• Sunday, 24 March 2019
  • POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL DI PROVINSI BANTEN


    POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL DI PROVINSI BANTEN

     

    Ditulis oleh :

    Nurhayati, S.Pt., MP*)

     

    PENDAHULUAN

    Pakan merupakan komponen utama dalam suatu usaha peternakan karena pakan merupakan kebutuhan mutlak ternak untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Ketersediaan pakan baik secara kuantitas maupun kualitas merupakan faktor dominan yang mempengaruhi produktivitas ternak. Keterbatasan ketersediaan pakan merupakan penyebab utama sulitnya pengembangan skala usaha dan kepemilikan ternak serta menjadi pembatas perkembangan ternak. Penyediaan pakan yang berkualitas juga semakin sulit dilakukan oleh peternak karena harga pakan semakin mahal dan sulit untuk diperoleh.  Dengan pola pemeliharaan yang masih tradisional peternak biasanya hanya memberikan pakan seadanya tanpa mengetahui berapa kebutuhan dan pasokan pakan yang harus diberikan, dengan cara ini umumnya pakan yang diberikan tidak mampu mencukupi kebutuhan ternak untuk tumbuh dan berproduksi. Dengan tidak tercukupinya kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan akan berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan ternak sehingga menyebabkan pertambahan bobot badan harian menjadi lambat dan kinerja reproduksi rendah.  

    Untuk memperoleh hasil yang optimal diperlukan pakan yang seimbang. Diperlukan penyusunan ransum yang murah, bahan yang mudah didapat, disukai ternak, dan tersedia secara terus-menerus. Untuk itu peternak perlu mengetahui potensi bahan pakan lokal yang ada di sekitarnya.

     

    POTENSI BAHAN PAKAN LOKAL

    Bahan pakan lokal merupakan bahan pakan yang berasal dari Indonesia (bukan impor), biasanya merupakan hasil pertanian atau merupakan limbah pertanian atau hasil samping dari agro industri yang mempunyai peluang untuk dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak.  

    Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pemanfaatan bahan pakan lokal dan hasil samping pertanian adalah :

    • ketersediaan,    
    • kontinuitas pengadaan, 
    • kandungan gizi, 
    • kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau   zat anti nutrisi (phytat, tanin, gosipol , sianida, dll), 
    • serta perlu tidaknya bahan  diolah sebelum digunakan,
    • Selain itu permasalahan dalam pemanfaatan limbah pertanian adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi (mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin), yang sangat sukar dicerna oleh ternak ruminansia.

    Bahan pakan yang digunakan sebagai pakan ternak sebaiknya :

    1.    mudah didapatkan,

    2.    tersedia sepanjang musim, dan

    3.    harganya terjangkau.

    Namun, segi kualitas harus juga benar-benar diperhatikan. Hindari mendapatkan bahan yang murah tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga produktivitas ternak akan menurun.

    Strategi penyediaan  pakan ternak :

    • Identifikasi jenis pakan ternak yang ada disekitar lokasi usaha.
    • Ketahui kandungan nutrisi dari jenis pakan ternak tersebut.
    • Pilihlah jenis pakan yang terjangkau secara ekonomis dan tersedia terus menerus (kontinyu).

    Pengetahuan tentang bahan pakan ternak sangat penting , sehingga peternak mampu memilih bahan pakan yang tepat sesuai dengan tujuan penggunaannya, mampu mengantisipasi penggunaan pakan yang mengandung anti nutrisi, mampu memanfaatkan pakan lokal dengan mengantisipasi kelemahan dan kelebihannya.  

    Berikut ini disampaikan beberapa contoh jenis bahan pakan lokal.

     

    Tabel 1. Contoh Jenis-Jenis Bahan Baku Pakan dari Limbah Pertanian, Perkebunan,

                   Perikanan, Peternakan dan  Limbah Agroindustri

     

    Kelompok Bahan

    Nama bahan Baku

    Limbah Pertanian dan Perkebunan

    Pucuk tebu

    Kulit kedelai

     

    Jerami kacang kedelai

    Jerami kacang tanah

     

    Klobot jagung

    Kulit coklat

     

    Kulit singkong

    Jerami padi

     

    Kulit kopi

    Pelepah sawit

     

     

     

    Limbah agroindustri

    Ampas tahu

     

     

    Dedak padi

     

     

    Ampas kecap

     

     

    Bungkil sawit

     

     

    Bungkil kopra

     

    Limbah Perikanan dan Peternakan

    Kulit & Kepala Udang

    Limbah Industri Fillet Ikan

    Bulu Unggas

    Kulit Telor

    Limbah Rumah Potong Hewan (RPH)

    Tulang

    Darah

     

     

    Pada prinsipnya bahan pakan ternak di bagi menjadi  :

    • Berdasarkan kandungan serat kasarnya :
    • Konsentart (penguat).
    • Hijauan pakan ternak.
    • Berdasarkan kandungan nutrisinya :
    • Sumber energi. Misalnya dedak, ubi kayu, kulit singkong, jagung.
    • Sumber protein. Misalnya sumber protein yang berasal dari tanaman (bungkil kedelai, daun kacang tanah, daun kedelai, daun singkong, lamtoro, daun ubi rambat, daun kacang hijau, bungkil kelapa) dan sumber protein hewani (tepung darah, tepung bulu, tepung ikan).
    • Sumber mineral. Misalnya tepung tulang, kapur, kerang dan garam.
    • Sumber vitamin. Misalnya ragi dan minyak ikan. hijauan kacang-kacangan, tauge
    • Berdasarkan penggunaannya :
    • Pakan konvensional. Misalnya bungkil kedelai, dedak
    • Pakan non konvensional. Misalnya ampas nenas dan isi rumen.

     

    Berikut disampaikan kandungan nutrisi dari beberapa sumber bahan pakan lokal .

     

    Tabel 2. Produksi dan Kandungan Nutrisi Beberapa Rumput

    Jenis Rumput

    Produksi (ton/ha/th)

    Protein kasar

    Lemak

    Abu

    Ca

    P

    R. Raja

    700

    13.5

    3.5

    18.6

    0.37

    0.35

    R. Gajah cv. Hawaii

    525

    12.3

    2.4

    10.1

    0.24

    0.39

    R. Gajah cv. Afrika

    376

    13.5

    3.4

    15.8

    0.31

    0.37

     

    Tabel 3.  Produksi dan Kandungan Nutrisi Beberapa Leguminosa

    Nama Leguminosa

    Produksi

    Protein

    Kasar

    Energi

    Kasar

    Lemak

    Ca

    Phospor

    Calliandra calothyrsus

    22

    24

    4630

    4.1

    1.6

    0.25

    Glirisidia sp

    12

    27

    4200

    3.8

    2.7

    0.25

    Leucaena leucocephala

    27

    27

    4080

    3.5

    1.7

    0.30

    Sesbania grandiflora

    25

    24

    4825

    -

    1.5

    0.20

    Desmodium rensonii

    8

    24

    -

    5.8

    -

    0.26

     

     

    Tabel 4.  Kandungan Nutrisi Bahan Pakan dari Limbah Industri Pertanian

     

    Tabel 5. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan dari Pertanian

     

     

    Tabel 6.  Komposisi Nutrien Produk Samping Tanaman dan Pengolahan Kelapa Sawit

    Bahan / Produk Samping

    BK

    Abu

    PK

    SK

    L

    BETN

    Ca

    P

    GE

    (kal/g)

    %

    (% bahan kering)

    Daun

    46,18

    13,40

    14,12

    21,52

    4,37

    46,59

    0,84

    0,17

    4.461

    Pelepah

    26,07

    5,10

    3,07

    50,94

    1,07

    39,82

    0,96

    0,08

    4.841

    Solid

    24,08

    14,40

    14,58

    35,88

    14,78

    16,36

    1,08

    0,25

    4.082

    Bungkil

    91,83

    4,14

    16,33

    36,68

    6,49

    28,19

    0,56

    0,84

    5.178

    Serat

    93,11

    5,90

    6,20

    48,10

    3,22

    -

    -

    -

    4.684

    TBK

    92,10

    7,89

    3,70

    47,93

    4,70

    -

    -

    -

    -

    Sumber : Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Integrasi Tanaman –                  

                    Ditjennakkeswan, 2015

     

    Keterangan :

    BK      : Bahan Kering

    PK      : Protein Kasar

    L         : Lemak

    BETN : Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen

    Ca       : Kalsium

    P         : Fosfor

    GE      : Energi Bruto (Gross Energy)

     

    IDENTIFIKASI BAHAN PAKAN LOKAL YANG ADA DI PROVINSI BANTEN

    Pengembangan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba) saat ini menghadapi persoalan fluktuasi ketersediaan pakan hijauan. Demikian pula dengan ternak unggas yang dihadapkan pada ketergantungan impor bahan baku pakan. Tidak tersedianya produksi dalam negeri, ternak ruminansia semakin rawan kekurangan suplai hijauan akibat semakin sempit, bahkan hilangnya padang penggembalaan (pasture).

    Akibat tergusur kepentingan ekonomi yang lebih prospektif, pada akhirnya sumber pakan utama ternak ruminansia hanya mengandalkan limbah pertanian (jerami padi, tebon jagung, pucuk, tebu, dan lain-lain). Kualitas nutrisi limbah pertanian ini tentu lebih rendah, dicirikan dengan rendahnya tingkat kecernaan, kadar protein kasar, dan kadar karbohidrat nonstruktural, serta tingginya kadar serat utama lignoselulosa.

    Padahal sebagai negara agraris, Indonesia termasuk Provinsi Banten menyimpan potensi bahan baku pakan lokal yang besar. Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Agus, D.A.A., D.E.A, saat pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, menyampaikan bahwa di samping jagung, terdapat lima jenis sumber bahan baku pakan yang dapat diandalkan di masa depan. Kelima sumber bahan pakan yang dapat dikembangkan antara lain, adalah kacang-kacangan, ikan, kelapa sawit, singkong, dan sagu. Kelima sumber bahan pakan tersebut sangatlah potensial, baik dari aspek luasan lahan, jumlah produksi dan peluang pengembangannya.

    Berikut ini disampaikan potensi bahan baku pakan lokal yang ada di beberapa wilayah di Kabupaten/Kota di Provinsi Banten.

     

    C.1. KOTA SERANG

    Tabel 7.  Sebaran Ketersediaan  Bahan  Baku  Pakan Lokal  Berdasarkan Limbah

                     Pertanian dan Agroindustri di Kota Serang.


    NO

    KECAMATAN

    POTENSI BAHAN BAKU LOKAL

    1

    Serang

    Ampas Tahu, Limbah Pasar dan Limbah Pertanian

    2

    Kasemen

    HPT (Jerami dan Legum), Bekatul , Dedak dan Limbah Ikan (Rucah dll)

    3

    Cipocok Jaya

    HPT (Jerami, legum), Ampas Tahu, dan Ampas Tempe

    4

    Walantaka

    HPT (Jerami, Rmpt Gajah, Legum), Dedak, Jagung dan Ubi Kayu, Ampas Tahu

    5

    Curug

    HPT (Jerami, Rmpt Gajah, Legum), Jagung, Dedak, Ubi Kayu dan Ampas Tempe, Ampas Tahu

    6

    Taktakan

    HPT (limbah perkebunan, Legum), dan Ubi Kayu

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

     

    Tabel 8.  Luas Tanam dan Panen Padi Sawah dan Padi Ladang Kota Serang Tahun

                   2017 (Ha)

    No

    Kecamatan

    Luas Tanam

    Luas Panen

    Produktivitas (Ku/Ha)

    Produksi (Ton)

    1

    Curug

    1,015

    1,095

    56.01

    6,133

    2

    Walantaka

    2,907

    3,113

    56.01

    17,436

    3

    Cipocok Jaya

    1,148

    1,369

    56.01

    7,668

    4

    Serang

    530

    554

    56.01

    3,103

    5

    Taktakan

    984

    1,432

    56.01

    8,021

    6

    Kasemen

    6,010

    6,855

    56.01

    38,395

    Total

    12,594

    14,418

    336.06

    80,755.22

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

    Tabel 9. Luas Panen Tanaman Palawija Kota Serang Tahun 2017 (Ha)

    No

     

    Kecamatan

    District

     

    Jagung

    Corn

    Ketela

    Pohon

    Cassava

    Ketela

    Rambat

    Sweet

    Potatoes

    Kacang

    Tanah

    Peanuts

    Kacang

    Hijau

    Smail Green

    Kedelai

    Soybean

    1

    Serang

    2

    -

    2

    -

    -

    -

    2

    Kasemen

    39

    7

    3

    3

    99

    41

    3

    Taktakan

    240

    35

    22

    1.475

    105

    -

    4

    Cipocok Jaya

    22

    67

    37

    10

    -

    -

    5

    Curug

    50

    30

    5

    35

    65

    2

    6

    Walantaka

    36

    115

    17

    37

    -

    121

    Jumlah

    389

    254

    86

    1.560

    269

    164

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

     

    Tabel 10.  Produksi Tanaman Palawija Kota Serang Tahun 2017 (Ton)

    No

    Kecamatan

    District

    Jagung

    Corn

    Ketela

    Pohon

    Cassava

    Ketela

    Rambat

    Sweet

    Potatoes

    Kacang

    Tanah

    Peanuts

    Kacang

    Hijau

    Smail Green

     

    Kedelai

    Soybean

    1

    Serang

    7,02

    -

    34,78

    -

    -

    -

    2

    Kasemen

    60

    -

    12

    15

    -

    -

    3

    Taktakan

    4.8

    950

    287,52

    2.665,3

    50,5

    -

    4

    Cipocok Jaya

    3,2

    1.407

    740

    10

    -

    -

    5

    Curug

    27,5

    900,00

    85,00

    84,00

    65,00

    2,8

    6

    Walantaka

    612

    1.955

    221

    74

    -

    480

    Jumlah

    714,52

    5.212,00

    1.380,3

    2.848,3

    115,5

    482,8

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

     

    Tabel 11.  Produksi Agroindustri sebagai Potensi Pakan

    NO

    NAMA BAHAN PAKAN

    NAMA PRODUSEN (PEMILIK)/ALAMAT

    KAPASITAS PRODUKSI (Ton)

    1

    Ampas Tahu

    H. Enjang / Link. Calung Kel. Kaligandu Kec./Kota Serang

    0.2 – 1

    2

     Ampas Tahu

    E. Koswara/ Link. Rau Timur Kel. Sumur Pecung Kec./Kota Serang

    0.2 – 1

    3 

     Ampas Tahu

    Rido / Link. Tingar Kel. Sukalaksana Kec. Curug Kota Serang

    0.2 – 1

    4

     Ampas Tahu

    Samsuri  / Link. Kembang Kel. Pipitan Kec. Walantaka Kota Serang

    0.2 – 1

    5

    Ampas Tempe

    Latif, dkk / Link. Sewor Kel. Banjaragung Kec. Cipocok Jaya Kota Serang

    0.2 – 1

    6

    Ampas Tempe

    Enjoh, dkk / Link. Kaningan Kel. Sukalaksana Kec. Curug Kota Serang

    0.2 – 1

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang, 2018

     

    C.2. KABUPATEN TANGERANG

    Tabel 12. Potensi sumber pakan ternak di kabupaten tangerang

    Tanaman pangan

    Luas panen (hektar) sumber: bidang pengembangan pertanian dpkp kab.tangerang

    Potensi sebagai bahan baku pakan ternak (ton)

    Produk Utama (2014)

    Jerami daun/batang

    Dedak

    Padi

    74,914

    434,421

    134,842

    7,491

    Jagung

    73

    562

    715

     

    Kacang Tanah

    32

    207

    115

     

    Ubi Kayu (Singkong)

    137

    4,537

    178

     

    Ubi Jalar

    28

    870

    84

     

    Sumber : Pengembangan Pakan Lokal di Kabupaten Tangerang, 2018

     

    C.3. KABUPATEN PANDEGLANG

    Tabel 13.  Ketersediaan Bahan Pakan Lokal di Kabupaten Pandeglang

    NO.

    KOMODITAS

    LUAS PANEN (Ha)

    BAHAN PAKAN LOKAL

    PRODUKSI (Ton/Th)

    KET.

    1.

    Padi Sawah

    130.265,8

    Dedak

    16.413,5

    Distribusi :

    50 % - 50 %

     

     

     

    Jerami

    351.978,19

     

    2.

    Padi Ladang

    6162

    Jerami

    11904,98

     

    3.

    Ubi Kayu

    828

    Daun

    248,4

     

    4.

    Ubi Jalar

    332

    Jerami

    398,4

     

    5.

    Jagung

    19.568

    Jerami

    30672,84

     

    6.

    Kedelai

    3038

    Jerami

    1367,1

    Panen Muda

    7.

    Kacang tanah

    189

    Jerami kc tanah

    378

     

    8.

    Kelapa sawit

    1993,75

    Pelepah

    3269,75

    TM

    9.

    Kakao

    1184,28

    Kulit buah

    78

     

    Sumber : Pemanfaatan Bahan Baku Pakan Lokal Untuk Pengembangan Peternakan di Kab.

                   Pandeglang, 2018

     

    C.4. KABUPATEN LEBAK

    Tabel 14. Sumber dan Potensi Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak

    No

    Nama Bahan Pakan

    Produksi / Tahun (Ton)

    1.

    Dedak Padi

    69.846

    2.

    Jerami Padi ok

    2.011.573

    3.

    Jagung ok

    3.234

    3.

    Limbah Jagung

    4.851

    4.

    Ampas Tahu

    128,24

    5.

    Limbah Pasar

     

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

     

    Tabel 15.  Produksi Hijauan Pakan Ternak di Kabupaten Lebak

    No

    NAMA PRODUSEN

    ALAMAT

    JENIS HPT

    LUAS (Ha)

    1.

    UPT PTR DAN HPT

    Cibadak

    Rumput Gajah

    2

    2.

    Kel. Satwa Lestari

    Kalanganyar

    Rumput Gajah

    10

    3.

    Kel. Sumber Alam

    Cikulur

    Rumput Gajah, Indigofera

    5

    4.

    Kel. Rimba Rimbun

    Cileles

    Rumput Gajah

    5

    5.

    Iman (Peternak Mandiri)

    Malingping

    Rumput Raja, Rumput Mexico, Odot, Setaria

    3

    6.

    Nanang (Peternak Mandiri)

    Wanasalam

    Rumput Gajah

    5

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

     

    Tabel 16.  Luas Areal Tanaman Kelapa Sawit di Kabupaten Lebak

    No

    Pemilikan / Kebun

    Luas (Ha)

    1.

    Perkebunan Rakyat (PR)

    4.110,04

    2.

    Perkebunan Terbatas Perkebunan Besar Negara (PTPN) VIII :

    - Kebun Kertajaya

    - Kebun Cisalak Baru

    - Kebun Bojong Datar

    8.747,72

    1.796,72

    5.323,09

    1.627,91

    Luas Areal Total

    12.857,76

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

     

    Tabel 17.  Sumber dan Potensi Bahan Baku Pakan Lokal dari Produk Samping dan

                      Olahan Kelapa Sawit di Kab. Lebak

    No

    Biomasa

    Segar (Kg)

    BK (%)

    BK (Kg)

    1.

    Daun Tanpa Lidi

    18.386.597

    46,18

    8.490.930

    2.

    Pelepah

    80.901.026

    26,07

    21.090.897

    3.

    Tandan Buah Kosong (TBK)

    47.316.557

    92,1

    43.578.549

    4.

    Serat Perasan

    37.030.349

    93,11

    34.478.958

    5.

    Lumpur Sawit (Solid)

    60.482.903

    24,07

    14.558.235

    Total Biomasa (Kg bahan kering) :        122.197.569

    Sumber : Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Kabupaten Lebak, 2018

     

    C.5.  KABUPATEN SERANG

    Tabel 18.  Karakteristik Bahan Pakan Itik di Wilayah Pantai Utara Banten Kabupaten

                       Serang  (Kecamatan Pontang, Kecamatan Carenang, Kecamatan Tirtayasa)


    Bahan pakan

    Sumber

    Harga (Rp/kg)

    Kandungan gizi bahan pakan

    Estimasi jumlah yang tersedia di lokasi

    Keterangan

    Dedak

    Produk samping pertanaman padi

    2.500-3.000

    PK=11,7% Energi=2.600 kkal EM/kg

    300 kg/ha luasan pertanaman padi

    Tersedia melimpah saat panen padi, harga fluktuatif, sebagai sumber energi bagi itik

    Nasi aking

    Limbah rumah tangga

    2.500-3.000

    PK=9,1% Energi=3.121kk al EM/kg

    > 100 kg/hari

    Selalu tersedia, harga fluktuatif sebagai sumber energi bagi itik

    Menir

    Produk samping pengolahan beras

    3.500-4.000

    PK=10,2% Energi=2.660kk al EM/kg

    240 kg/ha luasan pertanaman padi

    Selalu tersedia, harga fluktuatif, sebagai sumber energi bagi itik

    Ikan Rucah

    Perairan di wilayah utara Banten

    1.500-3.000

    PK=64,2% Energi=3.694 kkal EM/kg

    50-100 kg/hari

    Sulit didapatkan saat musim angin laut, sebagai sumber energi bagi itik

    Keong mas

    Pertanaman padi

    500

    PK=44% Energi=2.700kk al EM/kg

    2-32 ekor/m2 areal pertanaman padi

    Sulit didapatkan saat musim kemarau, sebagai sumber protein bagi itik

     

    Kepala dan cangkang udang

    Pabrik pengolahan udang

     

    1.500-3.000

    PK=53,6% Energi=2.000kk al EM/kg

    > 100 kg/hari

    Selalu tersedia, pasar tertutup, sebagai sumber protein dan kalsium bagi itik

    Mie kering (expired)

     

    Pabrik pembuatan mie

     

    2.000-2.500

    PK=7,4% Energi=2.660kk al EM/kg

    100 - 200 kg/minggu

    Selalu tersedia, pasar tertutup, sebagai sumberenergi bagi itik

     

    Sumber : Hadiatry et al. (2013)

     

    PENGOLAHAN PAKAN SEDERHANA

    Pada umumnya kualitas bahan baku lokal /berasal dari limbah sebagai pakan sangat rendah dan mudah rusak sehingga perlu adanya upaya perbaikan penyimpanan dan pengolahannya untuk menjadi pakan ternak yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.

    Secara umum bahan pakan yang bersumber dari hasil samping pertanian dan perkebunan perlu dilakukan perlakukan teknologi pakan untuk meningkatkan daya cerna dan kualitas nutrisinya. Upaya untuk meningkatkan nilai gizi limbah pertanian dapat dilakukan dengan perlakukan fisik seperti pencacahan, kimiawi seperti penambahan zat lain maupun biologis seperti proses fermentasi. Ditingkat peternak rakyat, penerapan teknologi untuk meningkatkan kualitas pakan memiliki hambatan dengan berbagai alasan seperti jumlah limbah yang dikumpulkan relatif sedikit sehingga kurangnya fasilitas untuk pengolahan maupun penyimpanan, terjadinya penambahan biaya dan tenaga kerja dalam perlakuan teknologi pengolahan tersebut. Untuk itu dibutuhkan teknologi pakan yang sederhana, murah, ekonomis dan mudah diadopsi peternak.

    Untuk meningkatkan kualitas bahan pakan tersebut dengan cara pengolahan. Tujuan pengolahan :

    • Meningkatkan PALATABILITAS à Pelayuan, pemberian garam
    • Meningkatkan DAYA CERNA à Amoniasi, Fermentasi, Chopping
    • Meningkatkan NILAI GIZI à Fermentasi
    • Untuk PENGAWETAN à Fermentasi, Pengeringan
    • Memudahkan PENYIMPANAN à Pengeringan, Pelleting, Chopping
    • Untuk KEMUDAHAN/KEPRAKTISAN à Pellet
    • Memudahkan PENCAMPURAN à Chopper, Penggilingan

     

    BATASAN PENGGUNAAN BAHAN PAKAN

    Kenapa penggunaan bahan pakan perlu dibatasi? Alasannya adalah jika dipakai terlalu banyak akan berpengaruh negatif terhadap ternak. Pengaruh negatif tersebut bisa disebabkan oleh  karena mengandung zat anti-nutrisi. Misalnya kedelai mentah kaya akan anti-tripsin sehingga menghambat pencernaan protein. Oleh karena itu, perlu perlakuan sebelum diberikan pada ternak misalnya dengan penyangraian selama 20-30 menit. Tetapi, penyangraian tidak hanya memerlukan proses dan tenaga kerja tambahan dan tentu saja ongkos tambahan untuk pegawai dan penyangraian. Untuk praktisnya, digunakanlah bungkil kedelai yaitu kedelai hasil samping pembuatan minyak kedelai.

    Pada pakan unggas , batasan penggunaan bahan pakan diperlukan mengingat pakan ternak unggas umumnya hanya membolehkan kadar serat kasar 5-7% saja. Serat kasar memang dibutuhkan oleh ternak unggas, tetapi karena kemampuannya mencerna serat yang terbatas khususnya untuk ternak muda maka penggunaan bahan pakan kaya akan serat kasar mesti diatur. Tabel 19 dibawah bisa dijadikan acuan, biasanya peternak juga mendasarkan pada pengalaman yang mungkin berbeda dengan teori karena didasarkan pada tingkat keuntungan tertinggi.

     

    Tabel 19.. Maksimum Penggunaan Bahan Pakan Untuk Unggas

    Bahan Pakan

    Petelur

    Pedaging

     

    Starter

    Grower

    Layer

    Starter

    Finisher

    Jagung

    60

    60

    70

    60

    70

    Sorgum

    25

    40

    40

    25

    40

    Bekatul

    10

    15

    30

    10

    10

    Menir

    40

    40

    40

    40

    40

    Tepung gaplek

    8

    10

    10

    8

    10

    Pollard

    5

    15

    30

    15

    20

    Gandum

    10

    20

    40

    10

    30

    Lemak/minyak

    5

    6

    7

    5

    7

    Tetes

    2

    2

    2

    2

    2

    Tp. daun     lamtoro

    5

    5

    5

    5

    5

    Kapur

    5

    5

    5

    5

    5

    Kulit kerang

    2

    3

    5

    1

    3

    Limbah udang

    5

    5

    8

    5

    5

    Bungkil kedele

    30

    30

    40

    30

    40

    Bungkil kacang

    5

    7.5

    15

    5

    7.5

    Bungkil kelapa

    10

    15

    25

    15

    15

    Bungkil biji kapas

    5

    5

    10

    2.5

    5

    Tepung ikan

    7

    8

    10

    7

    10

    Tepung bulu

    2

    5

    5

    5

    5

    Tepung daging

    7

    7

    7

    7

    7

    Tepung bekicot

    3

    3

    3

    3

    3

    Sumber : Teori Dan Aplikasi Pembuatan Pakan Ternak Ayam dan Itik, Fapet Unibraw 2010

    Sedangkan batasan penggunaan bahan pakan pada ruminansia adalah sebagai berikut :

    1. Jagung : Tidak ada batasan

    2. Bungki Kedelai : Tidak ada batasan

    3. Bekatul : 20%

    4. Dedak Halus : 10-25%

    5. Gaplek : 10%

    6. Polard : 10%

    7. CGM : 5-9%

    8. BungkilInti Sawit : 3-5%

    9. Bungki Biji Kapuk : 2-3%

    10. Tepung Bulu : 2% MBM : 5-7%

    11. Tepung Ikan : 5-7%

    12. Molases : 1-2%

    13. CPO : 4%

    14. Kapur : 0-5%

    15. Garam : 0.5%

    16. AA sintetis : 0. 3%

     

           KESIMPULAN

    • Melihat potensi dan daya dukung yang ada menunjukkan Provinsi Banten dapat memenuhi kebutuhan ternak, dengan mengoptimalkan ketersediaan pakan yang ada. Disisi lain, penggunaan limbah tanaman pangan sebagai pakan memiliki kendala yaitu nilai nutrisi yang tergolong rendah, waktu panen serta adanya perlakuan pasca panen. Dengan nilai nutrisi yang rendah seperti protein dan serat kasar yang tinggi menyebabkan limbah pertanian terbatas penggunaannya sebagai pakan ternak .
    • Dalam pemanfaatan bahan pakan lokal spesifik lokasi memerlukan sentuhan teknologi pengolahan pakan untuk dapat meningkatkan kualitas pakan serta memudahkan dalam penyimpanan, menurunkan biaya produksi , dan menjamin keberlangsungan ketersediaan pakan.
    • Dalam pemanfaatan bahan pakan lokal, peternak harus memperhatikan strategi penyediaan pakan serta batasan penggunaan bahan pakan tersebut sehingga tidak berpengaruh negatif terhadap ternak.

     

    PENUTUP

    Uraian potensi bahan pakan lokal untuk ransum ternak dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari bahan pakan lokal yang ada di Provinsi Banten dan yang telah dilakukan pengkajian oleh para peneliti. Pemanfaatan bahan baku lokal merupakan salah satu upaya untuk mengurangi impor bahan baku pakan dan menurunkan biaya produksi dari pakan pada usaha peternakan.

     

    *) Pengawas Mutu Pakan

         Dinas Pertanian Provinsi Banten

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Agus Ali, 2011.  Indonesia Menyimpan Potensi Bahan Baku Pakan Lokal. (online). Liputan Berita UGM (diakses 18 oktober 2018).

    Hadiatry MC, Haryani D, Kardiyanto E, Malik RJ dan Suryadi. 2013. Kajian sistem usahatani itik pedaging dalam mendukung swasembada daging berkelanjutan. Laporan Akhir Tahun Balai Pengkajian Pertanian (BPTP) Banten. Balai Besar Pengkajian Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.

    Lukitaningsih D, 2018.  Pemanfaatan Bahan Baku Pakan Lokal Untuk Pengembangan Peternakan. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

    Nasution M, 2018.  Pengembangan Pakan Lokal di Kabupaten Tangerang. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

    Santoso I, 2018.  Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kabupaten Lebak Dalam Menunjang Usaha Peternakan. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

    Siswati, 2018.  Ketersediaan Bahan Baku Pakan Lokal di Wilayah Kota Serang Dalam Menunjang Usaha Peternakan. Workshop Pengembangan Bahan Baku Pakan Lokal Dan Hijauan Pakan Ternak di Dinas Pertanian Provinsi Banten.

    Widodo E, 2010.  Teori Dan Aplikasi Pembuatan Pakan Ternak Ayam Dan Itik. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.

     


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan