah

5

5.

Iman (Peternak Mandiri)

Malingping

Rumput Raja, Rumput Mexico, Odot, Setaria

3

6.

Nanang (Peternak Mandiri)

Wanasalam

Rumput Gajah

5

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

 

Tabel 16.  Luas Areal Tanaman Kelapa Sawit di Kabupaten Lebak

No

Pemilikan / Kebun

Luas (Ha)

1.

Perkebunan Rakyat (PR)

4.110,04

2.

Perkebunan Terbatas Perkebunan Besar Negara (PTPN) VIII :

- Kebun Kertajaya

- Kebun Cisalak Baru

- Kebun Bojong Datar

8.747,72

1.796,72

5.323,09

1.627,91

Luas Areal Total

12.857,76

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

 

Tabel 17.  Sumber dan Potensi Bahan Baku Pakan Lokal dari Produk Samping dan

                  Olahan Kelapa Sawit di Kab. Lebak

No

Biomasa

Segar (Kg)

BK (%)

BK (Kg)

1.

Daun Tanpa Lidi

18.386.597

46,18

8.490.930

2.

Pelepah

80.901.026

26,07

21.090.897

3.

Tandan Buah Kosong (TBK)

47.316.557

92,1

43.578.549

4.

Serat Perasan

37.030.349

93,11

34.478.958

5.

Lumpur Sawit (Solid)

60.482.903

24,07

14.558.235

Total Biomasa (Kg bahan kering) :        122.197.569

Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

 

C.5.  KABUPATEN SERANG

Tabel 18.  Karakteristik Bahan Pakan Itik di Wilayah Pantai Utara Banten Kabupaten

                   Serang  (Kecamatan Pontang, Kecamatan Carenang, Kecamatan Tirtayasa)


Bahan pakan

Sumber

Harga (Rp/kg)

Kandungan gizi bahan pakan

Estimasi jumlah yang tersedia di lokasi

Keterangan

Dedak

Produk samping pertanaman padi

2.500-3.000

PK=11,7% Energi=2.600 kkal EM/kg

300 kg/ha luasan pertanaman padi

Tersedia melimpah saat panen padi, harga fluktuatif, sebagai sumber energi bagi itik

Nasi aking

Limbah rumah tangga

2.500-3.000

PK=9,1% Energi=3.121kk al EM/kg

> 100 kg/hari

Selalu tersedia, harga fluktuatif sebagai sumber energi bagi itik

Menir

Produk samping pengolahan beras

3.500-4.000

PK=10,2% Energi=2.660kk al EM/kg

240 kg/ha luasan pertanaman padi

Selalu tersedia, harga fluktuatif, sebagai sumber energi bagi itik

Ikan Rucah

Perairan di wilayah utara Banten

1.500-3.000

PK=64,2% Energi=3.694 kkal EM/kg

50-100 kg/hari

Sulit didapatkan saat musim angin laut, sebagai sumber energi bagi itik

Keong mas

Pertanaman padi

500

PK=44% Energi=2.700kk al EM/kg

2-32 ekor/m2 areal pertanaman padi

Sulit didapatkan saat musim kemarau, sebagai sumber protein bagi itik

 

Kepala dan cangkang udang

Pabrik pengolahan udang

 

1.500-3.000

PK=53,6% Energi=2.000kk al EM/kg

> 100 kg/hari

Selalu tersedia, pasar tertutup, sebagai sumber protein dan kalsium bagi itik

Mie kering (expired)

 

Pabrik pembuatan mie

 

2.000-2.500

PK=7,4% Energi=2.660kk al EM/kg

100 - 200 kg/minggu

Selalu tersedia, pasar tertutup, sebagai sumberenergi bagi itik

 

Sumber : Hadiatry et al. (2013)

 

PENGOLAHAN PAKAN SEDERHANA

Pada umumnya kualitas bahan baku lokal /berasal dari limbah sebagai pakan sangat rendah dan mudah rusak sehingga perlu adanya upaya perbaikan penyimpanan dan pengolahannya untuk menjadi pakan ternak yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.

Secara umum bahan pakan yang bersumber dari hasil samping pertanian dan perkebunan perlu dilakukan perlakukan teknologi pakan untuk meningkatkan daya cerna dan kualitas nutrisinya. Upaya untuk meningkatkan nilai gizi limbah pertanian dapat dilakukan dengan perlakukan fisik seperti pencacahan, kimiawi seperti penambahan zat lain maupun biologis seperti proses fermentasi. Ditingkat peternak rakyat, penerapan teknologi untuk meningkatkan kualitas pakan memiliki hambatan dengan berbagai alasan seperti jumlah limbah yang dikumpulkan relatif sedikit sehingga kurangnya fasilitas untuk pengolahan maupun penyimpanan, terjadinya penambahan biaya dan tenaga kerja dalam perlakuan teknologi pengolahan tersebut. Untuk itu dibutuhkan teknologi pakan yang sederhana, murah, ekonomis dan mudah diadopsi peternak.

Untuk meningkatkan kualitas bahan pakan tersebut dengan cara pengolahan. Tujuan pengolahan :

  • Meningkatkan PALATABILITAS à Pelayuan, pemberian garam
  • Meningkatkan DAYA CERNA à Amoniasi, Fermentasi, Chopping
  • Meningkatkan NILAI GIZI à Fermentasi
  • Untuk PENGAWETAN à Fermentasi, Pengeringan
  • Memudahkan PENYIMPANAN à Pengeringan, Pelleting, Chopping
  • Untuk KEMUDAHAN/KEPRAKTISAN à Pellet
  • Memudahkan PENCAMPURAN à Chopper, Penggilingan

 

BATASAN PENGGUNAAN BAHAN PAKAN

Kenapa penggunaan bahan pakan perlu dibatasi? Alasannya adalah jika dipakai terlalu banyak akan berpengaruh negatif terhadap ternak. Pengaruh negatif tersebut bisa disebabkan oleh  karena mengandung zat anti-nutrisi. Misalnya kedelai mentah kaya akan anti-tripsin sehingga menghambat pencernaan protein. Oleh karena itu, perlu perlakuan sebelum diberikan pada ternak misalnya dengan penyangraian selama 20-30 menit. Tetapi, penyangraian tidak hanya memerlukan proses dan tenaga kerja tambahan dan tentu saja ongkos tambahan untuk pegawai dan penyangraian. Untuk praktisnya, digunakanlah bungkil kedelai yaitu kedelai hasil samping pembuatan minyak kedelai.

Pada pakan unggas , batasan penggunaan bahan pakan diperlukan mengingat pakan ternak unggas umumnya hanya membolehkan kadar serat kasar 5-7% saja. Serat kasar memang dibutuhkan oleh ternak unggas, tetapi karena kemampuannya mencerna serat yang terbatas khususnya untuk ternak muda maka penggunaan bahan pakan kaya akan serat kasar mesti diatur. Tabel 19 dibawah bisa dijadikan acuan, biasanya peternak juga mendasarkan pada pengalaman yang mungkin berbeda dengan teori karena didasarkan pada tingkat keuntungan tertinggi.

 

Tabel 19.. Maksimum Penggunaan Bahan Pakan Untuk Unggas

Bahan Pakan

Petelur

Pedaging

 

Starter

Grower

Layer

Starter

Finisher

Jagung

60

60

70

60

70

Sorgum

25

40

40

25

40

Bekatul

10

15

30

10

10

Menir

40

40

40

40

40

Tepung gaplek

8

10

10

8

10

Pollard

5

15

30

15

20

Gandum

10

20

40

10

30

Lemak/minyak

5

6

7

5

7

Tetes

2

2

2

2

2

Tp. daun     lamtoro

5

5

5

5

5

Kapur

5

5

5

5

5

Kulit kerang

2

3

5

1

3

Limbah udang

5

5

8

5

5

Bungkil kedele

30

30

40

30

40

Bungkil kacang

5

7.5

15

5

7.5

Bungkil kelapa

10

15

25

15

15

Bungkil biji kapas

5

5

10

2.5

5

Tepung ikan

7

8

10

7

10

Tepung bulu

2

5

5

5

5

Tepung daging

7

7

7

7

7

Tepung bekicot

3

3

3

3

3

Sumber : Teori Dan Aplikasi Pembuatan Pakan Ternak Ayam dan Itik, Fapet Unibraw 2010

Sedangkan batasan penggunaan bahan pakan pada ruminansia adalah sebagai berikut :

1. Jagung : Tidak ada batasan

2. Bungki Kedelai : Tidak ada batasan

3. Bekatul : 20%

4. Dedak Halus : 10-25%

5. Gaplek : 10%

6. Polard : 10%

7. CGM : 5-9%

8. BungkilInti Sawit : 3-5%

9. Bungki Biji Kapuk : 2-3%

10. Tepung Bulu : 2% MBM : 5-7%

11. Tepung Ikan : 5-7%

12. Molases : 1-2%

13. CPO : 4%

14. Kapur : 0-5%

15. Garam : 0.5%

16. AA sintetis : 0. 3%

 

       KESIMPULAN

  • Melihat potensi dan daya dukung yang ada menunjukkan Provinsi Banten dapat memenuhi kebutuhan ternak, dengan mengoptimalkan ketersediaan pakan yang ada. Disisi lain, penggunaan limbah tanaman pangan sebagai pakan memiliki kendala yaitu nilai nutrisi yang tergolong rendah, waktu panen serta adanya perlakuan pasca panen. Dengan nilai nutrisi yang rendah seperti protein dan serat kasar yang tinggi menyebabkan limbah pertanian terbatas penggunaannya sebagai pakan ternak .
  • Dalam pemanfaatan bahan pakan lokal spesifik lokasi memerlukan sentuhan teknologi pengolahan pakan untuk dapat meningkatkan kualitas pakan serta memudahkan dalam penyimpanan, menurunkan biaya produksi , dan menjamin keberlangsungan ketersediaan pakan.
  • Dalam pemanfaatan bahan pakan lokal, peternak harus memperhatikan strategi penyediaan pakan serta batasan penggunaan bahan pakan tersebut sehingga tidak berpengaruh negatif terhadap ternak.

 

PENUTUP

Uraian potensi bahan pakan lokal untuk ransum ternak dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari bahan pakan lokal yang ada di Provinsi Banten dan yang telah dilakukan pengkajian oleh para peneliti. Pemanfaatan bahan baku lokal merupakan salah satu upaya untuk mengurangi impor bahan baku pakan dan menurunkan biaya produksi dari pakan pada usaha peternakan.

 

*) Pengawas Mutu Pakan

     Dinas Pertanian Provinsi Banten

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Ali, 2011.  Indonesia Menyimpan Potensi Bahan Baku Pakan Lokal. (online). Liputan Berita UGM (diakses 18 oktober 2018).

Hadiatry MC, Haryani D, Kardiyanto E, Malik RJ dan Suryadi. 2013. Kajian sistem usahatani itik pedaging dalam mendukung swasembada daging berkelanjutan. Laporan Akhir Tahun Balai Pengkajian Pertanian (BPTP) Banten. Balai Besar Pengkajian Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.

Lukitaningsih D, 2018.  Pemanfaatan Bahan Baku Pakan Lokal Untuk Pengembangan Peternakan. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Nasution M, 2018.  Pengembangan Pakan Lokal di Kabupaten Tangerang. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Santoso I, 2018.  Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kabupaten Lebak Dalam Menunjang Usaha Peternakan. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Siswati, 2018.  Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang Dalam Menunjang Usaha Peternakan. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Widodo E, 2010.  Teori Dan Aplikasi Pembuatan Pakan Ternak Ayam Dan Itik. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.

 


Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan